
9
Boneka yang Hancur
’’San, luka di muka lu kok makin parah?’’
Perhatian semua yang ada di meja makan itu sontak teralihkan. Kebetulan pagi itu semua penghuni
asrama tengah makan bersama di ruangan makan. Dan kini atensi mereka semua tertuju pada Reza dan Sandi di satu sisi meja makan. Reza tengah memandangi wajah Sandi secara saksama, bahkan sampai mendekatkan wajahnya pada pemuda itu demi mencermati luka-luka di wajahnya. Dengan gaya bak seorang dokter, Reza
memeriksa wajah Sandi.
Irham yang tadinya tengah menikmati sarapannya terhenyak melihat muka Sandi, seperti baru tersadar
ada beberapa luka memar di sana. Erik begitu terkejut dengan luka di muka Sandi, sehingga tahu Sumedang yang sudah berada di mulutnya pun meloncat keluar. Tio yang tengah meminum air putih pun tersedak. Niko menepuk-nepuk punggung Tio, namun ekspresi wajahnya tampak terkejut melihat luka-luka di wajah Sandi. Sementara Yogi langsung beranjak untuk mencermati luka Sandi lebih dekat. Hanya Kevin yang tampak tak terlalu peduli, hanya memandang Sandi sekilas kemudian melanjutkan kembali makannya. Sepertinya sarapannya jauh lebih
penting.
Sandi terpaku di tempatnya. Di wajahnya tampak luka lebam di ujung bibir, pipi dan pelipis. Ia yang
tadinya berupaya menyembunyikan luka di wajahnya pun merasa seperti pencuri mentimun yang baru terpergoki. Kini semua memandangnya dengan ekspresi serius. Luka di wajahnya memanglah terlalu kentara, apalagi sekarang sudah ada luka baru yang muncul.
’’Iya, kemarin kayaknya cuma di bibir tapi sekarang di pipi juga ya?’’ komentar Erik, seraya mencermati wajah Sandi.
’’Terus itu di leher kiri juga ada sedikit bekas sayatan!’’ seru Tio.
’’Ini sih jelas luka dari luar.’’ desis Reza, seusai memeriksa beberapa luka di wajah Sandi.
’’Kang Sandi nggak habis dikerjain ama teman seangkatannya ‘kan?’’ tanya Yogi, masih tampak
mencermati luka-luka Sandi dengan gurat genting.
Sandi menggeleng. ’’Nggak... nggak ada. Teman-teman seangkatanku nggak pernah nge-bully aku.’’
Sandi menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan rasa nyeri. Bahkan luka lebam di pelipisnya
akibat terkena bola baseball pun belum sembuh, namun sekarang sudah muncul luka-luka lainnya. Luka memar di sudut bibir, pipi, dan juga satu goresan kecil di leher. Ia bahkan tidak bisa membasuh wajahnya dengan air karena terlalu perih.
’’Siapa yang sudah melakukan ini, San?’’ tanya Reza, menatap mata Sandi lekat-lekat.
Sandi tak mampu menjawab. Apabila dia mengatakan bahwa kondisi wajahnya sudah seperti ini saat bangun tidur pagi tadi, semua orang pasti tidak akan percaya. Bahkan mungkin mereka akan menertawainya karena itu adalah sesuatu yang sangat di luar nalar. Padahal kenyataannya memang seperti itu.
’’Iya, Kang... ini sudah termasuk tindakan kriminal. Kita bisa bikin orang itu dikeluar-kan dari
sekolah atau dipenjara!’’ ucap Yogi, sengit.
Semua yang ada di ruangan makan itu dapat melihat perubahan ekspresi Sandi yang perlahan menjadi
panik. Semalam Sandi tak merasakan adanya suatu keganjilan, namun begitu terbangun dia merasakan sakit di beberapa bagian wajahnya. Dan benar saja, saat dia melihat keadaan wajahnya cermin rupanya sudah ada beberapa bekas luka di wajah. Seolah ada orang asing yang semalam diam-diam menyelinap masuk kamar kemudian memukulinya saat dia tengah terlelap.
