
2
Malam Jumat
yang Aneh
Gemercik suara air beradu dengan sepatu ketsnya. Langkah kakinya menyusuri jalanan di pinggiran
kota. Sore ini tak terlalu ramai, mungkin karena tadi sempat turun hujan. Baru saja dia hendak singgah di kedai jus favoritnya namun ternyata tutup karena suatu hal. Padahal biasanya kedai jus itu selalu buka hampir setiap hari, bahkan di hari-hari besar sekalipun.
Sandi merapatkan jaket jeans warna hitamnya. Angin bertiup agak kencang sore ini. Berdiam diri
di dalam ruangan dengan coklat hangat dan selembar selimut tebal tentu lebih nyaman. Kalau saja satpam sekolah itu tidak memerintahkan para murid agar segera pulang, tentu dia akan lebih memilih berlama-lama di sekolah menggunakan fasilitas WiFi sembari menikmati tayangan sore televisi di kelasnya.
Langkah kakinya berbelok ke arah kanan setelah melewati lima lorong komplek perumahan yang terhitung dengan sendirinya dalam benaknya. Sebuah belokan terakhir melewati taman dan sebuah rumah dengan seekor anjing penjaga, asrama Sandi pun terlihat di ujung jalan sana. Namun kemudian sesuatu membuat langkah sepatu ketsnya terhenti, dan sempat mundur beberapa langkah.
Apa itu?
Sekumpulan awan hitam berarak di ujung sana. Suara gemuruh terdengar dari jauh, sesekali kilat menyambar bersahutan. Anehnya, hanya bagian atas asrama yang tertutupi oleh mendung kelam. Sejauh mata memandang tidak ada awan hitam lain selain awan hitam itu. Dan warna hitam awan itu sungguh kelam,
seakan warna kelam dari seluruh sudut bumi ber-datangan dan berkumpul di sana. Dari kejauhan asramanya tampak seolah berpayung awan. Awan hitam.
Dalam hati pun Sandi bertanya-tanya karena keanehan itu. Belum pernah dirinya menyaksikan hal
semacam ini. Awan hitam seolah datang dan berkumpul di atas asramanya. Serupa kepulan asap keabu-abuan yang meliputi asrama. Sore itu memanglah tidak cerah, namun adanya mendung kelam hanya di satu tempat tentulah mengundang tanda tanya. Apakah gerangan yang tengah terjadi?
Sandi membenarkan letak tas ranselnya, kemudian kembali melangkahkan kakinya. Pikirnya, mungkin itu hanya gejala alam biasa.
’’AWAAAS!!’’
Sebuah bola melayang tepat ke arahnya. Sandi terhenyak, namun kemudian dia tanggap menangkap bola itu.
Di bagian depan asramanya tampak Reza, Niko, Tio, Erik, dan Yogi tengah bermain sepak bola.
Komplek perumahan ini nyaris selalu lengang sampai-sampai para penghuni asrama bisa leluasa bermain sepak bola di jalanan depan asrama. Bahkan di tengah-tengah komplek pun selalu ada pasar dadakan di pagi hari.
’’Sorry, Kang!’’ ucap Tio, agak berteriak seraya menangkupkan kedua tangannya di udara.
Sandi tersenyum, lalu mengangguk. ’’Santai!’’
’’Ikutan main yuk, Kang!’’ ajak Yogi. ’’kebetulan kita kekurangan satu pemain nih.’’
Sandi memandangi bola itu sejenak. Sudah lama dirinya tidak bermain futsal. Gadget sepertinya nyaris membuatnya lupa bahwa di dunia ini ada sebuah permainan yang begitu menyenangkan seperti sepak bola. Sudah lama bakatnya sebagai seorang kiper tidak pernah terasah lagi.
’’Gimana, Kang? Mau ikut kagak?’’ teriak Erik.
Sandi mengangguk, lalu menendang bola itu ke arah kawan-kawannya. ’’Oke, aku gabung!’’
Sandi dan kawan-kawannya pun bermain futsal di depan asrama itu. Saat itulah tanpa mereka ketahui, tirai balkon tersingkap. Kevin memandang mereka dengan tatapan dingin. Hatinya diliputi perasaan tidak senang.
