
12
Kehidupan Baru
Sandi, Bram, dan Haidar melangkah mundur, sementara boneka-boneka itu semakin mendekat.
’’Kita harus terus melawan!’’ cetus Sandi. Ia kemudian maju dan menghantamkan bagian belakang senapannya yang berat dan keras ke boneka-boneka itu. Ia berhasil membuat sebuah boneka terlempar jauh dan hancur. Kesadaran Bram dan Haidar pun terbit, bahwa boneka-boneka itu sejatinya hanya boneka kecil yang berhadapan dengan manusia dewasa.
Bram dan Haidar pun mengambil kursi dan meja kecil untuk melakukan perlawanan. Mereka mulai mengayunkan persenjataannya masing-masing melawan boneka-boneka itu. Boneka-boneka yang menyerang mereka pun terlempar kesana kemari dan berceceran, bahkan ada langsung remuk. Tiga orang lelaki dewasa melawan belasan boneka.
Sandi berhasil
meremukan kepala sebuah boneka, namun tiba-tiba saja ada boneka lain yang
memanjat bahunya dan menarik rambutnya dengan keras. Bram yang melihat itu
segera menghantamkan kursi pada boneka itu sehingga boneka itu pun terlempar
jatuh. Sempat terdengar teriakan tertahan sebelum akhirnya Bram menghantamkan
kursinya dengan keras sampai boneka itu hancur berkeping-keping.
Beberapa boneka
masih tampak bergerak. Sandi, Bram, dan Haidar pun terus mengayunkan senjatanya
masing-masing. Ada yang terlempar ke dinding, ada yang langsung hancur karena
terkena hantaman benda.
Haidar berhasil
meremukan boneka terakhir dengan meja kecilnya. Boneka-boneka yang sudah hancur
tampak bergelimpangan di setiap sudut ruang tengah. Ketiga pemuda itu
sungguh-sungguh kepayahan karena telah mengerahkan segenap kekuatan mereka.
Rasanya stamina mereka nyaris habis terkuras. Untunglah, semua boneka telah
berhasil dilumpuhkan.
Sandi berjalan
menghampiri teman-teman asramanya dan keluarga Pak Anwar yang telah berubah
menjadi boneka. Mereka terkurung. Perasaannya teriris melihat mereka terkungkung
berdesak-desakan di tempat yang tidak manusiawi itu. Dengan bantuan Bram, ia
mengangkat batu besar yang mengunci tempat tidur bayi itu dan meletakannya di
sudut.
’’Terima kasih,
Sandi... saya hampir tidak bisa berkata-kata lagi.’’ ucap Pak Anwar,
suaranya mengecil karena dirinya sudah berubah menjadi boneka. Suaranya bariton
nan menggelegar itu lenyap entah kemana.
’’Kami
berhutang nyawa padamu, Kang Sandi!’’ ucap Tio, terengah-engah karena
selama berada di kurungan dirinya kesulitan bernapas.
’’Ngomong-ngomong,
Kang Irham mana?’’ tanya Sandi, menyadari di antara kawan-kawannya yang telah
menjadi boneka itu tak tampak boneka menyerupai Irham.
Terdengar suara
pintu terbuka. Dan ketika Sandi beserta kawan-kawannya me-malingkan
perhatiannya ke depan pintu kamar Satu, di sana sudah berdiri Lucyana. Boneka
itu tampak murka karena Sandi telah mengacaukan pestanya.
Lucyana mengangkat
tangan kanannya kemudian dalam sekejap Sandi, Bram, Haidar, serta
kawan-kawannya yang telah berubah menjadi boneka itu terhempas ke segala arah.
Bram terlempar ke tangga, Haidar ke kamar, sementara Sandi terdorong ke jendela
ruang tengah.
Sandi mengerang
kesakitan, serasa punggungnya remuk karena membentur kaca jendela dengan begitu
keras. Ia menyentuh kepalanya lalu memandang telapak tangannya. Darah.
