
11
Rahasia
’’Barang-barangmu di asrama nggak mau diambil, San?’’
Menjelang senja itu Sandi dan Bram menghabiskan waktu di kolam renang kos Bram. Bram berenang
ke tepian, sementara Sandi yang duduk di pinggiran kolam tengah berusaha mencuri potret senja dengan kamera ponselnya. Seusai menghabiskan setengah harian dengan tidur dan marathon film di kamar, mereka pun akhirnya memutuskan turun ke kolam renang. Rasanya hanya segelintir anak muda di Kota Bandung yang dapat merasakan tinggal di kos eksklusif yang bahkan menyediakan berbagai fasilitas, termasuk kolam renang ini.
Mereka sungguh-sungguh menikmati sesorean hingga hingga selepas senja itu, apalagi kolam renang
kebetulan tengah tidak terlalu riuh. Beberapa menit yang lalu ada dua orang gadis di seputar kolam renang itu, namun sekarang mereka sudah pergi dari sana. Hari memang sudah beranjak gelap, bahkan lampu di sisian kolam renang itu sudah mulai dinyalakan.
’’Males,’’ jawab Sandi, singkat. ’’Hari Minggu gini. Kapan-kapan aja!’’
Bram menghela napas. ’’Justru mumpung sekarang hari Minggu, jadi ada kesempatan buat ambil
barang-barangmu. Lagian besok kamu mau sekolah pakai apa? Baju renang? Kan kamu belum bawa seragam yang untuk hari Senin.’’
’’Iya juga ya.’’
Bram bersandar di sisian kolam renang, kemudian meletakan kepalanya di bagian atas pinggiran kolam. Tepat di sebelah Sandi yang juga tengah duduk. Dalam hati sebenarnya Sandi ingin sekali melompat ke dalam kolam renang, namun ia mengurungkan niatnya begitu teringatkan oleh luka berbalut perban di kakinya.
’’Kakinya masih sakit?’’ tanya Bram, seraya naik keluar dari kolam renang.
Sandi menghela napas. ’’Udah lumayan baikan.’’
Bram merenggangkan tubuhnya, lalu mulai melakukan push-up di sisian kolam. Pemuda itu
memang bersemangat sekali memompa otot-ototnya yang sudah cukup kekar. Sementara Sandi mulai disergap kegamangan. Ia ragu untuk kembali ke asrama meski hanya untuk mengambil barang-barangnya. Seolah ada sesuatu yang sangat jahat tengah menunggunya di sana. Seolah ada sepasang tangan yang siap
mencekiknya secara tiba-tiba kapan saja.
Seraut wajah bengis Lucyana tahu-tahu saja melintas dalam benaknya.
’’Gimana? Kapan mau ambil barang-barang?’’ tanya Bram, menyentak Sandi dari lamunannya.
’’Kapan-kapan aja deh kayaknya... besok aku bolos dulu kayaknya.’’ ucap Sandi, seraya menyeruput orange
juice di sisinya.
’’Kenapa?’’
’’Aku takut, Bram,’’
’’Aku temenin.’’
Sandi berpikir. Memiliki sahabat yang tak pernah berkeberatan mengulurkan tangan di saat sedang susah
adalah kesempatan yang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya. Namun sahabatnya ini agaknya tak mampu memahamii betul bagaimana perasaan seseorang yang diteror berulang kali oleh sederet kejadian mengerikan, dan kini harus kembali ke tempat di mana dia mendapatkan teror demi teror itu.
’’Malam ini ambil seragam ama beberapa bajumu dulu. Besok-besok kita bisa ambil sisanya.’’
Sandi menghela napas.
’’Okelah.’’
Sandi memandang ke sisiannya. Ia tertegun, karena orange juice-nya masih utuh sementara gelas orange juice milik Bram sudah kosong. Barulah ia tersadar gelas orange juice yang tadi dia minum adalah milik Bram. Pantas saja tadi bola mata Bram tampak berputar sekilas ke arah gelas orange juice-nya.
’’Sorry, Bram, sorry!’’ ucap Sandi, tampak menyesal karena sudah menandaskan
minuman milik Bram.
