Pesta Boneka

Pesta Boneka
Episode 8


__ADS_3

8


Teror-teror


 


 


            Tengah malam itu suara rintik hujan di luar sana tiba-tiba membangunkan Tio dari tidurnya. Sepertinya


tadi dia tertidur saat belajar di ruang tengah. Ia baru teringat bahwa dirinya belum shalat Isya’. Pemuda itu mengucek matanya sebentar, lalu memandang ke arah jam dinding. Sudah pukul satu lewat.


            Di ruang tengah itu hanya ada dirinya seorang diri. Tentu saja penghuni asrama lain yang tadi


belajar sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Tampak beberapa buku berserakan di atas karpet merah yang berbulu. Maka ia pun beranjak untuk membereskan buku-buku itu karena subuh nanti ruang tengah ini akan digunakan untuk shalat berjamaah. Biasanya pun dirinya langsung turun tangan membersihkan apabila ada


yang berantakan atau kotor.


            Tio beranjak untuk mengambil air wudhu di kamar mandi. Matanya masih sedikit mengantuk, mungkin


seusai ini air dingin dapat menyegarkannya. Saat hendak membuka pintu, tahu-tahu saja pintu itu bergeser sehingga membuatnya terkejut.


            Sandi yang rupanya membuka pintu itu juga tak kalah terkejut. Ia pikir seluruh penghuni asrama


sudah terlelap.


            ’’Belum tidur?’’ tanya Sandi.


            ’’Baru bangun Kang... tadi ketiduran di ruang tengah.’’ jawab Tio, seraya mengucek matanya.


            Sandi mengangguk. ’’Itu di kulkas ada susu kotak tadi aku beli di minimarket depan, kali aja


mau.’’


            ’’Oke, Kang, terima kasih.’’


            Seusai berwudhu, Tio menggelar sajadah di ruang tengah. Ia pun berbalik sejenak ke kamar untuk


berganti pakaian koko dan peci. Meskipun masih dihinggapi kantuk, namun ia tetap harus menjalankan ibadah shalat dengan khusyu’ dengan pakaian yang rapi.


            Semua penghuni kamar satu tampak sudah terlelap. Tentu saja karena malam sudah         sangat larut, sepertinya sekarang pun hanya dirinya seorang di asrama ini yang masih terjaga. Apalagi ditambah dengan


serbuan udara dingin karena hujan turun. Seusai shalat ini rencananya dia akan belajar di ruang tengah barang sebentar sebelum melanjutkan tidur kembali.


            Tio meraih remote yang ada di atas meja kemudian mematikan AC di ruang tengah. Ruang tengah


ini memang begitu nyaman untuk berbagai aktivitas. Karpet merah berbulu yang nyaman, perpustakaan kecil berupa buku-buku bacaan beserta meja-meja mungil, dan kulkas kecil di sudut yang selalu menyediakan berbagai camilan. Tidak heran para penghuni asrama senang sekali nongkrong dan berbincang-bincang di


sini.


            Tio menghela napas, kemudian mulai membaca niat dalam hati untuk melaksanakan shalat Isya’.


            Tio baru saja memulai shalat. Sesaat kemudian terdengar suara musik klasik dari kamarnya. Ia


tahu itu adalah suara dari kotak musik milik Erik. Pemuda itu masih menyimpan barang-barang pemberian dari mantan pacarnya. Biasanya kotak musik itu diletakan di atas rak buku di kamar, sekaligus sebagai pajangan karena bentuknya yang klasik dan berkelas.


            Siapa gerangan malam-malam begini menyalakan kotak musik?


            Mungkin kotak musik itu tidak sengaja tersenggol sesuatu sehingga memainkan lagu. Di tengah


malam yang sunyi seperti ini suara alunan kotak musik itu terdengar begitu seram, padahal biasanya Tio kerap iseng menyalakan kotak musik itu. Alunan kotak musik itu memang unik dan terdengar seperti piano klasik yang memainkan lagu-lagu sedih dari era lama.


