
4
Hening Malam
Siang itu saat istirahat Sandi memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekolah. Niatannya
adalah mencari inspirasi sekaligus referensi untuk project karya ilmiahnya yang terbaru. Tak ingin berlama-lama terpuruk, dirinya sudah menemukan sebuah kompetisi karya ilmiah lagi. Dan sekarang Sandi yang selalu
tertarik dengan hal-hal baru dan metode berpikir secara logis itu pun telah bertekad mempersiapkan kompetisi kali ini matang-matang.
Perpustakaan siang itu agak lengang. Hanya ada beberapa gadis dari kelas sebelah di sana. Dari
sela-sela rak buku, Sandi dapat melihat mereka tengah membaca buku di salah satu meja perpustakaan. Salah seorang di antara mereka tampak melontarkan senyuman padanya. Sandi terhenyak, kemudian baru tersadar bahwa gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Putri, gadis yang pernah dia sukai.
Sandi hanya mengangguk dan mencoba bersikap biasa-biasa saja meski dadanya berdebar. Setengah
jam menyusuri satu rak ke rak lainnya, akhirnya ia menemukan beberapa buku karya ilmiah yang menarik perhatiannya. Apabila sumber yang sudah ada ini masih belum cukup, mungkin dirinya akan meluncur ke toko
buku yang berada di pusat kota. Biasanya dirinya hanya akan mengambil sedikit cakupan dari sebuah buku sebagai referensi, kemudian beralih pada buku-buku lainnya untuk memperkuat argumen dalam karya ilmiahnya.
’’Sandi...’’
Sandi terkesiap, lalu sontak mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Sepertinya ada yang menyebut
namanya. Tetapi di sudut perpustakaan yang dirinya sendiri. Tidak ada siapa-siapa lagi. Tentu saja hal itu membuatnya kembali merasa paranoid. Belakangan ini kerap terjadi hal-hal aneh padanya. Seakan ada
sesuatu yang terus mengikuti langkahnya kemana-pun ia pergi.
’’Oy, Kang Sandi.’’ Seseorang tiba-tiba menyapa Sandi. Dan itu adalah Erik, mengambil tempat di
sisi Sandi yang tengah duduk di sudut perpustakaan. ’’lagi ngapain?’’ tanyanya, ingin tahu.
’’Biasa, baca-baca aja.’’ jawab Sandi, seraya melirik tumpukan buku yang dia ambil dari rak.
’’Wah, Kang Sandi ini luar biasa sekali ya, di luar sekolah kerjaannya pacaran dan keluyuran
mlulu tapi ternyata di sekolah belajar serius. Bacaannya aja buku yang berat-berat. Apa ini? Buku... pedoman... analisis karya ilmiah!’’
Sandi tersenyum miris. ’’Nggak pacaran juga ‘kali, Rik, lagian buat apa juga pacaran-pacaran di
luar kalo di asrama sudah ada pacar? Langsung dua orang pula.’’
Erik terkekeh. ’’Ani dan Ina ‘kan? Anak kembarnya Pak Anwar.’’
’’Nah,’’ tukas Sandi. ’’kamu sendiri ngapain di sini? Bukannya kamu alergi ama perpustakaan?’’
Erik tertawa lebih keras dari sebelumnya, sehingga gadis-gadis di meja seberang mulai melemparkan pandang pada mereka.. ’’Apa-apaan Kang Sandi bilang aku alergi perpustakaan? Apa Kang Sandi pikir aku bisa
gatal-gatal dan bersin parah cuma karena main ke perpustakaan? Aku juga suka pergi ke perpustakaan. Bahkan perpustakaan itu sudah seperti rumah kedua bagiku.’’
’’Maksudnya, biar kamu bisa tidur di sini ‘kan? Di ruangan ber-AC, wi-fi kencang, dan ada tempat
baca lesehannya?’’ tebak Sandi.
Dan sebuah cengiran tanpa dosa dari Erik menjadi jawaban atas pertanyaan Sandi itu.
’’Titip buku-buku ini bentar ya Rik.’’ ucap Sandi, seraya meraih notebook kecil dan pulpen
kemudian beranjak.
’’Mau ke mana, Kang?’’ tanya Erik.