Dan kini semua orang memandang ke arahnya dengan tatapan meminta penjelasan, seolah dirinya-lah orang yang bersalah itu.
Reza menghela napas, kemudian merangkul lembut bahu Sandi. ’’Kalo ada apa-apa... cerita aja San. Kita pasti bakal bantu. Kita semua di sini keluarga. Kalau ada satu yang sakit, berarti semuanya juga ikut merasakan.’’
Sandi memandang Reza dan penghuni asrama lain dengan sorot mata yang bergetar. Tiba-tiba saja
kepalanya terasa berat, sementara keringat dingin mulai menetes. Sepertinya ini ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa aneh yang belakangan dia alami. Dia yakin, sebab bahkan batas logikanya pun tak mampu menjelaskan kejadian-kejadian itu termasuk luka-luka baru dia sadari ada di wajahnya pagi ini.
Apa yang harus dia katakan?
Irham mendesis pada Reza, kemudian memberikan isyarat pada pemuda itu agar tidak memaksa Sandi
bercerita. Meskipun hanya menyuruh bercerita dengan intonasi lunak, namun hal itu tak jauh berbeda dengan
pemaksaan karena ia terus menunggu Sandi bercerita. Tak ubahnya pemaksaan atau mengintimidasi secara halus.
Sandi menggeleng, kemudian berbalik badan dan berlari meninggalkan meja makan. Tentu saja hal itu
membuat seluruh yang ada di meja makan menjadi terheran-heran. Dan justru mengira Sandi tengah menyembunyikan sesuatu.
Sandi masuk kamar, kemudian membanting pintu kamarnya. Kekalutan memenuhi benaknya, dia bahkan nyaris tak mampu berpikir. Semalam ada seseorang atau sesuatu yang membuat wajahnya penuh luka seperti ini saat dirinya tertidur. Sekarang wajahnya seperti dihujani rasa sakit.
Selain sakit pada fisik, dirinya juga merasakan beban psikis tidak terkira. Siapa yang tidak
panik dan merasa terancam dan saat terbangun sudah mendapati wajahnya penuh luka? Serasa ada sesuatu yang terus mengintai dan hendak melakukan suatu kejahatan pada dirinya.
Sandi memutar pandang ke cermin di sudut ruangan. Tampak seraut wajah dengan bercak-bercak luka.
Tak pelak hal itu pun membuat dadanya terasa sesak. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya?
Tiba-tiba saja boneka Lucyana terjatuh di atas lantai. Suaranya tidak terlalu keras, namun cukup memecahkan keheningan di ruangan itu.
Sandi tertegun, kemudian perlahan melangkah mendekati boneka itu. Ia berjongkok kemudian meraih
boneka Lucyana dan meletakannya kembali di rak buku tempat biasa dia bertahta. Dalam posisi masih bertekuk lutut, Sandi melekatkan pandangan pada Lucyana. Entah mengapa, dirinya merasa boneka ini tengah memandanginya.
Saat itulah Sandimenyadari sesuatu.
Sandi menatap nanar Lucyana. Sejak pertama Kevin membawa boneka misterius ini ke asrama
dirinya sudah merasakan ada aura yang asing, namun saat itu ia berusaha menepis pikiran-pikiran itu. Semakin lama semakin banyak hal-hal mengerikan yang terjadi di asrama. Termasuk penampakan makhluk-makhluk gaib. Dan itu semenjak keberadaan boneka ini di asrama ini.
’’Kamu... pasti yang telah melakukan semua ini ‘kan?!’’ desis Sandi.
Tak ada jawaban. Boneka itu masih berdiri di tempatnya dengan angkuh dan anggun. Seperti ratu yang
tengah memerintah rakyatnya, sementara Sandi adalah seorang rakyat yang tengah bertekuk lutut di bawahnya. Ekspresi wajahnya pun manis, namun seperti memiliki aura yang aneh. Hanya memandang sepasang matanya yang kelam dan seolah berkabut Sandi dapat merasakan bahwa boneka ini berbeda dari boneka-boneka lainnya.
’’Kenapa... kamu melakukan itu padaku?’’ tanya Sandi, frustasi.
