Pesta Boneka

Pesta Boneka
Episode 5


__ADS_3

5


Di Sekolah


 


 


            ’’Si Niko jadinya gimana Kang?’’


            Matahari pagi belum membumbung terlalu tinggi. Sandi, Erik, dan Reza berjalan bersama ke


sekolah. Tak seperti biasanya, pagi itu mereka mengenakan seragam olahraga dalam rangka menyemarakan acara sekolah mereka. Seharian itu mereka akan meninggalkan kelas dan beradu kebolehan dalam berbagai kompetisi antara angkatan. Selain itu para atlet, dancer, seniman dan jenius lainnya akan turun ke lapangan. Tentu saja hal itu mengundang antusiasme tak terbendung dari semua siswa-siswi di sekolah.


            Sandi, Erik, dan Reza melangkah di jalanan komplek. Kala itu kebetulan mereka melintas di depan pasar di pagi hari yang mulai riuh. Padahal mereka berangkat lebih dini dari biasa, namun pasar itu sudah cukup ramai.


            Reza menghela napas mendengar pertanyaan Erik. ’’Hari ini dia nggak berangkat sekolah buat acara Gen Meet. Agak siangan nanti orangtuanya datang menjemput dia pulang. Masih trauma kayaknya dia, mungkin dia butuh pulang untuk menenangkan diri barang beberapa hari.’’


            Erik menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir. ’’Memangnya semalam dia lihat apaan sih di lantai tiga?’’


            ’’Hantu perempuan katanya.’’ jawab Reza, tampak merasa tidak nyaman membicarakan hal itu.


            Erik bergidik. ’’Serem banget! Lagian dia ngapain sih malam-malam di lantai tiga? Bukannya di sana tuh serem banget kalo malam ya?’’


            ’’Si Niko memang sering banget mencuci di sana malam-malam. Kadang ampe lewat jam 12 malam dia masih aja cuci-cuci baju. Nggak mau mencuci di kamar mandi soalnya katanya kotor, jorok, dan bukan tempat buat mencuci baju.’’ jelas Reza.


            Sandi mendesis. ’’Tapi by the way dia niat juga ya nyuci ampe tengah malam gitu? Bukan masalah takut hantu atau apa, tapi… ya ngapain aja gitu!’’


            ’’Namanya juga mysophobia akut Kang.’’ tukas Erik. ’’eh, ini gue kasih tahu aja ya, kadang kalo Kang Reza, Kang Sandi atau yang lainnya bersalaman ama Niko, abis itu dia pasti diem-diem langsung ke kamar mandi untuk cuci tangan!’’


            ’’Seriusan?’’ tanya Sandi, melongo.


            ’’Tapi si Niko itu kayaknya bukan jijik gitu, tapi lebih ke ketakutan berlebihan atau phobia ke kuman. Orangnya juga selalu baik dan suka bersih-bersih. Dia nggak suka marah, jadi kalau ada berantakan atau kotor-kotor dia pasti langsung turun tangan sendiri untuk membersihkan. Kalau kayak gitu kasusnya, mungkin kita bisamemaklumi.’’ pungkas Reza.


            Sandi, Erik, dan Reza melangkah memasuki gerbang sekolah mereka. Spanduk dan berbagai dekorasi sudah dipasang di sudut-sudut sebagai penyemarak acara besardi hari itu. Bahkan maskot sekolah yang bertuliskan semboyan mensana in corpora sano pun sampai diturunkan ke tengah-tengah lapangan. Ketiga pemuda dari tiga angkatan berbeda itu berpisah di pintu gerbang dan menuju kelas masing-masing.


            Pagi itu belum begitu begitu riuh. Saat Sandi hendak memasuki kelasnya, tahu-tahu Bram menghadang langkahnya.


            ’’San, apa kamu sudah ada lomba yang mau kamu ikuti hari ini?’’ tanya Bram, to the point. Tampaknya dia tengah tergesa-gesa.


            ’’Enggak... kayaknya hari ini juga aku mau lihat-lihat pertandingan aja. Kenapa?’’ Sandi balas bertanya, seraya melangkah ke bangkunya lalu meletakan tasnya di sana.


            ’’Anu… kamu bisa nggak ikutan lomba baseball? Angkatan kita kekurangan anggota, si Kholil anak IPS itu mendadak opname karena usus buntunya kumat. Mungkin kamu bisa masuk team buat ngegantiin posisi dia sebagai batter pertama?’’