***
Malamnya, seluruh penghuni asrama berkumpul di ruang tengah untuk menonton film bersama. Dan Niko yang telah meminjamkan laptopnya untuk acara nonton malam ini pun sekaligus duduk di sanasebagai operator. Semua penghuni asrama ini telah bersepakat bahwa laptop Niko paling cocok untuk acara menonton bersama seperti ini, sebab audionya nyaring namun tetap jernih.
Kebetulan malam itu Pak Anwar tengah menjenguk sanak familinya di rumah sakit, sehingga
anak-anak asrama bisa leluasa menonton sampai larut malam. Reza telah meminjam proyektor LCD inventaris asrama dengan bantuan Nizar, sementara Niko yang merupakan pemilik laptop sekaligus mengambil alih posisi sebagai operator acara nobar malam itu. Yogi dan Tio membagi-bagikan berbagai macam camilan kepada para penghuni asrama sedangkan Kevin secara mengejutkan muncul dan turut bergabung dengan mereka.
’’Judul filmnya apaan?’’ tanya Erik, seraya menarik selimut tebalnya. Ia memang paling penakut
dengan segala hal yang berkaitan dengan horor.
’’Pengabdi Setan.’’ sahut Reza.
Erik terbelalak. ’’Anjerrr judulnya.... kenapa nggak pengabdi mantan aja sekalian? Baru judul
aja udah horor.’’
’’Judulnya horor, ya namanya juga film horor.’’ sahut Yogi, seraya membagi-bagikan berbagai macam
camilan pada para penghuni asrama. Selama ini mereka memang kerap mengumpulkan berbagai jenis camilan dan jajanan di lemari es untuk kemudian dimakan bersama-sama di saat seperti ini.
Niko memandang sekilas pada para penghuni asrama yang sudah duduk di tempatnya masing-masing,
lalu menekan saklar lampu.
Lampu pun padam.
Hening.
Layar menampilkan adegan pembuka film dan satu persatu credit tittle, sementara Sandi yang baru saja datang dari minimarket langsung duduk di belakang teman-temannya. Ia kemudian mengambil camilan yang masih tersisa, setelah terlebih dahulu menonaktifkan ponselnya agar tak mengganggu berjalannya film.
Film itu bercerita tentang sebuah keluarga yang tengah dilanda kesulitan karena sang ibu dalam keluarga tersebut sakit keras selama bertahun-tahun—pengenalan yang cukupcepat menangkap atensi dan simpati penonton sebab semua orang pun memiliki keluarga. Cerita bergulir pada bagian di mana sang ibu itu meninggal dunia. Semenjak saat itu, keluarga tersebut terus mengalami kejadian-kejadian mengerikan karena sang ibu yang sudah meninggal rupanya ingin menjemput salah satu anak dalam keluarga tersebut.
Sandi meraih segenggam pop-corn dari bungkusan lalu memakannya. Perhatiannya terustertuju pada film horor yang tengah diputar. Ia tidak tahu nama sutradara, pemain film, bahkan judul film ini sekalipun, namun film ini sungguh menghanyutkannya. Setiap scene serupa potongan-potongan misteri yang menarik untuk dikuak. Dan sang pembuat film pun sepertinya tahu betul cara membuat penonton tetap bertahan di tempat dan menonton sampai akhir film.
Sandi masih terhanyutkan dengan film itu. Saat itulah tahu-tahu seseorang duduk di sisinya.
Sandi tertegun, kemudian mengalihkan pandang ke sebelahnya. Rupanya di sana sudah ada Irham.
Masih mengenakan jaket klasik crows zero kebanggaannya, sepertinya ia baru pulang dari mengajar les. Sekilas gurat wajahnya tampak tenang, bahkan nyaris datar. Pemuda yang menjadi idola di sekolah itu memang terkenal memiliki self-control yang baik. Semua tindakannya menggambarkan seorang pria dewasa yang begitu tenang dan cerdas. Dan seolah merasa diperhatikan, Irham pun mengalihkan perhatiannya kepada Sandi.
Sandi mengangsurkan bungkus pop-corn pada Irham. Pemuda itu memandang Sandi sejenak, kemudian mengambil sedikit pop-corn. Kepalanya mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih.