Hening, masih tak ada jawaban. Boneka itu bisu, tak mampu memberinya jawaban barang sepatah kata
pun.
Sandi tiba-tiba saja merasa intelejensinya terhempas hingga tingkatan terendah. Bertahun-tahun
mengecap pendidikan di sekolah yang konon mengadaptasi sistem pendidikan terbaik di Negeri Paman Sam, kini dirinya justru berbicara dengan sebuah boneka. Dan berharap boneka itu menjawab pertanyaannya.
Tetapi rentetan kejadian aneh belakangan ini terlalu tidak masuk akal. Ia yakin, semuanya ada
kaitannya dengan boneka ini.
Sandi bangkit, kemudian perlahan menjauhkan dirinya dari Lucyana. Ia sadar boneka ini tampaknya memiliki sesuatu yang dapat membahayakan dirinya. Dan juga siapa-pun yang berada di asrama ini Maka
ia pun memutuskan untuk menjauh sejenak sembari pelan-pelan memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan nanti. Dalam hati ia berjanji, akan terus menyelidiki perihal boneka ini.
***
Bel istirahat bergema di setiap sudut sekolah. Sandi melangkahkan kakinya tergesa di antara
segerombolan siswa yang baru saja keluar dari kelas. Matanya bergerak cepat mencari Bram, namun ia tak bisa menemukannya. Pemuda jangkung itu juga tidak ada di kelasnya. Beberapa kali Sandi mencoba bertanya pada beberapa teman sekelas Bram, namun tak ada yang tahu-menahu.
Seorang kawan dari kelas lain tampak mengernyit melihat wajah Sandi yang penuh luka lebam. Namun
Sandi tak begitu peduli. Ia kembali menyusuri lorong-lorong sekolah itu, berusaha mencari Bram.
Akhirnya, Sandi mendapati Bram berada di sebuah kelas lain.
__ADS_1
Bram tampak tengah menyalin sesuatu dari buku satu ke buku lain. Gurat wajahnya santai, sambil
mendengarkan musik dari ponsel dengan earphone pula. Namun sesaat kemudian gurat wajah santai itu berubah ketika menyadari Sandi berjalan perlahan menghampirinya. Sepasang matanya melebar melihat Sandi.
’’Mukamu kenapa, San?’’ tanya Bram, terkejut bukan main. ’’ampe babak-belur bonyok-bonyok kayak
gini!’’
Sandi menggeleng. ’’Ada yang mau kuomongin, Bram... ada sesuatu yang nggak beres di asramaku.’’
Bram tertegun, lalu gurat wajahnya berubah menjadi diselimuti kemarahan. ’’Sudah kuduga, kamu
menjadi korban bullying di asrama ‘kan? Oke, pulang sekolah nanti kamu langsung bereskan barang-barangmu di asrama. Kamu bisa tinggal di kosku untuk sementara.’’
’’Bukan itu!’’
’’Bukan itu?’’
Bram menggeleng, tak mengerti. ’’Oke, aku tanya sekali lagi... luka-luka di mukamu itu bukan
karena bullying di asrama?’’
Sandi menggeleng, kemudian gurat wajahnya tampak seperti menahan perih akibat luka-luka di wajahnya. Terlihat sekali bahwa dia merasa amat kesakitan. Bahkan rasanya dia ingin sekali menumpahkan umpatan berkali-kali karena rasa sakit itu.
’’Kalau bukan karena bullying terus karena apa? Ngomong yang jujur. Jangan takut, San... kamu bisa cerita apapun yang kamu mau ke aku. Luka di wajahmu itu bener-bener kayak bekas pukulan atau habis dihajar.’’
Sandi berdecak kesal. ’’Makanya kamu tuh kalo orang ngomong, didengerin dulu ampe selesai!’’
Bram menghela napas. ’’Sorry, sorry... oke, sekarang kamu cerita, kenapa mukamu bisa
ampe kayak gini?’’
’’Ada sesuatu,’’ desis Sandi. ’’yang berniat mau mencelakakan aku!’’
Bram terhenyak, lalu menggeleng lagi. ’’Mencelakai kayak apa, San? Aku nggak paham!’’
