
7
Luka di Sudut Wajah
Apakah terjadi sesuatu semalam?
Sandi terbangunkan oleh sinar matahari yang menembus sela-sela pintu balkon. Rasa pegal menjalar
di sekujur tubuhnya. Sendi-sendinya ngilu, dan tulang-tulangnya terasa remuk. Padahal semalam dirinya tidur lebih awal karena tiba-tiba saja kantuk menyerangnya. Dan sepertinya sekarang pun migrainnya kumat.
Reza dan Kevin sudah tidak berada di kasurnya. Seisi penghuni asrama ini pun sepertinya tengah
bersiap-siap berangkat sekolah. Dengan sedikit enggan, Sandi beranjak dari kasur hendak bersiap berangkat sekolah. Entah kenapa kepalanya sedikit pusing dan terasa seolah berputar-putar. Dan begitu melintas di depan cermin kamar, Sandi sontak menghenti-kan langkahnya dan tertegun.
Di sudut bibirnya tampak luka lekam membiru. Seperti bekas hantaman atau pukulan. Terakhir dia
mendapatkan luka seperti ini adalah seusai berkelahi dengan adik kelasnya sendiri yang mengganggu Lisa, adiknya. Dan itu pun lima tahun yang lalu. Sandi menyentuh ujung bibirnya dan meringis. Sakit sekali.
Sandi bergegas mandi dan memutuskan untuk tidak sarapan. Mungkin saat istirahat nanti dia akan
makan di kantin sekolah. Mood-nya pagi ini serupa benang kusut. Sepertinya dia juga sedang tidak ingin berbicara pada siapapun.
Sandi yang telah rapi dan mengenakan seragam kemudian menyambar sepatunya di rak sepatu. Untunglah pagi ini dia tak berpapasan dengan siapapun, sebab dia sedang dalam keadaan pikirannya yang kurang baik. Agaknya semua orang tengah sarapan atau mandi. Kesempatan bagi Sandi untuk berangkat sekolah tanpa harus bertemu orang-orang.
Di kantor asrama, rupanya Yogi tengah mematut wajahnya yang tampan di cermin berukuran cukup besar di
sudut ruangan kantor. Dia pun sudah siap berangkat sekolah. Para penghuni asrama lebih suka keluar-masuk lewat kantor asrama, terkecuali apabila sedang ada Pak Anwar atau tamu di sana. Saat itulah Sandi kebetulan melintas sehingga perhatian Yogi teralihkan.
’’Sakit sekali,’’ keluh Sandi.
Tadinya Yogi hendak melanjutkan bercermin lagi, namun kemudian dia menyadari sesuatu. Ia terhenyak kemudian mengalihkan perhatian lagi pada Sandi.
’’Mukamu kenapa Kang?’’ tanya Yogi.
Sandi terhenyak, karena baru menyadari di sana ada Yogi. Satu pertanyaan mudah tetapi sangat sulit untuk ia jawab. Rasa kesal dan juga sakit tiba-tiba saja menyengat kepala Sandi saat pertanyaan itu terlompar dari bibir Yogi.
Dia harus menjawab apa?
Yogi memperbaiki letak tas ransel Eiger-nya dan mendekati Sandi. Ia menatap lekat-lekat wajah Sandi kemudian mengulang pertanyaannya.
’’Mukanya kenapa Kang? Kok rada lebam biru gitu?’’
’’Salah tidur kayaknya,’’ jawab Sandi, sekenanya.
’’Salah tidur mana ada kayak gini? Ini mah kayak habis dipukulin Kang.’’ ucap Yogi, serius.
Sandi bergeming, ia pun tak yakin mengapa wajahnya menjadi lebam begini. Kemarin seingatnya
tidak ada peristiwa atau apapun yang menyebabkan luka ini. Bangun-bangun dia sudah mendapati luka ini di sudut bibirnya. Bahkan dia tidak tahu apakah ini luka bekas hantaman sesuatu atau mungkin gejala penyakit. Tetapi sebelumnya pun dia tak pernah secara tiba-tiba mendapat luka seperti ini tanpa sebab yang jelas.
