Pesta Boneka

Pesta Boneka
Episode 6


__ADS_3

6


Sendiri di Kamar


 


 


            Hari itu Sandi memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Peristiwa tak terduga yang telah menimpanya kemarin bisa menjadi alasannya untuk izin tidak masuk sekolah. Kepalanya memang masih terasa sedikit


nyeri, namun sebenarnya tidak terlalu mengganggu untuk dipakai beraktivitas.


            ’’Sarapannya San.’’ ucap Reza, seraya meletakan piring makanannya di sisian kasur Sandi.


            ’’Makasih Kang.’’


            ’’Lu jadinya nggak masuk hari ini?’’


            Sandi meringis. ’’Nggak masuk dulu kayaknya, Kang. Masih rada pusing nih gegara kena bola kemarin.’’


            Seisi penghuni asrama ini tampak tengah bersiap berangkat ke sekolah. Kala itu Yogi pun tengah


menjahit kancing seragamnya di kamar dua, dia meminjam jarum dan benang milik Reza. Sementara Reza sedang berganti pakaian di pojokan kamar. Baru saja Kevin berangkat sekolah. Selama ada orang-orang, Sandi harus tetap berpura-pura sakit.  Kondisinya saat ini fit, bahkan sepertinya dia masih bisa bermain lompat tali sekarang. Namun karena merasa sedikit sungkan pada yang lainnya, Sandi pun bertingkah seolah sedang kurang sehat.


            Selama ini Sandi kerap mencari dan mencuri kesempatan untuk tidak masuk sekolah. Rutinitas di


sekolah dan tuntutan akademik dari Mami telah membebaninya sepanjang waktu. Seringkali dia diam-diam menyandarkan kepalanya di ujung lorong sekolah dan asrama karena merasa kelelahan. Bahkan kalau boleh jujur, dia ingin lepas dari semua ini.


            Sandi menarik selimut tebalnya, dan saat itulah perhatiannya tertuju pada boneka Lucyana di


pojokan rak buku. Mendadak, bayangan mengerikan selama beberapa hari ini kembali melintas dalam benaknya.


            ’’Gi,’’ panggil Sandi, pada Yogi.


            ’’Ya?’’ sahut Yogi yang baru saja selesai menjahit seragamnya, seraya mengancing-kan kemejanya.


            ’’Gue boleh istirahat di kamar lu nggak?’’


            ’’Wah, maaf Kang, anak-anak kamarku sudah bikin kesepakatan kalau berangkat sekolah harus dikunci


dan masing-masing anak bawa kuncinya, kecuali ada anggota kamar yang lagi sakit di dalam. Bukannya kamar Kang Sandi juga gitu? Khawatirnya, kalau-kalau Kang Sandi diajak Pak Anwar ke puskesmas nanti kebingungan ngunci kamarnya gimana. Dan Pak Anwar ‘kan juga sudah menegaskan semua penghuni asrama harus tidur di


kamarnya masing-masing.’’


            Sandi menelan ludahnya yang tersekat di tenggorokan. Sudah jelas, dirinya akan berada di kamar ini  bersama dengan boneka Lucyana. Apa boleh buat, dirinya sudah terlanjur meminta izin tidak masuk sekolah.


            Jam di dinding menunjukan pukul 7. Seusai memastikan semua orang telah berangkah sekolah, Sandi menyibak selimutnya kemudian mengambil beberapa camilan di kulkas. Sepertinya teman-temannya tidak mengira bahwa dia sedang pura-pura sakit. Bahkan Reza tadi sempat menyentuh kening dan lehernya untuk memastikan dirinya tidak demam. Pak Anwar juga tanpa berpikir panjang langsung memberikan surat izin tidak masuk sekolah begitu melihat luka memar di kening Sandi. Padahal selama ini beliau selalu ketat dalam menurunkan


surat izin tidak masuk. Entahlah, Sandi pun heran mengapa selama ini dirinya selalu lancar-lancar saja nyaris tanpa kendala dalam melakukan berbagai manipulasi dan pelanggaran.


            Perhatiannya sempat tertuju lagi pada boneka Lucyana. Tadinya dia merasa boneka ini tampak


mengerikan, tetapi setelah dipikir-pikir lagi takut pada sebuah boneka mati adalah sebuah kekonyolan. Bisa jadi peristiwa-peristiwa aneh yang beberapa lama ini terjadi padanya tak ada hubungannya dengan boneka cantik ini. Lama kelamaan boneka ini pun tampak normal saja, tak terlihat ada yang aneh.


            Sandi melangkah mendekati Lucyana kemudian menekuk lututnya agar dia bisa melihat boneka ini


lebih dekat. Beberapa jenak ia mengamati boneka itu. Sekilas boneka ini sama sekali tak tampak menyeramkan, bahkan terlihat begitu manis, anggun, dan menggemaskan. Iseng-iseng, Sandi pun mengangkat jemarinya kemudian perlahan menyentuh pipi boneka  Lucyana.


