Pesta Boneka

Pesta Boneka
Episode 1


__ADS_3

1


Penghuni Baru


 


 


            ’’Jalan sekarang?’’


            Malam itu hujan turun lagi. Rintik-rintik air perlahan membasahi kaca mobil. Radio memutarkan lagu patah hati. Sepanjang perjalanan nyaris tak ada kata-kata yang terucap, hanya terdengar lagu-lagu sendu dan suara wiper mobil. Dan saat memandang keluar jendela, yang tampak adalah jalanan kota yang sepi dan suram.


            ’’Ya.’’ jawab pemuda di jok belakang itu, dingin. ’’jalan sekarang!’’


            Sang sopir pun menghela napas, lalu mengangguk. Kemudian mobil itu mulai   melaju.


            Pemuda di jok belakang mobil itu menatap datar jalan yang dilalui. Perlahan hujan menderas


sehingga mengaburkan pandangan ke depan. Bumi yang kian menua sepertinya turut memberi dampak pada perubahan cuaca yang acap kali tak lagi dapat diprediksi. Entah apa yang akan terjadi pada bumi ini dalam kurun waktu sepuluh atau dua puluh tahun. Suara hujan di luar teredam oleh alunan lagu-lagu sedih tahun 90-an.


            Merasa seperti diperhatikan, pemuda itu pun mengalihkan pandangannya ke sisinya.  Di sebelahnya tampak sebuah boneka anak perempuan. Rambutnya berwarna hitam panjang, kulitnya putih pucat, matanya


berdiameter cukup besar dibandingkan wajahnya yang mungil. Tinggi badannya sekitar 80 sentimeter, berbalut gaun pengantin berwarna putih klasik.   Kesan yang terlihat sekilas adalah anggun dan manis.


            Sang pemuda tertegun sejenak, lalu tersenyum. Boneka ini akan terus menemaninya. Meskipun


tidak bisa berbicara, setidaknya mulai sekarang boneka ini akan membuat dirinya tak sendiri lagi.


            Boneka itu membalas senyumannya.


***


            Nizar, si bagian sekretaris asrama itu telah menyelesaikan pekerjaannya merekap agenda para


penghuni asrama. Sejenak ia mencermati kembali pekerjaannya di layar laptop, sesaat mendadak sesuatu membuatnya memegang tengkuknya sendiri.


            Nizar memandang ke luar kantor asrama. Ia tertegun dalam, gerimis di luar sana  perlahan berubah menjadi hujan deras. Beberapa lama ini hujan kerap kali turun, bahkan kadang tanpa disertai mendung terlebih dahulu. Cuaca tak menentu menandakan aktivitas alam terus mengalami pergeseran.


            Sudah setahun dirinya membantu-bantu di asrama yang pernah dia tinggali ini.       Pak Anwar, pemilik asramanya adalah seorang dosen sekaligus aktivis pendidikan yang  cukup terkenal. Rata-rata alumni asrama ini


menjadi orang sukses karena Pak Anwar merupakan figur yang sangat disiplin dan peduli pada pendidikan. Beliau juga kerap mengadakan berbagai kegiatan asrama yang bermanfaat bagi para penghuni asramanya, seperti belajar bersama, organisasi, study tour, dan piket kebersihan.


            Menghela napas, Nizar pun beranjak ke dapur untuk membuat kopi. Sepertinya secangkir kopi


hangat akan membuatnya segar kembali. Malam ini Pak Anwar tampaknya belum pulang dari perjalanan ke luar kota bersama istri dan anak-anaknya.


            Krieettt...


            Nizar di dapur terhenyak saat mendengar suara pintu, lalu lekas-lekas mencangking mug kopinya dan


membawanya ke ruang depan. Sesampainya di kantor asrama dia tak melihat ada siapapun. Saat ia melongok ke luar pun tak tampak sesuatu yang mencurigakan. Komplek perumahan ini selalu senyap selepas pukul delapan


malam. Dan setahunya sistem keamanan komplek selalu berjalan dua puluh empat puluh jam.


            Hujan bertambah deras. Saat itulah sebuah mobil keluaran terbaru berhenti di depan asrama.


            Sandi, seorang penghuni asrama yang baru saja diam-diam menyelinap masuk asrama mengusak


rambutnya yang basah oleh air hujan. Sempat sekali ia menoleh ke belakang. Sepertinya dia berhasil lolos dari penjagaan Nizar, bagian sekretaris asrama sekaligus asisten Pak Anwar yang kerap melaporkan penghuni asrama yang melanggar peraturan itu. Konsekuensinya sudah jelas, penghuni asrama yang kedapatan keluar asrama tanpa izin, membawa ponsel, atau tak mengikuti kegiatan asrama akan dijatuhi hukuman.


            Rumah ini terdiri dari dua lantai. Lantai dua adalah asrama bagi para murid SMA Bakti Ibu,


sementara lantai satu merupakan tempat tinggal Pak Anwar bersama keluarganya. Pak Anwar adalah seorang dosen dan tokoh pendidikan yang telah mendedikasikan lantai dua rumahnya sebagai asrama sekolah berstandar internasional yang berada di dekat rumah.  Total penghuni asrama ini ada delapan orang dan masing-masing kamar di lantai dua dihuni oleh empat orang.


            Di luar sana hujansemakin deras disertai oleh petir yang menyambar-nyambar. Sandi menolehkan kepala


ke sekelilingnya, lalu mengeluarkan ponsel berlambangkan apel dari saku celananya. Menurut peraturan di asrama ini, para penghuni asrama hanya boleh menggunakan ponsel pada akhir pekan. Selain di waktu itu, ponsel harus


dititipkan. Namun Sandi yang dasarnya bersifat bandel dan pemberontak justru membawa dua ponsel—         satu untuk dititipkan, dan satu lagi dia gunakan setiap hari.


