Pesta Boneka

Pesta Boneka
Episode 3


__ADS_3

3


Masa Lalu


 


 


            Jemarinya yang menggenggam PS90 tersentak berkali-kali, dan peluru yang meluncur dari ujungnya


lagi-lagi menambah lubang yang menganga pada lempengan shooting target berbentuk manusiadi ujung sana. Beberapa tembakan kembali dihentakan oleh Sandi ke arah target, hingga akhirnya dia menurunkan PS90 dan menggerak-gerakan bahunya yang terasa pegal.


            Bram takjub. ’’Kemampuan menembakmu semakin baik, San!’’


            Sandi menghela napas kemudian melepaskan earmuff dari telinganya. Dia pikir dirinya


bisa melenyapkan beban dengan melakukan segala hal yang dia sukai, namun ternyata dia salah. Sepertinya dia harus menelusuri sebab-musabab permasalahannya sendiri dan bukannya mencari pelarian seperti ini.


            Sandi terkesiap saat Bram melempar sebotol Fanta oranye padanya namun beruntung dia dapat sigap


menangkapnya. Ia mengacungkan botol dingin itu sebagai tanda terima kasih kemudian meminumnya.


            ’’Daritadi kuperhatiin mukamu kayakkebanyakan pikiran. Ada apa?’’ tanya Bram, seraya membereskan


perlengkapan airsoft gun mereka sore itu.


            Sandi tertegun. Sepertinya sia-sia saja menyembunyikan rahasianya dari sahabatnya sejak SMP


sampai sekarang bersekolah di SMA yang sama di Bandung ini. Bahkan tanpa dia bercerita pun Bram sudah menyadari ada sesuatu.


            ’’Ada masalah-kah di asrama?’’ tanya Bram, lagi.


            Sandi mengangkat alisnya sekali. ’’Ya, gitu-lah. Tahu sendiri ‘kan sejak awal tinggal di asrama


tuh bukan pilihanku? Bahkan sekolah di luar kota kayak gini aja aku males banget sebenarnya. Entahlah, mungkin tahun depan aku mau pindah ke kos biasa saja dan nggak tinggal di asrama lagi.’’


            Bram hanya mengangguk-angguk. Ia paham betul watak sahabat ini, apabila sudah ada kata


‘entahlah’ di sana artinya dia sedang tak ingin bercerita banyak. Dalam beberapa kondisi pemuda ini bisa menjadi begitu sensitif dan kekanak-kanakan. Namun cukup dengan memberi waktu padanya barang sejenak untuk menenangkan diri, dan ia akan segera merasa lebih baik.


            ’’Ngomong-ngomong, gimana kabar ajakan makan malam dari adik kelas kita itu...       siapa namanya? Ella? Kamu terima tawaran dia?’’


            Sandi mengedikan bahu. ’’She’s not my type. Berisik, tukang nyinyir, dan kayaknya bukan cewek yang pinter.’’


            ’’Kalo yang surat cinta dari kakak kelas kita? Namanya Oliv ya kalo nggak salah? Kamu udah balas surat dia?’’


            ’’Dia terlalu perfect buat aku. Cantik, pinter, anak orang kaya dan berpengaruh pula. Dia terlalubaik buat aku. Bisa-bisa yang ada ntar malah aku sering insecure  kalo jadian ama dia.’’


            Bram melongo. ’’Yang biasa-biasa aja kamu tolak, yang sempurna juga kamu tolak. Terus maunya yang


kayak gimana?’’


            ’’Entahlah.’’


            Keduanya tertawa, lalu mulai melangkah meninggalkan tempat latihan menembak itu. Sandi dan Bram


melangkah menuju mobil milik Bram yang terparkir tak jauh dari lokasi. Sore itu mereka sudah berencana akan pergi ke mall tempat biasa mereka nongkrong. Beberapa kali mereka berpapasan dengan sesama pemain airsoft-gun yang sepertinya jugahendak memanfaatkan sore hari itu untuk bertarung dengan desing-desing peluru.