            Sandi terhenyak. ’’Kok dadakan banget?’’


            ’’Baru pagi ini juga ibunya si Kholil kasih tahu via telepon, dadakan banget memang padahal sudah seminggu ini Kholil latihan dan dia nggak bilang apa-apa tentang penyakitnya. Kamu bisa ngegantiin dia ‘kan? ‘Kan dulu juga kamu pas kelas satu ikutan ekskul baseball?’’ bujuk Bram.


            ’’Berani bayar berapa?’’ tanya Sandi, seraya mendudukan tubuhnya di atas bangku, melipat kaki,


kemudian mulai mengeluarkan ponsel berlambangkan apel bekas gigitannya dan mulai memainkannya.


            Bram berpikir. ’’Minggu depan pas jalan bareng aku traktir apapun yang kamu mau. Gimana?’’ tawar Bram,


belum menampakan tanda-tanda menyerah membujuk Sandi.


            Sandi menghela napas. ’’Nggak tahu Bram, aku sudah agak lama nggak pegang tongkat baseball dan aku juga sama sekali bukan tipikal yang bisa dadakan-dadakan gini, jadi… sorry, mungkin kamu bisa minta tolong


teman-teman yang lain.’’


            ’’Ku sudah minta anak-anak yang lain juga pada nggak bisa. Di angkatan kita bahkan di sekolah ini yang bisa baseball tuhbisa dihitung ama jari. Kali ini aja ku mohon, San… kamu pasti bisa kok! Demi angkatan kita, nanti juga di lapangan pasti bakal tumpah-ruah banyak cewek-cewek yang nonton…’’


            Sandi masih tampak ragu. ’’Tapi Bram—’’


            ’’…dan di sana juga pasti ada Putri.’’


            Sandi tak berkata-kata lagi. Bram tampaknya tahu betul bagaimana cara meruntuhkan pertahanan Sandi tanpa bersisa. Putri, sebuah nama yang bisa membuat Sandi luluh dalam sekejap. Ia adalah gadis yang diam-diam


Sandi sukai sejak masa orientasi tahun lalu. Selain Bram  tidak ada yang tahu bahwa Sandi mati-matian memendam perasaan pada gadis itu.


Maka, Sandi pun tak memiliki lain selain menyanggupi permintaan Bram untuk mengikuti pertandinganitu.


            Satu jam kemudian Sandi sudah duduk di jajaran para pemain baseball. Dia menunggu di pinggiran lapangan sambil menonton pertandingan futsal antara kelas X dan XII. Kala itu kebetulan Tio, Erik, dan Reza tengah berlaga di lapangan dalam rangka memperjuangkan kejuaraan untuk angkatan mereka masing-masing. Meskipun di asrama mereka begitu akrab, namun di lapangan mereka tetap bertanding selayaknya lawan pada umumnya. Erik tampaknya berhasil mencuri perhatian sebagai seorang bintang lapangan. Sorak-sorai pendukung dari berbagai angkatan membeludak di berbagai sisian lapangan karena antusiasme yang tak terbendung.


            ’’Lima belas menit lagi ya, San!’’ ucap Bram, mengingatkan.


            Sandi mengacungkan jempolnya pada Bram yang duduk agak jauh darinya sembari menandaskan botol Sprite-nya. Sudah lama sejak terakhir kali dirinya mengayunkan tongkat pemukul baseball-nya. Ada kerisauan tersendiri dalam benaknya, takut-takut dirinya melakukan kesalahan. Namun apapun yang terjadi, dirinya tetap harus melakukan ini. Show must go on.


Saat itulah Irham melintas dengan kamera digitalnya. Pemuda itu tampaknya juga menyimpan ketertarikan yang


meletup-letup pada dunia fotografi. Ia tampak mengabadikan beberapa momen menarik di acara itu dengan kamera digitalnya. Antusiasme penonton di tribun, perebutan bola yang begitu sengit, dan akhirnya bola yang menjebol gawang lawan.

__ADS_1


            Irham menghampiri Sandi di pinggiran lapangan, lalu tersenyum. ’’Kamu abis ini main juga San?’’


            ’’Iya Kang, aku jadi pemukul pertamanya.’’ jawab Sandi, seraya memincingkan matanya sedikit  karena tertimpa terik matahari.