            Tio menelan ludahnya yang terasa tersekat di tenggorokan, kemudian memutuskan untuk terus


melanjutkan shalat tanpa mempedulikan suara musik itu lagi.


            Dalam shalatnya Tio masih berupaya tenang meskipun merasa sedikit terusik oleh suara musik itu.


Entah kenapa dia merasakan ada suatu keanehan. Firasatnya mengatakan seolah ada yang sengaja memainkan kotak musik itu untuk membuatnya terganggu dalam shalatnya. Padahal semua penghuni kamarnya sudah terlelap, ia yakin itu. Dan alunan musik di tengah kesunyian malam itu entah bagaimana terdengar begitu suram dan menyeramkan. Wajar saja Tio merasa resah.


            Tio sudah tiba pada rakaat terakhirnya. Ia pun menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri sembari


mengucapkan salam. Di saat yang bersamaan alunan musik dari kamarnya mendadak terhenti.


            Tio menghela napas. Dalam hati dia bertanya-tanya karena alunan musik itu tahu-tahu saja


terhenti, namun kemudian dia mengabaikan pertanyaannya begitu saja. Bisa saja kotak musik itu kehabisan baterai atau apapun. Lagipula dirinya menjadi tidak perlu beranjak dari sajadahnya untuk mematikan kotak musik itu.


            Hening.


            Tio menengadahkan tangan, hendak berdoa. Namun kemudian sesuatu membuatnya terkejut bukan main.


            Sesosok perempuan bermukena putih tampak menempel di dinding, tepat di hadapannya. Wajahnya


sepucat mayat, matanya tampak dua kali lebih besar dari manusia dan berwarna kelam keseluruhan. Serupa dua buah mutiara berwarna hitam. Ia menempel di tembok di depan Tio, agak ke atas sehingga ia baru menyadari saat mengangkat kepalanya. Makhluk mengerikan itu menatap Tio dengan tajam.


            ’’Astaghfirullahal’adziim!’’


ucap Tio, secara reflek.


            Sebersit kemudian, makhluk itu menghilang.


            Tio terhenyak. Ia menolehkan kepalanya ke sekitar, takut-takut makhluk mengerikan itu berpindah


ke tempat lain. Sepertinya makhluk itu tidak berada di ruang tengah ini, namun ketakutan Tio masih saja membukit. Ia khawatir sosok yang tiba-tiba menampakan diri itu sengaja mau mengganggunya yang tengah beribadah.


            Masih diliputi ketakutan, Tio pun segera beranjak dan melipat sajadahnya. Ia berbalik badan ke


arah kamar kemudian mematikan lampu ruang tengah dan tanpa lupa menutup pintu kamarnya. Sepertinya malam ini dia akan langsung tidur dan melupakan sejenak keinginan-nya untuk belajar.


            Tanpa Tio ketahui, sajadah yang tadi sudah terlipat tiba-tiba saja tersibak dengan sendirinya.


Lalu perempuan bermukena yang tadi mengganggu Tio pun melakukan shalat malam di sana.


***


            ’’Mau pulang sekarang?’’


            Hari sudah mulai gelap. Erik dan beberapa anggota divisi artistik lainnya masih berada di


sekolah dalam rangka persiapan awal acara peringatan ulang tahun sekolah mereka bulan depan. Tahun ini perhelatan acara ulang tahun sekolah digadang-gadang akan lebih meriah daripada tahun-tahun sebelumnya, karena pihak sekolah sudah menyatakan siap menggelontorkan dana lebih banyak.


            ’’Iya bro, anak asrama... gue bisa kena marah ama yang punya asrama kalo pulangnya kemalaman.’’


ucap Erik.


            Andre, si ketua divisi artistik yang terkenal humoris namun perfeksionis itu pun mengangguk. ’’Okelah


bro, hati-hati.’’


            ’’Oke bro.’’