            ’’Yakin mau ke mall lagi?’’ tanya Bram, seraya menyilangkan sabuk pengaman ke tubuhnya


sendiri.


            Sandi tertegun. ’’Emang mau ke mana lagi?’’


            ’’Aku tahu tempat lain yang nggak kalah bagus dan keren.’’


            Sebuah kafe rooftop di ketinggian yang menghadap tepat ke pemandangan kota.   Sofa-sofa cangkir dan meja berwarna-warni yang disediakan untuk para pengunjung tampak begitu kontras dengan dominasi warna lantai kayu dan pembatas rooftop yang berbahan kaca. Langit sore kala itu berbiaskan jingga sehingga siapapun di sana dapat langsung menyaksikan panorama yang begitu indah dari ketinggian.


            Sandi takjub. ’’Ini... indah sekali!’’


            Bram menghela napas. ’’Kadang seusai hujan di sini terlihat bias-bias warna pelangi. Senja di sini sangatlah luar biasa. Malam hari di kafe ini selalu melankolis, kamu seperti bisa mendengarkan cerita indah orang-orang


yang pernah singgah di sini. Seperti ada nuansa tersendiri yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Bahkan banyak yang bilang di sini adalah tempat terbaik untuk menyaksikan langit dan pemandangan kota Bandung.’’


            ’’Kamu sering ke sini?’’ tanya Sandi, seraya mengeluarkan ponselnya kemudian mulai mengambil


beberapa potret.


            Bram menghela napas. ’’Biasanya sih kalau lagi galau atau stress, aku ke sini.’’


            ’’Kok kamu nggak pernah cerita tentang tempat ini?’’


            ’’Kamu nggak pernah nanya.’’


            Sandi dan Bram duduk menikmati senja di kafe rooftop itu dengan coklat hangat dan camilan. Sesorean


itu mereka mengobrolkan banyak hal, mulai dari sekolah sampai pandangan ke depan perihal kuliah dan lainnya. Apabila mereka sudah menemukan tempat yang nyaman namun tak terlalu riuh seperti ini artinya mereka akan mengobrolkan banyak hal. Sejenak berteduh dari rutinitas dan hari-hariyang lelah.


            Tak terasa hari sudah menjelang malam. Mereka pun mulai beranjak untuk pulang. Dan sebelum


pulang Sandi meminta Bram untuk memotonya di sana, kebetulan malam itu bertabur bintang dengan pemandangan kota yang membentang. Ada banyak tempat indah di Bandung, dan Sandi merasa beruntung karena hari ini menemukan salah satunya. Mungkin lain kali dirinya akan kembali lagi ke tempat itu.


            Bram menyalakan mesin mobilnya setelah sempat melirik Sandi. Pemuda itu meng-uap berkali-kali karena mengantuk, namun tetap menggeser-geser layar ponselnya untuk memilah gambar yang akan dia upload ke sosial media.


            ’’Kamu nggak pernah dihukum ama pengasuh asramamu karena sering pulang malam begini?’’ tanya Bram,


seraya mengecilkan AC mobil begitu menyadari Sandi terbatuk-batuk karena merasa kedinginan.


            ’’Nggak. Aku bahkan bisa menyelinap masuk ke dalam asramaku tanpa siapapun tahu seperti


seekor kucing.’’


            Bram tergelak. ’’Gym, sudah. Kafe, sudah. Gramedia, sudah sering. Toko-toko perlengkapan airsoft-gun juga sudah pernah. Mall, udah nggak terhitung lagi jumlahnya. Pekan depan kita mau ke mana lagi?’’


            Sandi menguap lagi. ’’Entahlah. ’’


            ’’Tidurlah. Aku akan membangunkanmu ketika kita sudah sampai.’’ ucap Bram, kemudian kembali


memusatkan konsentrasinya ke jalanan.