’’Santai,’’ ujar Bram, memaklumi. Ia sudah hapal betul kebiasaan Sandi yang selalu ceroboh
apabila tengah panik atau kebingungan.
***
Sebuah mobil meluncur dari arah barat, lalu berbelok memasuki sebuah komplek perumahan. Pengemudinya, seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan, mengecilkan sedikit volume AC dalam mobil itu. Sepertinya malam ini udara menjadi lebih dingin. Atau, mungkin dirinya yang tengah kelewat tegang.
Gerimis perlahan mulai turun. Rintik-rintik air membasahi kaca mobil. Jalanan di luar senyap padahal malam belum terlalu larut. Suasananya nyaris sama persis dengan kali terakhir dia datang ke tempat ini. Radio mobil
memutarkan sebuah lagu yang membuatnya sempat tertegun dalam dan panjang. Lagu itu adalah lagu yang sama terputarkan di radio saat terakhir kali dia bertandang ke tempat ini.
Keresahan mulai memenuhi benaknya. Apabila bukan karena perintah majikannya, enggan sekali dia datang ke tempat ini. Terlebih untuk menjemput sesuatu yang telah membuat para asisten rumah tangga yang bekerja di rumah terus dihantui oleh rasa takut, bahkan beberapa sampai memilih pulang kampung. Perlahan deretan memori kelam itu merayapi benaknya kembali. Sebuah boneka, seorang pemuda dengan sorot matanya yang nyaris selalu dingin menghujam, dan teror-teror.
Seharusnya orang-orang jahat dan tak punya rasa kasih itu tak pernah ada di dunia, batin lelaki yang tengah mengemudi itu dengan frustasi.
Palang komplek yang sudah tertutup sebelum pukul delapan malam menghentikan laju mobil itu.
Mau tidak mau, dia harus meminta satpam atau siapapun untuk membukakan palang mobil. Dan benar saja, di sisian palang komplek itu tampak seorang satpam yang tengah berjaga.
Pak Arief, satpam komplek bertubuh subur itu beranjak dari tempat duduknya di dalam gardu satpam kemudian menghampiri mobil berwarna hitam itu. Lalu, kaca mobil itu pun terbuka.
’’Selamat malam Pak,’’ sapa sang sopir dengan ramah.
’’Ya, selamat malam... ada yang bisa saya bantu?’’
Sang sopir dan satpam bercakap-cakap sejenak, sementara kemudian layar rekaman CCTV di dalam
gardu satpam tengah menampilkan sesuatu.
Sesuatu yang sangat mengerikan.
Barisan boneka yang bisa berjalan dan bergerak sendiri melangkah di jalanan komplek yang
lengang dan dingin.
***
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Sandi dan Bram nyaris tak
bercakap-cakap sama sekali. Bram berfokus ke jalanan, sementara Sandi terus menautkan perhatiannya pada ponsel. Malam ini mereka memang hendak mengambil barang-barang Sandi di asrama. Rencananya, Sandi juga akan tinggal sementara di kos Bram.
’’Line-mu sudah dibalas ama anak-anak asrama?’’ tanya Bram.
Sandi menggeleng. ’’Belum. Si Niko ama Kang Reza nggak balas pesanku, padahal hari Minggu gini
anak-anak asrama tuh biasanya boleh pegang HP. Kayaknya lagi nggak ada kegiatan penting juga deh yang mungkin bikin mereka pada nggak bisa pegang HP.’’
’’WiFi asramanya lagi trouble kali. Atau ada hal lain?’’
’’Entahlah.’’
Malam itu gerimis turun lagi. Dari kaca jendela yang berembun, pemandangan kota tampak sendu.
Selama ini Sandi tidak pernah jemu memandang Bandung pada saat hujan. Metropolitan namun tetap asri. Pemerintah setempat tampaknya begitu memperhatikan para pedagang. Roda perekonomian sebagian warga kota ini bergantung pada sektor perdagangan sehingga disediakanlah banyak spot khusus pedagang tanpa harus mengganggu lalu lintas dan pemandangan kota. Pandangannya lalu jatuh pada penjual bonekadi satu sisian jalan. Dia pun menjadi teringat pada seseorang.
Sepintas Sandi melihat sebuah toko bahan bangunan di sisian jalan, kemudian ia segera teringat
percakapannya bersama Niko.
