Please Look At Me!

Please Look At Me!
Chapter 10


__ADS_3

Cukup lama gadis itu hanya terdiam sambil memandangi motornya. Pikirannya sedang berkecamuk saat ini. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, ia masih saja ada di tempat itu dan belum sampai di rumah. Ayahnya pasti akan memarahinya habis-habisan setelah ini. Ia juga merasa tidak bersalah sama sekali karena ia mengetahui bahwa motornya telah diotak-atik oleh orang lain sampai tangki bensinnya kosong dan ia tidak bisa pulang ke rumah. Ia berharap ayahnya akan menerima alasan di balik keterlambatannya sampai di rumah tanpa marah kepadanya.


"Ini," kata Raden sambil menyodorkan sebuah botol berisi sekitar tiga perempat liter bensin pada Erina.


"Kamu isi dulu tangki bensinmu baru pulang," sambungnya.


Erina cukup ragu untuk menerima botol itu. Ia tidak memiliki uang sepeserpun di dalam sakunya saat ini untuk mengganti uang bensin yang dikeluarkan oleh Raden. Tapi ia sangat membutuhkan bensin itu untuk mengisi tangki bensin motornya yang sudah kering.


"Lain kali saja gantinya."


Akhirnya, gadis itu menerima botol itu dengan sungkan. Ia membuka tangki bensin motornya lalu mengisinya perlahan. Setidaknya ia bisa pulang ke rumahnya setelah ini.


"Astaga."


Gadis itu menatap ke arah Raden yang tampaknya sangat kesal saat ini. Ia berhenti menuangkan bensin ke dalam tangki motornya dan memperhatikan gerak gerik laki-laki itu saat ini. Sekitarnya masih cukup ramai karena kakak-kakak kelasnya tadi belum beranjak dari sekitar motornya sejak tadi.


Raden bergegas menjepit selang kecil yang seperti terputus di dekat ban depan motor Erina. Laki-laki itu benar-benar terlihat sangat kesal. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling agar bisa menemukan sesuatu untuk tetap menahan jepitan pada ujung selang itu.


"Jeremy itu yah. Kalau dia ngambil bensin orang lain dengan cara mutusin selangnya kayak gini, harusnya dia tutup habis ambil bensinnya. Ini malah dibiarin aja kayak begini."


Raden terus menerus menggerutu. Ia kemudian meminta karet gelang dari yang lainnya untuk mengikat ujung dari selang itu agar bensinnya tidak terus terbuang-buang. Kekesalannya benar-benar meluap-luap karena ulah Jeremy.


Gadis itu hanya terdiam dalam keadaan terkejut dan sakit hati. Ia tidak pernah menyangka bahwa kakak kelasnya itu akan bertingkah sejahat itu padanya. Hatinya benar-benar sakit. Seandainya tidak ada Raden yang membantunya saat ini, entah bagaimana nasibnya. Apalagi ia tidak memiliki apa pun yang bisa ia gunakan untuk mengabari orang di rumahnya kalau ia sedang kesulitan saat ini.


"Nah, sudah." kata Raden usai mengikat selang bensin motor gadis itu dengan kuat.

__ADS_1


Tidak ada lagi bensin yang menetes keluar dari dalam selang itu. Gadis itu lanjut menuangkan sisa bensin yang ada di dalam botol yang ia pegang ke dalam tangki bensin miliknya. Setelahnya ia berterima kasih dengan Raden, lalu pamit untuk pulang ke rumahnya.


***


Ia mengendarai motornya pulang ke rumahnya dengan hati yang terluka. Perutnya yang bahkan belum terisi sejak tadi selain oleh air mineral, tidak begitu terasa lapar. Ia hanya berharap ayahnya akan mau menerima alasannya yang pulang sangat terlambat siang ini, atau mungkin sudah sore. Ia bahkan tidak memiliki jam tangan untuk sekedar mengecek sudah pukul berapa saat ini.


Jantungnya berdegup sangat kencang ketika ia melihat ayahnya berdiri di halaman depan rumahnya saat ini. Kedua tangan laki-laki paruh baya itu menyilang di depan dadanya. Meski ia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena jarak yang cukup jauh, ia bisa tahu bahwa kedua mata ayahnya saat ini tengah menatapnya sangat tajam dan penuh dengan amarah.