’’Ke depan perpus doang ini, mau mencatat tanggal deadline ama ketentuan lomba di mading.’’
Sandi pun melangkah ke papan majalah dinding di seberang perpustakaan. Ia tertegun saat
mendapati rupanya di sana sudah ada Kevin. Ia tengah melekatkan pandangannya pada mading. Apabila tiba waktu istirahat seperti ini biasanya pemuda itu kerap menghilang secara misterius. Tidak bergaul dengan kawan-kawan lainnya, tidak pula melakukan hal-hal bermanfaat di sekolah seperti pergi ke perpustakaan atau mengikuti organisasi. Padahal ketika dicari di kelas, kantin, dan musholla pun pemuda itu tidak ada. Sampai detik ini, perihal kepergian Kevin di waktu istirahat masih menjadi misteri.
’’Hai, Vin,’’ sapa Sandi, berusaha beramah-tamah. ’’abis dari mana?’’
Kevin bergeming. Ia hanya memandang Sandi sekilas dengan dingin, lalu kembali beralih pada mading. Entah ada apa di sana sampai-sampai dia mengabaikannya begitu saja. Sepertinya pemuda itu merasa sedikit terusik.
Sandi yang merasa diabaikan pun tertegun, namun kemudian dia tidak bertanya lagi. Tak berusaha
mengajaknya berbicara lagi. Kevin memang selalu seperti itu, seolah memiliki dunianya sendiri.
Saat itulah Tio, Yogi, dan Niko melintas. Melihat Sandi dan Kevin di depan mading, mereka tampak
dengan sengaja hanya menyapa Sandi saja dan mengabaikan Kevin. Bahkan mereka agak mengeraskan suara supaya Kevin dapat mendengar itu. Kevin sempat teralihkan perhatiannya sedikit, namun kemudian dia kembali menautkan perhatian ke mading sekolah. Pemuda itu tampak selalu berusaha tak menunjukan reaksi apapun setiap mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang sekitarnya.
Sandi memandang Kevin dengan tidak enak hati. Selama ini hubungan Kevin dengan teman-teman
asramanya memang tak begitu akur. Kepribadian Kevin selalu dipandang aneh dan kelewat dingin, sehingga orang-orang di sekitarnya pun tak pernah betah berlama-lama berinteraksi dengannya.
Sandi kembali beralih ke mading seraya mencatat tanggal dan ketentuan-ketentuan lomba yang akan dia ikuti. Saat itulah Kevin tampak berbalik badan dan pergi dari sana. Tanpa berkata apa-apa lagi.
Penasaran, Sandi menilik kertas buram yang tadi tengah dibaca-baca oleh Kevin. Apakah tengah ada berita yang begitu urgen sampai-sampai dia begitu serius membacanya?
Perlombaan desain tingkat nasional? Sandi tertegun. Baru kemudian dia teringat bahwa Kevin
suka menggambar dan membuat desain. Selama ini dia sering sekali menggambar-gambar. Gambarannya pun cukup bagus. Coretan garisnya tajam dan tegas. Bahkan sekilas terlihat seperti buatan seorang professional. Semua orang memang tampaknya memiliki bakat tersendiri, begitupun Kevin.
Namun Kevin tak pernah mengikuti perlombaan atau kompetisi. Tampaknya dia sudah merasa cukup dengan menggambar-gambar sendiri setiap harinya. Mungkin juga dia tak merasa memiliki keberanian untuk menunjukan bakat dan karyanya pada orang-orang. Terpaku sendiri dalam dunia sepinya.
Sandi tersenyum. Sebuah ide melintas. Ia akan mendaftarkan Kevin diam-diam ke
perlombaan itu ke komite sekolahnya. Biasanya apabila seorang siswa hendak mengikuti sebuah lomba,
maka dia harus membuat proposal atau surat rujukan. Barulah seusai itu sekolah dapat memutuskan dan memberikan berbagai fasilitas, transportasi, dan pelatihan. Setidaknya Sandi akan membantu membuatkan surat proposal itu, karena dia sudah beberapa kali mengikuti perlombaan.