Baru saja Sandi hendak menggeser pintu yang menghubungkan tangga asrama dengan ruang tengah dan kamar asrama, ketika tahu-tahu pintu itu bergeser dengan sendirinya.


            Sandi terhenyak, seseorang tiba-tiba muncul di muka pintu itu.


            ’’Kang Sandi baru pulang?’’ sapa Niko, nama pemuda yang merupakan teman asramanya itu. Ia memperhatikan Sandi yang masih mengenakan jeans hitam, ripped jeans, dan menjinjing sepatu Converse Batman miliknya.


            Sandi mengangguk. ’’Tadi diabsen?’’


            ’’Cuma tanda tangan presensi kayak biasanya. Kang Sandi juga sudah saya tanda-tanganin. Hari ini Pak Anwar kayaknya belum kembali dari Cimahi, rumah mertuanya, jadi nggak ada pemeriksaan kehadiran secara langsung.’’


            Sandi menghela napas lega. ’’Oke, makasih Ko.’’


            Begitu Sandi melangkahkan kakinya ke ruang tengah, rupanya penghuni asrama yang lainnya sudah berkumpul di sana. Mereka tengah duduk melingkar. Biasanya ruang tengah itu digunakan para penghuni asrama untuk belajar, shalat, atau melakukan aktivitas lainnya karena tempatnya yang luas dan nyaman dengan karpet berbulu warna merah. Selain itu Pak Anwar juga kerap membawakan berbagai jajanan bagi para penghuni asrama


saat jam belajar.


            ’’Ada pizza nih, Kang!’' tawar Erik, agak berteriak. Pemuda itu memang terkenal agak cablak namun humoris dan baik hati.


            ’’Oke, oke.’’ sahut Sandi, seraya meletakan sepatunya di rak sepatu di depan kamar.    Di antara sepatu-sepatu penghuni asrama lainnya yang rata-rata pantofel atau kets berwarna gelap dan tidak mencolok.


            ’’Ikut makan pizza sini, Kang!’’ ajak Tio, kemudian menggeser tubuhnya supaya Sandi bisa bergabung. Sandi yang tadinya hendak langsung ke kamar pun mengurungkan niatnya. Ia lalu bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah.


Asrama di lantai dua ini memiliki dua kamar tidur yang ber-AC dan cukup nyaman.        Di depan kamar ada


ruang tengah yang luas dan juga ber-AC. Di lantai dua ini ada 3 kamar mandi, perpustakaan kecil di sudut ruang tengah, kulkas, dan balkon di salah satu kamar. Adapun lantai tiga adalah tempat khusus menjemur pakaian yang itupun jarang terpakai. Asrama ini menyediakan fasilitas laundry maksimal 5 kilo dalam satu pekan serta fasilitas WiFi tak berbatas.


’’Kang Irham pulang-pulang dari ngajar les private anak-anak SD bawa pizza nih.’’      ucap Yogi,


seraya mengunyah pizzanya. ’’ayo, Kang Sandi, kamu sudah hampir kehabisan!’’


          Irham, sosok yang paling tampan dan dewasa di antara mereka itu mempersilakan Sandi untuk


mengambil sepotong pizza miliknya. Gerak jemarinya sekilas lembut dan santun. Tak ada kata-kata yang terucap, namun sorot matanya berbicara. Selama ini dirinya memang lebih sering mengungkapkan sesuatu tanpa kata-kata. Irham terkenal sebagai sosok yang cerdas dan baik hati, mungkin karena itu pula-lah semua penghuni asrama ini segan padanya. Terlebih Irham merupakan putra seorang walikota.


            ’’Makasih, Kang,’’ ucap Sandi, seraya mengangguk.


            ’’Abis darimana sih Kang? Kok tiap Sabtu atau Minggu perasaan keluar melulu?’’ tanya Erik pada


Sandi, seraya menyomot pizzanya.


            Yogi berdeham. ’’Dasar jomblo, kepo aja ngeliat orang malam Minggu keluar-keluar. Kalau anak muda tiap weekend keluar mah sudah jelas ke mana Ya ‘kan, Kang Sandi?’’


            Sandi nyengir. ’’Abis jalan-jalan biasa kok ama teman. Refreshing.’’


            Sekilas terlihat para penghuni asrama ini sangat akrab dan rukun. Mereka kerap berangkat sekolah


bersama-sama. Ada Reza dan Irham, yang sama-sama sudah kelas XII, kakak-kakak kelas yang tenang dan penyabar. Mereka kerap membantu penghuni asrama lainnya apabila kesulitan pelajaran dan sesekali menasehati dalam berbagai hal. Ada pula Tio, Yogi, Erik, dan Niko, anak-anak kelas X yang dulu sempat mengira Sandi seangkatan dengan mereka. Dia memang tampak baby face dan sekilas begitu polos, padahal sudah kelas XI.


            Kamar Satu dihuni oleh Irham, Tio, Erik, dan Yogi, sementara kamar Dua yang memiliki balkon


dihuni oleh Sandi, Reza, Niko, dan Kevin. Mereka semua satu sekolah, hanya berbeda-beda kelas saja. Selain itu rata-rata dari mereka berasal dari luar Bandung, kecuali Erik yang itupun bertempat tinggal di pelosok Bandung sana. Masih terlalu jauh untuk pulang-pergi.


            ’’Yogi, tadi harusnya jadwal kita nyapu halaman depan ama piket asrama ‘kan? Lujadinya nyapu sendirian dong?’’ tanya Sandi.


