
10
Kutukan
Sepulang sekolah, Sandi dan Bram langsung meluncur ke kos Bram. Sebagai putra seorang direktur
perusahaan besar, jangan bayangkan kos Bram berada di gang sempit atau kamar yang kecil dan bahkan hanya memiliki perabotan seadanya. Kos Bram lebih terlihat seperti homestay eksklusif dan mewah dengan tiga lantai..
Sebuah hunian berstandar internasional dengan berbagai fasilitas yang tak kalah dengan hotel berbintang. Ada kolam renang dan garasi yang luas. Di lantai satu tampak beberapa orang bule mengobrol, sementara tetangga
kamar kos Bram yang terletak di lantai tiga pun adalah orang Korea.
Kamar Bram tiga kali lipat lebih luas dari kamar Sandi di asrama. Selama ini ia beberapa kali menginap
di kos Bram karena kamarnya memang begitu nyaman dan luas. Iseng-iseng Sandi pernah bertanya harga sewa kos ini perbulan dan ia pun nyaris terlonjak begitu mengetahui harganya lebih dari dua kali lipat biaya asramanya perbulan.
’’Mana San, katanya mau nunjukin rekaman kamera semalam?’’ tanya Bram, seraya menanggalkan
seragamnya.
’’Bentar, mau ganti perban dulu.’’
Bram terhenyak saat Sandi menunjukan lukanya. Goresan-goresan itu tampak sudah mengering, namun berwarna hitam karena terlalu lama dibiarkan. Ukuran goresannya kira-kira sama dengan telunjuk orang
dewasa, garis goresannya nyaris lurus serupa ukiran. Tampaknya luka-luka yang telah mengering itu diakibatkan goresan silet, pisau kecil atau cutter.
’’Tadi sudah diobatin di sekolah.’’ ucap Sandi, menggigit bibirnya karena merasa kesakitan.
Bram beranjak mengambil perban dan obat pereda nyeri di kotak obat di sudut kamar, kemudian membantu mengobati luka Sandi. Seusai itu ia pun membalutkan kassa perban itu pada lutut dan kaki Sandi. Sandi tampak berusaha keras agar tidak mengeluarkan erangan. Rasa sakit yang menghujam dan menghujani kakinya terasa sungguh tidak tertahankan. Sangat menyiksa.
’’Thanks, Bram,’’ ucap Sandi.
Bram tak mengerti. Bagaimana mungkin Sandi dapat menahan sakit seperti ini. Bahkan hanya
memandangnya pun sudah terasa ngilu. Sulit dipercaya ada seseorang yang mampu tetap pergi ke sekolah dan melakukan aktivitas seperti biasa dengan luka seperti itu. Sandi pernah mengatakan bahwa luka dan rasa sakit dapat membentuk mental, namun mental macam apa yang terbentuk dari goresan luka-luka serius
seperti itu?
Selama mengenal Sandi, Bram sudah banyak mendengar cerita dan keluh kesahnya. Bertahun lamanya dia hidup di bawah tuntutan-tuntutan sang Mami untuk serba sempurna dalam bidang akademik. Tidak seperti
remaja-remaja seumurannya yang memberontak atau bahkan menggugat balik orangtuanya, Sandi justru menekan dirinya sendiri demi melakukan yang diinginkan Maminya. Sebagai anak laki-laki sulung dan satu-satunya dalam keluarga, sepertinya dia ingin melakukan sesuatu untuk keluarganya, apalagi semenjak Papanya meninggal dunia.
Padahal diam-diam ia kerap merasa seolah akan putus asa dan tak mampu. Pemuda ini telah membentengi kerapuhannya dengan setumpuk ambisi dan kerja keras.
Sandi menjentikan jemarinya di depan Bram. ’’Kok bengong?’’
Bram tersadar, lalu sontak menggelengkan kepala. Ia beranjak kemudian menyambar kaos dari dalam
almari dan mengenakannya, sementara Sandi mulai menyeret tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur.
’’Mau makan apa?’’ tanya Bram, seraya meraih ponselnya di atas meja. ’’biar kupesenin via online. Biasanya
dari bawah langsung diantar ke atas ama security, aku bayar duluan via Paypal.’’