***


            Malam itu, sebelum tidur Sandi menyempatkan diri membaca surat Yaasiin dan berdoa untuk mendiang Papanya. Ruang tengah itu sudah agak senyap seusai pukul 10 malam. Dan begitu selesai membaca Al Qur’an, ia menolehkan kepala ke belakang. Rupanya, di sana juga masih ada Reza dan Irham. Mereka masih belajar, menggebu persiapan Ujian Nasional dan ujian persiapan masuk perguruan tinggi.


            Sandi mencium Al Qur’an dalam genggamannya dengan lembut, kemudian meletak-annya kembali ke rak


khusus Al Qur’an. Selama beberapa jenak dia memandang deretan kitab suci di rak itu. Dalam hati dia berharap semoga bacaan Al Qur’an-nya bisa membawa ketenangan bagi arwah Papa sehingga tidak mendatanginya lagi.


            Dahulu semasa SMP Sandi pernah mengalami kecelakaan sehingga kakinya tidak bisa berjalan selama


beberapa minggu. Kala itu keingintahuannya tengah pesat-pesatnya sehingga dia pun mencoba mengendarai motor besar milik kakak sepupunya untuk berkeliling kota. Tanpa terduga di tikungan terakhir sebelum masuk komplek perumahannya, sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi.


            Selama beberapa minggu Sandi harus mengenakan kruk dan belajar berjalan lagi. Papa pun dengan

__ADS_1


penuh kesabaran terus membimbingnya belajar jalan. Tanpa kenal lelah Papa membimbingnya berjalan dan terus membisikan kata-kata motivasi. Bahwa dia bisa. Sempat terbesit perasaan putus asa dalam benak Sandi meskipun ada Papa yang terus membimbingnya. Dokter sudah mengatakan bahwa cedera yang dialaminya kemungkinan bisa sampai berbulan-bulan bahkan pada beberapa kasus bisa lebih lama lagi, namun sebuah keajaiban terjadi. Dalam kurun waktu tiga minggu, Sandi bisa melangkah kembali tanpa bantuan kruk. Kala itu Papa sampai


menitikan air mata melihat putra sulungnya bisa kembali berjalan.


            Sandi menghapus air mata yang menitik di pipinya. Papa dahulu semasa hidupnya bahkan sampai


rela cuti kerja demi menemaninya belajar berjalan, sementara dirinya berada di sisi Papa di sisa-sisa waktu terakhirnya pun tidak bisa. Dan begitu ia sampai di rumah, sudah ramai orang-orang berkumpul dan membacakan Yaasiin. Bendera kuning yang lusuh terpampang di depan rumah.


            Mungkin karena itulah Sandi sampai sekarang menyalahkan ego Maminya dahulu, yang ingin dirinya


melanjutkan pendidikan di sekolah internasional dan tinggal di asrama. Seandainya dirinya tidak bersekolah di luar kota mungkin dia bisa menemani Papa di saat-saat terakhirnya.


            Sandi beranjak, hendak kembali ke kamar. Saat itulah Reza menawarkan padanya kalau-kalau dia


mau makan camilan dari Pak Anwar yang masih tersisa. Sandi pun hanya mengangguk, mengucapkan terima kasih, seraya terus melangkah.


            Di dalam kamar rupanya sudah ada Yogi. Pemuda itu kerap belajar di kamar dua bersama Niko. Dari tahun ke tahun, anak-anak kelas satu kalau tidak tengah rajin-rajinnya belajar pasti tengah berada dalam


fase malas-malasnya karena merasa terbuai bisa menembus seleksi masuk sekolah internasional yang sangat bergengsi.


Sandi mengalihkan perhatian ke kasur tingkat bagian atas. Niko tengah mendengkur pulas. Kevin pun sudah terlelap.


            Sementara Yogi saat itu tengah melongokan kepalanya ke bawah kasur, seperti sedang mencari


sesuatu. Ia tampak gusar. Pandangannya mengitari sekitar,


            ’’Cari apa, Gi?’’ tanya Sandi.