’’Adik perempuanku
di rumah juga mengoleksi boneka, dia sampai memasang paku di kepala
boneka-bonekanya.’’ ucap Niko.
Sandi terhenyak.
’’Biar apa kepala boneka dipasang paku?’’
’’Biar nggak
dirasuki roh-roh jahat.’’
’’Berhenti dulu sebentar dong, Bram, kayaknya ada yang mau kubeli di toko itu!’’ pinta Sandi.
Bram mengangguk. Mobil itu pun menepi di pinggir jalan. Sandi turun dari mobil, tanpa lupa
membawa dompetnya. Tak lama berselang,ia sudah kembali dengan bungkusan berwarna hitam. Ia meletakan bungkusan itu begitu saja di atas pangkuannya sehingga isinya terlihat sekilas dari luar.
’’Palu ama paku... buat apaan?’’ tanya Bram.
’’Buat jaga-jaga aja.’’ jawab Sandi, tanpa menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan berjaga-jaga itu.
Bram tak mengerti, namun kemudian ia segera melajukan kembali mobilnya.Biasanya Sandi tanpa diminta selalu menjelaskan perkataan atau tindakannya yang mungkin kurang dipahami orang lain. Apabila dia
tidak menjelaskannya, artinya sesuatu itu memang tidak harus dijelaskan. Atau dia hanya sedang malas saja menjelaskan.
Hujan perlahan mereda saat mobil Bram sampai di asrama. Di depan asrama rupanya sudah ada sebuah mobil. Seorang lelaki berkemeja safari tampak berdiri di sisian mobil itu. Tampaknya ia tengah menunggu seseorang.
Sandi dan Bram turun dari mobil, sementara kemudian lelaki bersafari hitam itu menghampiri mereka.
’’Maaf, apakah Mas penghuniasrama ini?’’ tanya lelaki itu, sopan.
Sandi mengangguk. ’’Iya, saya penghuni asrama ini… ada apa?’’
’’Saya mau menjemput Kevin. Sudah hampir setengah jam saya menunggu di sini, sudah saya pencet
belnya beberapa kali juga, tapi tidak ada jawaban. Pintunya pun terkunci. Padahal sepertinya di atas ada suara-suara.’’
Sandi tertegun, kemudian mencoba membuka pintu asrama. Dan benar saja, rupanya pintu itu terkunci rapat. Ia mengintip dari celah-celah pintu. Gelap. Tak tampak siapapun atau apapun di dalam sana. Akhir pekan, apakah semua orang sedang pergi berdarmawisata ke suatu tempat?
’’Iya, asramanya terkunci. Kayaknya juga nggak ada orang di dalam.’’ dengus Sandi. Ia sempat melirik sekilas papan nama yang tertempel di kemeja safari lelaki itu. Haidar. Tampaknya dia adalah sopir keluarga yang hendak menjemput Kevin.
’’Tapi benar tadi saya mendengar suara-suara dari atas...’’ ucap Haidar, seraya me-nunjuk ke lantai dua.
’’Tapi benar tadi saya juga sudah cek di dalam. Gelap, nggak kelihatan ada orang.’’ tukas Sandi, sedikit gusar karena sopir itu tampak seperti tidak mempercayai perkataannya. Sejujurnya dia juga merasa malas malam-malam begini ke asrama hanya untuk mengambil seragam sekolah yang akan dikenakan besok.
’’Tolong dicek yang benar, Mas… saya tidak bisa pulang kalau belum menjemput Kevin.’’ ucap Haidar.
’’Mau dicek seperti apa? Di dalam memang tidak terlihat ada apa-apa!’’dengus Sandi. ’’lagipula memangnya sebelum ke sini tidak menghubungi pihak asrama dulu? Kalau gini ‘kan repot juga.’’
Sandi berkacak pinggang, lalu beralih pada Bram yang menunggu di dalam mobil. ’’Kita pulang aja yuk Bram, masalah seragam pikirin aja besok pagi. Atau aku pinjam seragam cadanganmu dulu deh. Kebesaran-kebesaran nggak pa-pa dah.’’
Brakkk!