Bel tanda masuk berbunyi. Sandi yang tadi belum menyelesaikan mencatat ketentuan lomba pun
buru-buru melanjutkan mencatat lagi, dan seusai menyelesaikan catatannya, ia berbalik badan dan berbalik pergi.
***
’’Kakak yakin, itu Papa?’’
Malam itu Sandi menumpang di tempat tidur milik Niko yang berada di kasur tingkat bagian atas untuk
menelepon Lisa, adik perempuannya. Keresahannnya sudah membukit, sehingga dia pun merasa tak tahan lagi dan memutuskan untuk menghubungi adiknya itu untuk membicarakan terkait beberapa hal aneh yang terjadi beberapa lama ini. Kebetulan kala itu seluruh penghuni asrama tengah menonton siaran langsung
__ADS_1
sepak bola di ruangan keluarga Pak Anwar, sehingga Sandi bisa leluasa menelepon Lisa. Biasanya pun dia selalu menelepon di kasur tingkat bagian atas karena dirasa lebih aman dari pengawasan Pak Anwar dan beberapa
kawannya yang usil menguping.
Sandi menghela napas. ’’Aku nggak bisa memastikan, tapi kalau bukan Papa siapa lagi? Kemarin
aku didatangin lagi di dalam mimpi, bayangkan, berarti sudah dua bahkan tiga kali aku didatangin arwah Papa!’’
Hening sejenak.
’’Sebenarnya aku juga kurang yakin dengan penjelasan Kakak, apa itu benar-benar arwah Papa
atau hanya mirip saja, tapi... Kakak nggak merasa melakukan sesuatu yang mengganggu ketenangan Papa di alam sana?’’
Sandi berpikir sejenak. ’’Belakangan aku jarang membaca Yaasiin di malam Jumat, sebagaimana yang sudah diperintahkan Mami.’’
’’Yeee Kak Sandi mah sudah dibilangin harus baca Yaasiin dan baca-baca doa untuk mendiang Papa setiap malam Jumat, tapi malah nggak baca! Aku, Mami, Dek Anggun, dan Dek Mita aja di rumah selalu bergantian membaca surat Yaasiin kalau misal di antara kami sedang ada yang berhalangan. Bahkan tiap hari Kamis sore kami selalu mengomunikasikan siapa yang akan membacakan surat Yaasiin di malam itu. Yang tidak sedang berhalangan, maka dia-lah yang akan membaca surat Yaasiin itu.’’
’’Iya, iya... aku minta maaf banget, Lis, tapi jujur sekarang aku kebingungan banget, aku sudah membacakan surat Yaasiin dan mendoakan arwah Papa setiap seusai shalat. Tetap saja arwah Papa datang lagi.’’
’’Tapi tunggu dulu, apa di asrama Kakak nggak pernah ada yang aneh-aneh lainnya? Bisa saja
‘kan hantu itu aslinya dari asrama Kakak sendiri?’’
Saat itulah pintu kamar yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka sendiri. Sandi mengira Niko,
Reza, atau siapapun masuk kamar sehingga dirinya pun tak begitu mengindahkannya. Lagipula ia masih berbicara serius dengan Lisa via telepon.
’’Dari kelas satu aku sudah tinggal di sini, Lis, dan nggak ada yang aneh-aneh tuh. Sebelumnya juga memang nggak pernah ada apa-apa!’’ tegas Sandi, masih merasa belum menemukan jawaban.
’’Ya itu Kak Sandi, gimana dengan teman-temannya Kak Sandi? Mungkin mereka ada yang pernah
mengalami kejadian aneh seperti Kak Sandi sekarang. Bisa aja ‘kan, asrama Kakak
itu bekas kuburan atau tempat pembantaian zaman Belanda?’’
’’Jangan nakut-nakutin aku pakai mitos yang mainstream gitu Lis, kamu kira aku anak SD?’’
Tiba-tiba saja perhatian Sandi teralihkan karena mendengar sesuatu dari bawah.
Sandi tertegun, kemudian menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia yakin ada seseorang di kamar
ini. Sekilas baru saja terdengar deru napas, dan sepertinya seseorang yang tadi masuk itu belum keluar dari kamar lagi.