            ’’Pulpen.’’ jawab Yogi. ’’tadi pas aku nyalin catatannya Niko itu jatuh di sekitar sini, tapi aku cari-cari terus tetep saja nggak ketemu.’’


            Sandi mengambil pulpen dari dalam tasnya, kemudian mengangsurkannya pada Yogi. ’’Pakailah punyaku


dulu aja.’’


            Yogi tertegun, kemudian menggeleng. ’’Aku cari dulu, Kang, pulpen itu penting banget buat aku.


Nilai historisnya melebihi prasasti-prasasti dan artefak kerajaan zaman dahulu.Tapi by the way terima kasih untuk tawaran pulpennya.’’


            Sandi hanya mengangguk tanpa berkomentar, lalu meletakan pulpennya di sisi buku Yogi,


kalau-kalau pemuda itu berubah pikiran. Tetapi Yogi tampaknya masih belum menyerah mencari pulpennya.


            Sandi melangkah menuju kasur tingkatnya. Ia meraih ponselnya di atas nakas, kemudian


menggeser-geser layar ponselnya. Menurut prakiraan cuaca otomatis di ponselnya, besok hari akan cerah. Jika benar, mungkin besok dia akan menjemur kasurnya. Ia memang sangat bergantung pada ponsel karena dari sana dia bisa mendapat banyak akses informasi, komunikasi,dan hiburan. Sampai sekarang  pun ia masih


tak paham mengapa asrama ini melarang penggunaan ponsel, selain di waktu weekend.


            Pernah sekali Pak Anwar mengatakan pelarangan penggunaan ponsel bertujuan supaya penghuni asrama ini bisa berkonsentrasi belajar dan tak mengacaukan jam istirahat. Nyatanya, selama ini Sandi berlangganan situs belajar online yang sangat memudahkannya dalam pelajaran. Dan masih banyak manfaat lain yang bisa didapat dari penggunaan ponsel. Zaman sekarang pun sedikit sulit melakukan segala sesuatu tanpa teknologi.


            Ikon baterai dengan tanda silang muncul di layar ponselnya. Sandi terhenyak, baterai


ponselnya lemah. Ia harus segera mengecas ponselnya. Maka ia pun melangkah ke rak buku untuk mengambil charger.


            Kala itu Sandi tak begitu memperhatikan boneka Lucyana dan lebih memilih mencari charger-nya


yang selalu dia sembunyikan di rak buku, namun kemudian perhatiannya tertaut pada pulpen klasik keluaran lama yang tergeletak di belakang boneka bergaun pengantin itu. Ia tertegun dan


bertanya-tanya. Mengapa bisa ada pulpen di sana?


            ’’Ke mana ya pulpenku?’’ tanya Yogi, kebingungan. Astaga, pemuda itu masih mencari


pulpennya. Sandi kemudian menyambar pulpen di belakang bonekaitu.


            ’’Ini pulpenmu?’’ tanya Sandi, seraya mengacungkan pulpen yang dia temukan pada Yogi.


            Yogi menghampiri Sandi kemudian menghambur memeluknya erat saking senangnya. Postur tubuh Yogi yang tinggi dan agak berotot membuat Sandi yang bertubuh lebih mungil terbatuk-batuk karena adik kelasnya itu memeluknya terlalu erat. Tampaknya pemuda itu sangat senang karena pulpen kesayangannya bisa ditemukan kembali.


            Yogi melepaskan pelukannya pada Sandi. ’’Pulpen ini punya arti mendalam untukku. Aku nggak bisa


membayangkan kalau pulpen ini benar-benar hilang dan tidak kembali lagi. Tadi ketemu di mana, Kang?’’ tanya Yogi, tak mampu menutupi letupan-letupan kegembiraannya.


            ’’Di situ.’’ jawab Sandi, seraya menunjuk ke arah pojok. Tentu saja dia tidak mengatakan bahwa


pulpen itu berada di belakang boneka Lucyana sehingga mungkin Yogi mengiranya jatuh di belakang nakas.