Sandi berpikir sejenak. ’’Ayam bakar kecap yang waktu itu kayaknya enak deh. Ama lemon tea hangat dong, Bram,’’
’’Oke, itu aja ya.’’ Bram menghela napas, lalu mulai menggeser-geser layar ponselnya.
Bram memasukan rekaman Sandi semalam ke dalam DVD player kemudian beranjak dan kembali duduk
di sisi Sandi.
Layar televisi yang tadinya kelam mulai memutarkan sebuah video. Video itu adalah rekaman di
kamar Sandi semalam. Semua orang di kamar tengah terlelap, termasuk Sandi. Kamar itu temaram seusai Sandi mematikan lampu. Dalam video, tampak Sandi sempat takut-takut memandang ke sudut sebelum menekan saklar lampu. Hanya tersisakan lampu duduk di pojokan. Setelah itu Sandi segera menuju kasurnya kemudian menarik selimut. Selama beberap
jenak, tak terlihat ada apa-apa.
Sampai akhirnya, sesuatu akhirnya terjadi.
Di antara temaram kamar, tampak boneka yang tadi berada di sudut mulai bergerak. Sorot matanya
berputar, senyumnya melebar. Menguarkan aura bengis dan tak kenal ampun. Tampaknya dia sengaja menunggu semua orang terlelap untuk melancarkan aksinya. Dalam sekejap boneka itu seperti ‘berubah’, dari boneka biasa yang tampak normal menjadi boneka yang mengerikan dan bisa bergerak-gerak sendiri.
Boneka Lucyana perlahan kemudian mulai turun dari rak buku, lalu melangkah ke arah kasur Sandi.
Boneka itu melangkah dengan gerakan yang kaku seperti boneka. Hanya saja gurat wajahnya
tampak bengis. Ia juga mengeluarkan suara seperti geraman binatang malam. Boneka bergaun pengantin itu naik ke sisian ranjang Sandi, lalu sejenak menatap pemuda yang tengah terlelap itu.
Boneka itu mengangkat salah satu tangannya. Jemarinya tampak telah ditumbuhi oleh kuku-kuku
hitam nan tajam, kemudian boneka itu mulai menggoreskan kukunya pada kaki Sandi berkali-kali. Gurat wajah Sandi yang masih terlelap tampak seperti menahan perih dan kesakitan karena goresan boneka itu, namun sepasang matanya tak terbuka sedikit pun. Tampaknya ia mengalami kesakitan dalam tidurnya.
Sang boneka tertawa dengan begitu mengerikan, lalu kembali lagi ke singgasananya di atas
rak buku. Hanya satu detik. Dan boneka itu telah kembali berubah menjadi boneka biasa.
Bram menganga, tak mampu menutupi keterkejutannya. Sesaat, dia seperti kehilangan kemampuan
berkata-kata. Seumur-umur baru kali ini dirinya menyaksikan peristiwa mengerikan seperti itu. Benaknya masih sulit mempercayai, namun semuanya benar-benar terjadi di depan matanya. Sesosok boneka yang bisa hidup sendiri di
malam hari dan melakukan sesuatu yang mengerikan. Bram pun tak memiliki pilihan lain selain percaya.
Bram mengalihkan pandang pada Sandi. Tampak pemuda itu tengah memandangi luka berbalut perban di
kakinya sendiri. Gurat wajahnya tampak mengeras menahan sakit dan seperti terpikirkan sesuatu.
’’Sakit banget,’’ keluh Sandi.
’’Nggak mau dibawa ke rumah sakit aja? Nggak perlu rawat inap, cuma berobat aja. Kali aja bisa
cepet sembuh.’’ usul Bram. Sahabatnya itu memang selalu perhatian padanya.
Sandi menggeleng. ’’Nggak usah. Tahu ‘kan, aku alergi sama bau-bau rumah sakit? Dan aku nggak
suka mengantri. Lagian tadi sudah diobatin di ruang kesehatan sekolah ini, ntar juga baikan.’’
Hening sejenak.