Beberapa jenak kemudian Irham mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, lalu menyodorkan
beberapa butir permen cokelat bermerk terkenal dari Belgia. Sandi terhenyak karena Irham memberikan cokelat mahal padanya, namun kemudian pemuda itu tampak mengangguk berusaha membujuknya agar menerimanya. Maka Sandi pun mengambil salah satu butir permen dari tangan Irham, lalu memberikan anggukan sebagai tanda terima kasih. Mendadak,dia merasa seperti tengah bermain dalam film pantomim dengan Irham yang selama ini
memang terkenal tak banyak berbicara.
Gurat wajah para penghuni asrama yang tengah menonton film berubah-ubah seiring berjalannya
film. Serius, bertanya-tanya dan kebingungan, lega, bahkan penuh ketakutan. Sepertinya mereka semua turut terhanyutkan oleh film horor itu. Momen kebersamaan seperti ini seperti oasis penyegar di saat para penghuni asrama mulai lelah dengan rutinitas sekolah dan asrama.
Erik berteriak histeris setiap kali adegan kemunculan hantu, kemudian memeluksiapapun di
sisinya. Sontak saja acara menonton film malam itu menjadi riuh. Tampaknya mengajak Erik menonton film horor bukanlah sebuah ide yang bagus. Pemuda itu bisa begitu histerius dan panik hanya karena sebuah adegan horor di film.
Kriettt....
Saat itulah pintu kamar Dua sedikit terbuka. Sandi yang berada di baris belakang sontak
mengalihkan atensinya.
Kamar itu gelap gulita sehingga dari luar nyaris tak terlihat apapun. Dan saat itu Sandi tidak menangkap sesuatu yang janggal. Hanya saja dia sedikit bertanya-tanya mengapa pintu kamar tiba-tiba terbuka sendiri padahal sepertinya baru kemarin Niko mereparasinya. Sandi hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja, dan kembali berfokus pada film. Sampai kemudian ia tanpa sengaja melihat sesuatu di ambang pintu kamar.
Sepasang mata bersinar merah dari balik kegelapan. Mata itu kecil, tentu pemiliknya pun
bertubuh jauh lebih kecil dari manusia dewasa. Dari celah-celah pintu sepasang mata itu mengintip ke luar kamar seperti tengah mengintai seseorang atau sesuatu. Sandi terhenyak. Sorot mata itu sekilas tampak tajam dan seperti menyimpan dendam.
__ADS_1
Seolah sadar ada yang mengetahui kehadirannya, sosok itu pun segera menghilang begitu saja dalam sekejap mata.
Sandi tersedak, ia melirik pintu itu dengan beberapa pikiran aneh yang memenuhi benaknya. Baru saja dia seperti melihat sesuatu yang mengerikan dari balik pintu itu. Namun sesuatu itu menghilang dari satu kedipan mata. Dilihatnya para penghuni asrama lain sepertinya bahkan tidak menyadari bahwa pintu kamar Dua terbuka. Atensi
mereka tertuju sepenuhnya pada film yang tengah diputarkan di layar besar.
Sandi kembali mengaut popcorn-nya, kemudian berusaha menepiskan jauh-jauh pikiran
negatifnya. Bayangan mengerikan itu menghilang dalam rentang beberapa detik, barangkali yang barusan itu hanya halusinasi semata karena dirinya puntengah kelelahan. Terlebih film yang tengah ditonton sudah cukup horor.
Seusai acara nonton itu, semua penghuni asrama bergotong-royong membereskan ruang tengah.
Niko menyingkap tirai jendela dan memandang ke luar. Tampak mobil Pak Anwar masuk ke garasi.
Sandi dan teman-temannya pun memperlekas pembersihan ruang yang digunakan untuk menonton film, supaya acara nonton mereka malam ini tidak diketahui oleh pemilik asrama yang terkenal disiplin dangalak itu.
Reza menggeleng-gelengkan kepalanya. ’’Greget banget nih film!’’
Erik terkekeh. ’’Film edan, film nggak logis... masa ustad kalah ama setan-setanan?Ini
mah plot-twist di film-film thrillernya Leonardo Dicaprio juga nggak ada apa-apanya kali! Apalagi ending-nya, mana ada pocong bisa bangkit lagi jadi zombie, emangnya World War Z udah masuk Indonesia?’’