            Yogi membulatkan mulutnya. ’’Kayaknya tadi menggelinding agak jauh sampai ke pojokan.’’


            Sandi mengangguk, kemudian beringsut menuju kasurnya dan mulai menarik selimut. Entah kenapa dia


terus terpikirkan oleh pulpen milik Yogi dan boneka Lucyana. Lamat-lamat ia mulai merasakan ada keanehan di sini. Dan kemudian ia menolehkan kepalanya lagi pada boneka Lucyana. Tampak boneka itu masih berdiri di sana dengan posisi seperti biasanya. Entah mengapa, Sandi merasa boneka itu tengah menertawainya.


            Sandi tertegun, kemudian begitu menyadari sesuatu ia mulai merasa tidak nyaman. Jarak Yogi dengan tempat ditemukannya pulpen itu tidaklah rasional. Mustahil pulpen itu bisa menggelinding sejauh hampir empat meter. Apalagi kemudian ternyata pulpen itu ada di—belakang boneka Lucyana.


            Keringat dingin membasahi kening Sandi, namun ia justru menarik selimut tebalnya. Perasaan takut yang sulit dilukiskan dengan kata-kata mendadak memenuhi benaknya. Sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.


***


            Sore perlahan beranjak. Sandi memandang ke langit, tak lama lagi langit akan segera


menggelap.


            Sepulang sekolah Sandi menyempatkan diri mampir ke minimarket yang ia lintasi. Malam ini sepertinya


dia harus begadang karena ada banyak tugas sekolah yang harus dia tuntaskan. Sekaleng Fanta, sereal cokelat dan kopi dingin tak boleh absen dari aktivitasnya begadang malam ini. Selama ini pun seusai pulang sekolah dia kerap menyempatkan mampir ke minimarket itu untuk membeli berbagai keperluan. Kebetulan minimarket ini berada di depan gerbang komplek perumahan asramanya.


            Dan sebelum melangkah ke bagian makanan dan minuman, Sandi tiba-tiba teringat sepertinya ia


perlu membeli sabuk baru. Sabuk yang biasa dia pakai sudah agak kendor. Maka dia pun beralih pada sudut di supermarket yang menjual sabuk. Setelah mencemati beberapa sabuk, akhirnya dia menemukan ikat pinggang yang tampak paling pas dan nyaman.Ia pun meletakan sabuk pilihannya itu di keranjang belanjaan.


            Tadinya Sandi hendak langsung membalik badannya menuju sudut minimarket yang menyediakan


minuman dingin, namun kemudian dia justru menyusuri rak demi rak minimarket itu terlebih dahulu. Tangannya terangkat dan mengambil beberapa camilan kemudian memindahkannya ke dalam keranjangnya. Dia teringat bahwa di asramanya ada kawan-kawannya yang mungkinakan senang menerima makanan darinya.


            Kaki Sandi langsung berjalan ke sudut minimarket, di mana berbagai minuman dingin tersedia.


Kali ini ia tak membuang banyak waktu hanya untuk memilih, pikirannya sudah tertaut pada satu merk kopi dingin botol yang dia inginkan. Matanya sesekali menyapu jajaran minuman dingin di kulkas dengan berbagai merk. Dan entah beruntung atau apa, ternyata kopi dingin favoritnya tersisa satu.


            ’’Hari ini adalah hari keberuntunganku.’’ batin Sandi, seraya tersenyum senang. Padahal dirinya


baru saja dimumkan tidak lolos dalam seleksi perlombaan karya tulis ilmiah. Selama ini ia memang kerap mengatakan atau melakukan sesuatu demi menghibur dirinya sendiri dari berbagai beban pikiran dalam hidupnya.


            Minimarket itu tak begitu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang berlalu-lalang. Saat itulah


pintu minimarket tahu-tahu terbuka, dan perhatiannya pun sontak teralihkan ke sana.