’’Sebelumnya aku nggak pernah percaya sama hal-hal seperti itu. Aku pernah mengunjungi beberapa
__ADS_1
tempat angker dan tidak terjadi apa-apa. Atau melihat sesuatu apapun. Setelah melihat rekaman ini, sepertinya sekarang aku nggak bisa kalau nggak percaya. Sesuatu seperti itu memang benar-benar ada di dunia ini.’’
Sandi mengalihkan pandang pada Bram. ’’Emang sebelumnya aku percaya gituan? Sekarang aku bahkan
merasa nggak aman kalau bertahan di asrama itu. Nggak bisa nggak, aku harus pindah dari sana.’’
’’Kamu nggak ngerasain apa-apa saat boneka itu melakukan itu pas kamu tidur?’’ tanya Bram.
Sandi menghela napas. ’’Aku punya syndrome tidur yang agak aneh. Sangat susah terbangun,
entah dibangunin dengan cara apapun tetap saja nihil. Kata mendiang Papa, waktu kecil dulu aku pernah sakit demam parah ampe berminggu-minggu dan sejak sakit itulah aku jadi punya kebiasaan tidur seperti ini. Sekarang aku mau tanya, selama ini aku beberapa kali menginap di sini, apa kamu pernah mencoba membangunkanku waktu tidur?’’
Bram menggeleng.
’’Nah, itu. Aku susah banget bangun kalau sudah tidur.’’ ucap Sandi.
’’Wah,’’ ucap Bram. ’’kalo kondisinya gitu bahaya juga ya San kalo kamu tinggal di asrama.’’
’’Bahaya... gimana?’’
’’Kamu tahu maksudku.’’
Sandi tertegun, lalu berpikir sejenak. Dan begitu menangkap maksud perkataan Bram, ia pun
begidik ngeri.
’’Ah nggak mungkin,’’ tukas Sandi. ’’kalaupun ada, aku pasti reflek kebangun dan langsung
menghabisi orang itu. Emang ada orang yang nggak merasa sama sekali kalau dilecehkan waktu tidur?’’
Bram sempat terdiam. ’’Ngomong-ngomong, apa kamu sebelumnya pernah bikin kesalahan ke
boneka itu?’’
Sandi tertegun, lalu berpikir.
’’Enggak. Maksudku, nggak tahu ya... bisa jadi aku tanpa sengaja melakukan sesuatu yang
menurut dia salah atau membuatnya marah. Tapi kalau semua ini karena aku membuat kesalahan... apa ya kira-kira?’’
’’Menjatuhkan atau menyenggol boneka itu tanpa sengaja? Berkata kasar di depan boneka itu? Membuat
kegaduhan? Mengatakan sesuatu yang berpotensi menggores perasaan makhluk halus yang menghuni boneka itu? Atau apapun yang sekiranya membuat dia murka?’’
’’Seingatku, enggak pernah.’’
Bram tak bertanya lagi, sementara kemudian terdengar ketukan dari pintu. Ia beranjak lalu membuka
pintu kamarnya.
’’Makanannya sudah datang. Ayo kita makan dulu, San!’’
***
Pukul 5 sore, angin bertiup perlahan dari angin barat. Tampaknya tak ada yang mengira bahwa
akan terjadi sesuatu.
Sepulang sekolah, Erik, Reza, Niko, Tio, dan Yogi langsung menuju meja makan. Rasa lapar sudah
’’Wah, enak nih!’’ seru Tio, seraya menyendok lauk dan nasi ke piring makannya. Siang tadi dia
tidak makan, sehingga sepertinya kali ini akan mengambil porsi dobel.
’’Pelan-pelan makannya, Rik, baca doa!’’ tegur Yogi, mengingatkan.
’’Bodo amat!’’
Niko melirik Reza. ’’Belakangan menu makanannya enak-enak terus ya. Kayaknya suasana hatinya Pak
Anwar lagi bagus. Atau beliau sedang kebanjiran rezeki.’’
Reza hanya tersenyum, sementara kemudian dari atas terdengar suara pintu yang terbuka
perlahan kemudian tertutup. Sepertinya ada penghuni asrama yang hendak bergabung dengan mereka di meja makan.