Sandi sempat tampak ragu, namun akhirnya dia pun menceritakan semua peristiwa yang terjadi
beberapa lama ini. Kehadiran boneka misterius di asrama, penampakan-penampakan, dan luka-luka di wajahnya ketika ia bangun tidur. Ia juga menceritakan tentang sosok misterius yang dia kira sebagai mendiang Papanya. Semuanya diceritakan, tanpa melewatkan satu slot pun.
Bram sempat terdiam. ’’Kamu lagi nggak membuat novel ‘kan, San?’’
’’Selama kita bersahabat, apa pernah sekali aja aku ngebohong ke kamu? Di saat aku
ngebohongin semua orang. Dan bahkan ngebohongin diriku sendiri?’’
Bram terdiam. Ia sadar, sahabatnya ini tidak sedang berbohong. Bahkan di saat Sandi menyembunyikan sesuatu dari semua orang, dia tetap menceritakannyanya pada Bram. Termasuk masalah pribadi keluarganya dan gadis yang diam-diam ia sukai sekalipun. Meskipun demikian, daya pikir logisnya diam-diam masih mengintervensi
itu semua.
’’Aku ada ide.’’ ucap Bram, kemudian.
’’Apa?’’
Bram mendekatkan wajahnya, kemudian membisikan sesuatu pada Sandi.
Sandi terhenyak. Tanpa bisa dia cegah, lehernya berputar dan matanya terpaku pada wajah Bram. Ia
tak dapat menutupi keterkejutannya mendengar saran Bram.
’’Itu bahaya, Bram!’’ seru Sandi. ’’kamu nyuruh aku balik ke asrama dan melakukan hal seperti
itu, gimana kalau—’’
Bram mengangkat alisnya, menunggu Sandi memberikan argumennya. Namun pemuda itu tak melanjutkan
perkataannya. Diam-diam Sandi merasa usulan Bram itu masuk akal juga. Pemuda itu memang selalu memiliki pemikiran yang cemerlang. Meskipun sekilas terlihat begitu santai dalam segala hal, namun Bram adalah seorang bintang kelas.
’’Apa cara itu bisa berhasil?’’ tanya Sandi, tak yakin.
Sandi berpikir. Akhirnya, dirinya pun memutuskan untuk mengikuti opsi Bram itu. Dirinya tidak
memiliki banyak pilihan.
’’Oke... aku akan coba.’’
***
Sepulang sekolah, Sandi menapaki tangga asrama dengan gontai. Tampaknya penghuni asrama lainnya belum pulang. Hari ini semangatnya sungguh-sungguh drop sampai titik terendah. Bahkan tadi salah seorang guru sempat menegurnya karena dia melamun di kelas. Saat hendak masuk kamarnya, mendadak sesuatu membuat Sandi menghentikan langkah di depan jendela.
Gemerisik dedaunan terdengar renyah, saling bergesekan di dekat jendela lantai dua. Jendela itu
berderet-deret memenuhi satu sisi dinding sehingga memungkin para penghuni asrama dua memandang dengan leluasa ke luar. Mendadak Sandi ingin pulang ke rumahnya. Dalam keadaan susah di perantauan seperti ini, pulang ke rumah memang selalu menjadi pilihan yang menggoyahkan perasaan.
Sandi tersadar, ia sudah lelah dengan semua ini.
Namun dirinya harus menyelesaikan permasalahannya di sini. Ia tak mungkin pergi begitu saja.
Mendiang Papa pernah berkata bahwa sejak kecil Sandi selalu dapat menuntas-kan segala masalahnya sendiri. Ia pernah berjualan stiker dan pernak-pernik lucu di sekolah semasa SD dulu, demi mengumpulkan uang untuk membeli MP3 Player yang dia inginkan. Dan semua itu dia lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan Papa,
Mami, dan adik-adiknya. Sebagai putra sulung sekaligus satu-satunya anak lelaki di keluarga, dia tumbuh menjadi figur yang tak kenal menyerah.