Sandi tertegun. Baru saja terdengar suara seperti benda terjatuh atau bergeser. Perhatian ketiga lelaki di depan rumah itu pun kembali tertuju pada pintu asrama.
’’Suara apa itu?’’ tanya Bram.
Sandi mengedikan bahu, kemudian kembali mengintip dari celah-celah kantor asrama. Gelap, di dalam sana benar-benar tidak terlihat apa-apa. Hanya tampak seberkas cahaya dari lantai atas. Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Kemungkinan hanya terbuka oleh angin, namun entahlah. Kali ini pun Sandi menjadi sedikit percaya pada perkataan Haidar bahwa sepertinya di dalam ada orang.
Sandi menghela napas, lalu kembali beralih pada Haidar. ’’Kalau boleh tahu, Mas menjemput Kevin dalam rangka apa? Bukannya minggu depan sudah ujian kenaikan kelas? Minggu depannya lagi sudah liburan. Tanggung sekali.’’
’’Tuan dan Nyonya—Papa dan Mama Kevin—mereka baru saja menemukan buku harian mendiang
nenek Kevin.Mereka ingin membawa Kevin dan bonekanya pulang ke rumah.’’
’’Oh... buku harian itu ada hubungannya dengan Kevin? Atau bagaimana?’’ tanya Sandi, tak
mengerti.
Haidar sempat tampak ragu, sebelum akhirnya dia menjawab. ’’Boneka itu sudah disusupi oleh kekuatan jahat. Sebelum meninggal dunia, nenek Kevin membuat boneka itu dengan tangannya sendiri dan memberinya pada Kevin karena sadar usianya tidak lama lagi. Dia ingin, ada yang menjaga Kevin setelah dia meninggal dunia.’’
Sandi terhenyak. Ia seperti menemukan setitik terang tentang boneka Lucyana. Kemarin saat melangkah ke luar asrama, tertancap sebuah tekad dalam benaknya untuk tak kembali lagi ke asrama ini dan selamanya membiarkan boneka itu saja menjadi misteri yang perlahan dia lenyapkan dari benaknya, namun kini dia seperti
berhasil menyingkap suatu hal. Boneka itu memang memiliki sesuatu.
Haidar menatap Sandi dan Bram dengan serius. ’’Apa pernah terjadi sesuatu yang aneh-aneh di dalam asrama ini sejak adaboneka itu?’’
Sandi tertegun dalam, tapi tak menjawab.
Haidar tertunduk, sorot matanya tampak berkabut. ’’Kalau saja semasa kecil Kevin tidak mengalami hal itu, pasti semuanya tidak akan menjadi sepelik ini.’’
’’Apa yang terjadi pada Kevin di masa kecil?’’ tanya Sandi. ’’maaf, kalau itu privacy tidak perlu diceritakan tidak apa-apa.’’
Haidar menghela napas, kemudian menerawang lantai dua sekilas. Dan dia pun mulai bercerita.
’’Dahulu semasa kecil, Kevin pernah diculik dan disiksa oleh sekelompok penjahat. Beruntung, sejumlah uang yang dikirimkan oleh Papa Kevin dapat memulangkannya ke rumah. Dia selamat, namun jiwa dan psikisnya terguncang. Dia menjadi sosok yang sangat berbeda dengan anak-anak seusianya kala itu. Dia begitu emosional dan sering bicara sendiri. Beberapa kali ia berusaha melakukan bunuh diri karena tidak tahan dengan beban
mentalnya. Di usianya yang belum genap delapan tahun, dia sudah hancur. Dia serupa boneka rusak yang
nyaris tidak bisa melakukan apapun.
’’Hanya neneknya yang selalu ada di sisi Kevin, bahkan ketika Papa dan Mama Kevin selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Nenek menyayangi Kevin lebih dari apapun di dunia ini. Nenek juga melakukan apapun untuk membuat Kevin bahagia. Bahkan ketika menyadari usianya mungkin tak lama lagi pun dia membuatkan sebuah boneka untuk Kevin. Namun tentu saja, dia tidak membuatkan boneka biasa saja untuk cucu tercintanya.