            Yogi menggeleng. ’’Aku juga nggak nyapu, Kang, lagi kurang enak badan. Tadi juga malah diantar Kang


Nizar ke puskesmas.’’


            Sandi tertegun. ’’Jadi tadi yang nyapu halaman siapa?’’


            ’’Saya ama Erik, Kang,’’ jawab Tio. ’’karena si Yogi lagi sakit dan saya ingat sekarang ‘kan malam


Minggu. Biasanya Kang Sandi nggak pulang.’’


            ’’Wah, thanks Rik, Tio, maaf banget ya... jadi ngerepotin.’’


            ’’Santai, Kang,’’ sahut Erik.


Irham dan Reza tampak tengah mengobrol, sementara Niko belum kembali dari kamar mandi. Yogi, Tio, dan Erik tampak berebut sepotong pizza yang tersisa. Berarti di antara penghuni asrama ini masih ada satu orang yang


belum datang.


            Seusai sekotak besar pizza itu sudah habis, para penghuni asrama segera masuk ke kamar


masing-masing. Tentunya seusai mengucapkan terima kasih pada Irham.


            ’’Mana si Sandi?’’ tanya Nizar, yang baru saja datang dari bawah, pada Irham dan Reza di ruang


tengah.


            Deg. Sandi di kamar yang menyadari Nizar tengah mencarinya pun mendadak panik.        Ia lalu cepat-cepat menyembunyikan ponselnya di bawah kasur, pasti Nizar sudah mengetahui bahwa dia


tadi diam-diam menyelinapke dalam asrama setelah keluar tanpa izin. Pemuda itu tampaknya sudah menyimpan


kecurigaan padanya sejak lama.


            ’’San,’’ panggil Nizar, tiba-tiba muncul di pintu kamar. ’’ada telepon dari Mami kamu.’’


            Sandi tertegun, lalu mengangguk. Diam-diam ia menghela napas lega karena rupanya Nizar


mencarinya bukan karena telah mengetahui dirinya tadi menyelinap diam-diam masuk asrama.


            ’’Halo,’’ Sandi menempelkan telepon asrama di telinganya. ’’Mami?’’


            ’’Kak Sandi?’’ terdengar suara dari seberang sana. ’’apa kabar kamu Nak? Sehat-sehat saja


‘kan?’’


            ’’Alhamdulillah, Mi, Mami sama adik-adik di rumah gimana? Sehat?’’


            ’’Alhamdulillah... kemarin malam di rumah baru saja diadakan pengajian 40 hari kepergian Papa.


Repot sekali, tapi tidak apa-apa, Kak Sandi di sana saja ya belajar yang giat. Mami di sini juga selalu mendoakan Kak Sandi. Pokoknya, Kak Sandi harus bisa meng-imbangi usaha dan doa Mami, biar bisa masuk ke perguruan


tinggi dan jurusan bergengsi. Dikebut, setiap hari belajar yang giat, jangan pernah lelah, kalau perlu jadi lulusan terbaik! Tujuan Mami memasukan kamu ke asrama ‘kan supaya kamu bisa tetap disiplin dan fokus meski bersekolah di Cambridge Internasional School di luar kota.’’


            ’’Iya Mi. Insya Allah.’’


            ’’Jaga kesehatan, kalau nggak ada kegiatan sekolah atau asrama lebih baik istirahat


saja, jangan main-main.’’


            ’’Iya, Mi.’’


            ’’Kak,’’


            ’’Ya?’’


            ’’Jangan lupa doakan Papa selalu ya Kak setiap selesai shalat. Bacakan Al Qur’an, jangan lupa


amalan-amalan seperti shalat tahajjud, membaca surat Yaasiin, dan doa-doa. Selain usaha keras, harus diimbangi juga dengan doa-doa. Usaha dari langit, kalo kata Paman Mustofa.’’


            ’’Iya, Mi... aku pasti usahakan selalu doakan Papa.’’


            Hening.


            ’’Katanya, setiap malam Jum’at arwah orang yang sudah meninggal selalu datang dan menunggu

__ADS_1


di depan pintu kamar atau kamar keluarga mereka. Berharap dikirimi bacaan surat Yaasiin atau doa-doa. Kalau keluarganya tidak ada yang membacakan surat Yaasiin, maka arwah itu akan pergi sambil menangis karena kecewa. Orang-orang yang sudah meninggal, bagaimanapun juga, tidak akan pernah lepas dari keluarganya.


Karena itu, kita yang masih hidup harus mendoakan Papa.’’


            Sandi terhenyak, kemudian menyentuh tengkuknya sendiri. Tak terbayangkan apabila arwah Papanya


benar-benar mendatanginya di asrama.


            Sandi meletakan gagang telepon. Ia menghela napas, semenjak Papa meninggal dunia Mami semakin


otoriter kepada anak-anaknya. Mami menjadi semakin menekan Sandi dan   adik-adik perempuannya supaya belajar segiat mungkin, bahkan kadang sampai menerapkan target yang terlampau tinggi. Salah satu cara yang dilakukan Mami untuk memacu putra-putrinya adalah dengan cara menceritakan ‘target’ Sandi dan adik-adiknya pada sanak keluarganya, sehingga apabila tidak tercapai maka mereka-lah yang akan menanggung malu sendiri. Dulu saja Sandi yang tidak begitu pandai bisa masuk sekolah internasional berkat ‘cara’ itu. Tentu saja hal itu tak jarang membuat Sandi lelah dan bahkan mulai putus asa. Terlebih dirinya adalah satu-satunya anak lelaki dan sulung dalam keluarga.