Yogi mencibir. ’’Biar nggak logis-logis gitu juga lu ketakutan ampe bikin popcorn-nya
berantakan.’’
’’Mana sekarang ini lagi malam Jum’at pula.’’ timpal Tio, sambil membersihkan karpet.
Sandi yang tengah menggulung layar kemudian terhenyak. Pergerakannya pun terhenti sejenak. Malam
Jumat? Ia lalu teringatkan perkataan Mami via telepon beberapa waktu yang lalu.
’’Katanya, setiap malam Jum’at arwah orang yang sudah meninggal selalu datang dan menunggu di depan pintu kamar atau kamar keluarga mereka. Mereka akan terus menunggu sepanjang malam. Berharap dikirimi bacaan surat Yaasiin atau doa-doa. Kalau keluarganya tidak ada yang membacakan surat Yaasiin, maka arwah itu akan pergi sambil menangis karena kecewa.’’
Seusai membersihkan ruang tengah, penghuni asrama masuk kamar masing-masing. Akhirnya
Sandi pun tidak membaca surat Yaasiin malam itu. Kantuk sudah mulai menyerang lagipula perkataan Mami itu seperti sedikit sulit diterima oleh logika. Dan tak ada argumen yang dapat membuktikan perkataan itu.
Sandi menutup pintu rapat-rapat. Kamar Dua ini terdiri dari dua kasur bertingkat, kasur pertama ditempati oleh Sandi di bagian bawah sementara Reza di bagian atasnya. Sementara kasur kedua ada Kevin di bagian bawah sedangkan Niko biasa tidur di bagian atasnya. Almari dan buku-buku selalu tersusun dengan rapi di sudut kamar. Di kamar ini ada Reza dan Niko sama-sama sangat perfeksionis dalam hal kebersihan dan kerapihan.
’’Tolong matikan lampunya, San!’’ pinta Reza.
Sandi mengangguk, kemudian mematikan lampu kamar yang tadi sempat dinyalakan oleh Niko. Ia juga
menutup pintu balkon yang tidak tertutup dengan rapat padahal sepertinya AC sudah menyala sejak tadi. Mungkin hanya perasaannya saja, tetapi sepertinya malam ini lebih dingin dari biasanya.
Sandi baru saja hendak menarik selimut tebalnya, ketika kemudian ia tersadar bahwa Kevin masih
duduk terpaku di kasurnya.
’’Lagi ngapain, Vin?’’ tanya Sandi.
Kevin menggeleng, dan kepalanya pun tertunduk. Gurat wajahnya datar dan sendu. Tampaknya dia
tengah memikirkan sesuatu. Aneh sekali, hanya duduk di kasur tanpa melakukan apapun seperti tengah melamun. Pemuda ini memang tak pernah banyak bicara, namun tingkah lakunya yang agak aneh kadang mengundang keheranan orang di sekitarnya. Terkadang Sandi diam-diam membandingkan Kevin dengan Irham yang juga tidak begitu banyak bicara namun bisa bertingkah baik dan sewajarnya sehingga orang-orang pun tak pernah merasa aneh padanya.
Dan di saat yang bersamaan Sandi pun secara reflek menoleh pada boneka Lucyana di pojokan. Tiba-tiba saja ia teringat peristiwa aneh saat acara menonton film bersama tadi.
Kevin masih tampak terpaku dalam lamunannya. Sandi yang sudah mengantuk pun memutuskan untuk tak
menghiraukannya lagi. Ia menarik selimut, memejamkan mata, dan beberapa jenak kemudian ia sudah mendengkur.
***
Tok! Tok! Tok!
Tengah malam Sandi terbangun oleh suara ketukan-ketukan yang mengusik tidurnya. Dalam kesunyian
suara itu terdengar pelan namun cukup jelas. Tadinya dia mengira ada anak kamarnya yang keluar kamar, sehingga dirinya pun mengabaikan suara itu begitu saja. Menjelang dini hari begini mungkin saja ada penghuni asrama yang hendak ke kamar mandi. Dirinya pun pernah mendadak ingin ke kamar mandi di malam hari seperti ini.