            Sebersit kemudian, Sandi menarik jemarinya kembali.


            ’’Ah, bodoh sekali, untuk apa pula aku masih bertanya-tanya apa boneka ini berhantu atau tidak?’’ dengus Sandi, merutuki dirinya sendiri.


            Sandi menghela napas, kemudian beranjak membawa camilannya pergi meninggalkan boneka Lucyana.


Sepanjang hari ini akan dia habiskan dengan menonton film anime dan melakukan hal-hal sesukanya. Tidur pun juga merupakan hal yang dia sukai.


            Tanpa Sandi sadari, bola mata boneka Lucyana diam-diam bergerak dan mengawasi setiap


pergerakannya.


            Sandi memanjat ke kasur Niko dan tiduran di sana. Dia hendak menonton serial anime via ponsel, apabila


Pak Anwar tiba-tiba masuk kamar, dia akan cepat-cepat menyembunyikan ponselnya. Kedapatan membawa ponsel ke asrama ini memiliki konsekuensi yang berat.    Bisa-bisa dia tak bisa mendapatkan ponselnya lagi untuk selamanya.


            Camilan, earphone, dan link serial anime yang rencananya akan langsung dia tonton beberapa


episode. Sempurna.


            Sandi menidurkan diri dengan posisi tengkurap, lalu mulai memasang earphone-nya. Sementara


serial animenya menampilkan adegan pembuka, ia membuka bungkusan camilan. Semenjak tinggal di asrama, dia tak bisa sesering dulu lagi melakukan aktivitas kesukaannya. Apabila sedang pulang ke rumah atau menginap di kos Bram, dia bisa menonton anime berepisode-episode sampai pukul 3 pagi.


            Sandi masih asyik menonton serial anime kesukaannya itu, ketika tahu-tahu layar ponselnya


terintervensi oleh icon telepon yang diiringi oleh nada sambung berikut getaran. Sandi tertegun, seseorang meneleponnya.


            Sandi menempelkan ponselnya ke telinga. ’’Ya... halo, Bram?’’


            ’’San, gimana kondisimu? Masih sakit? Kamu hari ini nggak masuk sekolah ya?’’ tanya suara


di ujung sana. Bram.


            ’’Iya nih, Bram, sudah rada baikan sih sebenernya, tapi masih agak nyut-nyutan.’’ jawab Sandi,


 eraya mengelus keningnya. Sakit. Berarti lukanya masih belum sembuh    betul.


            ’’Sorry ya, San, gegara aku memaksa kamu ikut pertandingan itu, kamu jadi jatuh sakit


begini. Ampe pingsan di lapangan segala.’’


            Sandi terkekeh. ’’Santai saja. Setidaknya sekarang aku ada alasan untuk izin nggak masuk sekolah. Hari ini di kelasku ada pelajarannya Pak Baihaqi, guru agama yang suka ngelihatin aku dengan tatapan sinis itu. Dia kalo ngelihatin aku tuh kayak melihat masa depan bangsa yang kurang cerah gitu. Ngeselin banget.’’


            Dari ujung sana terdengar tawa berderai. ’’Kamu dari dulu nggak berubah-berubah, San,’’


            ’’Ngomong-ngomong,’’ ucap Sandi, kemudian. ’’kemarin pas aku pingsan ada si Putri nggak?’’


            ’’Hmm, sebenarnya dari awal aku sudah tahu kalau hari itu Putri nggak masuk sekolah dan ikutan acara gen meet sih, San. Katanya dia lagi ada acara keluarga di rumah neneknya di Semarang. Kemarin aku cuma memancing kamu saja supaya mau ikutan pertandingan baseball. Sorry ya, San.’’


            Sandi menghela napas lega. ’’Syukurlah. Habislah harga diriku kalau pingsan di depan cewek


yang aku sukai.’’


           ’’Ya sudah, San, ini kayaknya jam pelajaran sudah mau mulai lagi. Kamu istirahat saja ya. Get well soon.’’


            ’’Makasih, Bram. Bye.’’


            ’’Bye.’’


            Sandi menguap. Mendadak perasaan kantuk menyerangnya. Tadinya dia ingin menonton satu episode


lagi, namun sekarang dia sudah mengantuk. Ia melirik jam dinding.  Baru pukul sepuluh pagi. Mungkin dia bisa


tidur barang satu atau dua jam, kemudian nanti melanjutkan lagi marathon menonton anime. Ia pun turun dari kasur Niko, kemudian beranjak ke kasurnya sendiri. Tak lama kemudian terdengar dengkur halus dari bibir Sandi.