            ’’Kalo gitu nggak keberatan ‘kan aku foto? Buat dokumentasi acara hari ini.’’


            ’’Boleh.’’


            Irham mengangguk, lalu mulai mengangkatt kamera digitalnya. Sandi pun berpose dengan mengangkat


jempolnya, tanpa lupa menyertakan senyum pepsodent-nya. Cekrek!    Foto kedua, Sandi meminta Bram agar mendekat kemudian ia merangkul sahabatnya itu. Bersahabat selama hampir lima tahun, Sandi baru sadar bahwa mereka belum pernah berswa-foto berdua.


            Irham terbatuk, lalu menurunkan kameranya. ’’Aku ke sana duluan ya, ada sesuatu yang harus kuurus.’’


            Sandi mengangguk. ’’Makasih ya Kang!’’


            Irham menggangguk, lalu berlalu. Sementara kemudian Sandi menyambar Yoghurt dingin milik Bram,


tentu saja diikuti dengan lirikan mata memaklumi sahabatnya itu.      Pemuda ini memang bisa menjadi begitu


mudah merasa haus apabila tengah nervous atau merasa terancam.


            Ya, Sandi pasti merasa sedikit gugup karena akan kembali bermain baseball di depan banyak orang.


            Tepat di seberang lapangan terlihat sesuatu yang janggal. Sebuah boneka yang tak asing. Boneka Lucyana. Boneka misterius yang sudah beberapa lama ini berada di kamarnya. Entah kenapa boneka itu tiba-tiba bisa berada di sana. Anehnya, orang-orang di sekitarnya seperti tak menyadari kehadiran boneka itu. Ia tersenyum aneh pada Sandi. Kepalanya bergerak-gerak meskipun agak kaku. Ya, boneka itu hidup....


            Sandi terhenyak, kemudian sontak bangkit. Sebersit kemudian ia tersadar bahwa boneka Lucyana


sudah menghilang.


            ’’Kenapa San?’’ tanya Bram.


            Sandi tergagap, lalu menggelengkan kepalanya. ’’Nggak... nggak kenapa-kenapa.’’   Ia lalu kembali duduk di tempatnya.


            Sandi terpaku di tempatnya sambil berpikir, lalu tiba-tiba saja pemikiran tak masuk akal melintas dalam pikirannya. Sempat dia menepis jauh-jauh pikiran itu, namun kemudian ia tidak bisa menyangkal lagi. Apakah boneka Lucyana itu ada kaitannya dengan kejadian-kejadian aneh di asrama belakangan ini?


            Pertandingan futsal itu berakhir dengan skor tiga-empat. Kelas satu keluar lapangan sebagai pemenang. Di tengah lapangan Erik dan Reza tampak bersalaman kemudian berpelukan sekilas. Sportivitas dalam pertandingan tetap harus dijunjung tinggi, apapun hasilnya.


            ’’Yuk, San,’’ ajak Bram. Kini tiba giliran para pemain baseball untuk masuk ke lapangan.


            Sandi mengangguk, lalu beranjak. Sempat matanya mengedarkan ke arah sekitar, takut-takut sosok


            Kekalutan masih memenuhi benak Sandi. Dirinya telah ditunjuk sebagai pemukul pertama, namun keresahan karena penglihatannya barusan masih mengganjal. Konsentrasinya tak bisa tertuju penuh pada permainan baseball. Ia yakin, yang baru saja itu bukan ilusi semata. Ada sesuatu yang tidak beres dengan boneka itu.


            Sorak-sorai penonton semakin riuh saat pelempar bola pertama sudah turun ke lapangan.


Sebagai pemukul bola pertama, Sandi harus berhasil menangkis lemparan bola itu. Tangannya menggenggam erat tongkat pemukul bola. Sekuat tenaga dikumpulkannya kekuatan dan konsentrasinya. Sekarang ini kemenangan satu angkatannya bergantung padanya.


Sandi terhenyak. Saat itu ia melihat di lantai 3 sekolah Kevin berdiri sendirian. Tidak, ternyata ia tidak sendiri, di sisinya tampak boneka Lucyana yang tengah berdiri di pembatas lantai 3. Berarti, penglihatan Sandi tentang boneka Lucyana di seberang lapangan itu bukan ilusi semata.


            Bola baseball itu melayang dengan cepat ke arah Sandi.


            Lalu, semua mendadak gelap.


***


            Percakapan suatu petang di meja makan.