Erik, Reza, Tio, Niko, dan Yogi menyantap makanan sore menjelang malam mereka. Seharian
beraktivitas di sekolah sungguh menguras tenaga dan pikiran mereka. Momen makan bersama di meja makan seperti ini merupakan salah satu saat yang mereka rindukan. Bercengkerama, berbagi tentang
hal-hal menarik yang mungkin mereka dapati di sekolah, dan sesekali gelak tawa pun berderai.
Semua di meja makan itu begitu asyik dengan obrolan sore mereka, sehingga tak menyadari
seseorang tahu-tahu sudah berdiri di dekat meja makan.
’’Siapa... yang sudah melakukan ini?’’
Niko tersedak karena mendengar suara berat dan dingin itu, sementara perhatian semua orang segera tertuju pada sosok yang tengah berdiri tak jauh dari meja makan.
Kevin menatap semua orang dengan dingin, namun di saat yang bersamaan juga menguarkan bara
panas dari sorot matanya. Sepertinya sesuatu menyulut kemarahannya. Tangannya terlihat membawa boneka Lucyana miliknya yang nyaris hancur seluruhnya di bagian kepala sehingga hanya menyisakan tubuh utuh berbalut gaun pengantin.
Reza tertegun, lalu menggeleng perlahan. ’’Bonekanya kok bisa ampe ancur gitu, Vin? Tadi bukannya pas—’’
’’Gue tanya, siapa ******** yang sudah melakukan perbuatan ini?!!!’’ tanya Kevin, menggelegar.
Hening. Semua tersentak karena bentakan Kevin yang selama ini terkenal nyaris kelewat jarang
bicara itu. Ia memang selalu menunjukan gurat wajah tak bersahabat pada semua orang, namun tentu tidak ada yang menyangka bahwa dia bisa menumpahkan kemarahan sampai seperti ini. Sorot matanya berkilat, bahkan rahang wajahnya pun tampak mengeras dan bergemeletuk. Seolah ada sesuatu yang dia anggap menghina harga
dirinya. Dia tampak seperti gunung api yang siap mengeluarkan lahar panas kapan saja.
Semua yang ada di meja makan saling berpandangan. Sepertinya mereka pun tidak tahu-menahu perihal
rusaknya boneka itu, termasuk Niko dan Reza yang sekamar dengan Kevin. Sebagian besar penghuni asrama ini memang tak memiliki hubungan yang baik dengan Kevin, namun rasanya mereka tidak mungkin menghancurkan boneka itu tanpa alasan yang jelas.
Yogi, yang sudah mengetahui siapa pelaku perusakan boneka itu pun mulai merasakan kegelisahan memenuhi benaknya. Haruskah dia memberitahu pada Kevin ataukah tidak?
Kevin mengangkat boneka itu dan sorot matanya pun meredup menatap bonekanya seperti tengah mengalami duka mendalam karena sesuatu. Bahunya terguncang-guncang. Tampaknya boneka itu begitu berharga baginya sampai-sampai dia bisa begitu murka dan sedih hanya karena sebuah boneka. Lalu sebersit kemudian ia tampak tersenyum dan tertawa. Tingkah pemuda itu membuat semua orang yakin bahwa memang ada sesuatu dengan boneka itu.
’’Emang ada apa sih dengan boneka itu?’’ tanya Tio, tak mampu menutupi gusar dan nada sinis dalam suaranya.
Kevin mengalihkan atensinya pada Tio, dan menatapnya dengan sorot mata nan menghujam. Matanya
__ADS_1
kembali berkilat oleh bara kemarahan, ia menatap semua orang yang ada di meja makan.
’’Asal kalian semua tahu,’’ desis Kevin. ’’kalian semua tak ada harganya sama sekali
dibanding boneka ini!’’
Erik tersulut emosinya mendengar perkataan Kevin, kemudian beranjak lalu menghantam kepala Kevin sehingga pemuda itu terdorong dan membentur tembok dengan cukup keras. Boneka yang tadi berada dalam genggamannya pun terlempar ke samping. Semua orang terhenyak melihat tindakan Erik, apalagi saat Kevin membentur tembok dengan keras dan tersungkur tak berdaya di atas lantai.