***


            Sandi terbangun oleh sebuah tepukan lembut tangan seseorang di bahunya. Mimpi buruk yang menghinggapi waktu tidurnya lenyap dalam sekejap, tergantikan oleh seraut wajah yang tampak bersinar di antara biasan cahaya matahari yang masuk melalui jendela balkon.


            ’’Kang Irham?’’ Sandi sontak bersuara.


            Irham duduk di sisian Sandi, pemuda itu masih mengenakan seragam sekolah. Seolah pergerakan

__ADS_1


reflek alami saat bangun tidur, perhatian Sandi langsung beralih ke sisinya. Ia lalu mengambil ponselnya yang tersembunyi di sela-sela kasur. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa Irham sudah pulang padahal jam sekolah belum berakhir.


            ’’Shalat zuhur dulu, San,’’ ucap Irham, lembut.


            Sandi hanya mengangguk, lalu duduk di sisi ranjang. Sendi-sendinya ngilu dan tulang-tulangnya terasa remuk. Perasaan lapar sudah menghinggapinya, mungkin setelah ini dia akan mengambil makan di bawah. Tapi sebelum itu dia harus shalat zuhur terlebih dahulu.


            ’’Tidurmu terlihat gelisah. Kamu mimpi buruk?’’ tanya Irham.


            Sandi menggeleng. ’’Mungkin efek kurang sehat Kang, jadi tidurnya nggak nyenyak. Ngomong-ngomong,


Kang Irham sudah pulang?’’


            ’’Sekarang jam istirahat kedua... aku mau ambil buku sebentar, habis ini juga balik.’’


            Diam-diam Sandi mencermati wajah Irham. Kakak kelasnya ini benar-benar tampan bahkan sepertinya dia adalah lelaki paling tampan di sekolah. Alis matanya tampak tebal dengan kulit putih bersih. Tak heran gadis yang dia sukai justru menyukai pemuda ini.


            Irham beralih pada pintu balkon yang terbuka, kemudian beranjak menutupnya karena mengira Sandi merasa kepanasan akibat sinar matahari yang menerobos masuk. Ia lalu menempelkan jemarinya di kening Sandi selama beberapa jenak, hendak memeriksa suhu badannya. Sorot mata pemuda ini sekilas dingin, namun di balik sorot mata itu tersimpan kepedulian pada semua orang. Mungkin pula sekadar naluri sebagai penghuni


asrama paling tua sehingga harus memperhatikan anggota asrama lainnya.


’’Tadi Pak Anwar di bawah bertanya, kamu mau berobat ke puskesmas atau tidak? Mumpung beliau bisa mengantar langsung. Biasanya kan Pak Anwar selalu sibuk dengan jadwal mengajar dan seminar.’’


            ’’Kayaknya nggak usah Kang, aku cukup istirahat di kamar aja.’’ tolak Sandi, halus. ’’lagipula ini mah cuma luka luar yang itupun nggak sampai infeksi juga, dipakai istirahat setengah harian ini sudah agak baikan.’’


            Irham menatap Sandi sejenak, lalu mengangguk perlahan. ’’Oke.’’


            ’’Ngomong-ngomong, aku mau shalat dulu ya Kang.’’


            Irham mengangguk, sementara Sandi lalu beranjak dari kasur hendak menunaikan ibadah shalat. Ia


berwudhu, lalu menggelar sajadah di ruang tengah. Selain tempat berkumpul dan melakukan berbagai aktivitas lainnya, ruang tengah juga kerap dipergunakan sebagai ruangan shalat. Kadang para penghuni asrama ini menunaikan ibadah shalat di masjid komplek yang berada tak begitu jauh dari asrama.


            Seusai shalat, Sandi masuk kembali ke kamar. Di sana sudah tidak ada Irham,     namun kemudian perhatiannya tertuju pada sepiring makanan yang masih hangat di atas nakas. Sepertinya ada seseorang yang


berbaik hati mengambilkan makan siang untuknya.


Sandi tertegun lalu menghampiri piring makanan itu. Ada post-it berwarna merah di sana, bertuliskan kalimat singkat. Ini kuambilkan makan siang sekalian, maaf aku buru-buru. Lekas sembuh, San.


            Tanpa berpikir panjang, Sandi pun menyantap makan siangnya itu. Biasanya orang menikmati


makanan dengan makan secara perlahan-lahan, namun lain halnya dengan dirinya yang justru makan dengan lahap sambil berusaha melampiaskan beban pikirannya. Tuntutan akademik dari Mami, cinta yang tidak tersampaikan, dan hari-hari yang mulai menjemukan. Sejujurnya, Sandi tak merasa bahagia dengan kehidupannya


sendiri.


            Seusai makan, Sandi meletakan piring makan bekasnya begitu saja di bawah tempat tidur. Sebersit kemudian ia merasa bingung hendak melakukan apa. Mau melanjutkan tidur, dia sudah merasa tidak mengantuk. Hendak melanjutkan marathon menonton serial anime, tiba-tiba saja ia merasa enggan. Beberapa lama ini mood-nya memang kian tak menentu, kadang naik kadang turun.