            Biasanya, untuk mengusir perasaan lelah itu dirinya berjalan-jalan di sekitar kota bersama


seorang temannya. Lama kelamaan Sandi kemudian justru tersadar. Bahwa beban perasaannya tidak pernah benar-benar menghilang, tetapi hanya terlupakan sesaat.


            Baru saja Sandi berbalik badan, dan entah sejak kapan di sana sudah berdiri seorang pemuda bermuka pucat.


            ’’Kevin!’’ seru Sandi. ’’kamu mengejutkanku!’’


            Pemuda bermata kecil itu bergeming. Kulitnya tampak agak pasi di bawah lampu temaram, apalagi ditambah sorot matanya yang muram. Ia hanya memandang Sandi sekali, lalu mengalihkan pandang ke arah lain. Terang saja Sandi terkejut karena kemunculannya yang begitu tiba-tiba. Pemuda ini adalah salah seorang teman seasramanya yang tadi tidak berada di lantai dua bersama kawan-kawan lainnya.


            ’’Baru datang?’’ tanya Sandi, melirik koper merah yang dibawa oleh Kevin.    Pemuda yang tampak memiliki garis keturunan Chinese itu pun mengangguk pelan.


            ’’Ngomong-ngomong,’’ ujar Sandi. ’’aku turut berduka cita atas meninggalnya nenek kamu. Aku tahu


betul rasanya kehilangan keluarga terdekat yang begitu kita sayangi.  Apalagi kalau kita tidak bisa berada di sisi


mereka di saat-saat terakhir sebelum kepergian mereka untuk selamanya.’’


            Kevin tak menanggapi, namun binar matanya tampak meredup. Neneknya memang baru saja meninggal. Satu-satunya sosok dalam keluarga yang tulus dan begitu menyayangi dirinya. Kehilangan orang yang paling


disayangi adalah luka yang tidak akan pernah sembuh. Serasa separuh dunianya runtuh dan dia tak bisa berbuat apa-apa.


            Kevin adalah teman sekelas Sandi. Mereka tidak begitu akrab, namun karena sebagian besar penghuni


asrama kerap menjauhi Kevin karena kepribadiannya yang sangat pendiam dan agak aneh, maka Sandi sebagai satu-satunya teman sekelas Kevin di asrama ini pun merasa seolah memiliki keharusan untuk menjadi teman pemuda itu. Terlebih apabila ada tugas sekolah atau agenda angkatan. Dan sedari kecil pun Sandi selalu diajari oleh mendiang ayahnyauntuk selalu berbuat baik pada siapapun.


            Sandi menghela napas. ’’Sini biar kubantu bawakan kopermu.’’


            Sandi baru saja mengangkat pegangan koper Kevin dan hendak menyeretnya, ketika kemudian dia menyadari sesuatu di sisian pemuda itu.


            ’’Ini... apa?’’ tanya Sandi, terheran-heran.


            Kevin masih bergeming, namun bola matanya bergerak ke arah sisi kanannya. Sebuah boneka


perempuan berbalut pakaian gaun pengantin lengkap dengan kain penutup kepalanya. Berambut panjang menjuntai sampai pinggang. Sekilas terlihat tak ada yang aneh dengan boneka itu.


            Sandi tertegun sejenak, kemudian tertawa. ’’Kamu ngapain bawa-bawa kayak ginian? Koleksi?’’


            ’’Dia punya nama.’’ ucap Kevin, dingin.


            ’’Oh... siapa?’’


            Hening sejenak.


 ’’Lucyana.’’


            ’’Lucyana?’’


            Sandi mengalihkan perhatiannya lagi pada Lucyana. Wajahnya bulat, pipinya tembam. Diameter


tubuhnya agak tambun dan lebar seperti boneka mainan anak kecil pada umumnya. Alisnya sehalus gores pensil, bola mata hitam serupa manusia asli, bibir merah tersenyum. Sorot matanya tampak dingin dan kosong—ya tentu saja karena itu hanyalah sebuah boneka.


Sandi lalu berjongkok hendak menyentuh pipi boneka itu.


            ’’Jangan pegang-pegang!’’ cegah Kevin, galak. Pemuda itu menatap Kevin dengan sorot mata


menghujam.


            Sandi terkesiap, lalu menjauhkan tangannya. Ia mulai menyeret koper kabin Kevin namun


perhatiannya masih diam-diam tertaut pada Lucyana. Entah mengapa, tiba-tiba saja dirinya merasa ada sesuatu yang aneh dengan boneka ini.


            Kevin mengamit Lucyana dan membawanya ke lantai atas. Ia kemudian melangkah menaiki tangga sementara dari belakang Sandi terus memperhatikan Kevin. Kevin membawa boneka itu seperti tengah menggendong anak bayi. Begitu lembut dan sangat berhati-hati. Dan saat tangan Kevin terangkat dan mengelus kepala Lucyana, barulah saat itu Sandi mulai bertanya-tanya.


            Hmm, sepertinya boneka ini begitu berarti bagi Kevin, batin Sandi.


            ’’Wess, apaan nih?’’ tanya Erik yang baru saja keluar dari kamar Dua. Ia tampak terkejut melihat


boneka yang dibawa oleh Kevin.


            Kevin tak menjawab. Ia hanya melirik Erik sekilas dengan sorot matanya yang dingin, lalu


melenggang masuk kamarnya tanpa berkata apa-apa. Tentu saja hal itu membuat Erik melongo sementara Sandi yang berjalan di belakang Kevin tak mampu menahan tawanya. Baru kali ini ada seseorang yang membuat Erik seperti itu.


            ’’Kenapa dia?’’ tanya Erik, agak berbisik.


            Sandi mengedikan bahu. ’’Kecapekan ‘kali.’’