’’Nenek mengundang roh-roh dan kekuatan gaib masuk ke dalam boneka buatannya. Semua itu dia lakukan supaya ada yang menjaga Kevin selamanya. Namun, rupanya yang masuk ke dalam boneka itu adalah iblis yang sangat jahat. Semenjak nenek mengundang iblis masuk boneka itu, sering terjadi peristiwa aneh di dalam rumah.
Penampakan-penampakan, suara aneh yang tidak pernah terlihat siapa pemiliknya, dan aura horor yang sangat kuat. Rumah berubah menjadi seperti di neraka.
__ADS_1
’’Teror itu masih berlanjut sampai nenek Kevin meninggal. Sepertinya boneka itu juga dapat
mengundang makhluk halus. Nenek memberikan boneka itu untuk Kevin sebelum meninggal dunia, karena itulah Kevin begitu menyayangi boneka yang diberi nama Lucyana. Ia bahkan sering berbicara dengan boneka itu. Tadinya semua orang berpikir bahwa itu hanya efek sementara karena Kevin merasa begitu kehilangan.
Lama kelamaan, para penghuni rumah mulai menyadari ada sesuatu.
’’Suatu malam, saya memberanikan diri keluar dari kamar dan memeriksa apa yang
sebenarnya terjadi. Di ruang tengah rumah keluarga Kevin, saya melihat sesuatu
yang sangat mengerikan. Sesuatu yang membuat saya nyaris tidak bisa tidur
selama berhari-hari… boneka yang diberi
nama Lucyana itu sedang menari-nari di atas meja sambil membawa pisau!’’
Bram segera
menyentuh tengkuknya sendiri mendengar cerita yang baginya sangat mengerikan
itu. Ia melirik Sandi, sahabatnya itu tampak menunjukan reaksi yang sedikit
berbeda.
Sandi
tertunduk mendengar cerita itu. Rupanya ada sekelumit kisah sedih sekaligus
mengerikan yang tersembunyi di balik boneka itu dan Kevin. Selama ini ia selalu
bertanya-tanya setiap kali melihat Kevin menyendiri dan tak mau bergaul dengan
orang-orang. Kini terungkap sudah penyebab Kevin menjauhi
orang-orang. Mungkin karena itu pula dia kerap memberi tatapan penuh kebencian
pada Ani dan Ina, putri kembar Pak Anwar. Pemuda itu memiliki luka mendalam semasa
kecilnya.
Mereka terdiam hingga
beberapa detik hingga akhirnya Sandi membuka suara. ’’Sebenarnya aku juga
berpikir kayaknya di atas ada orang sih. Agak janggal kalo asrama dibiarkan
kosong begitu saja, meskipun misalnya memang ada agenda mendadak atau apa.’’
’’Kalau begitu
kita harus coba masuk.’’ ucap Haidar, seraya memandang sekali lagi ke arah
lantai dua.
’’Seandainya
bisa,’’ desis Sandi. ’’tapi ‘kan asrama ini dikunci. Gimana caranya bisa masuk?
Untuk masuk ke dalam kita perlu kunci dan—’’
Sandi
tak melanjutkan perkataannya, seperti tertahan oleh sesuatu. Tentu saja hal itu
membuat Bram dan Haidar sontak memandang ke arahnya. Sandi tanpa sadar meraba
sakunya, mengeluarkan dompet, dan mengambil kunci asrama dari dalam dompet itu. Sempat ia
terbengong sejenak memandangi kunci itu.
’’…aku
baru ingat kalau aku pernah diam-diam menduplikat kunci asrama,’’ ucap Sandi,
kemudian melirik Bram dan Haidar dengan kurang enak hati.
Sandi memasukan
kunci itu ke dalam lubang kunci, lalu mulai memutarnya. Klek. Pintu
asrama pun terbuka.
Kegelapan menemani
langkah Sandi, Bram, dan Haidar saat mereka melangkahkan kaki ke dalam asrama.
Asrama ini senyap. Selama beberapa jenak Sandi mulai berpikir bahwa sepertinya
orang-orang memang sedang tak berada di asrama. Di tengah kegelapan, ia
mencoba mencari saklar lampu di sudut ruangan. Dan begitu sudah menemukannya,
ia menekannya sekali. Tidak bisa menyala. Dua kali, tiga kali, lampu tetap
tidak menyala. Listrik di asrama ini sepertinya memang sudah dipadamkan.