Lucyana tersenyum
lebar. Ia memandang boneka-boneka yang bergelimpangan di ruang tengah. Gurat
wajahnya menguarkan aura haus darah. Sesaat kemudian dia memutar bola matanya
pada Sandi. Matanya bersinar bengis melihat Sandi ketakutan dan tak berdaya di
pojokan. Dia pun melangkah menghampiri pemuda itu dengan cara berjalannya yang
kaku dan aneh.
’’Kenapa... lu
melakukan ini semua?’’ tanya Sandi, meneteskan air matanya.
Lucyana
menghentikan langkahnya. Ia kemudian memiringkan kepalanya sedikit, lalu
alisnya tampak menukik ke atas. Pertanyaan Sandi itu sepertinya menyentak
kemarahannya namun di saat bersamaan juga membuat perutnya terasa geli.
Lucyana tertawa.
’’Aku hanya melakukan apa yang biasa dilakukan oleh manusia. Menghalalkan
segala cara untuk melakukan yang diinginkan.’’
Sandi
menggelengkan kepala, frustasi. ’’Apa sebenarnya yang lu inginkan?!’’
’’Irham... aku
menginginkan Irham. Aku mencintainya. Aku terobsesi oleh aroma tubuhnya. Dan
semua yang ada pada lelaki itu. Malam ini adalah malam pernikahan kami.’’
desis Lucyana.
Sandi menelan
ludahnya yang terasa tersekat. Jadi Lucyana mencintai Irham? Terungkap sudah
mengapa boneka itu melakukan semua ini. Tentu saja pernikahan ini adalah
pernikahan paksa yang hanya diinginkan oleh Lucyana saja. Pantas saja malam ini
boneka-boneka iblis berdatangan, rupanya mereka semua hendak merayakan
pernikahan Lucyana. Sepertinya boneka-boneka itu adalah raga boneka yang telah
disusupi oleh iblis, sama halnya dengan Lucyana.
Sandi menolehkan
kepalanya ke kiri. Ia tertegun, tak jauh darinya tampak sebuah lighter. Sepertinya
pemantik api itu milik Haidar dan terjatuh saat tadi terlempar ke kamar. Tentunya
bukan milik Bram, karena sahabatnya itu tidak merokok.
’’Kalau aku mau
mendapatkan Irham... kuharus menyingkirkanmu!’’ teriak Lucyana, membuat
Sandi nyaris terlonjak.
’’M-menyingkirkanku?
Kenapa?’’ tanya Sandi, tak mengerti.
Lucyana mengangkat
tangan kirinya sehingga Sandi sempat memejamkan matanya karena mengira Lucyana
hendak menyakitinya. Namun ternyata tidak, boneka itu justru mengirimkan sebuah
ilustrasi ke dalam memorinya. Sepertinya tangan kanan dan tangan kiri Lucyana
memiliki kekuatan tersendiri yang berbeda.
Sebuah memori
perlahan memenuhi penglihatan mata Sandi. Lucyana mengirimkan penggambaran ke
dalam kepala Sandi. Serupa sebuah film yang dimainkan di depan matanya. Sesuatu
yang selama ini tidak pernah dia ketahui.
Sandi dan Bram
__ADS_1
tengah duduk bersama di pinggiran lapangan. Mereka tengah menunggu giliran
turun ke lapangan untuk pertandingan baseball. Kala itu diam-diam seseorang
memandangi Sandi dan memotonya dari kejauhan. Setiap pergerakan Sandi tak luput
dari sorot kameranya ; Sandi tertawa, bertepuk tangan, bahkan menguap
sekalipun. Seseorang itu adalah Irham.
Selama ini Irham
selalu diam-diam memperhatikan Sandi. Bahkan pernah Irham membujuk salah
seorang kawannya untuk meloloskan Sandi dalam sebuah kompetisi sekolah. Apa
yang menjadi keinginan Sandi, Irham tahu semuanya dan berusaha mewujudkannya.
Tidak ada hari yang dia lewatkan tanpa mengikuti Sandi. Sandi pun tampaknya
tidak pernah menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam terus mengintai
nyaris setiap langkahnya. Ke sekolah,
ke minimarket, dan bahkan saat pergi ke mall bersama Bram.
Irham menyukai
Sandi.