Sandi menghela napas kemudian berjalan kembali ke kamarnya. Sekarang dirinya paham mengapa salah satu figur kartun yang pernah dia tonton semasa kecil dulu tidak mau tumbuh dewasa. Sebab tumbuh menjadi orang dewasa begitu melelahkan.
Tiba-tiba, seperti ada sebuah tangan yang menarik kaki Sandi secara tiba-tiba sampai ia terjatuh.
Sandi terjatuh dengan telak ke depan sehingga kepalanya membentur sebuah meja di ruang tengah dengan
cukup keras. Dan keningnya tepat membentur sisian yang agak tajam. Dalam sekejap pandangannya seperti mengabur. Tubuhnya pun ambruk ke sisian meja itu. Sandi merasakan kesakitan yang luar biasa pada
keningnya. Entah apa yang akan terjadi apabila titik jatuh itu tadi meleset sedikit saja ke matanya.
Sandi mengerang. Kepalanya terasa seperti akan remuk. Dia merasa begitu kesakitan sampai-sampai
tak mampu bangkit dari sisian meja. Dan saat itu asrama tengah lengang, tak ada siapapun yang mampu menolongnya.
Pintu asrama lantai dua bergeser. Irham yang baru saja tiba terhenyak melihat Sandi di pojokan.
’’Sandi!’’ seru Irham. Pemuda itu menghampiri Sandi dan membantunya duduk di atas lantai.
’’Kamu kenapa?’’ tanya Irham, khawatir. Pemuda itu tampak berusaha memeriksa keadaan Sandi,
kalau-kalau ada cedera yang riskan. Lalu ia melihat setitik luka di kening Sandi. Tanpa berpikir panjang dia beranjak kemudian mengambilkan kotak P3K di kamarnya dan mulai mengobatinya.
Irham membasahi bibirnya sekali. ’’Tahan ya, San...’’
Irham meneteskan obat merah di kapas kemudian menempel-nempelkannya perlahan di luka kening
Sandi. Pergerakan tangan pemuda itu begitu lembut dan berhati-hati, seperti sudah sangat terlatih. Pemuda itu juga tampak begitu sabar menunggu sampai luka Sandi mengering. Bahkan Sandi dapat merasakan sakit di keningnya
berangsur-angsur pulih. Dan begitu dirasa sudah cukup, Irham memasang plester luka di kening Sandi.
’’Udah enakan?’’ tanya Irham.
’’Masih sakit,’’ ucap Sandi. Ya tentu saja, karena dia baru saja terjatuh.
Irham tertegun sejenak memandangi luka di kening Sandi lekat-lekat. Sepertinya pemuda ini juga
bertanya-tanya melihat luka-luka di wajahnya.
’’Sebenarnya...’’ ucap Irham. ’’wajahmu ini kenapa? Kok bisa sampe babak-belur begini?’’
__ADS_1
Sandi tertunduk. ’’Entahlah. Bangun-bangun tidur sudah kayak gini.’’
Irham menggelengkan kepala, tak mengerti. ’’Apa sebelumnya juga pernah tiba-tiba kayak
gini?’’
Sandi menggeleng.
Irham menghela napas, lalu merangkul Sandi dengan lembut. ’’Kalau ada sesuatu, cerita-cerita
ya. Jangan dipendam sendiri. Kita semua di sini sudah seperti keluarga. Kalau
ada satu yang kesulitan, yang lain pasti mau bantu kok.’’
’’Iya Kang.’’
Irham memandang ke luar jendela. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Saat itulah Sandi
bangkit, hendak kembali ke kamarnya.
’’Makasih ya Kang, sudah diobatin.’’ Sandi beranjak, namun tubuhnya masih sedikit sempoyongan.
Irham dengan sigap pun membantu Sandi bangkit dan berjalan. Ia meletakan tangan kanan Sandi di bahu kanannya, lalu membimbingnya perlahan ke kamar. Dengan berhati-hati pemuda itu juga membawa Sandi dalam posisi duduk di atas kasurnya. Kepala Sandi nyaris terbentur sisian ranjang tingkat, namun beruntung Irham sempat melindungi kepalanya dengan tangannya.