Kevin terjatuh di sisian tembok, lalu terbatuk-batuk. Erik tampaknya belum puas membuat perhitungan pada pemuda itu, terlebih sudah lama ia muak dengan tingkah lakunya. Selama ini dia selalu menahan geram melihat Kevin yang terkesan sombong dan dingin. Memanfaatkan keadaan Kevin yang masih tersungkur, Erik pun tanpa ampun mulai menendangi perutnya berkali-kali.
’’Stop, Rik! Stop!’’ tukas Reza, kemudian beranjak untuk menghentikan perbuatan Erik.
Saat itulah tiba-tiba saja terjadi sesuatu yang aneh.
Erik tertegun, kemudian memandang kakinya yang mendadak terasa kaku dan sulit bergerak.
Kebetulan saat itu Reza sudah menarik tubuh Erik menjauh dari Kevin. Sebersit kemudian ia terheran-heran melihat gurat Erik yang tahu-tahu berubah menjadi pucat pasi.
’’Kenapa Rik?’’ tanya Reza.
’’Kaki gue, Kang...’’ ucap Erik, dengan panik dan terbata-bata. ’’kaki gue nggak bisa digerakin!’’
Reza mengernyitkan keningnya, kemudian membantu Erik duduk di atas kursi. Dia memeriksa keadaan
kaki Erik dan benar saja kaki Erik mendadak kaku dan seolah mengeras. Beberapa kali Reza mencoba menggerakan kaki Erik dengan mengangkat dan menurunkannya, namun tidak ada pergerakan berarti. Terang saja hal itu menimbulkan keheranan semua orang yang melihatnya. Tio beranjak, kemudian turut memeriksa keadaan
kaki Erik.
Niko baru saja hendak meminum air, sesaat sebelum tiba-tiba saja tangannya terasa tak mampu
digerakan. Matanya melebar karena merasakan tangannya nyaris tak mampu bergerak. Jemarinya mendadak berubah kaku dan nyaris tak bisa digerakan. Ia pun hendak menaruh gelasnya kembali perlahan, namun gelas itu justru terjatuh ke meja dan terpantul lagi ke bawah meja. Sejenak kemudian terdengar suara gelas pecah yang
menyentak indra pendengaran.
’’Kenapa, Ko?’’ tanya Yogi.
Niko perlahan menggelengkan kepalanya yang mendadak juga terasa kaku. Freeze. Keringatnya mulai
bercucuran, ia memutar bola matanya pada Yogi, Reza, Tio, dan Erik yang juga tengah memandangnya.
’’Tangan gue juga nggak bisa gerak!’’ teriak Niko, panik.
Merasakan keanehan yang terjadi dengan tiba-tiba itu, Reza pun mengalihkan perhatiannya secara kilat
pada Kevin yang sudah bangkit. Pemuda itu sudah berdiri dan menatap semua orang dengan sorot mata tajam dan seulas senyuman lebar. Terlalu jelas, ialah dalang di balik peristiwa aneh ini.
’’Kalian semua harus membayar perbuatan kalian!’’ teriak Kevin.
Reza belum menangkap maksud perkataan Kevin itu, namun kemudian ia merasakan kaki dan
tangannya mulai kesulitan bergerak. Ia menatap tangannya yang mendadak kaku dan tak bisa digerakan.
Tio baru saja hendak bangkit untuk melarikan diri, namun kemudian kakinya terasa membeku dan
mendadak tidak bisa digerakan. Ia mengerang, kemudian masih mencoba memaksakan kakinya untuk melangkah. Namun tak peduli seberapa kuat pun ia mencoba menggerakan kakinya, hasilnya nihil saja. Pemuda itu justru seolah terpaku di tempatnya. Tak mampu bergerak.
Niko sudah tak mampu menggerakan tubuhnya sama sekali. Mulutnya terbuka, sementara matanya
mulai meneteskan air mata. Ia tampak luar biasa panik dan ketakutan. Matanya berputar ke arah Erik, Tio, Reza, dan Yogi yang keadaannya tak jauh berbeda dengannya. Erik bahkan sudah terbujur kaku tanpa ekspresi, seperti boneka kecil yang tidak berdaya.