’’Entahlah, bangun-bangun tidur sudah kayak gini. Bukan tanda-tanda penyakit ‘kan?’’ tanya Sandi.
’’Nggak tahu lagi deh.’’
Yogi tampak masih penasaran kemudian menundukan kepalanya dan mengamati luka di sudut bibir
Sandi. Sandi yang bertubuh lebih mungil dari adik kelasnya sendiri itu pun menolehkan wajahnya sedikit supaya Yogi bisa melihat luka lebamnya dengan lebih jelas. Wajah mereka pun mendekat.
Saat itulah Erik, Tio dan Irham yang sudah siap berangkat sekolah muncul. Mereka terhenyak melihat
Yogi dan Sandi.
’’Wah! Wah! Wah! Pagi-pagi kalian sudah melakukan perbuatan maksiat!’’ tukas Erik, seraya
memukul-mukul almari inventaris kantor. Tentu saja hal itu membuat Sandi dan Yogi terkejut.
’’Sialan lu!’’ tukas Sandi.
Irham berlalu tanpa berkata apa-apa lagi. Dia pergi ke garasi asrama untuk berangkat sekolah
terlebih dahulu. Meski sudah diberikan fasilitas sebagai satu-satunya penghuni asrama yang boleh membawa sepeda motor, namun pemuda itu selalu berangkat lebi awal. Sepertinya tidak lebih dari usaha untuk mempertahankan gelar pelajar teladannya.
’’Ini mukanya Kang Sandi lebam-lebam. Kayak abis digebukin orang.’’ jelas Yogi, kemudian beralih lagi
pada Sandi.
’’Abis jatuh ‘kali.’’ ucap Tio.
Sandi menggeleng. ’’Nggak habis jatuh. Bangun-bangun pagi tadi sudah kayak gini. Nggak tahu kenapa.’’
’’Ngga mau diobatin dulu?’’ tanya Yogi.
’’Atau dikompres kek Kang, biar nggak kayak yang nggak diobatin sama sekali gitu. Pasti sakit tuh, seriusan,’’ saran Erik, seperti baru menyadari luka membiru di wajah Erik. Luka itu memang cukup terlihat mencolok.
’’Nggak usah. Nanti juga baikan sendiri.’’ tolak Sandi, namun sedetik kemudian dia meringis karena merasa sakit.
’’Ntar minta obatin aja di UKS Kang. Di sekolah kita sekarang ada dokternya ‘kan? Rugi bayar
sekolah mahal-mahal kalo fasilitas sekolahnya nggak dimanfaatin.’’ timpal Tio, seraya menghela napas.
Sandi mengangguk. ’’Oke deh. Kuy, sekarang kita berangkat.’’
***
Akhir pekan itu seperti biasa, agenda Sandi adalah hangout bersama Bram. Kemana saja, karena
kota ini pun memiliki banyak titik tempat menyenangkan yang bisa dikunjungi. Sepulang sekolah, Sandi yang telah membawa pakaian ganti segera turun ke lapangan parkir dan rupanya Bram sudah menunggu di sana. Mereka pun segera meluncur ke mall sesuai janji kemarin.
’’Wah, mau nge-gym lagi ya Kang?’’ tanya seorang gadis penjaga pintu parkir mall, saat Bram hendak mengambil karcis parkir. Postur tubuh Bram yang jangkung dan berotot sepertinya cukup mengundang perhatian kaum hawa. Dan kebetulan gadis penjaga pintu parkir itu sudah beberapa kali bertemu dengan Bram di gerbang parkir.
’’Enggak Mbak, cuma mau nganterin teman saya ke gym.’’ jawab Bram, seraya melirik Sandi di sisinya. Padahal kenyataannya selama ini Bram-lah yang begitu bersemangat melakukan gym untuk membesarkan otot-ototnya itu, sementara Sandi hanya duduk di pojokan sembari bermain ponsel.