Sandi merapatkan selimutnya dan membalik tubuhnya menghadap tembok, namun kemudian dia sadar suara itu berasal dari balkon kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Sepasang mataSandi mendadak terbuka. Kesadarannya perlahan terbit. Suara itu terdengar
seperti ketukan di pintu. Malam sudah begitu larut sehingga dirinya tidak berasumsi lain selain salah satu penghuni asrama yang mungkin hendak beranjakke kamar mandi. Namun lama kelamaan dia sadar bahwa suara ketukan itu terus terdengar.
Sandi bangkit kemudian mendudukan diri di sisi ranjangnya. Pandangannya merayapi ke
sekitarnya. Dan begitu tersadar, ternyata di kaca pintu balkon tampak bayangan seseorang. Benaknya diserbu perasaan heran. Siapa gerangan berada di balkon malam-malam begini?
Tok! Tok! Tok!
Sandi beranjak. Pintu balkon tertutupi tirai putih sehingga dirinya tak bisa melihat dengan
jelas seseorang di balkon kamarnya. Namun sepertinya seseorang di balkon itu hanya berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa lagi selain mengetuk pintu balkon. Kepalanya menoleh ke jam yang menggantung di dinding kamar. Sudah hampir pukul dua dini hari dan ada seseorang misterius di balkon kamarnya.
Sandi kembali beralih pada bayangan di balkon kamar. Barulah kali ini perasaan takut tidak terkira menyerbunya. Malam Jum’at, pukul dua dini hari, dan sesosok bayangan seperti pocong berdiri di balkon kamarnya.
’’S-siapa?’’ tanya Sandi, ketakutan.
Hening.
Sandi terperanjat.
Sesosok berbalut kain kafan itu mengintip dari celah-celah pintu balkonnya. Raut wajah yang
sepucat mayat, hidung tersumpal kapas, kain kafan yang kotor dan robek-robek Sorot matanya tampak memancarkan kemarahan. Sepertinya sosok pocong itu datang untuk Sandi.
Sandi menggeleng perlahan, tak mampu mempercayai sesuatu di depan matanya. Napasnya pun mulai tersenggal karena saluran pernapasannya terasa seperti tersumpal. Ia memundurkan tubuhnya perlahan namun kemudian dia terjatuh di atas lantai yang dingin. Rasa takut yang perlahan mencapai puncaknya membuat sekujur tubuhnya terasa lemas dan lemah.
Pocong itu masih berdiri di sana, menatapnya selama beberapa saat. Aura kematian yang nyata pun
menguar. Sorot matanya menampakan amarah. Sementara Sandi yang hendak meminta bantuan teman-temannya pun tidak bisa. Tenggorokannya serasa tercekat. Dan pikirannya pun seperti dipenuhi oleh ketakutan dan kepanikan akibat sosok mengerikan di balkon itu.
Sebersit kemudian, sosok itu menghilang.
Sandi terhenyak. Dalam sekejap mata pocong itu lenyap. Balkon kamarnya kosong dan tidak ada siapapun di sana. Kali ini dia bisa memastikan bahwa itu bukan halusinasi. Sulit dipercaya, tapi nyata.
Sandi perlahan bangkit dari lantai. Keringat membasahi tubuh dan keningnya, namun setidaknya sekarang
sosok itu sudah pergi. Badannya terasa sangat lemas seperti baru mengangkat berton-ton beban. Yang baru saja muncul itu sungguh-sungguh mengerikan. Bahkan seumur-umur belum pernah dia melihar sesuatu seperti itu.
Tenggorokannya terasa kering. Ia ingin mengambil air mineral di dispenser ruang tengah, namun perasaan takutnya masih membekas. Untunglah kemudian ia teringat di tasnya masih ada sisa Sprite botol yang dia beli sepulang sekolah kemarin. Maka Sandi pun meraih tas sekolahnya dan mengambil botol Sprite yang isinya tersisa kurang dari separuh. Sekadar untuk menghilangkan dahaga.
Sandi menarik selimutnya. Dia memejamkan mata, tetapi tak dapat menidurkan diri barang sekejap pun. Masih terbayang di benaknya seraut wajah pocong nan mengerikan itu. Terlalu kelam, dirinya tak mampu menghilangkan bayangan itudari benaknya.