***


            ’’Buruan, Rik! Jangan lama-lama, sudah hampir setengah jam lu di dalam kamar mandi!’’


            ’’Kang Reza, bagi sampo dong!’’


            ’’Woy ini celana dalam siapa?! Nggak ada akhlak banget, mandi aja pake ninggalin jejak segala!’’


            Seperti inilah rutinitas pagi para penghuni asrama. Mengantri di kamar mandi, sarapan, bersiap-siap,


Sandi yang baru saja sarapan kebetulan melintas di depan kamar mandi. Saat itu Niko tengah mengantri untuk mandi. Adik kelas yang bertubuh sedikit lebih tinggi darinya itu mengangguk dan menyapanya. Sandi pun membalas sapaannya. Meskipun agak pendiam, namun Niko selalu ramah pada siapapun,termasuk kepada orang yang lebih tua. Dia juga tak pernah sungkan untuk mengulurkan tangan pada siapapun yang membutuhkan bantuan.


Ya, seperti inilah potret kehidupan di asrama yang begitu majemuk dengan karakter para penghuninya yang bermacam-macam.


Sandi sudah mengenakan seragam sekolah, namun kemudian ia teringat bahwa ia masih harus merapikan kamar. Salah satu peraturan tidak tertulis di asrama ini; tak boleh meninggalkan kamar dalam keadaan berantakan. Pak Anwar pernah sekali melayangkan teguran pada seisi asrama karena mendapati salah satu kamar nyaris serupa kapal pecah. Semenjak saat itu para penghuni asrama membuat jadwal tersendiri untuk merapikan kamar sebelum berangkat sekolah secara bergantian.


            Sandi tengah merapikan kamar ketika tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang masuk. Handuk


putihnya melilit di seputar pinggang, rambut hitamnya masih basah, dan kulit tubuh menguarkan aroma madu dan susu sapi. Sandi yang memiliki indra penciuman nan tajam dan bahkan dapat mencium bau dalam radius lebih dari lima meter itu pun sontak mengalihkan perhatiannya.


            ’’Kang Irham?’’ Sandi sontak bersuara melihat Irham yang datang dalam kondisi tak memakai pakaian


dan hanya mengenakan handuk kecil di seputar pinggangnya. Tampaknya dia baru saja mandi.


            ’’Reza mana?’’ tanya Irham, setelah sempat mengedarkan pandang ke sekitar kamar. Tak ada


siapapun di sana, selain Sandi.


            ’’Masih mandi kayaknya, Kang.’’


            Irham mengangguk, lalu memandang kamera digital yang dia bawa. ’’Boleh nitip? Ini punyanya Reza,


kemarin kupinjam habis ke Kebun Raya Bogor.’’


            ’’Oke, Kang.’’


            ’’Ngomong-ngomong, kamu masih ikut ekstrakulikuler jurnalistik di sekolah kita?’’ tanya Irham,


kemudian. Tak seperti biasanya pemuda ini berbasa-basi atau bertanya duluan.


            Sandi menghela napas. ’’Ngga tahu ya, Kang, kayaknya saya mau pindah deh. Kalo nggak ke Bahasa


Mandarin, palingan ke ekskul drum band. Atau rohis sekalian aja ya? Entahlah.’’


            Irham terkekeh. ’’Boring ya? Dari dulu sejak aku gabung jurnalistik juga jarang ada anggota yang


lama gabung di sana.’’


            ’’Nggak boring juga sih, Kang, lagian di jurnalistik juga aku udah banyak temennya... tapi kayaknya


aku butuh suasana yang baru aja.’’


            Irham mengangguk. ’’Kamu masih suka nulis artikel untuk ekskul jurnalistik di sekolah kita?’’


            ’’Masih.’’


            ’’Tulisan-tulisanmu bagus. Dalam, diksinya oke, dan daya kritisnya pun cukup kuat       tapi tetap nyaman dibaca. Aku agak menyayangkan kalo kamu keluar dari jurnalistik.’’


            Sandi tertawa. ’’Iya, anak-anak jurnalistik juga pada menyayangkan kalo aku keluar dari jurnalistik. Katanya tulisanku enak dibaca dan kritis, bahkan katanya kemampuanku dalam menulis setara ama Kang Irham.’’


            ’’Benarkah?’’ Irham tertegun. ’’menurutku malah tulisanmu lebih bagus dan runut dariku.’’


            ’’Enggaklah, Kang, bagusan Kang Irham.’’’


            ’’Kalau begitu,’’ ucap Irham. ’’mungkin kapan-kapan kita bisa coba kolaborasi atau bikin tulisan


bareng.’’


            ’’Boleh.’’


            Irham melempar pandang ke pintu kamar yang terbuka sedikit dan membasahi bibir. Ia menatap


Sandi lekat-lekat, lalu—


            Brakkk!


            Perhatian Sandi dan Irham sontak beralih ke tumpukan buku yang berjatuhan di atas lantai.


Mereka terkejut karena buku itu tiba-tiba saja terjatuh. Secara logika, sedikit aneh buku sebanyak itu bisa terjatuh tanpa ada goncangan atau apapun. Di antara buku-buku yang sebelumnya tertata dengan rapi, tampak boneka milik Kevin masih duduk dengan tenangnya.   Lucyana.


            ’’Siapa bawa boneka ke asrama?’’ tanya Irham, mengernyitkan keningnya.


            ’’Itu... si Kevin.’’ ucap Sandi, seraya beranjak untuk merapikan buku-buku. Padahal dia


baru saja menata rak buku.


            ’’Mau aku bantuin?’’ ucap Irham, menawari.


            ’’Nggak usah, Kang... makasih.’’