Mungkin seperti inilah yang dilakukan kebanyakan anak muda seusia Sandi dan Bram. Berburu
kegiatan menyenangkan yang mungkin bisa dilakukan di akhir minggu. Sebab tuntutan akademik pun semakin menggunung. Mereka harus mengerjakan tugas yang tidak terhitung banyaknya, mereka harus mendapatkan nilai yang bagus, dan mereka harus bisa masuk perguruan tinggi favorit. Karena itulah mereka butuh sedikit refreshing untuk menyegarkan pikiran.
Tempat gym yang biasa Bram kunjungi berada di sebuah mall. Rencananya, seusai gym mereka
akan makan-makan di foodcourt yang berada di lantai atas. Mereka pun melangkah memasuki pintu lift yang terbuka.
’’Mukamu kenapa, San? Abis jatuh?’’ tanya Bram, saat mereka tengah berada di lift. Sedari berangkat tadi pun sepertinya Sandi tak begitu banyak bicara.
Sandi mengalihkan wajahnya ke arah lain. ’’Nggak kok... kayaknya salah tidur aja. Ntar juga cepet
__ADS_1
baikan lagi.’’
Bram menghela napas. ’’Mana ada salah tidur ampe kayak gini? Kamu nggak di- bully di asrama ‘kan?’’
’’Engga.... mana ada aku di-bully di asrama? Aku di sana sudah kakak kelas, Bram, Emang aku lemah banget apa ampe bisa dibully ama adik kelasku sendiri?’’
sergah Sandi.
’’Bullying bisa terjadi sama siapa saja tanpa pandang bulu San. Ngomong-ngomong, kamu masih
nggak betah tinggal di asrama ya?’’
’’Nggak bebas mau kemana-mana, nggak bebas mau ngapa-ngapain, bahkan cuma boleh
pegang HP pas akhir minggu. Kebanyakan peraturan. Kadang juga di sana terlalu berisik. Terus pemilik asramanya juga rada galak dan cerewet. Bisa ditebak aku betah apa nggak di sana?’’
Bram mengangguk. ’’Kalau kamu butuh atau mau minta tolong apa-apa, langsung kontak aku aja. Kamu
juga bisa tinggal di kosku kalau kamu mau.’’
Sandi mengangkat alisnya sedikit lebih tinggi, namun tak melontarkan tanggapan apa-apa lagi.
Sekarang Bram justru mengira dirinya menjadi korban perundungan di asramanya. Belakangan di sekolah mereka dan bahkan di semua platform media sosial memang tengah gencar kampanye anti-bullying dan dampak-dampak perundungan bagi para korbannya. Mungkin karena itulah Bram menjadi kelewat waspada kalau-kalau orang terdekatnya menjadi korban.
Sandi duduk menunggu Bram di salah satu sudut tempat gym yang berada di dekat meja frontliner atau semacam resepsionis. Biasanya Bram selesai gym dalam waktu satu atau dua jam. Selama menunggu itu kadang Sandi menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan sendiri di sekitar mall atau membeli sesuatu.
Saat itulah seorang pemuda bertubuh jangkung dan atletis dengan kaos tanpa lengan tampak memperhatikan Sandi dari kejauhan. Masih muda dan tampak ramah. Ia lalu menghampiri Sandi dan duduk di sisinya. Rupanya dia
adalah seorang frontliner di tempat gym itu. Dia memperkenalkan diri sebagai Jonathan.
’’Nggak ikutan fitness juga?’’ tanya Jonathan, nama si frontliner itu.
Sandi menggeleng. ’’Nggak hobi.’’
Jonathan mengernyitkan keningnya sejenak, kemudian tersenyum. ’’Ya nggak harus hobi, fitness itu banyak manfaatnya kali. Bisa menjaga kesehatan, memperbaiki postur badan, mengisi waktu luang untuk hal-hal bermanfaat. Bahkan fitness manfaatnya bisa dirasakan ampe jangka puluhan tahun ke depan.’’
’’Kayaknya paham banget ama fitness?’’ tanya Sandi.