Putri, seorang
gadis yang disukai oleh Sandi, pernah mengungkapkan perasaannya pada Irham, namun
Irham menolaknya karena tak memiliki perasaan pada gadis itu. Ia pun hanya
meninggalkan gadis itu begitu saja. Sandi menyukai Putri, Putri menyukai Irham,
dan Irham justru menyukai Sandi. Percintaan segitiga paling tragis yang pernah
ada.
Suatu hari Sandi
jatuh sakit. Menjelang waktu istirahat, Irham menyempatkan diri untuk pulang ke
asrama dan ke kamar Sandi karena mengkhawatirkan pemuda itu. Sesampainya di
kamarnya rupanya pemuda itu tengah terlelap. Irham sempat mencoba
mem-bangunkannya, namun pemuda itu tak kunjung membuka mata. Tampaknya rumor
yang beredar tentang kebiasaan tidur Sandi yang sedikit anomali itu benar
adanya. Pemuda itu tidak bisa dibangunkan, dan hanya bisa terbangun dengan
sendirinya.
Irham memandangi
wajah Sandi yang tengah tertidur. Saat itulah sebuah pemikiran bejat melintas.
Tampaknya dia bisa memanfaatkan kebiasaan tidur pemuda ini. Ia menelan ludahnya
lalu mencium bibir Sandi yang masih terlelap. Astaga, pemuda itu masih
tertidur. Irham menyungging senyuman miring, lalu mulai melakukan sesuatu yang
selama ini dia inginkan pada Sandi yang masih terlelap.
Beberapa jenak Irham
terus mencumbu Sandi, namun pemuda itu tak juga terbangun. Gelap mata, ia pun
menanggalkan satu persatu kancing kemeja sekolahnya seraya menatap Sandi yang
masih terlelap. Ia ingin sesuatu yang lebih.
Sandi membuka
matanya. Ia tersadar dari ilusi kelam yang dikirimkan oleh Lucyana. Barulah
kali ini matanya menangkap titip terang. Ada rahasia gelap yang meliputi
peristiwa-peristiwa di asrama ini. Sejenak kemudian dirinya merasa frustasi.
Saat ia tidur, ada seseorang yang melakukan hal asusila padanya.
Jadi karena itu
Lucyana sampai melukaiku dan melakukan teror secara beruntun? Batin Sandi.
Sandi menggeleng.
’’Lu cuma sebuah boneka... lu cuma makhluk yang menggunakan badan sebuah boneka
sebagai raga. Lu nggak akan mendapat yang lu inginkan.’’
’’Begitu?’’
tanya Lucyana, dengan intonasi aneh. ’’bukankah selama ini kamu juga tak ada
’’A-apa maksud
lu?’’
’’Kamu tidak
bisa menentukan apapun yang kamu inginkan. Kamu bahkan hanya bisa menurut saat
Mamimu menyuruh kamu tinggal di sini, bersekolah di sini, dan melakukan ini. Kamu
hanyalah boneka Mamimu sendiri, Sandi...’’
Sandi terdiam.
Serasa ada butir pahit yang menembus saluran kerongkongannya. Ia benci untuk mengakui ini, tetapi
perkataan Lucyana itu ada benarnya juga. Dirinya selama ini tidak ubahnya
boneka Maminya sendiri. Dia selalu berada di bawah kontrol Maminya tanpa bisa
berbuat apa-apa.
Lucyana menyeringai. ’’Kenapa? Aku bahkan tahu semua yang tidak
kamu tahu, Sandi...’’
Sandi menggeleng.
’’Nggak... nggak semua hal bisa lu ketahui.’’
Lucyana terdiam,
lalu tubuhnya bergerak-gerak. Sepertinya dia merasa Sandi tengah menantangnya. Atau
apa?
Sandi menyalakan lighter yang tadi dia dapatkan, kemudian melemparkannya pada Lucyana. Boneka itu
berteriak saat api mulai membakar wajah dan tubuhnya. Dalam sekejap api itu
merambat ke seluruh tubuhnya. Setiap inci dari tubuhnya hanyalah plastik yang
dapat terbakar oleh api. Ia berlari-lari dengan panik merasakan panasnya api
menjalar di seluruh bagian tubuhnya. Sempat mata boneka itu memandangnya dengan
penuh kemarahan, namun kemudian ia kembali berlari ke kamar mandi.