            Erik melangkah keluar gerbang sekolah yang sudah lengang. Ia melirik arloji yang melingkar di


pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul enam. Mungkin dirinya akan shalat maghrib di asrama saja, sekalian mengejar waktu supaya tidak kehabisan jatah makan malam. Lagipula toleransi keterlambatan yang diberikan bagi penghuni asrama sebenarnya sudah lewat, dirinya harus bergegas pulang.


            Kaki Erik terhenti tepat di depan minimarket depan komplek. Ia baru teringat bahwa remote AC di


kamar satu baru saja kehabisan baterai. Sepertinya tidak ada salahnya membelikan baterai untuk remote AC kamarnya itu. Ia pun melenggang masuk ke dalam minimarket yang buka dua puluh empat jam itu.


            ’’Ada baterai ABCDEF nggak Mbak?’’ tanya Erik, pada salah seorang pegawai minimarket.


            ’’Ada Kak, itu di pojok sebelah rak parfum. Tempatnya agak pojok-pojok, dekat rak kapur barus dan


lain-lain.’’


            ’’Oke Mbak. Terima kasih.’’


            Seusai mendapatkan baterai yang dia inginkan, Erik pun langsung membayarkannya ke kasir. Tak

__ADS_1


sedikit pun tertarik memalingkan perhatian ke rak-rak lain yang berjajar atau produk-produk yang berlomba-lomba menawarkan berbagai promosi.


            ’’Ada kartu membernya Kak?’’ tanya gadis berhijab bagian kasir itu, ramah.


            ’’Nggak ada Mbak.’’


            ’’Susu bubuk formulanya lagi ada promonya nih Kak, beli satu dapat bonus gantungan kunci.’’


            ’’Nggak, Mbak... terima kasih.’’


            ’’Atau ini ada juga deterjen, sabun cuci piring, dan minyak gorengnya Kak, lagi promo


besar-besaran. Khusus pembelian minimal lima puluh ribu dapat cashback 20%. Promonya terakhir hari ini, Kak!’’


            Erik tersenyum, kemudian menggeleng. Ia memandang ke luar minimarket. Tiba-tiba saja dia merasa


seperti emak-emak rumah tangga yang dijejali berbagai promo bulanan oleh pegawai minimarket.


            Seusai membayar barang belanjaannya, Erik langsung berjalan ke depan minimarket. Komplek perumahan ini selalu lengang seusai maghrib. Agaknya semua orang enggan keluar apabila hari sudah gelap. Kehidupan bertetangga di komplek ini dapat dikatakan kurang, bahkan nyaris terlupakan. Bertahun-tahun yang lalu ada seorang warga yang bunuh diri, namun tetangga kanan-kirinya tidak mengetahui hal itu. Tentu saja kamera CCTV yang terpasang nyaris di setiap sudut komplek tak mampu mendeteksi hal seperti itu.


            Erik menghela napas kemudian kembali memasang earphone-nya dan mendengarkan lagu


kesukaannya. Asramanya memang melarang penggunaan ponsel selain di akhir pekan, namun masih ada toleransi untuk mp3 player.


            Erik berjalan melewati lampu jalan yang berkedip-kedip. Komplek ini sepertinya perlu menambah


penerangan di beberapa sudut komplek. Ia sempat was-was sendiri melewati beberapa jalanan yang sepi dan agak terlalu gelap. Untunglah malam ini hujan tidak turun. Dirinya begitu rentan terhadap rintik-rintik hujan, mungkin kalaupun hujan turun dia akan lebih memilih berteduh sampai hujan reda daripada harus menanggung resiko jatuh sakit.


            Sepanjang jalanan komplek itu Erik benar-benar tak berpapasan dengan siapapun. Hanya ada beberapa


mobil yang diparkirkan secara sembarangan di pinggir jalan. Dalam mitos yang beredar di masyarakat Jawa Barat, seusai maghrib dilarang berkeliaran di luar rumah. Ada banyak dedemit dan spirit negatif menguar di luar seusai matahari tenggelam.    Beberapa masyarakat meyakini mitos itu disebabkan kejadian-kejadian aneh atau orang hilang di desa yang selalu terjadi di malam hari.