            Sandi masih duduk di lantai kemudian bersandar di sisian tempat tidur bertingkat. Kamar ini senyap. Lama kelamaan ia mulai tersadar bahwa sebenarnya dia tidak pernah pergi kemana-mana. Hanya terus tertaut dengan segala beban pikirannya yang menggunung. Bahkan perlahan dia mulai kehilangan kemampuan untuk memutuskan sesuatu karena dirinya terus dikendalikan oleh keinginan-keinginan Maminya.


            Selama ini Sandi selalu merasa seperti pungguk di antara raksasa-raksasa yang berjalan tegak


dalam meraih masa depan. Setiap hari ia bertemu dengan kawan-kawannya yang telah menorehkan satu persatu prestasi yang gemilang dan tentu bisa dibanggakan. Dia bukannya sama sekali tak berusaha, namun segala upayanya seperti tak ada artinya. Terlebih persaingan akademik di salah satu sekolah internasional terbaik di negeri ini terhitung ketat, bahkan sampai menyesakan dada.


            Dia selalu merasa kalah dalam hidup. Ia sudah mencoba mengeksplorasi semua yang dia bisa, namun


tidak ada sesuatu yang berarti. Ia seperti ditakdirkan untuk terus menjadi seorang penonton—penonton yang menyaksikan orang lain menjadi pemeran utama dan meraih kemenangan dalam hidup. Bahkan sampai Papa meninggal dunia pun dia belum sempat melakukan sesuatu yang berarti.


            Sandi menepis pikiran negatif itu jauh-jauh. Setidaknya dirinya sudah mau berusaha. Setidaknya dirinya masih memiliki kesempatan untuk bersekolah dan bertemu dengan kawan-kawan yang mau berteman dengannya. Dan di sana juga ada Bram, sahabat setianya, yang sudah mau mengulurkan bantuan setiap kali dia kesusahan. Lagipula setidaknya dia masih bisa melakukan apapun yang bisa dia lakukan.


            Sandi kembali memanjat ke kasur Niko, lalu hendak melanjutkan kembali menonton animenya. Sejenak dia ingin melupakan beban perasaannya. Ia memasang earphone-nya kemudian melanjutkan menonton lagi. Ia tiduran terlentang di atas kasur Niko sementara ponselnya ia letakan di atas perutnya. Dengan gurat antusias, ia pun


mulai menyimak berjalannya serial anime kegemarannya itu.


            ’’Sandi...’’


            Sandi terhenyak. Ia melepas earphone-nya lalu mengedarkan pandang ke sekeliling kamar. Baru saja ia seperti mendengar seseorang memanggil namanya. Ia melongok ke kasur tingkat bawah, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Ketakutannya tadi pun terbuktikan, terjadi sesuatu yang aneh saat dirinya tengah sendiri di kamar.


            Sandi menuruni ranjang tingkat sembari tetap mawas terhadap keadaan sekelilingnya.   Ia yakin baru saja ada yang memanggil namanya. Suara itu terdengar samar-samar, namun masih cukup jelas tertangkap indra pendengar.


            ’’Sandi...’’


            ’’Papa?’’ bisik Sandi, bergetar. Ia masih ragu apakah sosok di balkon itu adalah Papa, atau bukan. Ia pun melangkahkan kaki mendekat ke pintu balkon untuk memastikannya secara langsung.


            Bayangan tinggi besar itu mematung di depan pintu balkon. Seolah menunggu sesuatu. Tidak bergerak atau melakukan sesuatu, namun bayangan itu jelas terlihat seperti bayangan manusia. Keyakinan Sandi semakin menguat bahwa sosok tinggi besar itu adalah suara yang memanggilnya tadi.


            Pintu balkon berbahan kaca dan kusen itu tertutup oleh tirai berwarna putih polos sehingga sosok yang tengah berdiri di depan pintu balkon tidak dapat terlihat dengan jelas. Ketakutan tak terkira menghujam jantungnya, menyadari ada arwah Papa di balkon kamarnya. Langkah kaki Sandi semakin mendekat ke balkon, sembari menguatkan dirinya bahwa ia harus berdialog dengan mendiang Papa.


            ’’Papa... kumohon jangan datang-datang lagi ya, kalau ada sesuatu yang memberat-kan kepergian Papa, biar aku yang membantu menguruskannya.’’ ucap Sandi, terbata-bata. Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering, namun dia tetap memaksakan berbicara. Dalam hati ia masih tak percaya bahwa ia tengah berbicara dengan arwah Papanya.