            Sandi tertegun. Sosok itu adalah Irham. Sepertinya pemuda itu juga hendak membeli sesuatu di


minimarket. Tidak seperti Sandi yang masih mengenakan seragam putih abu-abu, dia sudah memakai jaket hitam klasik kebangaannya dan tampaknya juga sudah mandi. Di depan minimarket tampak terparkir sepeda motor Yamaha Levi warna Silver milik Irham. Di asramanya memang hanya Irham yang diperbolehkan membawa kendaraan karena pemuda itu mengajar les private dan kelas reguler di sebuah lembaga bimbingan belajar. Tampaknya pun Irham sekarang hendak berangkat mengajar les.


            Sandi berjalan dengan agak merundukan kepala ke jajaran rak bagian deterjen dan peralatan


mandi, kemudian diam-diam mengamati Irham.

__ADS_1


            Selama ini Sandi dan Irham tak begitu dekat. Hanya sesekali saja mereka berbicara, itupun tak


pernah lama. Sandi kadang canggung dalam memulai pembicaraan, sementara seluruh penghuni asrama pun tahu bahwa Irham tak pernah banyak berbicara. Singkat kata, mereka sama-sama pendiam. Mungkin karena itu pula mereka menjadi jarang berkomunikasi. Terlebih Sandi dan Irham tinggal di kamar yang berbeda.


            Tampan, cerdas, dan berasal dari latar belakang keluarga yang bagus. Kadang terbesit dalam benaknya perasaan iri pada Irham. Sepertinya setiap lembar dalam hidupnya tampak begitu sempurna. Pemuda itu pernah mewakili sekolahnya dalam event bergengsi di China. Tempo waktu ketika orangtua Irham datang menyambang ke asrama, dan Pak Anwar serta keluarganya tampak begitu menghormati mereka. Keluarga walikota yang amat terpandang. Selama ini pun seluruh penghuni asrama menaruh hormat pada Irham karena kepribadiannya yang tenang, kharismatik, dan bijaksana.


            Sandi merunduk. Sorot matanya mendadak muram, dia menyimpan sebuah cerita yang membuatnya tidak


bisa dekat dengan Irham.


            Dahulu semasa orientasi siswa baru, Sandi pernah jatuh hati pada seorang gadis.    Dari hari pertama sampai hari terakhir masa orientasi diam-diam ia selalu mengamati gadis sehalus goresan pensil itu. Ia


juga menyogok salah satu kawannya supaya bisa satu kelompok dengan sang gadis. Bahkan ketika gadis itu kedapatan melakukan kesalahan dalam sebuah permainan yang diadakan dalam MOS itu pun Sandi ‘mengorbankan diri’ dengan mengaku pada kakak-kakak pembina bahwa dirinya-lah pelaku kesalahan itu sehingga dirinya harus dihukum sementara sang gadis bebas dari hukuman.


            Perhatian Sandi nyaris tak pernah lepas dari gadis itu sampai hari terakhir MOS. Puncak masa


orientasi, seluruh siswa baru dikumpulkan di halaman sekolah sementara para kakak-kakak pembina OSIS mulai bergantian memperkenalkan diri mereka. Saat itulah Sandi yang selalu diam-diam mendekati gadis itu, kemudian mendengar si gadis berbisik pada seorang kawan dekatnya. Sesaat, langit sore perlahan terasa menggelap. Hatinya tergores. Ternyata gadis itu menyukai salah satu kakak pembina OSIS.


            Dan kakak pembina OSIS itu adalah Irham.


            Sandi buru-buru menepis memori itu. Mengapa dirinya justru kembali mengingat masa-masa itu? Dia


sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk move on, meskipun sampai sekarang dia belum bisa menyukai gadis lain lagi.