’’Siapa di situ?’’ tanya Sandi, agak keras. Kala itu dia tengah dalam posisi berbaring sehingga
tak bisa melihat siapa yang sedang berada kamar bersamanya.
Tak ada jawaban.
’’Kenapa Kak?’' tanya Lisa, masih via telepon.
’’Nggak pa-pa, barusan kayaknya ada temenku masuk kamar.’’ jawab Sandi, kemudian merasa
sedikit malas bertanya-tanya perihal siapa yang berada di kamarnya lagi. Ia lalu membalik tubuhnya ke tembok, demi mendapatkan posisi yang nyaman.
’’By the way, Mami tanya nih uangnya Kakak tinggal berapa? Kalau sudah habis, biar nanti
ditransfer sekalian.’’
Sandi lalu teringat bahwa dompetnya kebetulan tengah berada di saku jaketnya. Saat hendak mengambil dompet dari saku jaketnya, ia justru menyenggol earphone yang tadi tergeletak di sisi kanannya sehingga benda itu terlempar dan jatuh ke bawah. Ia pun mendengus kesal lalu memutuskan untuk membiarkan earphone itu
Sandi kembali melanjutkan obrolan dengan Lisa via telepon. Earphone itu bisa dia ambil
nanti-nanti saja, lagipula dirinya tengah terlibat percakapan serius dengan adiknya. Kejadian-kejadian aneh di asramanya beberapa lama ini sungguh telah mengusik pikirannya.
Saat itulah sebuah tangan tiba-tiba terulur dari bawah kemudian mengangsurkan earphone-nya yang tadi terjatuh.
Tangan itu tampak putih pucat.
’’Terima kasih.’’ ucap Sandi seraya mengambil earphone-nya dari tangan itu, tanpa menyimpan prasangka apapun. Kebetulan sekali dirinya sedang malas turun dari kasur tingkat bagian atas itu. Ia lalu kembali melanjutkan obrolan via telepon.
Setelah menyelesaikan obrolan dengan Lisa via telepon, Sandi pun meletakan ponselnya di sisinya. Mendadak dia merasa lapar, sepertinya di kulkas masih tersisa camilan. Ia turun dari kasur milik Niko itu, dan saat itulah ia baru tersadar bahwa di kamar ini tak ada siapapun selain dirinya. Padahal tadi dia yakin ada yang masuk kamar. Bahkan, ada seseorang yang mengambilkan earphone-nya yang terjatuh.
Rasa laparnya mendadak terlupakan begitu saja. Ia membuka pintu kamarnya yang sudah sedikit
terbuka, di ruang tengah tidak terlihat ada siapapun. Pun ketika dirinya pergi ke kamar sebelah. Sepertinya semua orang masih di lantai bawah menonton siaran langsung piala dunia.
Beberapa lama berselang, acara nonton bareng di lantai bawah akhirnya selesai. Para penghuni
asrama naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya masing-masing. Sebagian memasang gurat wajah puas, sebagian tampak lesu dan seperti kehilangan semangat hidup. Hanya selayang pandang begini saja sudah terlihat klub mana yang mereka dukung. Saat itulah Sandi menghampiri Reza yang baru saja masuk.
’’Kang Reza tadi masuk kamar?’’ tanya Sandi.
’’Enggak tuh. Kenapa?’’
Sandi tertegun, lalu mengangguk. ’’Oh, soalnya tadi kayaknya ada orang yang masuk kamar. Kevin
mungkin ya?’’
’’Si Kevin juga nggak ke atas sama sekali, dari awal ampe akhir dia anteng duduk di sebelahku.’’
’’B-beneran Kang?’’
Reza mengangguk. ’’Daritadi nggak ada yang ke atas, San, Kevin juga nggak ke atas. Anak-anak nggak ada yang beranjak sampai acara siaran langsung bola selesai.’’
Sandi menelan ludah di kerongkongannya yang terasa tersekat. Pantas saja tadi dia merasa aneh. Masih terbayang dalam benaknya sepotong tangan berkulit putih pucat yang tadi mengambilkan earphone-nya. Dan mendadak bulu kuduknya pun terasa berdiri semua. Ternyata tadi yang mengambilkan earphone-nya yang terjatuh adalah makhluk halus.