’’Kayaknya nggak
ada orang deh, San,’’ ucap Bram, seraya mengeluarkan ponselnya lalu menyalakan
senter.
Sandi bergeming.
Pandangannya menjelajah sekitarnya. Dia merasakan adanya ke- tidak beresan.
Semua orang mendadak menghilang, listrik yang padam, mobil Pak Anwar yang masih
ada di garasi. Beberapa penghuni asrama yang tadi sempat dia coba hubungi pun
tak membalas pesannya.
’’Hai ganteng!’’ terdengar sebuah suara
perempuan. ’’mau Natasha temenin nggak?’’
Haidar terhenyak. Mereka berpandangan satu sama lain. Suara perempuan,
terdengar melengking dan bernadakan menggoda. Dalam sekejap ketakutan meliputi
ketiga lelaki itu, karena menyadari di tengah kegelapan itu tahu-tahu muncul
suara perempuan.
Di balik tirai
kerajinan tahan berbahan kerang warna-warni, sepasang mata bersinar merah. Hal
itu sontak membuat Sandi yang pertama kali menyadari kehadiran sosok itu
kemudian memundurkan langkahnya. Di tengah kegelapan, sorot mata itu seolah
menyala. Entah sejak kapan, dia berada
di sana.
Seringaian
diiringi tatapan mata berkabut. Perlahan
sosok cebol itu keluar dari tirai. Boneka. Sebuah boneka perempuan berpakaian
kebaya warna putih. Bibirnya tersenyum sangat lebar saat melihat Sandi, Bram,
dan Haidar yang menampakan ketakutan melihatnya. Sosok boneka yang bisa berjalan
dan berbicara itu bukan Lucyana, mungkin dia adalah teman atau anak buah
Lucyana.
’’Semua sedang
berpesta di atas... kenapa kalian tidak menemaniku saja di sini?’’ ucap
boneka itu, seraya menggerak-gerakan tubuhnya dengan kaku selayaknya boneka.
Sandi
menggelengkan kepalanya. Berpesta?
Natasha tertawa. Ya, boneka berkebaya itu tertawa dengan
begitu mengerikan. Seolah baru saja berhasil menumbangkan musuhnya. Sejenak
kemudian Sandi baru tersadar bahwa Natasha tengah menyembunyikan sesuatu di balik
tubuhnya. Satu tangannya ditaruh di belakang. Sebuah pisau dapur tampak
berkilat dari pantulan kaca lemari piala yang berada di belakangnya.
’’Di mana teman-teman kami?’’ tanya Sandi, memberanikan diri. Dia
hanya ingin tahu apakah para penghuni asrama masih hidup atau—
’’Sudah
kubilang, mereka semua ada di atas. Dan kami semua sudah menunggumu, Sandi!’’
jawab Natasha, seraya melebarkan senyumnya.
’’M-menungguku?’’
tanya Sandi, terhenyak. Bram dan Haidar pun tampak terkejut mendengar itu.
Mata Natasha
membesar. ’’Kamu kelihatannya benar-benar tidak tahu kesalahanmu, Sandi?’’
Sandi menggeleng
pelan. Ia sungguh-sungguh tidak menahu perihal kesalahannya. Dia memang telah menghancurkan
kepala Lucyana, namun itupun karena boneka itu telah terlebih dahulu menyerang
fisiknya. Asumsinya, yang dimaksud sebagai kesalahan itu adalah
perbuatan Sandi yang lain. Atau apa.
Sebuah gelengan,
Natasha tampaknya tidak suka dengan jawaban ‘tidak’. Sepasang alis boneka itu
menukik tajam. Matanya bersinar bengis. Sedetik kemudian ia berlari ke arah
Sandi dengan pisau besar yang tadi tersembunyi di balik punggungnya sambil
berteriak.
Secara reflek, Sandi
menendang Natasha dengan keras dan tepat mengenai perutnya sehingga boneka itu
kemudian terpental ke tembok dan terjatuh di atas meja. Boneka itu mengenai
beberapa barang di sana lalu terjatuh lagi ke bawah meja. Terdengar suara benda
terkoyak dan teriakan Natasha. Pisau besar yang tadi berada dalam genggamannya
pun terlempar ke sudut.