            Irham tampak melangkah ke sudut makanan, sementara Sandi kemudian diam-diam memutar langkah


ke jajaran rak parfum dan skincare. Entah kenapa dia menjadi sedikit malas berpapasan dengan pemuda itu. Beruntung saat itu tengah tidak ada yang mengantri di kasir sehingga dia bisa langsung membayar belanjaannya dan pergi.


***


            Malamnya, Sandi mulai menggarap tugas di ruang tengah. Kertas-kertas coretan, buku rumus, dan laptop


berada di atas karpet merah berbulu. Dia harus berjibaku malam ini karena keesokan pagi semua tugasnya harus dikumpulkan.


            Malam itu senyap, tak seperti biasanya asrama ini pukul sepuluhsudah hening. Semua sudah terlelap atau berada di kamarnya masing-masing. Beberapa menit yang lalu Tio dan Reza masih belajar di sana bersamanya di ruang tengah namun sekarang mereka sudah kembali ke kamar masing-masing. Kini tinggal


Sandi sendiri di sana dengan tugas-tugasnya yang menggunung.


            Dalam keadaan sepi seperti ini dirinya bisa lebih berkonsentrasi. Sebab biasanya Sandi mudah


sekali teralihkan pada sesuatu. Terlebih pendengarannya sangat peka, biasanya apabila di ruangan yang sama ada dua orang yang mengobrol maka dia akan otomatis mendengarkan mereka dan bahkan terlarut dalam pembicaraan itu. Apalagi jika itu adalah topik yang menarik minatnya.


            Tangan Sandi terangkat hendak mengaut camilan lagi namun kemudian ia tertegun. Camilannya


sudah habis, padahal tugasnya baru terselesaikan separuh jalan. Sebelum memulai mengerjakan tadi pun dirinya sudah memesan segelas besar Boba via ojek online sebagai tambahan perbekalan perang malam ini. Apa boleh buat, dirinya pun kembali melanjutkan tugas tanpa camilan.


            Seusai ini Sandi sudah harus mulai serius merencanakan perkuliahannya. Sampai detik ini dirinya


masih belum memiliki pandangan, padahal sebagian besar kawannya sudah mempunyai setidaknya tujuan hendak melanjutkan kemana seusai lulus sekolah. Perkuliahan tidak akan mungkin dijadikan sebagai angan-angan semata. Dan yang paling utama, dirinya harus semakin giat belajar.


            Malam itu benar-benar senyap. Dan sepertinya Sandi telah memilih waktu yang tepat untuk


menggebu tugas-tugasnya karena dirinya bisa lebih memusatkan konsentrasi.


            Srett...


            Pintu ke arah kamar mandi tiba-tiba saja bergeser perlahan. Suaranya cukup memecah keheningan.


            Atensi Sandi sontak teralihkan pada pintu, namundia berpikir bahwa ada anak asrama yang baru saja dari kamar mandi. Jadi dia pun mengabaikannya begitu saja dan kembali berfokus pada tugas-tugasnya.


            Ada lorong yang memisahkan di antara deretan kamar mandi dan pintu geser itu. Biasanya ada


lampu di sana namun entah kenapa malam itu lampunya mendadak rusak dan tidak bisa dinyalakan. Lorong kecil di antara kamar mandi dan tangga itu kini gelap tanpa adanya penerangan. Tidak terlihat ada apapun di sana.


Tanpa Sandi ketahui, di antara kegelapan itu, sesuatu yang jahat diam-diam tengah mengintainya.


            Sandi masih berjibaku dengan tugas-tugasnya. Masih tak menyadari bahwa tengah ada yang


memandangnya dari sudut pintu. Dia sempat mengalihkan perhatian sekali ke sana, sedikit terheran-heran mengapa pintu itu terbuka tanpa ada seseorang pun di sana. Namun, konsentrasinya sudah terlanjur melekat pada tumpukan tugas. Ia pun memilih melanjutkan tugasnya kembali. Dia ingin segera menyelesaikan tugasnya supaya bisa lekas tidur.