***
’’Malam-malam nyuci, Nik?’’
Niko mengangguk, lalu tersenyum. ’’Iya Kang, lagi banyak cucian nih.’’
Irham, yang baru saja pulang dari mengajar les private itu pun tak berkomentar apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk sekilas kemudian kembali melangkah ke kamar.
Niko adalah sosok paling pembersih di asrama ini. Ia bisa begitu terpikirkan bahkan stress
apabila mendapati sesuatu yang kotor atau berantakan. Apabila diperhatikan ia juga hampir selalu membawa handsanitizer kemanapun. Ia selalu memastikan segala sesuatu dalam keadaan bersih dan rapi. Meskipun asrama sudah menyediakan fasilitas laundry namun pemuda itu masih kerap mencuci pakaiannya sendiri apabila dirasa masih kurang bersih.
Sebagai teman-teman sekamarnya, Sandi, Reza, dan Kevin tampaknya cukup tahu diri dan turut menjaga
kebersihan karena Niko bisa tampak begitu terganggu dengan sesuatu yang kotor atau berantakan. Beberapa kali pemuda itu kedapatan menilik dan mengamati setiap inci pakaiannya yang baru saja di-laundry secara ekstra cermat, memastikan apakah pakaiannya benar-benar dicuci dengan bersih bahkan sampai mengendus-endusnya
sekilas. Begitu detailnya pemuda itu dalam menjaga kebersihan.
__ADS_1
Niko memandang lantai tiga yang gelap. Siapapun pasti akan berpikir dua kali untuk pergi ke
sana malam-malam begini, namun Niko yang begitu gila akan kebersihan tidak begitu memikirkan itu. Ia pun mulai menapaki anak-anak tangga itu dengan membawa ember berisi tumpukan pakaian kotornya.
Di sudut lantai 3 ada kran dan tempat mencuci. Hanya ada cahaya bulan yang menerangi ruangan semi-outdoor ini. Niko meletakan cuciannya dan memutar kran, sementara air pun mulaimengisi ember berisikan pakaian kotor. Begitu busa-busa putih harum memenuhi ember berisikan pakaian kotornya, Niko pun mulai mencuci. Ia meraih sikat cuci kemudian menggosok salah satu kaosnya.
Merasa deterjen yang sudah dia taburkan belum cukup, Niko pun kembali menyambar deterjen
pembersih dan menaburkannya pada pakaiannya. Lalu kali ini ia menggosok kaosnyadengan agak keras sehingga suaranya memecah keheningan. Urat-urat lengannya menegang karena menggosok terlalu kencang. Dirinya akan merasa kurang bersih apabila tidak sampai seperti ini.
Apabila memutar memorinya sedikit ke belakang, Niko tak pernah memiliki riwayat trauma atau
kejadian yang membuatnya menjadi sangat perfeksionis terhadap kebersihan seperti ini. Hanya saja ia merasa menemukan kepuasan tersendiri saat membersihkan sesuatu. Sebuah kecenderungan yang terus diperturutkan sehingga semakin lama semakin parah. Semenjak tinggal di asrama pun kebiasaannya justru
kian menjadi-jadi, ia bahkan semakin menggebu dalam menjaga kebersihan dan kehigienisan.
Kala itulah tiba-tiba pendengarannya menangkap suara.
Samar-samar, seperti suara seseorang bernyanyi.
Pergerakannya menggosok pakaian mendadak terhenti. Niko memutar perhatiannya ke arah tangga. Suara itu sayup-sayup terdengar dari sana, sepertinya ada penghuni asrama yang tengah berjalan menaiki tangga. Begitu lembutnya suara nyanyian itu, seperti seorang ibu yang tengah bernyanyi untuk anaknya. Suara orang bernyanyi itu masih saja terdengar namun sosok yang menyanyikan itu tidak terlihat.
’’Siapa?’’ tanya Niko.
Hening. Suara orang bernyanyi itu mendadak menghilang begitu saja seperti ditelan angin.
Niko mengernyitkan keningnya, tadi dia yakin ada suara yang terdengar seperti orang bernyanyi di
sana. Ia tak tahu apakah suara itu berasal dari bawah atau memang dari tangga. Mungkin juga ada salah satu penghuni asrama yang kebetulan berada di kamar mandi lantai dua danbernyanyi-nyanyi sehingga terdengar
sampai atas.