Erik beralih pada boneka Lucyana yang terjatuh di sudut, kemudian mengambilnya. Ia pun mengambil
bonekanya itu lalu mulai menaiki tangga.
’’Kevin!’’ panggil Yogi, dengan suara tertahan.
Kevin menghentikan langkah, kemudian menautkan pandangannya pada Yogi. Sorot matanya tampak malas dan merendahkan. Dia sungguh-sungguh sudah kehilangan segenap empatinya.
’’B... bebaskan kami! Kami nggak tahu apa-apa tentang boneka itu!’’ tukas Yogi, berupaya
mengumpulkan tenaganya yang tersisa. Napasnya bahkan mulai tersenggal-senggal. Ia
tidak mampu beranjak atau bergerak sehingga hanya sorot matanya yang bergerak.
Kevin mengangkat satu alisnya. ’’Kalau bukan kalian siapa? Aku tahu, kalian semua diam-diam selalu
menaruh kebencian padaku ‘kan?’’
’’Tapi memang bukan kita yang merusak boneka lu!’’
’’Lalu siapa?’’
’’S-sandi... yang merusak boneka lu itu.’’ jawab Yogi, terbata. Ia mulai merasakan kesulitan berbicara karena kutukan yang dikirimkan Kevin.
Kevin tertegun, lalu sepasang matanya berkilat. ’’Habislah kau, Sandi!’’
Di saat yang nyaris bersamaan, Irham tengah membaca buku sendiri di kamarnya. Sepulang
sekolah tadi dia sudah makan di foodcourt di dekat sekolah sehingga sekarang dia tidak ikut makan bersama
penghuni asrama lainnya. Sembari beristirahat di kamar yang nyaman dengan AC yang menyala, ia membaca buku filsafat klasik. Buku-buku berbobot adalah bacaan sehari-harinya.
Lantai dua ini sepertinya senyap sekali. Semua orang pasti tengah makan di bawah. Irham sangat
menikmati suasana seperti ini, karena dirinya bisa dengan tenang melakukan aktivitas kesukaannya seperti membaca. Beberapa lama membaca buku sendiri di kamarnya, Irham mulai bertanya-tanya karena penghuni asrama lainnya tak kunjung kembali dari makan bersama di lantai bawah.
Mungkin mereka masih mengobrol atau malah langsung bermain futsal, pikir Irham kemudian kembali melanjutkan membaca. Atau mungkin melakukan hal lainnya.
Perlahan Irham merasa kantuk mulai menyerang. Sekali diliriknya jam di dinding. Masih pukul lima kurang sepuluh menit. Ia pun meletakan buku di sisinya, kemudian memejamkan mata. Tidur barang satu jam sambil menunggu waktu maghrib sepertinya mampu mengembalikan energinya yang terkuras. Malam nanti dia akan kembali membuka buku-buku pelajarannya.
Irham tertegun dalam tidurnya. Mengapa tiba-tiba bagian dadanya terasa sesak, seolah ada
sesuatu yang menindih?
Tadinya Irham hendak mengabaikan hal itu begitu saja. Mungkin hanya perasaannya saja. Namun makin lama dadanya terasa semakin berat, sehingga ia pun tersadar ada sesuatu yang aneh.
Perlahan, Irham membuka matanya.
Sesosok boneka pengantin tengah berdiri di atas dadanya. Ia tersenyum lebar. Kepalanya retak-retak, seolah baru saja hancur kemudian diperbaiki kembali. Dalam sepasang mata hitam besar itu terlihat bara api yang menyala.
Irham menelan ludahnya yang terasa tersekat di tenggorokan. Matanya beradu dengan sepasang
mata boneka yang menguarkan aura bengis itu. Sejak pertama kali melihat boneka itu di kamar Sandi, dia sudah merasa ada yang janggal. Seolah ada sepasang mata yang terus mengikutinya dari kamar sebelah. Rupanya, ada sosok iblis yang diam-diam menebar teror di asrama ini.
’’Siapa... kamu sebenarnya?’’
__ADS_1