            Erik sendiri berasal dari latar belakang pinggiran kota yang masih mempercayai itu, namun


perlahan kepercayaan itu pudar dengan sendirinya. Kejadian-kejadian aneh atau misteri orang hilang di malam hari mungkin saja terjadi karena banyaknya hewan liar yang masih berkeliaran dan akses keamanan yang kurang. Terlebih mitos semacam itu biasanya berasal dari desa-desa yang bahkan masih kekurangan akses listrik. Ketika teknologi sudah masuk desa dan CCTV terpasang di mana-mana pun mitos itu lenyap nyaris tak berbekas.


            Saat melewati taman yang berada tak jauh dari asramanya, Erik melihat sesosok anak kecil duduk di ayunan sendirian. Seorang anak perempuan. Ia mengenakan pakaian putih, rambutnya panjang. Gadis cilik itu kebetulan membelakangi Erik, wajahnya tak terlihat. Dalam hati Erik menyimpan keheranan, mengapa ada anak kecil bermain maghrib-maghrib begini.


            Tadinya Erik hendak mengabaikan sosok gadis itu begitu saja, namun kemudian dia mendapati


sesuatu yang janggal.


            Gadis kecil di ayunan itu perlahan menolehkan wajahnya. Sekilas apabila dicermati dari belakang sepertinya gadis kecil itu memiliki paras yang ayu. Rambutnya panjang, tampak halus dan terawat. Kulitnya pun putihbersih. Rata-rata gadis di kota ini memang memiliki wajah yang manis atausetidaknya nyaman dipandang. Pakaian putihnya tampak bersih, sepertinya orangtua gadis kecil itu merawat putrinya dengan baik.


            Namun sebersit kemudian, Erik merasa jantungnya berdebar tak karuan. Ia baru menyadari


sesuatu.


            Gadis itu bermuka rata.


            Menyadari ada hal yang tidak beres, Erik segera mengalihkan wajah ke depan kemudian mulai


melangkahkan kakinya dengan cepat. Mendadak, ia merasa seperti diikuti sesuatu.Maka tanpa menolehkan kepala ke belakang lagi ia pun berlari sekencang mungkinke asramanya.


            Beruntung,asramanya sudah dekat di depan mata. Di kantor asrama tampak Niko dan Yogi tengah mengobrol sambil membaca koran. Apabila para penghuni asrama berani nongkrong di kantor asrama begini artinya Pak Anwar sedang tak berada di asrama. Nizar,    si


bagian sekretaris asrama itu masih sedikit toleran kepada para penghuni asrama,


bahkan dia juga akrab dengan beberapa anak asrama.


            ’’Kenapa Rik?’’ tanya Niko, sarat keheranan. Erik tampak bercucuran keringat dan raut wajahnya


terlihat pucat.


            Erik tak menjawab. Napasnya masih terengah-engah. Dalam keadaan ketakutan seperti ini dia bisa


berlari cepat daripada saat berada di lapangan. Hanya sekilas dia melihat makhluk halus dari kejauhan, namun jantungnya serasa melonjak-lonjak. Selama ini ia hanya mendengar mitos-mitos semacam genderuwo penunggu pohon depan rumah, wewe gombel, dan hantu jurig, tetapi tidak pernah sekalipun dia melihatnya secara langsung.


            ’’Abis lihat setan lu?’’ tanya Yogi.


            Erik mendelik, namun kemudian dia menggelengkan kepalanya. Mendadak sosok mengerikanl di ayunan tadi seperti terbayang dalam benaknya. Ia menolehkan kepala ke belakang, takut-takut gadis itu mengikutinya.


            Niko dan Yogi tertawa. Meskipun begitu, mereka tampak sedikit heran karena Erik begitu pucat dan seperti orang ketakutan. Biasanya pemuda ini menanggapi candaan yang diberikan namun kali ini dirinya hanya diam saja. Sepertinya dia memang tengah kelelahan atau apa.