            Tak ada jawaban. Sosok tinggi besar itu masih berdiri mematung di depan pintu balkon sehingga memantik rasa penasaran Sandi. Sosok itu menguarkan aura gelap dan kematian. Sementara rasa takut dan genting dalam benak Sandi pun terus saja bergejolak, seperti meronta-ronta. Makin lama ia menunggu, makin tersiksalah ia. Maka, ia pun memutuskan untuk membuka tirai itu.


            Sandi mengangkat tangan kanannya hendak membuka tirai, namun kegamangan menghadangnya. Ia belum siap melihat wujud Papa yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.


            Namun apabila dia tidak menguak tirai itu, maka dia akan terus menerus dihantui, entah sampai


kapan.


            Dalam satu tarikan, Sandi pun menguak tirai kamarnya.


            Sandi terhenyak.


            Tak ada siapapun di sana.


            Sandi perlahan membuka pintu balkon kamar. Di sana memang tidak ada siapa-siapa. Sosok misterius bertubuh tinggi besar tadi seolah lenyap tanpa jejak. Tentu saja hal itu membuatnya frustasi. Tadi sosok bayangan yang dia kira sebagai Papa itu ada di sini, namun tiba-tiba saja menghilang.


            Terik matahari menimpa rambutnya. Angin sepoi-sepoi membelai kepalanya. Sandi meletakan tangannya di


penyangga balkon. Apakah ada sesuatu yang hendak disampaikan oleh Papa, sampai harus mendatanginya lagi seperti ini?


            Pintu balkon tiba-tiba tertutup dengan sendirinya. Sandi terhenyak. Ia lalu mencoba membuka


pintu balkon. Tidak bisa. Pintu balkon itu sudah terkunci dari dalam. Tentu saja hal itu membuat Sandi terheran-heran. Mengapa pintu itu bisa tertutup dan terkunci padahal di lantai dua tengah tidak ada siapapun selain dirinya?


            ’’Buka! Buka! Siapa di dalam? Tolong buka!’’ pinta Sandi, seraya mengetuk pintu dengan panik.


            Tak ada jawaban. Tentu saja, karena para penghuni asramanya belum pulang.        Jam sekolah baru berakhir sekitar dua jam lagi. Dirinya tidak mungkin menunggu di sini dalam waktu selama itu. Mengharap Pak Anwar atau Nizar di lantai bawah mendengar permintaan tolongnya pun kecil kemungkinan sebab tangga lantai dua yang agak memanjang, belum lagi dibatasi ruang tengah yang begitu luas.


            Sandi mencari cara, kalau-kalau di sana ada sesuatu yang bisa dia pergunakan untuk membuka pintu.


Namun dia tak bisa mendapatkan apapun di balkon seluas 1x1,5 meter ini. Atau bisa saja dia menunggu orang yang lewat di depan asrama untuk dia mintai pertolongan. Nihil, beberapa lama dia menunggu, tidak ada orang yang melintas. Komplek perumahan menjelang sore itu benar-benar sepi.


            Sandi beralih lagi pada pintu, kemudian mencoba membukanya dengan cara paksa. Dia mengguncang-guncangkan pintu kusen itu, kemudian menariknya. Sama saja, pintu itu tetap terkunci rapat.


            ’’Tolong! Bukakan pintunya! Buka!’’ Sandi semakin keras mengetuk pintu itu karena merasa panik.


            Kekalutan memenuhi benak Sandi. Semua kejanggalan ini tentulah bagian dari ilusi makhluk gaib. Pintu itu tertutup dan terkunci dengan sendirinya. Tentulah kekuatan gaib itu hendak melakukan sesuatu atas dirinya. Dan hal paling mengerikan adalah kemungkinan bahwa spirit gaib ituhendak mencelakakan dirinya.


            Sandi kembali berusaha membuka pintu balkon seraya meminta pertolongan. Ia tak mungkin membiarkan dirinya sendiri terkunci di sini sampai orang-orang pulang. Sekuat tenaga ia berupaya membuka pintu itu, namun usahanya seperti sia-sia saja. Pintu itu terkunci rapat dari dalam, sementara Sandi mulai kehabisan tenaga dan


daya. Mengharapkan orang di bawah mendengar permintaan tolongnya pun sepertinya tidak mungkin.


            ’’Tolong bukakan pintu...’’ Sandi mulai putus asa, namun tetap mengguncangkan pintu balkon. Seharian ini dia berpura-pura sakit dan sekarang kondisi kesehatannya benar-benar merosot. Lama kelamaan, ia pun merasakan tubuhnya mulai terkulai leKang. Segenap tenaganya seperti dihambur-hamburkan sampai habis.


            Sebersit kemudian, pintu itu terbuka dan muncul segurat wajah dingin dari dalam.     Ia menatap Sandi dengan tajam.


            Pak Anwar!?