’’Istirahat, San,’’ ucap Irham, seraya menyelimutkan selimut tebal pada tubuh Sandi. Kemudian pemuda itu pun pergi dari kamar.
Saat Irham pergi, tahu-tahu saja perhatian Sandi tertaut pada boneka di ujung kamar. Semakin lama, boneka itu semakin tampak menguarkan aura suram. Seperti ada sesuatu yang mengusik perasaan apabila memandang boneka Lucyana. Maka, Sandi pun menutup dirinya sendiri dengan selimut untuk mengabaikan boneka itu.
Malamnya, Sandi diam-diam memasang kamera pengintai di pojokan. Ia menyelip-kan kamera itu di
suatu sudut yang cukup tersembunyi. Besok dia akan memeriksa rekaman video malam ini untuk memastikan apakah boneka Lucyana yang menyebabkan luka-luka di wajahnya.
Semoga ini berhasil, batin Sandi.
***
Perlahan mata Sandi terbuka karena sinar matahari pagi yang menembus melalui celah-celah
pintu balkon. Semalam sepertinya dia sudah bisa tertidur dengan nyenyak. Pikirannya kini terasa lebih segar. Perasaan lelah dan kecemasannya kemarin seperti sudah lenyap tanpa jejak. Hujan deras yang turun hampir semalaman telah tergantikan oleh matahari yang bersinar cemerlang pagi ini. Dan sepertinya dia sudah
bisa memulai hari baru yang lebih baik.
Sandi meraih cermin kecil yang tersembunyi di bawah kasur, lalu memeriksa luka di wajahnya.
Tampak luka di wajahnya tidak bertambah lagi, bahkan luka-luka yang kemarin pun tampaknya mulai pulih. Mungkin di waktu istirahat nanti dia akan meminta obat di ruang kesehatan sekolah supaya lukanya bisa cepat sembuh.
Sandi menghela napas lega. Ternyata ketakutannya tidak terbukti. Kemarin dia sempat menyimpan kekhawatiran kalau-kalau luka di wajahnya akan bertambah lagi. Namun, saat hendak turun dari tempat tidur ia merasakan sesuatu yang aneh.
Sandi menarik selimutnya dan melemparnya begitu saja ke atas lantai. Ia terkejut saat mendapati
kaki kirinya dipenuhi luka sayatan. Ada empat atau lima bekas sayatan kecil yang masih basah di kakinya. Bahkan selimut putihnya yang terhempas di lantai pun tampak berdarah-darah. Dalam sekejap rasa sakit dan ngilu menghujani bagian bawah tubuh Sandi. Dia mengerang penuh kesakitan, serasa perih itu menghantamnya tanpa ampun bahkan menembus sampai ke tulangnya.
Perlahan Sandi memutar pandangan ke arah pojokan ruangan. Tampak boneka Lucyana masih berdiri
di sana. Masih di tempat yang sama.
Dengan tangan gemetar, Sandi meraih kamera tersembunyi yang semalam dia letakan di sisi kasurnya. Mendadak pikirannya dipenuhi oleh kekalutan dan rasa takut. Namun ia tetap harus melihat rekaman itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian ia pun mulai memutar rekaman kameranya semalam.
Sepasang mata Sandi melebar.
Ya Tuhan—
Oh, tidak... ini terlalu mengerikan!
Sandi menelan ludahnya dengan susah payah. Batinnya serasa terguncang dalam sekejap. Selama ini dia tidak langsung mempercayai sesuatu yang terlintas dalam benaknya. Namun kini ia tak memiliki pilihan lain selain percaya.
Sandi kembali memandang Lucyana di rak buku. Tidak salah lagi boneka ini benar-benar menyimpan kutukan jahat. Boneka itu-lah sumber petaka demi petaka di asrama ini. Dan yang menyebabkan luka-luka di wajahnya tak lain dan tak bukan adalah boneka itu—Lucyana.
Rasa sakit di kakinya semakin tak tertahankan. Sandi mengigit bibirnya kuat-kuat saat darah mulai mengalir dari goresan-goresan di kakinya. Perih tak henti menghujani tanpa kenal ampun. Serasa ingin berteriak keras-keras sebagai pelampiasan atas rasa sakitnya. Belum pernah dia merasakan sakit sehebat ini, bahkan kakinya terasa seolah akan putus karena rasa sakit itu.