            Irham mengangguk kemudian dia berlalu. Tinggallah di kamar itu Sandi merapikan buku-buku


sendiri. Gerak tangannya tergesa karena tak ingin terlambat berangkat sekolah. Perjalanan ke sekolahnya membutuhkan waktu lima belas menit dengan berjalan kaki, apabila dirinya tidak bergegas maka ia bisa terlambat. Dan ketika selesai merapikan buku,   tahu-tahu saja perhatiannya


seperti tertaut pada boneka Lucyana.


            Sandi memandang mata boneka itu. Dalam hati dirinya masih menyimpan keheranan karena Kevin


membawa benda seperti ini ke asrama. Ia tak mempermasalahkan kalau itu memang hobi Kevin, namun seharusnya dia memikirkan tabiat sebagian penghuni asrama yang gemar ‘usil’ pada barang-barang sesama penghuni lainnya. Terlebih mengoleksi boneka seperti ini bukanlah kegemaran laki-laki pada umumnya.


            Boneka ini tidak mungkin berjalan berkeliling asrama sambil membawa pisau yang selama ini


diam-diam dia sembunyikan di balik gaun pengantinnya ‘kan?


            Selama beberapa jenak Sandihabiskan hanya dengan memandangi mata boneka Lucyana. Seperti ada sesuatu yang aneh dengan boneka bergaun pengantin ini. Sesuatu yang membuat siapa yang memandangnya merasa seolah pernah melihatnya sebelumnya. Seolah ada sesuatu yang tersembunyi dalam tubuh Lucyana sehingga orang-orang terus menautkan perhatiannya. Padahal secara fisik boneka ini tidak seram, bahkan imut dan cantik.


            Boneka itu tersenyum—dalam artian memang memiliki lengkung bibir yang tersenyum. Figurnya

__ADS_1


tampak cantik dan anggun seperti gadis bangsawan. Lucyana, entah kenapa Kevin tampak begitu menyayangi boneka ini sampai memindahkan buku-bukunya dan sebagian barang ke dalam koper supaya Lucyana bisa ditempatkan di rak buku.


Mungkin Sandi memang pernah sekali bertemu dengan boneka ini sebelumnya—      di dalam mimpi buruknya.


            Sandi menepis jauh-jauh pikiran aneh dalam benaknya. Sepertinya dirinya terlalu banyak menonton film horor. Rasionalitasnya seharusnya masih mampu berjalan baik, terkecuali jika pikirannyapernah terbentur dengan hal-hal seperti mistik dan sebagainya.        Di dunia nyata mana ada hal seperti itu


            Dan berbicara tentang film horor, sepertinya dia harus mulai memikirkan pekan depan akan


menonton apa bersama temannya.


            Sandi menyambar tas ranselnya, kemudian mematut dirinya kembali di depan cermin. Sempat sekali


perhatiannya tertaut pada Lucyana. Boneka itu masih di sana. Tak bergeming atau melakukan apa-apa—ya, tentu saja karena dia hanya boneka. Dan setelah merasa dirinya sudah tampan seperti biasanya, Sandi berbalik badan menuju pintu kamar untuk berangkat    sekolah.


***


            Pukul 8 malam dan Sandi baru saja selesai makan malam. Peraturan di asrama ini sebenarnya tak


memperbolehkan makan selain di jamnya—makan pagi dari pukul setengah enam pagi sampai pukul tujuh dan makan malam dari pukul lima sore sampai pukul enam. Makan siang ditiadakan karena bel pulang sekolah para penghuni asrama baru berdentang pukul 4 sore. Namun Sandi dengan kecerdikannya suatu kali berhasil


menduplikat kunci almari yang biasa digunakan menyimpan makan malam.


            Sesampainya di kamar, rupanya sudah ada Reza, Erik, Yogi, dan Tio tengah nge-pes di


laptop. Semenjak Reza membeli satu set lengkap peralatan game, kamar ini nyaris selalu riuh saat malam hari. Ada saja anak kamar sebelah yang ikut bermain game di kamar ini. Terkhusus laptop, Pak Anwar masih mengizinkan para penghuni asrama memakai laptop di malam hari, namun tentunya bukan untuk bermain game sampai larut malam seperti ini.


            ’’Ayo ikutan nge-pes, Kang!’’ ajak Tio.


            Sandi menggeleng. ’’Aku sudah lama nggak main. Dulu aku kecanduan parah ampe jadi ansos dan sekolahku berantakan.’’


            Tio menggeser posisi duduknya supaya Sandi bisa duduk di atas tempat tidur bertingkat itu. Mungkin karena merasa sungkan juga, sebab yang tengah didudukinya adalah kasur Sandi. Sandi pun mengambil ponselnya yang terselip di satu sisian kasur sehingga membuat Tio terhenyak karena Sandi berani menyembunyikan ponsel


seharga lima jutaan di sana.


            ’’Kang, kuperhatikan kamu addict banget main hape, biasanya buka apaan sih?’’  tanya Tio pada Sandi yang tengah berselonjor di pojokan dengan ponsel berlambangkan apel bekas gigitannya.


            ’’Grindr.’’ celetuk Erik.


            Semua orang tertawa berderai.


            ’’Enak aja lo!’’ sergah Sandi. ’’palingan sosmed biasa, situs belajar online ama Youtube-an gitu sih.’’


            ’’Kang Sandi, kemarin aku sudah nge-follow kamu di Instagram, ternyata followers-mu di sosial media banyak juga ya!’’ komentar Yogi, takjub.


            ’’Anak hits.’’ timpal Tio.