Selama beberapa
jenak, hanya terdengar jeritan kesakitan Natasha dan tak tampak bangkit dari
sisian meja. Sandi menelan ludahnya yang terasa tersekat di tenggorokan,
kemudian berjalan menghampiri boneka itu di pojokan. Bram dan Haidar
__ADS_1
takut-takut mengikutinya dari belakang.
Rupanya, mata Natasha
tertancap di tusukan kertas yang tajam. Tusukan kertas itu bahkan nyaris
menembus kepala bagian belakangnya. Boneka itu tampak kesakitan dan berupaya
melepaskan matanya dari tusukan kertas. Ia menarik-narik kepalanya sendiri,
namun tentu saja bukan sebuah perkara yang mudah karena penusuk kertas itu
telah masuk begitu dalam dan mengoyak sebagian besar kepalanya. Mulutnya
menceracau kesakitan sembari terus berusaha melepaskan penusuk kertas itu dari
matanya.
Sandi menahan
napasnya, kemudian menginjak tubuh Natasha sehingga tusukan kertas itu menembus
matanya semakin dalam. Boneka setan itu berteriak memaki-maki Sandi. Tangannya
memberontak berusaha melepaskan kaki Sandi yang menginjak yubuhnya. Semakin Natasha memberontak, Sandi
semakin memperkuat pijakan kakinya di atas tubuh Natasha.
Paku penusuk
kertas itu menembus bagian belakang kepala Natasha. Sandi terhenyak kemudian
melepaskan pijakannya. Kali ini Bram dan Haidar tak tinggal diam begitu saja.
Mereka segera menghampiri Natasha kemudian menarik boneka itu dari dua sisian.
Dua pemuda itu mengerahkan tenaganya, sementara tangan Natasha masih sedikit
bergerak-gerak. Boneka itu tampak kehilangan dayanya.
Kepala Natasha
terlepas dari tubuhnya. Sepasang mata yang tadi bersinar merah pun berubah warna
menjadi seperti warna mata boneka biasa.
Sandi merasa
tubuhnya gemetar. Akhirnya satu boneka setan yang berniat mencelakainya
berhasil dikalahkan. Hanya satu, sebab boneka itu mengatakan di lantai dua ada
pesta. Kemungkinan, di sana sudah ada banyak boneka lainnya.
’’Kamu nggak pa-pa
San?’’ tanya Bram, kemudian memeriksa keadaan Sandi. Jantungnya nyaris berhenti
berdegup saat melihat Natasha berlari ke arahnya dengan pisau. Ngeri sekali
melihat makhluk cebol itu bisa membawa pisau besar.
’’Nggak pa-pa.’’
’’By the way,
kakimu sudah sembuh San?’’ tanya Bram.
Sandi baru
teringat bahwa kakinya tengah sakit, lalu ia mengerang sambil memegang kakinya.
Ia mendudukan diri di atas kursi dan mengibas-ngibas kakinya dengan tangannya. Tampaknya
tadi pergerakan refleknya terlalu sigap sehingga membuatnya lupa ia sedang
sakit.
’’Bagaimanapun
juga... boneka ini tetaplah plastik. Dia hanya mainan yang dimasuki makhluk
halus. Secara fisik dia kalah dengan manusia dan rentan terhadap benda-benda
tajam.’’ jelas Haidar, kemudian meletakan potongan-potongan tubuh Natasha di
atas meja.
Bram tertegun,
kemudian sebuah ide melintas dalam benaknya. Ia pun meminta Sandi dan Haidar
menunggu sejenak, kemudian berbalik badan dan berjalan cepat menuju mobil.
Sandi menunggu, sambil bertanya-tanya apa yang akan Bram lakukan. Tak lama
kemudian, Bram datang dengan membawa airsoft-gun. Kadang seusah berlatih airsoft-gun di dekat balai kota, Bram menyimpan peralatan airfsoft-gun di belakang mobilnya.
Sandi melongo,
kemudian menggelengkan kepalanya sejenak sembari memandang Bram.