Sandi menatap tajam ke arah rak buku. Ia beranjak, kemudian dengan terpincang-pincangmelangkah ke arah rak buku tempat dimana Lucyana berada. Pikirannya dipenuhi oleh kilat-kilat kemarahan. Rasa sakit yang tak tertahankan membuat sesuatu dalam benaknya meletup-letup, dan seolah hendak meledak. Sudah tak ada lagi
perasaan takut dan rada dalam dirinya. Sepertinya saat ini ia sungguh-sungguh tak mampu menahan diri.
’’Boneka setan!’’ desis Sandi, seraya mencengkeram kaki boneka Lucyana.
Dalam sekali hempasan, Sandi menghantamkan kepala boneka Lucyana kuat-kuat ke kasur tingkat
bagian atas.
PRANGGG!!
Kepala boneka itu hancur berkeping-keping di atas lantai, sehingga menyisakan tubuh mungilnya
yang berbalut gaun pengantin.
Seusai melakukan itu Sandi menyandarkan dirinya sendiri di dinding. Segenap tenaganya langsung
terkuras seusai menghancurkan boneka itu. Apalagi ditambah rasa perih luar biasa di bagian kakinya. Napasnya mulai tersenggal-senggal dan dia pun merasa seolah akan tumbang.
Saat itulah Yogi masuk ke dalam kamar, hanya berbalut handuk putih tanpa mengenakan pakaian. Tadi
dia baru saja menuntaskan mandi paginya dan hendak berpakaian namun kemudian ia mendengar suara seperti
benda keras yang pecah dari kamar ini. Betapa terkejutnya ia mendapati sesuatu di kamar ini.
’’Kang Sandi, ini kenapa!?’’ tanya Yogi, tak mampu menyembunyikan keterkejutan-nya. Ia memandang
boneka yang telah hancur dan kaki Sandi yang terluka.
’’Boneka ini berbahaya, Gi, ada sesuatu yang sangat jahat tersembunyi di dalam boneka ini!’’ jawab
Sandi, sambil berusaha menahan perih. ’’boneka ini yang sudah bikin banyak kejadian aneh di asrama ini, termasuk luka-luka di muka dan kaki gue!’’
Yogi menggeleng tak mengerti. Namun kemudian dia segera membantu Sandi berjalan ke tempat
tidurnya. Pelan-pelan, ia membawa Sandi dalam posisi duduk. Pemuda itu tampak seperti menahan perih. Sempat Yogi memandang ke arah boneka yang sudah hancur lalu beralih lagi pada Sandi.
’’Jadi benar boneka ini yang sudah menyebabkan semua kejadian aneh di asrama?’’ tanya Yogi,
memastikan.
Sandi mengangguk, lalu kemudian ia meringis menahan perih di kakinya. Sepertinya pemuda itu
sungguh-sungguh kesakitan.
Yogi terdiam sejenak. ’’Aku ambilin kotak obat dulu ya, Kang... itu lukanya—’’
Sandi menggeleng. ’’Gue bisa obatin di sekolah nanti.’’
Yogi mengangguk, kemudian beringsut ke depan kamar dan kembali dengan segelas air dingin. Ia
menyodorkannya pada Sandi. Sandi mengucapkan terima kasih lalu segera menandaskan segelas air itu.
’’Gue harus pergi dari sini, Gi...’’ desis Sandi.
’’Pergi? Mau pergi kemana, Kang?’’
’’Entahlah, tapi yang jelas gue nggak mungin terus bertahan di sini lagi.’’
Sandi beranjak dengan susah payah, kemudian mulai membereskan barang-barang yang bisa dia
__ADS_1
bawa. Nanti dia akan meminta tolong siapapun untuk mengangkut sisa barang-nya. Setelah memasukan beberapa barang yang masih dia bawa, ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menggeser-geser layar ponselnya, lalu menempelkannya ke telinganya.
’’Halo, Bram... bisa jemput sekarang?’’