Jonathan tertawa. ’’Iya, aku anak FIK. Pendidikan Keolahragaan dan Kesehatan. Selain frontliner, aku juga personal trainer. Kalau butuh bantuan, aku bisa bantu jadi PT buat kamu. Kamu masih SMA ya? Buat anak sekolah, bisa-lah ku kasih harga yang rada murah.’’
Sandi mengangguk. Oh, lagi cari orderan, toh, batinnya.
’’Fitness bisa menghilangkan stress dan over-thinking juga nggak?’’ tanya Sandi,
kemudian.
’’Menghilangkan apa?’’
Sandi menggelengkan kepalanya. ’’Eh enggak... abaikan saja.’’
Hening kemudian.
’’Sudah lama kerja di sini?’’ tanya Sandi.
’’Bisa dibilang gitu. Dulu aku hobi fitness di sini. Saking hobinya fitness, ampe jadi pegawai di sini.’’ jawab Jonathan, tertawa.
Jonathan memamerkan otot lengannya dengan penuh kebanggaan pada Sandi. ’’Nge-gym juga bisa membentuk badan jadi kekar kayak selebgram-selebgram fitness, tahu selebgram ‘kan? Dari gym orang
juga bisa dapat banyak uang.’’
Sandi hanya mengangguk-angguk. Sementara Jonathan yang merasa umpannya belum mengenai
’’... bisa juga buat membentuk badan supaya bisa menarik perhatian cewek-cewek.’’ ucap
Jonathan, agak berbisik.
Sandi takjub. ’’Oh, berarti Mas Jonathan sudah punya pacar?’’
’’Belum sih.’’
Bram tampak sudah menyudahi aktivitas gym-nya. Seusai membersihkan diri di kamar mandi, ia mengajak Sandi makan di lantai paling atas. Bram mentraktir Sandi, sebagai permintaan maafnya karena beberapa hari yang lalu membujuknya mengikuti pertandingan baseball. Karena bingung hendak pergi ke mana lagi, seusai itu pun mereka memutuskan untuk pulang.
Sandi sempat membuang pandang ke luar jendela mobil. Hari sudah mulai gelap. Sepertinya hari
ini dia merasa kejenuhannya sedikit terlupakan.
’’Lagi ngisi apaan, San?’’ tanya Bram seraya melirik Sandi..
’’Ngisi TTS online aja. Lumayan, biar nggak gabut.’’ jawab Sandi, masih menautkan perhatiannya ke
layar ponsel.
Bram tergelak. ’’Kamu kayak bapak-bapak aja, suka ngisi TTS,’’
Sandi tertegun. ’’Emang bapak-bapak suka ngisi TTS ya?’’
’’Nggak tahu sih. Aku aja nggak begitu dekat ama bapakku. Bapakku mah hobinya kerja,
kerja, dan kerja. Bahkan kerjanya pun ampe luar kota, luar pulau, dan luar negeri. Kalau bapakmu sukanya
apa, San?’’
’’Aku juga nggak tahu... bapakku ‘kan sudah nggak ada.’’
Hening sejenak.
Sandi membuang pandang lagi ke luar jendela. Sesorean tadi mendung sudah membayang di setiap
sudut kota. Kebetulan mereka tengah melintasi sebuah jalanan di bawah jembatan layang yang agak sepi. Saat itulah tiba-tiba sesosok boneka menyeberang jalan. Terang saja hal itu membuat Sandi terkejut bukan main.
’’Awas, Bram!’’ teriak Sandi.
Bram terhenyak, lalu secara reflek menginjak remnya.
Mobil itu pun berhenti.
’’Ada apa, San?’’ tanya Bram.
’’T-tadi ada sesuatu yang menyeberang, Bram, sumpah!’’ ucap Sandi, masih terguncang dengan
sesuatu yang baru saja melintas di depan mobil.
Bram mengernyitkan keningnya, lalu mencermati bagian depan mobil. Merasa tak menemukan apa-apa ia
pun membuka pintu mobil kemudian turun. Selama beberapa jenak pemuda itu mencari-cari sesuatu di depan mobilnya, bahkan berjongkok untuk memastikan. Sepertinya tak menemukan sesuatu, ia pun kembali ke dalam mobil.