            ’’Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa bisa terkunci di balkon?’’ tanya Pak Anwar, lelaki bertubuh bongsor dan berkulit agak legam itu. Gestur wajahnya memancarkan kewibawaan dan pribadi yang tegas. Apalagi dengan kumis tebalnya yang teramat khas.   Ia berkacak pinggang, tampaknya merasa terheran-heran mengapa Sandi yang sedang sakit bisa terkunci di balkon kamar.


            Sandi tercekat. Tiba-tiba saja dia teringat ponselnya yang masih tergeletak di atas kasur bertingkat. Darahnya serasa terhenti saat menyadari tempat Pak Anwar berdiri sejajar dengan kasur Niko. Sekali saja lelaki itu menolehkan kepalanya, maka ia akan langsung dapat melihat ponselnya.


Dan apabila kedapatan membawa ponsel ke dalam asrama konsekuensinya pun jelas; dirinya tak akan pernah melihat ponselnya lagi.

__ADS_1


            ’’T-tadi pintunya mendadak terkunci sendiri Pak...’’ jawab Sandi, agak gemetar.    Kali ini dia bukan gentar karena adanya hantu, namun karena khawatir ponselnya akan dirampas oleh Pak Anwar.


            Pak Anwar memandang Sandi dengan satu mata memincing, seperti merasa ada suatu kejanggalan. ’’Memangnya apa yang kamu lakukan di balkon sampai-sampai terkunci di sana?’’


            Sandi terhenyak. Tidak mungkin dirinya menjawab bahwa ada hantu yang mengusik dirinya. Bisa-bisa


Pak Anwar naik pitam karena merasa dibohongi. Pemilik asrama yang sangat dihormati ini tak pernah segan-segan untuk menjatuhkan hukuman apabila ada sesuatu yang dirasa tidak sesuai peraturan.


            ’’Belakangan ini saya sering menderita gatal-gatal, Pak. Saya sedang berjemur karena menurut buku yang saya baca, sinar matahari bisa membantu mengeringkan luka akibat gatal-gatal.’’ jawab Sandi, tanpa berani memandang mata Pak Anwar. Diam-diam ia melirik ponselnya yang tergeletak di sisi Pak Anwar. Sedikit saja sang pemilik asrama ini memutar pandangannya, maka ia akan melihat ponselnya dan tentu merampasnya.


            Pak Anwar mendengus. ’’Makanya, jagalah kebersihan! Saya perhatikan kamu juga sering melamun. Biasakan selalu berkonsentrasi dalam segala hal, termasukdalam pelajaran. Habis ini langsung beristirahat! Besok harus masuk sekolah ya.’’


            Sandi mengangguk. ’’Baik, Pak!’’


            Pak Anwar berbalik badan, kemudian melengang pergi. Tinggallah Sandi sendiri di kamar. Saat itulah


Sandi menghela napas lega lalu beralih pada ponselnya. Ia bersyukur karena Pak Anwar tak menyadari keberadaan ponselnya.


***


            Pukul dua dini hari, saat semua orang masih terlelap, pintu yang membatasi antara tangga dan ruang tengah itu terbuka.


            Di tengah kegelapan, sepasang kaki itu menuruni tangga. Udara masih menebar dingin, di luar bahkan bulan masih bundar sempurna. Temaram hampir di setiap sudut rumah. Asrama ini senyap, seluruh penghuninya masih terlelap. Satu persatu ditapakinya anak tangga, sampai akhirnya dia tiba di lantai bawah. Menembus sunyi malam, dia akhirnya tiba di dapur.


            Reza menghela napas. Akhirnya terealisasi juga rencananya makan sahur kali ini. Puasa sunnah rutin Senin-Kamis. Selama ini dirinya selalu berpuasa rutin hari Senin dan Kamis, namun tak pernah melakukan sahur. Dia hanya selalu menyediakan sedikit camilan untuk dimakan tengah malam sebagai pengganti sahur. Untunglah, Pak Anwar yang mengetahui hal itu kemudian memberi izin padanya untuk makan sahur di dapur sebelum subuh bahkan menyediakan makanan untuknya.


            Reza membuka tudung saji di atas meja makan. Dan benar saja, di sana sudah tersedia lauk makanan berupa dua potong ayam bakar dan beberapa potong tahu Sumedang, beserta sayur sop. Pak Anwar sungguh pengertian kepada kebutuhan para penghuni asramanya. Kendatipun perangainya keras dan kadang kelewat disiplin, namun beliau amat pemurah hati. Maka, Reza pun segera menyendok nasi kemudian memulaimakan sahurnya.


            Di tengah kesunyian ruang makan, hanya terdengar denting sendok dan piring Reza. Tahun depan dirinya sudah tidak berada di asrama ini. Mengepak koper, kemudian memulai dunia perkuliahan yang mungkin tidak mudah. Seusai itupun dia masih akan melanjutkan ke jenjang-jenjang penghidupan yang selanjutnya. Sudah banyak hal yang dia lewati selama berada di asrama ini semenjak kelas satu. Waktu benar-benar tidak terpakudiam saja di tempatnya.