***
Sang surya mulai naik menapak langit, menerangi semesta, dan menghangatkan hari, namun benaknya masih dipenuhi awan mendung.
Sandi mengancingkan seragamnya perlahan. Kepalanya terasa pusing karena semalam
__ADS_1
nyaris tidak bisa menidurkan diri barang sejenak pun. Kerongkongannya serasa tersumbat. Saat beranjak hendak menyusun buku pelajaran, langkahnya terhuyung dan nyaris roboh. Bahkan sepertinya sistem pencernaannya pun turut terganggu karena mendadak dirinya kehilangan selera makan.
Singkat cerita ; pagi ini dirinya benar-benar tidak stabil. Sandi menyentuh perut kiri-nya yang
terasa agak nyeri kemudian mendudukan diri di atas kasur.
Dini hari tadi ia melihat pocong di balkon kamar. Bahkan seraut wajah mengerikan itu masih
melekat dalam benaknya. Rasanya ingin sekali dia memanipulasi memorinya sehingga kejadian semalam lenyap tanpa jejak. Belum pernah seumur-umur ia melihat makhluk halus. Selama ini pun ia beberapa kali terbangun di tengah malam atau begadang sampai dini hari, namun tidak pernah ada kejadian seperti itu.
Kekalutan menjulang dalam benaknya. Bagaimana kalau pocong itu datang lagi ke kamarnya?
Sebersit kemudian dia teringat kembali dengan pesan Maminya agar membacakan surat Yaasiin untuk
arwah mendiang Papa setiap malam Jumat. Konon, setiap malam Jumat arwah orang-orang yang sudah meninggal selalu datang ke rumah keluarganya dan menunggu dibacakan surat Yaasiin. Apabila tidak membacakan surat Yaasiin atau doa-doa, maka arwah itu akan kembali ke akhirat sambil menangis.
Ya, jadi semalam itu adalah arwah mendiang Papa...
Sudah beberapa lama ini Sandi tidak membacakan surat Yaasiin pada malam Jumat. Kadang karena
malas, kadang karena keletihan. Mungkin karena itulah arwah sang Papa marah dan akhirnya mendatanginya sebagai sebuah bentuk teguran.
Di tengah kegamangannya, suara pintu terbuka berhasil membuatnya terlonjak kaget. Sandi secara reflek
memandang ke pintu. Rupanya di sana sudah ada Niko yang baru saja sarapan.
’’Nggak makan, Kang?’’ tanya Niko.
Sandi menggeleng lemah. ’’Aku ntar sarapan di kantin sekolah ajakayaknya, Ko.’’
Niko membuka almarinya dan mengambil peralatan mandi dari sana. Ia sempat melempar pandang
pada Sandi di atas tempat tidur dan memperhatikan pemuda itu selama beberapa jenak.
’’Kamu sakit, Kang?’’ tanya Niko.
Sandi menggeleng. ’’Enggak... aku nggak pa-pa. Aku sehat.’’
Sandi berdeham sekali. Sekilas dia tampak nyaris tak bertenaga. Matanya bahkan masih sedikit
berair. Tentu saja hal itu membuat Niko menjadi tak yakin bahwa Sandi dalam keadaan sehat-sehat saja.
’’Sarapannya apa, Ko?’’ Sandi balas bertanya, berupaya mengalihkan pembicaraan. Dia menegakan tubuh untuk menutupi keadaannya yang kurang fit.
’’Biasa lah. Tempe, sambal goreng ama ikan teri.’’ Niko lalu menghampiri Sandi di atas kasur dan
duduk di sisi pemuda itu. Ia menempelkan jemarinya ke leher dan kening Sandi. Dia juga mencermati sorot matanya yang lemah dan rongga mata yang memerah. Nalurinya sebagai seorang anggota Palang Merah Remaja tampaknya begitu peka dalam keadaan seperti ini.
’’Kalo sakit, izin nggak masuk aja ‘kali, Kang... minta surat izinnya sama Pak Anwar, ntar biar saya antarkan ke kelasnya Kang Sandi. Atau, bisa juga nitip sama Kang Kevin.’’ ucap Niko, menyarankan.