            Reza, Tio, Erik, dan Yogi tengah menikmati makan malam mereka di meja makan. Di balik figur Pak Anwar sang pemilik asrama yang sangat tegas dan disiplin, beliau juga gemar memasakan masakan makanan yang lezat dan bergizi pada para penghuni asramanya. Waktu makan seperti ini pun selalu menjadi salah satu momen yang dirindukan.


            ’’Kalo makan tuh baca doa dulu, woy!’’ tegur Yogi, melihat Erik makan dengan begitu lahap.


            ’’Biar apa?’’ tanya Erik, dengan intonasi mengentengkan atau menantang. Tanpa mengindahkan perkataan


Yogi, ia pun kembali menyendok capcay rebus spesial Pak Anwar.Pemuda itu memang paling rakus perihal urusan makanan.


            ’’Eh gue kasih lu, kalo lu makan nggak baca doa, ntar setannya ikutan makan!       Kalo minum nggak pakai baca doa, setannya juga ikutan minum. Begitupun aktivitas lainnya. Makanya kita harus selalu


berdoa sebelum melakukan sesuatu.’’ ucap Yogi, menceramahi.


            Erik tertegun, lalu tersenyum miring. ’’Gimana kalo gue makannya tanpa berdoa,    tapi minumnya pakai berdoa? Biar setannya bisa ikutan makan, tapi nggak bisa minum. Keseretan deh!’’


            Semua tertawa. Erik memang pandai sekali dalam menciptakan candaan-candaan yang mengocok perut. Hal apapun sepertinya bisa dengan mudah diolah pemuda itu menjadi sesuatu yang lucu. Kadang bercandaan pemuda itu sedikit keterlaluan sehingga mengundang ketidaksenangan pada seseorang yang menjadi objek candaan, namun ia tak pernah sekalipun menyimpan maksud tidak baik pada orang lain.


            Blubuk! Blubuk!


            Dispenser galon yang berada tak jauh dari meja makan mendadak berbunyi sendiri. Seperti ada


yang tengah minum dari sana, padahal tidak ada siapa-siapa.


            Semua yang tengah berada di meja makan itu terdiam, lalu saling berpandangan satu sama lain.

__ADS_1


Kemudian mereka teringat lagi dengan kejadian Niko yang melihat hantu di lantai tiga asrama. Mungkin mereka lupa bahwa makhluk halus—kalau memang benar-benar ada—juga bisa mengambil minum sendiri dari galon.


            ’’Kang Sandi sekarang gimana keadaannya?’’ tanya Tio, pada Reza. Sebagai salah satu penghuni asrama


yang tidak mempercayai hal-hal mistis, dia bermaksud mencairkan suasana yang sempat menegang.


            ’’Masih di kamar tadi dia habis pingsan gegara kena bola pas pertandingan baseball. Luka


di pelipisnya masih keliatan merah, tapi sudah gue obati lukanya. Kasihan,  abis ini gue juga ambilin makan buat dia.’’ jawab Reza. Pemuda itu memang sangat perhatian dan menaruh empati berlebih pada para penghuni asrama ini, terlebih dia adalah penghuni asrama paling senior bersama Irham.


            Sementara itu di saat bersamaan Sandi tengah asyik menonton anime via laptop di kamarnya sambil nyemil rumput laut. Ia bahkan sudah sedikit melupakan luka di keningnya sendiri.


            ’’Bisa gitu ya bengong pas pertandingan ampe kena bola terus pingsan.’’ tukas Erik, seraya menyendok


makanan lagi.


            ’’Namanya juga insiden.’’ ucap Yogi.


            ’’Mana tadi pingsannya lama banget lagi. Tuh orang kalo tidur juga kayak simulasi meninggal,


susah banget dibangunin kecuali emang udah waktunya bangun!’’ sungut Erik. mau ada suara sekeras apapun, mau ketendang atau gimana pun dia tetep tidur.’’


            ’’Namanya juga pingsan, Rik, kalo bentar mah namanya tidur-tiduran.’’ tukas Tio, kemudian tertawa berderai.


            ’’Jangan-jangan,’’ ucap Yogi. ’’dia melihat penampakan makhluk halus makanya kemarin blank waktu


di lapangan.’’


            ’’Mana ada hal kayak gituan!?’’ sergah Erik, yang paling paranoid apabia sudah berhubungan


dengan segala sesuatu yang mistis.