            Dahulu pun Reza menyaksikan satu persatu kakak kelasnya sesama penghuni asrama lulus dan pergi


meninggalkan asrama ini dengan penuh haru. Perasaan berat meninggalkan asrama tampak jelas di sorot mata mereka. Perpisahan penuh air mata tumpah di malam terakhir sebelum mereka pergi. Salah satu dari mereka bahkan berpesan padanya untuk terus menjaga segala kebaikan dan kenangan di asrama ini.


            Satu persatu kakak kelasnya yang dulu tinggal di asrama ini meraih prestasi akademik yang gemilang


di jenjang perkuliahan. Bahkan ada yang berkesempatan melanjutkan kuliah di luar negeri. Namun mereka tak pernah lupa dengan asrama yang terletak di pinggiran    Kota Bandung ini. Reza masih kerap bertukar kabar dengar mereka, dan kebanyakan dari kakak-kakak kelasnya itu merindukan asrama ini.


            Reza jadi teringat oleh perkataan Tere Liye, seorangpenulis favoritnya. ’’Hidup akan berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan ataupun membahagiakan, biar waktu yang menjadi obat.’’


            Reza baru saja hendak menyendok nasi lagi, saat lengannya tanpa sengaja menyenggol kunci


almarinya sehingga kunci berbandul jangkar berukuran kecil itu terlempar jatuhke bawah meja.


            Suara kunci jatuh memecah keheningan di meja makan.


            Tadinya Reza hendak mengabaikan sejenak kuncinya yang baru terjatuh di bawah meja karena dirinya pun belum selesai makan. Toh, dirinya bisa mengambil kunci itu nanti. Namun karena merasa kurang nyaman, dia pun mendorong kursi sedikit ke belakang kemudian menundukan tubuhnya untuk mengambil kunci.


            Reza tertegun, di kursi depannya tampak sepasang kaki. Seolah ada yang tengah duduk di kursi


seberangnya. Padahal dia ingat betul bahwa dirinya tengah sendirian di meja makan.


            Secara reflek Rezapun menegakan kembali tubuhnya untuk melihat ke depan. Tidak terlihat siapapun


di sana. Tentu saja hal itu membuatnya bingung. Karena merasa penasaran, ia pun melongokan kepalanya lagi ke bawah meja. Di sana kembali terlihat sepasang kakiitu. Masih di tempat yang sama.


            Reza menelanludahnya yang serasa tersekat. Ia meraih kuncinya di bawah meja kemudian menegakan kembali duduknya. Mendadak, kerongkongannya terasa kering. Ia pun merasa ragu untuk melanjutkan makan. Nasi beserta lauk di piringnya masih tersisa sedikit sebenarnya teramat tanggung untuk ditinggalkan begitu saja,


terlebih Pak Anwar sudah melarang keras para penghuni asrama untuk meninggalkan makanan sisa begitu saja.


            Dengan tangan gemetar, Reza kembali melanjutkan makan barang beberapa suap.   Sebisa mungkin, ia tak menautkan perhatiannya ke kursi seberangnya. Padahal perasaan takutnya telah membukit. Di kursi depannya tengah ada makhluk yang tak mampu tertangkap oleh indra penglihatannya. Pantas saja ia mencium bau-bau aneh seperti kembang mayat. Seumur-umur, belum pernah dia merasakan ketakutan sampai seperti ini.


            Reza menyambar gelas air putih di sisinya saat merasa tersedak karena makan terburu-buru. Ia


nyaris terlonjak saat kursi di depannya itu bergerak-gerak sendiri. Beruntung, kursi itu hanya bergerak sedikit. Tak ada pergerakan lainnya selain pergerakan yang tidak begitu berarti itu.


            Setelah menandaskan makanannya Reza buru-buru beranjak meletakan piringnya di tempat


cuci piring tanpa mencucinya. Ia berbalik badan lalu menyambar kuncinya di meja. Malang, karena terlalu tergesa-gesa kunci itu justru terjatuh ke bawah meja.


            Reza merutuki dirinya sendiri. Karena terlalu ketakutan ia justru menjatuhkan kuncinya lagi. Namun


tak urung ia pun segera menundukan tubuhnya ke bawah makan untu mengambil kuncinya. Sebersit kemudian ia tertegun. Di bagian bawah meja, tampak kursi yang tadi diduduki sepasang kaki misterius itu, tidak ada siapapun lagi.


            Apakah makhluk itu sudah pergi?


            Reza menegakan tubuhnya lagi. Dan betapa terkejutnya dia begitu mendapati di kursi itu tampak


sesosok pria paruh baya. Raut wajahnya sepucat mayat, matanya berwarna putih secara keseluruhan. Terbatuk-batuk, tubuhnya sekilas tampak ringkih. Seperti sudah tidak makan dan minum selama berhari-hari. Semata-mata kesan yang tersirat adalah penderitaan. Mungkin semacam refleksi penggambaran keadaan kakek itu sebelum dia mati.