            Sandi berpikir sejenak. ’’Iyakah? Dikit itu mah. Kayaknya masih banyak dah yang followers-nya


lebih-lebih dari itu. Lagian followers-ku sampe empat ribuan juga karena main Instagram sudah agak lama. Sudah hampir tiga tahunan.’’


            ’’Nah, aku sudah tiga tahun lebih tapi followers masih mentok tiga ratusan!’’       sungut Erik. Tentu saja semua tertawa karena mengingat Erik bahkan sampai meminta   followback pada Zara JKT48, Maudy Ayunda, Gigi Hadid, Chelsea Islan, Jennie Blackpink,dan sederet artis populer idolanya. Dan tentu saja artis-artis cantik itu tak menggubris permintaan Erik.


            ’’Untuk ukuran orang biasa yang bukan artis atau selebgram udah banyak itu, Kang.’’ timpal Tio


pada Sandi.


            ’’Ya beda mah kalo yang ganteng.’’ komentar Reza, seraya melirik Sandi. Selama ini Sandi beberapa kali dipuji sebagai sosok yang tampan, apalagi dengan figurnya yang terlihat polos namun tetap tampak kekotaan. Alisnya nyaris sehalus goresan pensil, bibir yang merah alami, kulit putih bersih bahkan meski tanpa terlalu banyak


tersentuh oleh produk perawatan. Dia juga pernah didapuk sebagai model seragam di sekolahnya.


            Sandi tergelak. ’’Aku mah biasa aja... masih gantengan Kang Irham.’’


            ’’Kalo aku ganteng nggak Kang?’’ tanya Niko, tiba-tiba. Rupanya sedari tadi pemuda itu berada di


kasur tingkat bagian atas.


            ’’Ganteng.’’ jawab Sandi, jujur. ’’semua anak asrama ini pada ganteng-ganteng semua. Pinter pula,


buktinya bisa sekolah di sekolah internasional.’’


            ’’Sekolah internasional tapi bagi-bagi gizi dua kali seminggu aja cuma perkedel kecil ama


susu kedelai.’’ cibir Erik.


            Reza tertawa. ’’Sekolah internasional tapi mau bikin kolam renang aja nggak jadi jadi mlulu.


Dari jaman gue baru ikutan MOS ampe sekarang sudah mau lulus masih aja wacana.  Nggak ada


kejelasan lagi.’’


            ’’Sekolah internasional tapi lapangannya cuma ada satu, sampai-sampai ekskulbasket, futsal, ama bulu tangkis harus berebut lapangan mlulu.’’ timpal Tio. Dimanapun sepertinya ada saja orang-orang yang gemar mengkritik fasilitas atau kebijakan-kebijakan yang sudah ada.


            Yogi tengah bertarung melawan Reza via game di laptop. Sorot matanya bergerak


gelisah menatap layar laptop. Jemari jempolnya terus berpacu di atas game stick, namun Reza yang tampak sudah sangat expert dalam permainan itu benar-benar sulit untuk dikalahkan.   Maka setelah dia benar-benar sudah kalah, Yogi pun membanting game stick-nya di atas karpet kamar.


            ’’Kenapa Gi? Stick-nya bermasalah lagi?’’ tanya Reza, dengan intonasi menyindir.


            Yogi mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Sepertinya dia memang tidak akan bisa menang melawan


Reza dalam hal permainan. Sebersit kemudian perhatiannya tertumbuk ke sudut ruangan.


            ’’Itu... apa?’’ tanya Yogi.


            Sandi, Reza, Erik dan Tio sontak mengalihkan atensinya ke arah yang ditunjuk oleh Yogi—boneka Lucyana.


Semenjak boneka itu berada di sini memang atmosfer serasa berbeda sehingga siapapun yang masuk kamar ini selalu reflek mengalihkan perhatiannya ke arah Lucyana. Terlebih boneka itu diletakan tak jauh dari pintu kamar. Sang empunyanya kala itu tengah tidak berada di kamar.


            ’’Punyanya si Kevin tuh.’’ jawab Reza.


            ’’Ngapain sih tuh orang bawa gituan ke sini?’’ tukas Erik, yang memiliki sedikit phobia kepada


boneka.


            ’’Bukan... bukan bonekanya yang kumaksud.’’


            Yogi beranjak kemudian mengambil album foto dari rak buku yang berada di pinggir Lucyana. Ia


lalu membawanya ke kasur tingkat sehingga penghuni asrama yang lain bisa melihat foto-foto di album foto bergaya vintage itu. Berbagai memori dan kegiatan para penghuni asrama terbingkai di album itu sehingga mereka bisa kembali memutar nostalgia. Sesekali terdengar komentar-komentar dan celetukan sarat keantusiasan.


            ’’Ini pas kita liburan ke Kawah Putih ‘kan?’’ seru Sandi.


            ’’Nah, kalau ini pas kita ke Masjid Raya Bandung.’’ ucap Erik.


            Reza tertegun sejenak, seraya berusaha mengingat-ingat. ’’Hmm, kenapa di sini nggak ada foto


gue ya?’’


            ’’Ya soalnya Kang Reza di sini pas bagian foto-foto.’’ jawab Yogi.


            Niko mendelik. ’’Wah, kenapa di sini bisa ada foto gue lagi ketiduran di bus sampe ngiler?’’


            ’’Kalo yang ini di Trans Studio Bandung bukan sih?’’ tanya Tio.


            ’’Iya, yang pas si Kevin nyasar dan nangis sendirian ampe ngompol.’’ celetuk Erik, sehingga tawa semua orang pun berderai.