            ’’Belum makan ‘kan lu? Buruan makan sana, masih ada ayam ama perkedel di meja makan tuh.’’ tukas


Nizar, seraya membuka laptopnya.


            ’’Oke, Kang... makasih.’’


            Setelah makan dan menunaikan shalat maghrib, Erik sejenak merebahkan diri di atas karpet ruang


tengah. Pikirannya sedikit tenang setelah makan malam dan terkena air wudhu yang menyejukan. Meskipun demikian, bayangan mengerikan gadis kecil di ayunan itu belum lenyap sepenuhnya dari benaknya.


            Menghela napas, Erik pun beranjak dan menyambar tasnya. Seusai ini dirinya akan beristirahat


untuk memulihkan pikirannya. Mungkin pula dia akan membolos belajar malam, sepertinya staminanya terkuras karena terlalu shock. Jantungnya memang sedikit lemah, tak boleh terlalu terkejut


atau mengalami kepanikan secara berlebihan.


            Erik membuka pintu kamarnya. Ia terkejut bukan main melihat sosok gadis bergaun pengantin berdiri


di sudut ruangan, tepat di sisi kasur Irham. Irham yang tengah membaca buku tampaknya tak menyadari adanya makhluk di sebelahnya. Dan sepertinya gadis bergaun pengantin itu tengah mengawasi Irham.


            Gadis bergaun pengantin itu memandang ke arah Erik. Wajahnya sepucat mayat, namun bibirnya tampak


tersenyum aneh. Menyeringai. Sepasang matanya berwarna hitam secara keseluruhan, seperti dua mutiara berwarna kelam.


            Erik pun jatuh pingsan.


***


            ’’Apa lu yakin ama yang lu lihat itu, Rik?’’


            Erik menerima segelas air putih yang disodorkan padanya, sementara Sandi, Yogi, Reza, Irham,


dan Tio duduk di sekitar pemuda itu. Baru saja dia siuman, setelah ditemukan tak sadarkan diri di depan kamarnya.


            Erik mengangguk pelan. Sorot matanya tampak bergetar, masih terlihat shock dan


ketakutan. Di antara semua penghuni asrama dia adalah yang paling takut pada hal-hal mistis, pantaslah dia begitu terguncang melihat penampakan hantu di taman dan kamarnya sendiri. Mungkin seusai ini dia akan dibayangi trauma selama beberapa hari.


            ’’Apa ini ada kaitannya ama yang kapan hari Niko lihat hantu itu juga?’’ tanya Yogi, entah pada siapa.


            Hening sejenak.


            ’’Jangan kasih tahu si Niko ya, ntar dia panik terus makin paranoid gegara kejadian kapan hari di lantai 3 lagi!’’ ucap Reza, memperingatkan. Untunglah saat itu kebetulan Niko sedang mengerjakan tugas di kamarnya sehingga tidak mengetahui kegegeran yang terjadi. Pemuda itu juga harus mengejar ke-tertinggalannya dalam pelajaran setelah beberapa hari izin pulang.


            Kevin—seperti biasa—di kamarnya tengah mencoret-coret sesuatu di notebook dan buku hariannya.


Asyik dengan dunianya sendiri.


            Irham termenung. Seperti biasanya, tak terlalu banyak berbicara atau menginterupsi. Dia memang


lebih suka menjadi pihak yang mengamati dan diam-diam menganalisis dengan kecerdasan otaknya. Hanya saja ia menjadi terpikirkan oleh pengakuan Erik bahwa ada sosok hantu perempuan berdiri di sisinya seolah tengah mengawasi atau memperhatikannya. Sebuah dugaan tahu-tahu saja menghinggapi pikirannya, namun


kemudian ia segera menepisnya jauh-jauh.


            ’’Sebenarnya,’’ ucap Tio. ’’kemarin malam gue juga lihat hantu abis shalat Isya di ruang tengah.’’