’’Nggak ada apa-apa!’’ tukas Bram.
__ADS_1
’’Serius, Bram, tadi beneran ada yang menyeberang!’’ sergah Sandi.
Bram menghela napas. ’’Ya tapi kenyataannya mobil ini nggak menabrak apa-apa. Emangnya kamu
lihat yang menyeberang itu kayak gimana?’’
’’Yang aku liat itu seperti... boneka anak kecil. Perempuan. Rambutnya awut-awutan. Dia tersenyum aneh. Tingginya kira-kira satu meter atau kurang.’’
Bram tertegun. Gurat wajahnya mendadak berubah menjadi tegang. Sepertinya dia mulai mengingat
sesuatu yang tadi menyeberang jalan. Beberapa jenak ia menatap Sandi dengan serius, lalu tahu-tahu saja tawanya berderai. Dan sekarang giliran Sandi yang tertegun.
’’Kayaknya Minggu depan kita jangan menonton film horor lagi, aku jadi ngerasa bersalah kebanyakan ngajakin nonton film horor, gore atau thriller gitu.’’ ucap Bram. ’’Kamu jadi berhalusinasi melihat sesuatu yang aneh
gini.’’
Sandi terhenyak. ’’Aku serius, tadi emang ada—’’
’’Iya, iya... aku mengerti.’’ ucap Bram. ’’kamu mending sekarang tenangkan diri dulu. Aku jalankan
mobilnya lagi ya.’’
Sandi hendak menyergah lagi, namun dari perkataannya sepertinya Bram tengah tidak ingin
berdebat. Maka dia pun memilih untuk diam.
Tapi tadi aku yakin aku melihat boneka menyeberang jalan...
***
Sesampainya di asrama, Sandi segera menaiki tangga menuju kamarnya. Di kamar ia tertegun mendapati seorang pemuda tengah duduk di salah satu ranjang bertingkat bagian atas.
’’Ko, kamu sudah balik?’’ sapa Sandi, seraya mendongak ke arah Niko yang tengah duduk di kasur
tingkatnya. Ia kemudian memanjat ke kasur Niko, lalu duduk di sisinya.
Niko tersenyum kaku. Sorot matanya masih terlihat agak lesu dan tak bercahaya. Tampaknya dia
masih trauma akibat penampakan yang dia lihat beberapa hari yang lalu. Sekilas tadi di ruang tengah Sandi melihat anak-anak tengah menyantap berbagai camilan khas Pekalongan. Bahkan di kondisinya yang seperti ini pun Niko masih terpikirkan untuk membawakan oleh-oleh untuk kawan-kawannya.
’’Kapan nyampenya? Kok buru-buru amat balik ke asrama? Nggak di rumah dulu, sekalian menenangkan
diri.’’ tanya Sandi.
Niko menggeleng. ’’Aku kepikiran ama sekolahku. Kalau lama-lama nggak masuk, nanti bisa tertinggal
pelajaran Kang. Bisa-bisa nilaiku jeblok.’’
Sandi tertegun, lalu mengangguk paham. Sistem dan persaingan akademik di sekolah mereka memang
sangat ketat. Bahkan ada salah seorang murid yang mengikuti beberapa bimbingan belajar sekaligus supaya dapat menyesuaikan dengan pelajaran di sekolah. Dalam beberapa mata pelajaran ada standar nilai minimum tersendiri yang harus diraih oleh siswa. Senioritas yang melampaui batas sudah dihapuskan dari sekolah mereka sejak beberapa tahun yang lalu, namun ketatnya persaingan dan tuntutan akademik itulah yang masih cukup menjadi momok bagi semua siswa.
’’Ibuku lagi sakit, tapi tetap menyuruh aku kembali ke sini.’’ ucap Niko, tertunduk lesu.
Perasaan iba Sandi pun terbit. Problematika khas anak perantauan, problema yang berkaitan dengan orangtua. Tiba-tiba saja ia merasa seolah senasib dengan Niko. Ia kemudian merangkul bahu Niko dan berupaya menenangkannya.