Tak terlalu berlama-lama memikirkan suara itu Niko kembali mencuci pakaian-pakaian kotornya. Di lantai 3 yang gelap ini hanya ada dirinya seorang, sementara malam merambat dan semakin senyap. Sebagian besar penghuni asrama ini pun tampaknya telah terlelap. Mungkin pikirannya terlalu lelah sehingga ia merasa seolah
mendengar sesuatu, padahal tidak.
Di tengah temaram itu hanya terdengar suara gosokan Niko pada pakaian-pakaiannya. Pemuda itu
tampaknya jauh lebih takut pada bakteri kotor ketimbang pada kegelapan.
Maka, ia pun kembali menggosok pakaian-pakaian kotornya dengan lebih keras dari sebelumnya. Yang ada dalam benaknya hanyalah merontokan bakteri-bakteri kotor yang melekat pada pakaiannya tanpa sisa.
Sepertinya seisi asrama ini sudah terlelap, namun Niko tak peduli dan terus menyikat
pakaian-pakaiannya. Dia tidak akan bisa tidur jika masih ada perasaan mengganjal karena pakaian-pakaian kotornya menumpuk di almari. Perasaan mengganjal itu serupa beban dalam hati yang tidak mungkin diabaikan. Kekotoran baginya serupa aib yang harus dienyahkan jauh-jauh
Di tengah-tengah keheningan itu, kembali terdengar suara orang bernyanyi. Samar, namun masih
cukup untuk tertangkap oleh indra pendengaran.
Niko terhenyak. Suara itu kembali terdengar. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah tangga. Kali
ini dirinya langsung beranjak masih dengan sikat cuci dalam genggamannya, kemudian berjalan ke tangga untuk memeriksanya langsung. Tangga itu senyap, tidak terlihat ada siapapun di sana. Sekali dilongokan kepalanya untuk melihat ke lantai bawah namun di sana pun tidak ada siapa-siapa.
Niko mengernyitkan alisnya bingung. Sebenarnya suara apa gerangan itu, mengapa dirinya terus
mendengarkan suara itu. Dan suara itu pun sekarang mendadak menghilang lagi. Selama ini dirinya sudah beberapa kali mencuci pakaian di malam hari namun tak pernah ada kejadian seperti ini.
Merasa tak menemukan adanya sesuatu, Niko pun berbalik badan. Saat itulah tiba-tiba sikat cuci dalam genggamannya terlepas. Dia melihat sesuatu.
Sesosok makhluk berwujud wanita berambut panjang berdiri di tempat pencucian baju. Sepasangbola matanya berwarna putih, postur tubuhnya sangat tinggi, pakaiannya putih dan memanjang sampai ke lantai. Entah sejak kapan makhluk mengerikan itu berada di sana. Mulutnya terbuka dan terus mengeluarkan air liur yang sangat
menjijikan dan berjatuhan ke ember cucian Niko.
Sepasang mata Niko melebar, dan pemuda itu punmemundurkan tubuhnya. Malang, sesuatu membuatnya tersandung ke belakang.
Di saat bersamaan, Sandi kebetulan baru saja pulang dari minimarket depan untuk membeli beberapa barang. Dengan sedikit kecerdikannya, suatu kali dia berhasil mendapat duplikat pintu asrama sehingga bisa keluar-masuk asrama sesuka hatinya. Tadi ia sekaligus mengambil uang di ATM karena kebetulan di dalam
minimarket itu juga tersedia mesin ATM. Saat itulah Sandi kebetulan berpapasan dengan Tio.
’’Abis darimana, Kang?’’ tanya Tio, seraya melayangkan pandangannya ke barang belanjaan Tio.
’’Biasalah, dari minimarket depan.’’ jawab Sandi. ’’ngomong-ngomong, besok kamu ikutan acara Gen Meet? Lomba antara angkatan yang rutin diadakan sekolah kita setiap tahunnya.’’