Sandi menggeleng lemah. ’’Aku harus berangkat. Jam pertama nanti ada ulangan, paling ntar jam
kedua atau habis istirahat aku izin ke UKS.’’
Niko mengangguk-anguk, sementara Sandi kemudian beranjak ke almari dan memasukan
baju ganti dan facial foam ke dalam tas sekolahnya. Dia sempat terbatuk-batuk lagi.
’’Pulang sekolah mau jalan ke luar lagi, Kang?’’ tanya Niko.
Sandi mengangkat satu alisnya. ’’Hmm, aku sudah ada janji ama temenku.’’
’’Ooh,’’ Niko membulatkan mulutnya. ’’salah satu alasan karena tetep berangkat sekolah juga
karena sudah ada janji itu ya?’’
’’Ya gitu deh. Terus itu si Kevin susah banget kalo dimintai tolong nyampein surat izin ke
kelas. Pernah aku sakit dan menitipkan surat izinku ke Kevin, tapi dia malah nggak menyampaikan surat izinku di kelas dan dibawa pulang lagi. Tahu nggak alasannya apa? Katanya dia nggak suka ama guru yang mengajar di jam pertama itu.’’
Niko terkekeh, sementara kemudian Sandi kembali bersiap-siap berangkat sekolah. Tampaknya pagi
ini dirinya benar-benar berangkat tanpa sarapan.
Plok!
Sandi dan Niko sontak mengalihkan perhatian ke sudut kamar. Rupanya boneka Lucyana milik Kevin
terjatuh di atas lantai. Sandi dan Niko pun sempat saling berpandangan karena mereka sama-sama merasa enggan mengembalikan boneka itu ke tempatnya, namun tak urung Sandi pun beranjak untuk meletakan kembali boneka itu ke tempatnya.
’’Sejak ada boneka itu... kayaknya kamar ini suasananya jadi aneh.’’ tukas Niko, seraya menyentuh
tengkuknya.
Sandi berpikir sejenak. ’’Iyakah? Entahlah, aku nggak begitu memperhatikan sih. Emangnya aneh
gimana?’’
’’Ya aneh aja.’’
Sandi tertegun. kemudian mengalihkan perhatiannya lagi pada boneka itu. Awalnya, boneka ini
memang terlihat seperti boneka biasa tetapi lama kelamaan seperti ada aura mistis yang menguar. Biasanya, apabila perasaan janggal secara terus menerus artinya memang ada sesuatu yang tidak beres meski mungkin keanehan-keanehan itu tak bisa dijelaskan langsung. Dan kemudian ia teringat kembali dengan penampakan semalam.
Sandi pun menjadi mengurungkan niat untuk untuk menceritakan yang dia lihat semalam pada Niko
karena bisa-bisa pemuda ini bertambah paranoid.
’’Adik perempuanku di rumah juga mengoleksi boneka, dia sampai memasang paku di kepala
boneka-bonekanya.’’ ucap Niko.
Sandi tertegun. ’’Biar apa kepala boneka dipasang paku?’’
’’Biar nggak
dirasuki roh-roh jahat.’’
Sandi berusaha menahan diri agar tak tertawa. Entah kenapa alasan itu terasa agak tidak masuk
akal baginya, mungkin karena dirinya masih asing pada hal mistis seperti itu. Selama ini dirinya memang kerap mendengar kepercayaan-kepercayaan semacam itu, namun tidak satupun yang mampu dia terima. Otaknya seperti memiliki sistem filtrasi sendiri yang menjadikan hal-hal seperti itu begitu konyol baginya.
Niko berlalu. Sebelum berangkat sekolah dia harus mandi mandi terlebih dahulu. Sementara Sandi yang
sudah siap kemudian mengambil tasnya dan mematut dirinya di cermin. Sepertinya dirinya harus siap—atau memaksakan diri untuk siap—berangkat sekolah, namun kemudian perhatiannya tertuju kembali pada Lucyana.
Sejak awal boneka cantik ini memang seperti memiliki sesuatu yang menarik perhatian semua orang, tetapi entah ini.
Boneka ini
tidak akan mungkin hidup dan berjalan-jalan sendiri saat semua orang pergi
‘kan?
__ADS_1