’’Banyak-banyak berdoa saja untuk ibumu. Dan ntar kalo ada apa-apa lagi, kamu bisa cerita ke
aku. Nggak pa-pa. Dan masalah laundry, aku tahu laundry yang terjamin bersih, wangi, dan kilat di sekitar sini. Nanti biar ku tunjukan tempatnya. Aku paham masalahmu, kadang laundry asrama ini memang rada kurang
bersih. Malah pernah di kerah seragam putihnya masih ada sedikit noda kotor.’’
Niko tertegun, merasa tersentuh dengan kebaikan Sandi. Selama ini pemuda itu memang tak begitu
banyak bicara dan tampak sedikit dingin, namun rupanya diam-diam dia memiliki hati sebening embun.
’’Makasih ya, Kang...’’ ucap Niko, perlahan.
Sandi mengangguk. Ia lalu beralih ke ranjang tingkat seberang, tampak Reza tengah bersantai
sambil membaca novel.
’’Ngomong-ngomong... si Kevin mana?’’
Di kamar sebelah, Irham tengah menelepon seseorang. Semua orang tengah berkumpul di ruang tengah
sehingga dia pun bisa menelepon di kamarnya dengan leluasa. Irham mendudukan diri di atas kasurnya sendiri kemudian bertumpu pada salah satu tangannya di atas kasur.
’’Iya Bu, pekan depan saya sudah tidak mengajar les lagi. Supaya bisa fokus ke UN, supaya bisa
fokus ke ujian masuk Perguruan Tinggi. Orangtua murid dan pihak tempat lesnya juga sudah mengerti kok...’’
Tanpa Irham sadari, sepotong tangan pucat keluar dari bawah kasur, hendak menggenggam
tangannya.
’’Suasana di asrama juga cukup kondusif. Anak-anak asrama sini ‘kan juga sudah mau menghadapi ujian sekolah. Semuanya juga belajar dengan tekun dan giat.’’
Irham masih belum menyadari adanya sesuatu yang tengah mengincarnya. Sepotong tangan sepucat
mayat itu sudah hampir meraih tangan Irham yang bertumpu di sisi kasur, namun kemudian pintu kamar terbuka secara tiba-tiba.
Irham terkejut, kemudian sorot matanya beralih pada pintu kamar.
Kevin berdiri di sana. Nyaris tanpa ekspresi, sorot matanya nyaris tak bercahaya. Tanpa berkata
apa-apa, dia masuk ke dalam kamar dan seperti mencari sesuatu. Ia bahkan tak menyapa Irham yang merupakan kakak kelas yang dihormati oleh seluruh penghuni asrama ini.
’’Ada apa Vin? Lagi nyari sesorang?’’ tanya Irham, seraya tersenyum. Pemuda itu memang tak pernah gila hormat, bahkan selalu ramah-tamah pada siapapun. Apabila ada seseorang yang membutuhkan pun dia tak pernah berkeberatan untuk mengulurkan bantuan.
Kevin tak menjawab. Ia justru mengedarkan pandang ke sekelilingnya, kemudian melangkah ke
sudut kamar. Tepat di sisian kasur Irham.
’’Ah, rupanya kamu di sini!’’ seru Kevin, kemudian mengambil sesuatu di sana. Sebuah boneka.
Kevin memandangi boneka itu sejenak. ''Kenapa sih suka sekali keluyuran? Kamu bosan ya sendirian terus di kamar?''
Irham tertegun. Kevin tengah berbicara dengan—
Sebuah boneka?
Kevin berbalik badan kemudian berjalan meninggalkan kamar membawa bonekanya dengan posisi
seperti menggendong anak kecil. Kepala boneka itu menyembul ke belakang, sehingga Irham dapat melihat wajah boneka itu. Entah kenapa, pemuda itu merasa ada sesuatu yang aneh.
Kenapa boneka itu tiba-tiba ada di sana? Dan kenapa aku merasa seolah boneka itu terus
__ADS_1
memperhatikanku?