’’Ikut, Kang, kayaknya aku sama Niko juga ikut lomba futsal mewakili angkatan kami, soalnya Erik ama Yogi sudah ikutan lomba lain. Ngomong-ngomong, si Niko kok di kamarnya nggak ada ya?’’ tanya Tio.
’’Niko? Wah, aku kurang tahu tuh, palingan dia lagi di—’’
’’AAARGHH!!!’’
Sandi dan Tio terhenyak. Mendadak terdengar suara yang menyentak keheningan malam. Tanpa menunggu lama lagi, mereka segera berlari ke lantai tiga yang merupakan sumbersuara.
Rupanya di sana tampak Niko terduduk lemas di atas lantai. Wajahnya tampak pucat dan diliputi
ketakutan. Ia masih tampak terbelalak seperti baru saja melihat sesuatu yang mengerikan. Dadanya agak mengejang, pertanda mendapat ketakutan yang teramat ekstrem. Sandi dan Tio pun segera menghampiri pemuda itu.
’’Kamu kenapa, Ko?’’ tanya Sandi, panik.
Niko tak menjawab, dan hanya menggeleng-gelengkan kepala sementara raut wajah-nya masih diliputi ketakutan yang sangat besar. Sekujur tubuhnya bahkan tampak gemetaran. Beberapa kali Sandi dan Tio berupaya menenangkan pemuda itu, apabila melihat reaksinya yang seperti membeku dan sulit berkomunikasi begini Sandi yakin pemuda ini mengalami shock berat.
Sandi melihatke arah Niko membelalakan matanya. Kosong. Hanya ada ember berisikan cucian dan kran yang masih menyala.
Para penghuni asrama lain mulai berdatangan. Mereka terhenyak mendapati keadaan Niko yang tampak menggigil ketakutan di atas lantai dan seolah linglung. Yogi bertanya apa yang terjadi pada Niko. Sandi dan Tio yang tidak tahu-menahu pun tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Sementara Niko masih tampak seperti orang ketakutan sehingga menimbulkan kepanikan bagi kawan-kawannya.
’’Niko kenapa?’’ tanya Erik.
’’Ko, kamu melihat sesuatu?’’ tanya Reza, berhati-hati.
Niko kembali menggelengkan kepalanya, lalu napasnya pun mulai tersenggal-senggal. Kali ini ia bahkan berteriak ketakutan dan berusaha meronta-ronta. Tampaknya pertanyaan Reza itu justru melipatgandakan rasa takutnya.
Saat itulah Pak Anwar, masih bersarung dan bersinglet, muncul dengan gurat genting. Agaknya
kegaduhan malam itu mengusik waktu istirahatnya. Sorot matanya tampak menyimpanketidaksenangan karena mendapati kegaduhan di asrama yang berada di bawah pengasuhannya.
’’Ada apa ini?! Niko kenapa? Dan kenapa tengah malam begini kalian semua belum tidur?’’ tanya Pak Anwar.
’’Kurang tahu Pak, tadi ketika kami ke sini, Niko keadaannya sudah seperti ini.’’ jawab Tio.
Pak Anwar menghela napas. ’’Yogi, tolong buatkan minuman hangat untuk Niko! Yang lainnya bantu saya bawa Niko ke kamarnya!’’
Yogi mengangguk, lalu segera melesat turun terlebih dahulu. Sandi, Tio, Reza, dan Erik pun membantu menggotong Niko ke kamarnya. Sementara Kevin tampak mematung di tempatnya, mungkin karena merasa sudah cukup banyak yang menggotong Niko.
Kevin menggigit bibirnya. Gurat wajahnya tampak genting sepertinya tengah berpikir. Berbeda dengan penghuni asrama lain yang panik, pemuda itu tampak gelisah. Bola matanya bergerak tak tentu arah dan resah. Sekilas ia tampak seperti seseorang yang merasa bersalah. Jemarinya menelusup ke dalam saku celananya sendiri, tampak berupaya menyembunyikan kegelisahannya. Diam-diam hal itu sempat tertangkap oleh mata jeli Sandi.
Sandi yang membantu membawa Niko ke kamar diam-diam melontarkan pandang pada Kevin. Ia
__ADS_1
menyimpan sebuah pertanyaan.
Apakah pemuda ini mengetahui sesuatu?