Sandi beranjak
dari tempatnya, kemudian menuju kamar Satu. Tubuhnya serasa remuk dan seolah
kehilangan segenap tenaganya. Ia tertegun dalam, melihat Irham yang sudah
menjadi boneka terduduk di sana.
Dan saat Sandi
berbalik badan, tahu-tahu saja di sana sudah ada Lucyana. Wajah dan tubuhnya
hangus terbakar, namun sepasang matanya masih dapat menatap dengan tajam.
Boneka itu menerjang Sandi sehingga pemuda itu jatuh terdorong ke tembok. Sandi
terduduk di atas lantai, sementara Lucyana melompat ke atas pangkuannya dan mulai
mencekik leher Sandi.
’’Dasar
lancaaaang!!’’ teriak Lucyana dengan suara yang menyentak tulang.
Sandi memberontak,
ia mulai merasa kesulitan bernapas. Dengan sisa-sisa tenaganya ia berupaya
melepaskan diri dari Lucyana yang mencekiknya. Ia mencekik Lucyana balik dan
berusaha mendorongnya. Sekuat tenaga Sandi berusaha memberontak. Pergelutan
sengit terjadi antara Sandi dan Lucyana. Boneka iblis itu tampak begitu
berhasrat membunuhnya. Matanya bersinar bengis.
Lucyana memperkuat
cekikannya pada Sandi, sementara Sandi pun semakin kuat mencengkeram leher
Lucyana. Tatapan mereka saling beradu dengan tajam. Pertarungan mereka kini
mencapai klimaks puncaknya. Kalah atau menang. Hidup atau mati.
’’Aku memiliki
__ADS_1
rencana lain untukmu, Sandi...’’ desis Lucyana, seraya meletakan satu tangannya
di kening Sandi.
Sandi tertegun,
kemudian merasakan ada sesuatu yang aneh. Tiba-tiba saja tubuhnya serasa
melayang. Kepalanya terangkat, ia menatap Lucyana dengan penuh tanda tanya. Perlahan,
wajah Lucyana seperti memudar dari pandangannya.
***
Bram muncul,
kemudian memaku kepala Lucyana dengan paku dan palu yang telah ia ambil dari
mobil. Dalam sekali hantaman, paku itu masuk dan tertanam di kepala Lucyana.
Boneka itu menjerit seperti kesetanan. Cekikannya pada leher Sandi pun
terlepas, dan boneka itu terguling-guling di atas lantai seperti merasakan
kesakitan yang luar biasa. Tubuhnya terhulu-balang oleh rasa sakit. Ia
meraung-raung kesakitan.
Lucyana beralih
pada Bram, kemudian menggelengkan kepalanya seolah tak percaya. Air mata
menetes dari kedua matanya.
Sesaat kemudian
Lucyana mengejang hebat beberapa kali lalu akhirnya tak bergerak lagi. Tak ada pergerakan atau
perkataan. Sepasang matanya meredup. Ia telah berubah menjadi boneka biasa.
Bram beralih pada
Sandi yang terduduk leKang. Pemuda itu menatap boneka Lucyana dengan tatapan
lemah. Ia tampak seperti kehabisan tenaga karena bertarung dengan Lucyana. Dan
mengalami keterguncangan mental yang luar biasa karena baru saja berhadapan
dengan sesuatu yang nyaris membunuhnya. Bram pun menghampirinya.
’’Semua sudah
berakhir, San...’’ ucap Bram, seraya memeluk Sandi dengan erat berusaha
menenangkannya.
Sandi menatap Bram
dengan sorot mata lemah. Saat tangan Bram dan tangan Sandi saling bertautan
secara tanpa sengaja, Bram merasakan pemuda itu agak ‘dingin’. Suhu tubuhnya
pun tidak hangat. Tentu pemuda itu amat terguncang.