Jalanan mendaki ke halaman depan rumahnya cukup tajam karena memang ia tinggal di area pegunungan. Tidak hanya tajam, jalanannya juga tidak rata dan licin karena hujan tadi pagi. Ia memarkirkan motornya di pinggir post satpam yang ada di seberang jalan raya, lalu berjalan kaki ke rumahnya.


"Kenapa kamu baru pulang?" tanya ayahnya dengan nada penuh amarah.


"Tadi motorku diusili sama orang. Tangki bensinnya dibuat kosong makanya aku nggak bisa pulang. Untung ada kak Raden tadi yang bantuin sampe aku bisa pulang," jawabnya dengan perasaan sedih dan takut.


"Kakak kelasku, katanya namanya Jeremy," jawab gadis itu.


Ia hanya menjawab semua pertanyaan yang diajukan ayahnya sesuai dengan apa yang ia dengar. Ia juga tidak ingin disalahkan untuk kesalahan yang tidak ia perbuat sama sekali. Erina benar-benar merasa tidak adil jika ayahnya justru memarahinya sekarang.


"Itu pasti anaknya pak Ruben," kata ayahnya dengan penuh amarah.


"Mana kunci motormu?"


Gadis itu memberikan kunci motornya pada ayahnya. Pria paruh baya itu berjalan ke arah motor Erina dengan langkah tegas dan penuh dengan amarah yang menggebu-gebu. Ia tampak tidak terima dengan perlakuan usil kakak kelasnya yang bernama Jeremy. Setelah sampai, ia menyalakan mesin motor milik Erina, lalu mengendarainya pergi tanpa bilang akan pergi ke mana.


Ibu Erina muncul tidak lama kemudian. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya mencari keberadaan suaminya yang tadi menunggu putri sulungnya pulang ke rumah. Tapi ia tidak menjumpai laki-laki itu di mana pun.

__ADS_1


"Di mana ayahmu?" tanyanya.


"Pergi, baru saja."


"Ke mana?"


"Aku juga nggak tau."


"Kenapa kamu baru pulang? Dari tadi ayahmu sudah gelisah nunggui kamu. Makanan yang ada di atas meja bahkan nggak disentuh sedikit pun sama ayah kamu karena kamu belum sampai di rumah, padahal dia sudah pulang dari tadi."


Gadis itu merunduk menyesal. Ia sedih dan tidak tahu harus bagaimana. Ia juga tidak terima disalahkan seperti ini karena ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.


"Tadi motorku diusili sama orang. Kakak kelasku katanya, namanya Jeremy. Tangki bensinku sampai kosong dibuatnya. Aku hampir nggak bisa pulang kalau nggak ada kak Raden tadi yang bantuin aku."


"Kamu udah cerita sama ayah kamu?" tanya sang ibu ingin memastikan sesuatu.


Gadis itu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya barusan. Ia jelas menceritakan hal itu pada sang ayah. Kalau tidak, justru ia yang akan dimarahi habis-habisan oleh sang ayah. Bahkan mungkin ia tidak hanya akan dimarahi, tapi juga akan dipukuli oleh sang ayah.


"Astaga!" kata sang ibu sambil menepuk jidatnya.


Erina menatap heran ke arah ibunya. Ia tidak merasa bahwa apa yang ia lakukan itu salah dan ia tahu dengan pasti apa yang akan terjadi dengan dirinya jika tidak menceritakan hal itu. Tapi mungkin tidak begitu dengan pendapat sang ibu yang tampak sangat khawatir saat ini.


"Pasti ayahmu lagi nyari si Jeremy itu. Ayahmu selalu begitu, nggak bisa tahan emosinya sama sekali. Selalu meledak-ledak, padahal tidak semua harus diselesaikan dengan kekerasan," ujar ibunya dengan nada sangat khawatir dan menyesalkan tindakan yang diambil oleh sang ayah.


Ini bukan pertama kalinya sang ayah terbakar emosi. Hal itu sudah sering terjadi dan berulang-ulang. Pria paruh baya itu sering menyelesaikan masalahnya dengan marah atau dengan kekerasan terhadap orang lain sejak dulu. Erina ingat dengan jelas bagaimana cara ayahnya menyelesaikan masalah ketika ia masih bersekolah di salah satu kota di bagian timur Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2