            Semua tampak tercengang. Ternyata kasus penampakan hantu sudah beberapa kali terjadi di


asrama mereka. Padahal sebelumnya tak pernah ada kejadian mistis seperti ini. Kasus Niko pun bisa dikatakan sebagai yang pertama, wajarlah saat itu para penghuni asrama lain heboh dan sempat resah. Namun tak disangka bahwa kasus Niko itu bukan yang terakhir. Bukannya tidak mungkin, sehabis ini pun akan ada penampakan hantu lagi.


            ’’Yang lu maksud hantu itu bukan gue kan, Yo?’’ tanya Sandi, baru teringat bahwa kemarin malam


dia berpapasan dengan Tio dan pemuda itu tampak terkejut melihat dirinya di depan pintu.


            ’’Bukan lah, Kang,’’ jawab Tio, seraya tertawa.

__ADS_1


’’Lu lihat hantu itu habis shalat Isya’? Gimana ceritanya?’’ tanya Reza, tampak penasaran.


            ’’Malam itu gue terbangun terus belum shalat Isya’, waktu shalat Isya’ gue denger ada yang


nyalain kotak musik di kamar ini menyala sendiri. Feeling gue udah nggak enak tuh. Dan bener aja, sehabis shalat gue melihat ada hantu wanita pakai mukena lagi menempel di dinding, tepat di depan gue.’’


            Semua yang ada di kamar itu tampak ketakutan mendengar cerita Tio. Gurat mereka terlihat tidak


nyaman. Sandi pun menyentuh tengkuknya karena merasa merinding. Dari sini semakin terlihat bahwa ada yang tidak beres dengan asrama ini.


’’Selain Tio, Erik, ama Niko,’’ ucap Yogi. ’’apa ada lainnya yang juga pernah ngelihat penampakan hantu di asrama?’’


            Reza bergeming, sementara semua yang ada di ruangan itu saling berpandangan satu sama lain. Ia


sengaja tidak memberitahu bahwa dirinya juga melihat penampakan hantu kakek-kakek di meja makan, karena tak ingin menambah gumpal keresahan di tengah para penghuni asramanya.


            Sementara Sandi, diam-diam mulai diliputi keresahan. Apabila kawan-kawannya juga melihat hantu,


artinya hantu yang mendatanginya tempo waktu bukanlah arwah Papa. Terlebih satu persatu pengakuan kawannya itu menyatakan hantu yang datang itu berwujud perempuan.


            ’’Kalo penampakan hantu yang lu lihat itu kayak gimana, Rik?’’ tanya Irham, ingin tahu.


            ’’Perempuan.’’ jawab Erik, parau. ’’yang di taman itu anak kecil bermuka rata, sementara yang


pinggirnya Kang Irham tadi cewek tinggi pakai baju gaun pengantin berwarna putih. Mukanya serem banget.’’


            Gaun pengantin? Batin Sandi. Ia kemudian langsung teringat dengan Lucyana, boneka misterius di


kamarnya.


            ’’Kalau Niko waktu itu melihat hantu perempuan berambut panjang di lantai tiga, sementara gue


hantu perempuan pake mukena.’’ ucap Tio, seperti tengah berupaya menganalisa sesuatu.


            Yogi menggeleng, tak mengerti. ’’Jadi hantu yang datang ke sini itu hantu perempuan semua? Apa


mereka punya maksud tertentu, mungkin karena di sini asrama cowok?’’


            ’’Kayaknya kalo itu hampir nggak ada relasinya deh. Hantu bisa terlihat dalam wujud apa aja,


Gi, kalau semisal yang datang itu pocong, emangnya lu bisa tahu itu hantu perempuan atau hantu laki-laki?’’ sergah Sandi.


            ’’Kang Sandi pernah lihat hantu pocong di sini?’’


            Irham, Reza, Erik, dan Tio secara bergantian mengalihkan perhatian pada Sandi. Seperti menunggu


penjelasan darinya, sementara Sandi kemudian justru terhenyak karena ingin menyanggah namun justru berbalik pada dirinya sendiri. Tadinya dia hanya merasa gerak analisisnya terpancing karena pendapat Yogi yang kurang relevan itu. Tetapi dirinya masih merasa tidak perlu mengatakan bahwa dia pernah bertemu hantu.