            ’’Bisa aja! Kenapa enggak?’’ tanya Yogi.


            ’’Lu tanya, kenapa enggak? Gue tanya, kenapa harus ada yang kayak gituan segala? Orang bengong di


lapangan pas pertandingan malah dibilang melihat makhluk halus!’’ sungut Erik, tampaknya sungguh-sungguh paranoid dengan hal-hal mistis.


            ’’Gue lihat langsung kok pas Kang Sandi kena bola. Dia kelihatan bengong dan kosong, kayak melihat sesuatu. Katanya, orang-orang yang sudah meninggal itu masih ada di sekitar kita sampai 40 hari. Kemarin Papanya Kang Sandi meninggal sudah berapa lama?’’ tanya Yogi, kemudian mengedarkan pandang pada ketiga kawan asramanya.


            Tio mengedikan bahu, seraya menandaskan teh hangatnya. ’’Entahlah, tapi sejak Papanya


meninggal, Sandi jadi lebih pendiam dan sering melamun. Sampai sekarang pun dia jadi agak pendiam, jadi mungkin belum terlalu lama.’’


            Reza menggeleng. ’’Di dunia ini nggak ada arwah gentayangan. Setelah mati, sudah. Mereka sudah


berbeda alam dengan kita dan nggak bisa masuk ke alam manusia lagi. Kalaupun ada penampakan hantu mirip dengan orang yang sudah meninggal, artinya itu adalah makhluk halus yang merubah wujud jadi seperti orang yang sudah meninggal itu.   Dan biasanya tujuannya pun tidak baik, yaitu menggoda manusia.’’


            ’’Memangnya di dunia ini masih ada hal seperti itu?’’


            Erik, Tio, Reza, dan Yogi terhenyak. Yang baru saja terdengar itu bukanlah suara mereka. Perlahan-lahan, mereka pun memutar kepala ke salah satu sudut meja makan yang tadinya kosong.


            Di sana rupanya sudah duduk Kevin. Entah sejak kapan, pemuda itu sudah berada di sana seraya


menyantap makanannya. Tentu saja hal itu membuat Erik, Tio, Reza, dan Yogi terheran-heran, sebab sepertinya tadi Kevin tidak berada di sana.


            ’’Di dunia ini tidak ada jin, setan, iblis, atau semacamnya. Jangan mengarang-ngarang hal seperti itu.’’ tukas Kevin, dengan ekspresi wajah dan intonasinya yang khas.


            Kevin meraih ceker goreng di piringnya, kemudian melahapnya dengan begiturakus.   Seolah itu adalah sesuatu yang teramat nikmat baginya. Bahkan suara tulang ceker yang terkunyah di dalam mulutnya pun


terdengar begitu jelas. Seusai melahap sepotong ceker, dia kembali meraih ceker lainnya dan melahap ceker itu dengan penuh bernafsu. Masih dengan sorot matanya yang nyaris datar.


            Erik memutar bola matanya malas kemudian beranjak dari sana. Di antara yang lainnya pemuda itu


memang paling engganberurusan dengan Kevin. Mereka bahkan pernah nyaris berbaku hantam hanya karena masalah sepele. Mungkin karena ingin menghindari percikan-percikan, Erik pun selalu menjauh dari pemuda itu.


            Tio yang paling dekat dengan Erik pun bangkit kemudian mencuci piringnya dan meletakannya di


tempat piring lagi. Sedangkan Yogi yang tampak terganggu dengan cara makan Kevin segera beranjak membereskan piring tanpa memandang ke belakang lagi. Tinggallah Reza dan Kevin di meja makan.


            Reza sempat terdiam di tempatnya. Apabila dia beranjak seperti ketiga adik kelasnya, tentu


Kevin akan merasa tersinggung. Terlebih di antara seluruh penghuni asrama ini, sepertinya hanya Reza yang paling dekat dengan Kevin dan memaklumi segala sifatnya. Semua orang menjauhi Kevin karena kepribadiannya yang aneh dan sedikit mengerikan. Pemuda ini seperti memiliki sesuatu dalam dirinya.


            Beberapa jenak terpaku, karena merasa tak ada tujuan lagi bertahan di sana pun Reza beranjak


dari meja makan.


            Namun kemudian, sebuah tangan  mencekal lengan Reza.


            ’’Kang Reza mau ceker juga?’

__ADS_1


__ADS_2