Malam itu juga,
Kevin dan boneka Lucyana akan diboyong pulang bersama Haidar. Haidar sudah
menyediakan kotak khusus Lucyana. Keberadaan mereka sungguh-sungguh telah
membahayakan semua orang. Rencananya, seusai ini Kevin akan menjalani
pengobatan psikologi secara intensif. Permasalahan ujian dan sekolah biar
diurus nanti-nanti. Saat ini yang paling penting adalah kesehatan mental pemuda
itu.
’’Braaam!
Tolong aku! Ini aku, Sandi... aku terkurung di dalam boneka. Orang yang sisi
kamu itu bukanlah aku! Dia iblis yang sudah berhasil menukar raganya denganku!
Iblis itu mencuri ragaku!!’’
Bram tertegun. Ia
seperti mendengar sesuatu saat melihat boneka Lucyana dimasuk-an ke dalam kotak
kayu.
Sebersit kemudian,
Bram mengalihkan pandang pada Sandi di sisinya. Pemuda itu tampak menatap
kosong. Sedari tadi pun ia nyaris tak berbicara barang sepatah kata pun. Ketika Sandi mengangkat wajahnya dan menatap
Bram, ada getaran aneh yang menyusup. Diam-diam Bram merasa tak mampu mengenali sahabatnya sendiri.
Sosok yang ada
di sisiku ini... apakah dia benar-benar Sandi?
***
Beberapa bulan kemudian...
Irham
mengancingkan kemejanya, lalu mengeluarkan desahan puas dari mulutnya. Ia
memandang jendela yang berembun karena rintik-rintik. Gerimis turun lagi malam
ini. Sepertinya malam akan kembali
diselimuti oleh dinginnya hujan.
’’Irham,’’ sebuah
suara menyapa pendengarannya. ’’Mami memblokir semua kartu kreditku karena aku
terlalu boros dan nilaiku turun drastis..’’
Irham tertegun,
kemudian beralih pada Sandi yang tengah duduk di atas ranjangnya. Pemuda itu
mengenakan kaos putih dan celana pendek. Juntaian poni agak basah tampak
menutupi dahinya. Hanya memandangnya seperti ini pun sudah membuat hasratnya
kembali menggebu padahal baru beberapa detik yang lalu mereka berhubungan
seksual.
Irham tersenyum.
’’Tenang saja, seusai ini aku pasti transfer uang untukmu. Apapun yang kamu
inginkan, pasti aku belikan. Selama ini pun aku selalu menanggung semua
kebutuhanmu ‘kan?’’
Sudah sebulan ini Irham
dan Sandi tinggal bersama. Tanpa terduga, Sandi mengajak-nya tinggal bersama.
Serupa kesempatan emas yang tak akan pernah datang kembali untuk kedua kalinya,
Irham pun menyambut tawaran itu dengan hati yang melonjak-lonjak. Terlebih
Irham juga menyimpan perasaan pada pemuda itu. Kini, mereka tinggal berdua di
salah satu kos paling mewah di Kota Bandung.
Irham tercenung.
Pikirannya melayang jauh pada wajah polos Sandi, tetapi terpecah begitu saja
oleh getaran ponsel di sisinya. Ia sempat tertegun mendapati nama di layar
ponsel. Yogi.
’’Halo, Kang
Irham?’’ terdengar suara dari sana.
’’Hai, Yog?
Tumben, nelpon?’’
’’Ada yang
harus gue bicarakan Kang... apakah Kang Irham merasakan ada yang aneh dengan
diri Sandi?’’
Irham tertegun,
lalu kembali beralih pada Sandi yang tengah menyisir rambut di muka cermin.
Sorot matanya datar. Gurat wajahnya nyaris tak berekspresi.
’’Ada sedikit sih,
Gi... dia memang sedikit berubah dari Sandi yang dulu. Kebiasaannya, cara
ngomongnya, dan gestur tubuhnya. Tapi mungkin itu akibat trauma mendalam karena
peristiwa waktu itu. Kenapa?’’
Hening.
’’Apakah Kang
__ADS_1
Irham yakin... yang tinggal bersama Akang itu benar-benar Sandi?’’
-the end-