            ’’Ya ‘kan kalo misalnya...’’ ucap Sandi.


            ’’Tapi sejak kapan ya asrama kita jadi kedatangan hantu-hantu?’’ tanya Reza, keheranan. ’’apa di


antara kalian pernah ada yang bikin orang sakit hati? Pergi ke kuburan atau tempat-tempat keramat? Atau bikin ritual dan baca mantra yang aneh-aneh dan bisa mengundang makhluk halus?’’


            Semua kembali saling berpandangan satu sama lain. Tampaknya mereka tidak ada yang merasa melakukan


sesuatu yang bisa menyebabkan semua ini.


            ’’Sebenarnya gue ngerasa di asrama ini ada banyak kejadian aneh sejak si Kevin bawa boneka aneh


itu ke sini.’’ ucap Erik. Ia teringat saat pertama kali dirinya melihat Kevin membawa boneka Lucyana ke dalam kamarnya.


            ’’Nah iya, sebelumnya nggak pernah ada kejadian aneh-aneh ‘kan?’’ tukas Yogi, tampak


seperti menemukan titik terang.


            ’’Ngomong-ngomong,’’ ucap Irham. ’’Kevin kasih nama boneka itu, siapa namanya?’’


            ’’Lucyana.’’ jawab Sandi.


            ’’Rada mirip nama... Lucifer?’’ sergah Erik, teringatkan dengan nama iblis yang paling


jahat.


            ’’Sejak ada boneka itu.’’ ucap Tio. ’’gue merasa asrama ini banyak energi negatifnya. Nggak tahu,


setiap kali gue masuk ke kamar Satu, gue merasa seolah ada yang ngelihatin gue. Dan tiap kali gue melihat boneka itu, kayaknya gue merasa dapat ilusi seram yang belum pernah gue lihat sebelumnya.’’


            ’’Kang Reza ama Kang Sandi pernah dapat kejadian aneh yang berkaitan ama boneka itu?’’ tanya Erik.


            ’’Gue pernah lihat Kevin ngomong sendiri ama boneka itu.’’ jawab Reza. ’’sebelum boneka itu datang


pun dia sering kelihatan ngomong-ngomong sendiri. Entah ada relasinya, entah enggak. Tapi gue pun kadang merasa ada sesuatu ama boneka itu. Pernah sekali gue mendengar suara bisikan di kamar, padahal di kamar cuma ada gue sendiri. Dan boneka itu.’’


            Semua terdiam sejenak. Dan mereka pun sampai pada dugaan bahwa memang boneka milik Kevin


itu-lah yang menyebabkan peristiwa-peristiwa mistis di asrama ini.


            Seusai diadakan perkumpulan dadakan malam itu, semua orang kembali ke kamarnya masing-masing. Terkecuali Yogi, yang malam itu tampaknya masih hendak mengerjakan tugas di ruang tengah.


            Yogi menghela napas. Kawan-kawannya sudah masuk ke kamarnya masing-masing, apa boleh buat,


sepertinya malam ini pun dirinya harus mengerjakan tugas sendirian di ruang tengah. Biasanya dia mengajak Niko untuk menemaninya belajar bahkan sampai menyogok dengan beberapa camilan. Namun tadi Yogi melihat pemuda itu sudah terlelap di kamarnya. Bertemankan laptop, buku catatan, dan sebuah buku yang telah dia pinjam di perpustakaan, akhirnya Yogi mengerjakan tugas sendirian di ruang tengah.


            Yogi bukannya sama sekali tidak terusik dengan berbagai cerita kawan-kawannya yang melihat hantu


di asrama ini. Namun dirinya harus mengerjakan tugas di ruang tengah karena membutuhkan laptop dan akses internet. Lagipula sebenarnya tugas-tugasnya tidak terlalu banyak—meski juga tidak akan cukup untuk dikebut besok pagi. Sebelum tengah malam dia akan menyelesaikan tugasnya dan dia akan segera kembali ke


kamar.