            Mereka membuka halaman demi halaman album foto itu. Begitu banyak momen berharga yang


tersimpan dalam album foto itu. Sesekali mereka tertawa, sambil membahas keseruan setiap momen dalam foto-foto tersebut. Betapa perbedaan karakter satu sama lain justru telah mempersatukan mereka. Dalam setiap persahabatan memang selalu tersimpan cerita yang seolah tak pernah ada habisnya.


            ’’Nggak kerasa, sebentar lagi Kang Irham ama Kang Reza lulus.’’ komentar Tio.    ’’Kang Sandi dan Kevin naik ke kelas dua belas, sementara gue, Niko, Erik, ama Yogi juga bakal punya adik kelas. Time flies.’’


            ’’Lulus SMA, masuk kuliah sesuai jurusan yang jadi bidang kita masing-masing.’’ sambung Yogi.


            ’’Lalu masuk ke dunia kerja, bertemu dengan gadis impian masing-masing, menikah, punya anak yang banyak—’’ sambung Reza, sengaja menggantung kalimatnya supaya ada kawannya yang lain bisa meneruskannya.


            ’’…terus mati.’’


            Semua terhenyak. Suara itu tidak keluar dari bibir Sandi, Erik, Yogi, Niko, Tio, maupun Reza. Malah seperti tiba-tiba muncul dan mencuat di antara percakapan mereka. Semua sempat saling berpandangan. Sandi, Erik, Niko, Yogi, Tio, dan Reza pun sontak menoleh ke arah sumber suara.


            Kevin, entah sejak kapan, telah berdiri di ambang pintu. Wajahnya nyaris tak memiliki ekspresi,


sorot matanya dingin dan tajam menusuk sampai ke tulang. Tampaknya ia tidak senang dengan perkataan salah satu dari mereka. Tangannya terlihat menggenggam buku besar berwarna hitam—sekilas terlihat seperti buku kematian dalam film terkenal. Death note.


’’Siapa yang tadi ngatain gue nangis ampe ngompol di Transmart?’’ tanya Kevin, dingin.


            ’’Sorry, Kang... saya cuma bercanda.’’ ucap Erik, cengengesan.


            Hening.


            Kevin menatap Erik tajam. Erik pun tak gentar balas menatap Kevin dengan dingin.     Selama beberapa jenak dua pemuda itu beradu tatap. Selama ini Erik dan Kevin memang terkenal tidak akrab dan bahkan beberapa kali saling menguarkan aura permusuhan. Erik yang sesekali tampak sensitif, judgemental, dan egois. Kevin yang


kelewat sinis dan dingin. Meskipun Erik adalah adik kelas dan bertubuh lebih pendek, namun dia menguasai ilmu beladiri sehingga apabila mereka berkelahi bisa ditebak siapa yang menang.


Semua mengira akan ada baku hantam, namun ternyata kemudian Kevin hanya menghela napas lalu mengambil sebuah buku di lemarinya. Kemudian keluar kamar.


            ’’Aneh tuh orang!’’ tukas Erik, seraya menggaris tanda silang di dahinya dengan jari


telunjuk. Entah sejak kapan dia selalu tampak kurang senang pada Kevin, padahal Erik selalu baik hati dan ramah pada yang lain. Pemuda itu tampaknya terganggu dengan karakter Kevin yang sombong dan


seolah menguarkan aura gelap.


            ’’Iya, selalu mengasingkan diri dan nggak pernah bisa berbaur ama orang-orang.’’ timpal Tio.


            ’’Elu juga sih pake ngomong-ngomong kayak gitu, Rik!’’ tegur Reza. ’’sudah tahu tuh anak sensitifnya ngalah-ngalahin isu agama dan politik.’’


            ’’Justru apa bagus dia mempertahankan tabiat kayak gitu kalau tinggal di asrama?’’ sergah Erik.


’’dengan sifat kayak gitu dia nggak bakal bisa maju. Nggak bisa bersosialisasi. Baperan banget jadi orang, apa-apa dijadiin masalah ampe selama ini nggak bisa berbaur ama orang-orang di sekitarnya. Apa kalian tahu, kalau dia sering ngomong-ngomong sendirian? Ngegambar hal-hal aneh dan mengerikan? Menyendiri di tempat-tempat sepi dan gelap? Ngeliatin anak perempuannya Pak Anwar dengan tatapan seram ampe nangis ketakutan? Atau, nih ada


yang paling parah—


            ’’Cukup, Rik, nggak usah diperpanjang lagi!’’ sergah Yogi. ’’biar gitu gitu juga,        dia tetap aja kakak


kelas kita.’’


            ’’Lagian kita ‘kan nggak tahu apa yang sudah menyebabkan dia jadi kayak gitu.’’ ucap


Reza, seperti biasanya selalu muncul sebagai pihak yang bijaksana dan menengahi. ’’mungkin kita nggak pernah ‘tahu’ alasan apa itu, tapi setidaknya kita bisa ‘memahami’ kalau seseorang pasti punya alasannya tersendiri untuk sesuatu.’’


            Erik menghela napas. ’’Yaudah lah, mau gimana lagi... kayaknya udah nggak bisa dirubah-rubah


lagi juga orangnya.’’


            Sandi memandang layar ponselnya sejenak, lalu beralih pada kawan-kawannya. ’’Lagi ada promo


seblak ama ayam geprek via Grab-foodnih, ada yang mau pesen? Makin banyak, makin murah.’’


            ’’Gue pesen seblak satu deh San.’’ ucap Reza.


            ’’Aku ayam geprek.’' timpal Yogi.


            ’’Gue sama kayak Yogi, Kang.’’ ucap Erik.


            ’’Aku ama Tio sama kayak Kang Reza.’’ sahut Niko.


            Sandi mengangguk. ’’Oke, gue pesenin semua yah.’’

__ADS_1


__ADS_2