            Sesosok kakek itu menolehkan kepalanya pada Reza. Sepasang mata putihnya menatap Reza dengan


aneh. Suara batuknya masih terdengar memecah kesunyian.


            ’’Lapaaar... lapaaar...’’ ucap sang kakek dengan intonasi berat.


            Reza merasa jemarinya bagai membeku. Ketakutan yang sangat besar menjalari tubuhnya. Hantu


kakek itu tengah menatapnya, seperti hendak menyampaikan sesuatu. Namun pikiran Reza sudah terlanjur dipenuhi benang kusut. Rasa takut telah menyekat jalur pikirannya. Ia merasa ketakutan melihat kakek misterius itu.


Begitu berhasil memaksakan tubuhnya untuk bergerak, ia berbalik badan kemudian melangkahkan kakinya kembali ke kamar tanpa menolehkan kepalanya lagi. Suara batuk kakek itu masih terdengar.


            Kakinya menaiki tangga dengan cepat. Sekarang pergerakan tubuhnya sudah normal namun ketakutan


dalam dadanya masih membuncah. Meledak-ledak seperti bom waktu. Bahkan jantungnya pun seperti berdebum dua kali lipat lebih cepat dari perhitungan normal. Perasaan takut yang berlebihan karena baru saja melihat sesuatu yang teramat mengerikan, seumur-umur belum pernah dia melihat sesuatu seseram itu.


            Reza melangkah setengah berlari ke kamarnya. Keningnya bercucuran keringat dingin karena


ketakutan yang seolah membombardir dadanya. Dan saat pintu kamarnya terbuka, tampak sesosok pria tengah berdiri di sudut kamar.


            ’’Kevin!’’ seru Reza. ’’ngagetin aja!’’


            Kevin memutar pandang ke arah Reza. Pemuda keturunan Tionghoa itu menatap dengan sorot mata sinis. Seperti memandang tumpukan makanan sisa atau sesuatu yang mengganggu. Entah apa yang dilakukannya dini hari begini. Sehari-hari ia memang nyaris selalu memberi tatapan seperti itu, namun itu tampak berbeda saat dini hari seperti ini. Terlebih baru saja terjadi peristiwa yang mengerikan di ruang makan.


            Reza mengernyitkan keningnya, saat kemudian Kevin mengelus-elus kepala boneka-nya. Pemuda itu


seperti mengatakan sesuatu pada boneka yang dia namakan Lucyana itu—apakah dia tengah salah lihat? Tidak. Kevin benar-benar tengah berbicara pada bonekanya. Sesaat kemudian Kevin berbalik badan dan kembali ke kasurnya setelah sempat menghadiahkan kecupan kecil pada kepala bonekanya dan tatapan sinis ke Reza.


            Kevin menarik selimutnya, dan tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut pemuda


itu. Sementara Reza masih terpaku di tempatnya. Masih terguncang dengan apa yang baru saja tertangkap oleh penglihatannya. Dan peristiwa mengerikan di ruang makan.


            Reza menarik tissu dari kotak tissu di atas nakas kemudian mengusap paras tampannya dengan tissu


itu. Selama beberapa saat dia belum mampu menepis bayangan mengerikan itu daribenaknya. Seumur-umur baru kali ini dia bertemu dengan penampakan mengerikan seperti baru saja di meja makan.


            ’’Uuhhh...’’


            Reza tertegun. Kala itu Sandi mengigau. Sepertinya mimpi buruk tengah singgah dalam tidurnya.


Matanya tampak terpejam, namun tampak seperti diselimuti kegelisahan. Maka, dengan tanggap pun Reza menghampiri pemuda itu kemudian merapatkan selimutnya yang tadi tersingkap.


            Sandi masih tampak mengigau dengan penuh kepanikan. Keningnya bahkan tampak bercucuran keringat


dingin. Reza pun mulai membacakan doa-doa kemudian mengusap-usap rambut Sandi. Tidak cukup sekali, ia melakukannya beberapa kali. Secara ajaib, igauan- Sandi terhenti. Pemuda itu tampak sudah tidur dengan nyenyak. Mimpi buruk yang tadi menghinggapi tidurnya seolah lenyap begitu saja.


            Reza menghela napas. Sebersit kemudian ia baru teringat mengapa tadi di meja makan tidak membaca doa saja supaya makhluk halus berwujud kakek-kakek itu pergi. Rasa takut memang sering kali membuat seseorang tak mampu berpikir dengan jernih.


            Kemudian, Reza pun naik ke atas ranjang tingkat. Malam itu berakhir dengan dengkuran halus dari


bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2