            Sengaja Yogi membiarkan jendela sedikit terbuka dan tidak menyalakan AC. Ia sedikit tidak nyaman oleh AC yang sering dinyalakan terus-menerus. Bahkan udara di Bandung ini sudah cukup menusuk kulit, namun orang-orang di asrama ini masih kerap menyalakan AC hingga volume yang cukup dingin.


            Keheningan malam terpecahkan oleh suara jemari Yogi yang menari di atas keyboard. Ia terus memusatkan konsentrasi pada tugasnya. Sesekali perhatiannya beralih pada buku-buku yang dia pinjam di perpustakaan sekolah. Karena merasa haus ia pun meraih kaleng minuman yang sebelum belajar tadi sudah dia siapkan dan


meminumnya.


            Jarum jam terus berdetak. Senyap menyelimuti asrama ini sejak setengah jam yang lalu. Tugas membuat artikel objek Sejarahnya sudah sedikit lagi terselesaikan. Namun karena merasa tanggung, dia pun berniat untuk menyelesaikan tugasnya sekalian sebelum beranjak ke kamar.


            Yogi menghela napas lega. Akhirnya tugasnya sudah selesai. Besok pagi dia sudah bisa


mengumpulkannya tepat waktunya. Seusai ini dia bisa langsung beristirahat. Ia pun beranjak hendak menutup tirai jendela yang tersingkap.


            Saat hendak menutup tirai jendela, Yogi merasa melihat sesuatu di luar sana.


            Seorang pria tengah berdiri di bawah lampu jalan di depan asramanya. Berpakaian tuxedo hitam klasik, sepatu pantofel, dan topi hitam bundar. Perawakannya sangat tinggi dan kurus. Menjelang tengah malam begini pemandangan seperti itu tentulah menimbulkan tanda tanya. Yogi berpura-pura menutup tirai, padahal dia masih


mengintip dari celah-celah tirai hendak mengawasi pria misterius itu.


            Beberapa jenak pria itu hanya mematung di sana tanpa melakukan apapun. Mungkin dia tengah menunggu


seseorang atau sesuatu. Komplek ini memiliki banyak rumah dan mungkin saja pria itu adalah salah seorang tamu dari rumah rumah itu. Namun ketika Yogi tersadar jam di dinding sudah hampir menunjukan pukul dua belas malam, ia mulai merasa resah. Siapa gerangan pria bertopi yang berada di bawah sana itu?  


            Meski merasa ketakutan, Yogi terus berdiri di balik tirai untuk memantau sosok misterius


itu. Pria itu menunduk sehingga wajahnya pun tidak terlihat. Kulitnya sangat putih dan tampak pucat di bawah sorot lampu jalan. Beberapa lama pria itu hanya mematung. Tanpa melakukan apapun.


            Sosok pria bertuxedo hitam itu tak melakukan apapun selain hanya berdiri di sana. Bahkan


bergerak pun tidak. Menoleh, mendongak, atau menggeser posisi berdirinya walau hanya sedikit. Mematung, dalam artian sungguh-sungguh tidak melakukan apapun selain berdiri. Terang saja hal itu justru semakin memantik rasa penasaran dalam hati Yogi. Ia tahu, ada sesuatu yang tidak beres di sini.


Perlahan, lelaki itu mengangkat wajahnya yang tersembunyi di bawah


topi.


            Dan kemudian Yogi pun baru menyadari sesuatu yang teramat mengerikan.


            Wajah pria itu hanya tersisa tengkorak saja.


            Yogi sontak menutup tirai dan mundur menjauh. Serasa darahnya berdesir kencang. Dan tanpa

__ADS_1


menolehkan kepalanya lagi, ia pun segera membereskan laptop dan bukunya kemudian berlari ke kamar tanpa menolehkan kepalanya lagi.


__ADS_2