’’Kapan lagi bakat
menembakmu bisa berguna, San?!’’ bujuk Bram. ’’tadi boneka itu bilang kalau di
atas ada pesta boneka dan—’’
’’Oke, oke... kita
nggak punya pilihan.’’ dengus Sandi, kemudian merebut airsoft- gun itu dari tangan Bram. Bram
memasangkan earphone bluetooth miliknya di teling Sandi lalu memperdengarkan
lagu rock kesukaan pemuda itu.
Bram menepuk-nepuk
bahu Sandi. ’’Kamu pasti bisa, San!’’
Sandi menaiki
tangga terlebih dahulu sementara di belakangnya Bram mengikuti, dan Haidar
menyusul di belakangnya lagi. Harapan mereka bergantung pada Sandi dan airsoft-gun-nya.
Sandi menggeser
pintu, setelah sempat berusaha menguatkan hatinya sendiri. Tak ada pilihan
lagi, dirinya harus menolong kawan-kawannya.
Sandi terhenyak. Matanya
nyaris meloncat ke luar dari pelupuknya. Ruang tengah itu benar-benar telah
menjelma menjadi ruang pesta bagi kaum boneka yang bisa bergerak. Ada boneka berwujud anak kecil, wanita
hamil, super-hero, polisi, suster, gadis berkimono, bapak-bapak, waiter,
atlet binaraga bertubuh sixpack, murid sekolah, penjaga pantai, putri
kerajaan, bahkan ada juga boneka yang mengenakan hijab. Jumlahnya mencapai
puluhan. Selayaknya orang-orang yang tengah berpesta, mereka berdansa dan
mengobrol di berbagai sudut ruang tengah sementara musik klasik tahun 90-an
mengalun dengan irama ceria dan menghentak.
Di pojokan sana,
tampak tempat tidur bayi yang telah dibalik sementara di dalamnya terkurung
beberapa boneka yang tampak berdesak-desakan. Dalam sekejap Sandi mengenali
boneka-boneka itu sebagai teman-teman asramanya dan Pak Anwar serta
keluarganya. Astaga, mereka telah berubah menjadi boneka!
Sebuah boneka anak
kecil menangis melihat kedatangan Sandi, Bram, dan Haidar. Boneka lainnya pun
segera menyadari keberadaan mereka. Sorot mata tajam puluhan boneka menghujani
tiga pemuda itu. Tampaknya boneka-boneka itu tidak senang dengan kedatangan
mereka.
Sebuah boneka
berpakaian tentara melangkah mendekat dengan sorot mata tajam dan penuh kemarahan.
Langkahnya berderap selayaknya tentara sungguhan. Tampaknya boneka itu hendak
meringkus Sandi, Bram dan Haidar. Sandi merasakan dadanya berdegup cepat,
kemudian tanpa bisa berpikir panjang lagi dia mengangkat airsoft-gun dalam genggamannya. Dan—
Baam!
Boneka tentara itu
tertembak dan tubuhnya pun terlempar ke tembok, kemudian terjatuh di atas
lantai. Tubuhnya terpecah menjadi beberapa bagian, namun kepalanya masih
bergerak-gerak.
’’Tembak mereka
tepat di kepala mereka!’’ desis Haidar.
Boneka-boneka lainnya mulai bergerak. Mereka mendekati
ketiga pemuda di sudut. Sandi kembali membidik senapannya lalu menembaki
boneka-boneka itu. Ekspresi bengis mereka satu persatu menghilang karena kepala
mereka hancur oleh peluru-peluru pistol Sandi. Berkali-kali senapan dalam
genggaman Sandi tersentak setiap kali menembakan peluru. Kemampuan menembak
pemuda itu sungguh-sungguh seperti seorang professional. Tak ada kepala boneka
yang luput dari tembakannya.
Sandi tercekat,
senapannya mendadak tak bisa mengeluarkan peluru. Ia beberapa kali mencoba
menarik-narik pelutuk itu namun hasilnya sama saja. Nihil.
’’Kenapa, San?’’
tanya Bram.
’’Pelurunya
habis!’’
Boneka-boneka itu
masih tersisa agak banyak. Mereka menatap Sandi, Bram, dan Haidar dengan penuh
kemarahan. Perlahan, mereka berjalan mendekat.
__ADS_1