            Terdengar suara tawa anak kecil. Sandi terhenyak, lalu sontak melontarkan pandang ke pintu.


            ’’Siapa?’’


            Hening.


            Sandi mengernyitkan kening, kemudian beranjak untuk menutup pintu. Suara anak kecil


tertawa itu begitu jelas. Dirinya masih bisa membedakan yang mana halusinasi dan mana yang bukan. Sempat sekali dia memandang dari celah-celah pintu. Kosong. Gelap. Tak terlihat ada siapapun di sana. Seusai menutup pintu geser itu, ia pun kembali ke tempatnya. Sepertinya malam ini menjadi terasa seram dan suram.


            Sebersit kemudian Sandi kembali teringat peristiwa mengerikan beberapa malam yang lalu, ada sesuatu muncul di balkon kamarnya.


            Sandi kembali menautkan konsentrasinya pada lembar-lembar tugas. Mati-matian berusaha


diabaikannya pikiran-pikiran tak menentu. Dia harus segera menuntaskan tugasnya, kalau tidak,maka dirinya


tidak akan mampu mengumpulkannya tepat waktu. Rasa takutnya sudah membukit, namun tugasnya pun menggunung.


            Srett...


            Pintu itu kembali bergeser. Tak terlihat ada siapapun di sana.


            Sandi menatap nanar pintu itu. Sepertinya memang ada yang tidak beres di sini. Maka ia pun


segera menutup laptop dan membereskan buku-bukunya. Tak dipedulikannya lagi tumpukan tugas itu. Yang ada di pikirannya adalah lekas-lekas pergi dari ruang tengah itu. Sebelum terjadi sesuatu pada dirinya.


            Sandi masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Ia lalu segera memasukan tas berisi


buku-buku dan laptopnya ke dalam almari. Malam ini benar-benar terasa begitu aneh. Pergerakan tangannya sedikit tergesa karena dicekam ketakutan. Bahkan pikirannya pun serasa dipenuhi perasaan paranoid. Dan saat itulah tanpa sengaja Sandi menyenggol boneka Lucyana sampai terjatuh ke atas lantai.


            Tangan Sandi terulur ke bawah kemudian mengambil boneka itu dan meletakannya kembali ke


tempatnya. Ia tertegun, barulah kali ini ia tersadar bahwa peristiwa-peristiwa aneh di asrama ini terjadi semenjak ada boneka ini.


            Sandi tercekat. Suara anak kecil tertawa itu muncul lagi. Sandi pun sontak menolehkan kepalanya ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.


            Sandi menolehkan kepala lagi ke depannya. Boneka Lucyana tengah menyeringai lebar, tertawa keras


dengan begitu mengerikan, kemudian tangannya terangkat dan mencekik leher Sandi.


***


            ’’Sandi... Sandi... bangun. Sudah subuh.’’


            Sandi membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sakit. Lenguhan pendek keluar dari bibirnya.


Rupanya semalam dirinya hanya bermimpi. Dia masih berada di ruang tengah dengan tumpukan tugasnya yang belum terselesaikan. Tampaknya dia tertidur saat tengah mengerjakan tugas-tugas itu.


            Di depannya, tampak seraut wajah.tampan Irham. Pemuda itu sudah mengenakan sarung, kopiah, dan


baju koko bersiap pergi ke masjid. Sandi pun mendudukan diri di atas karpet merah nan halus dan berbulu. Karpet yang baru di ruangan tengah ini memang begitu halus sehingga nyaman dijadikan tempat beristirahat. Wajar saja dirinya semalam tertidur.   Sebersit kemudian Sandi teringat peristiwa mengerikan semalam yang ternyata—


            Hanya mimpi? 

__ADS_1


            ’’Shalat dulu, San, ntar kalo ngantuk dilanjut tidurnya habis subuh.’’ ucap Irham, seraya meletakan tangannya di bahu Sandi.


            Sandi mengangguk. ’’Iya, makasih, Kang...’’


__ADS_2