Please Look At Me!

Please Look At Me!
Chapter 15


__ADS_3

Liburan semester ganjil berlalu dengan singkat tanpa ada sesuatu yang istimewa. Kedua orang tua gadis itu juga mengurus kepindahannya ke sekolah lain yang jaraknya lebih dekat dengan rumahnya. Sekolah yang akan ia tempati kali ini bukanlah sekolah swasta ternama seperti sekolahnya sebelumnya. Itu adalah sekolah negeri tempat di mana lebih beragam orang dibandingkan dengan sekolahnya yang dulu.


Tanpa terasa, hari ini sudah merupakan hari pertama semester baru dimulai. Sekolahn yang ia tempati sekarang masuk lebih awal satu minggu dibandingkan dengan sekolahnya yang dulu. Pemandangan yang pertama menyambutnya ketika ia tiba di sekolah ini adalah jumlah murid yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan sekolahnya sebelumnya.


Ia tengah berdiri di depan ruang guru sambil memegang erat-erat tali tas ransel miliknya. Ia tampak kikuk karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Ia tidaklah begitu siap untuk menyesuaikan lingkungannya saat ini, tapi ia memiliki keharusan akan itu.


“Intan!” panggil ayahnya.


Seorang gadis berambut ikal datang mendekat ke arah mereka. Tampaknya ia adalah gadis bernama Intan yang baru saja dipanggil oleh ayah Erina.


“Ini Intan, sepupumu,” kata ayahnya.


Gadis itu bersalaman dengan Intan dan saling memperkenalkan diri. Usai memperkenalkan diri dan menjelaskan mengenai kepindahannya ke sekolah itu, ayah gadis itu meminta bantuan pada Intan untuk menemaninya selama berada di sekolah. Intan hanya tersenyum dan mengiyakan permintaan ayah Erina. Setelahnya, gadis itu berpamitan menuju kelasnya.


Erina dan ayahnya hanya terdiam sambil mengamati kegiatan para murid di sekolah itu sebelum bel masuk berbunyi.

__ADS_1


***


Erina dituntun ke kelas oleh guru yang akan mengajar di kelas barunya hari ini. Ia dan Intan ternyata tidak sekelas. Mungkin itu akan membuat jarak yang luas membentang di antara keduanya karena untuk sekedar berinteraksi dengan teman-teman baru di dalam kelasnya terasa cukup canggung, apalagi jika ia pergi ke kelas lain hanya untuk menemui sepupunya, Intan, yang baru ia kenal hari ini.  Pasti akan terasa sangat canggung baginya.


Ia bisa merasakan bagaimana atensi murid-murid di dalam kelas terarah padanya yang baru pertama kali menginjakkan kelas itu. Ia tidak begitu tahu bagaimana pandangan mereka terhadapnya, tapi ia sendiri tidak ingin berharap banyak pada sekolahnya kali ini. Ia sudah dikecewakan sebelum ia mulai mengikuti proses belajar mengajar hari ini.


Ada sedikit harapan yang tertanam di dalam hatinya ketika ia dipindahkan ke sekolah ini. Ia tidak pernah berharap sekolah ini akan sama persis dengan sekolahnya dulu yang semua peralatannya lengkap. Bahkan untuk laboratorium fisika, kimia dan biologi pun memiliki peralatan yang lengkap ketika praktikum. Hanya saja ia tidak pernah menyangka bahwa kelas barunya akan seperti ini.


Gadis itu berpikir, setidaknya ruang kelasnya akan memiliki lantai ubin seperti sekolahnya dulu saat ia masih SD karena sekolahnya itu juga merupakan sekolah negeri. Tapi pemandangan yang ia lihat kali ini benar-benar jauh dari ekspektasinya saat ini.


Hal lain yang mengejutkannya ialah properti sekolah itu yang tampaknya disediakan seadanya Kelasnya benar benar cerminan dari sekolah di desa-desa yang ada di pelosok yang lantainya terbuat dari tanah dan kursi dan meja seadanya yang tidak seragam. Bahkan ia melihat ada yang menggunakan kursi plastik yang biasa digunakan di acara-acara kondangan untuk para tamu, digunakan di dalam kelasnya saat ini. Mungkin karena kekurangan bangku.


Meskipun terasa tidak etis, tapi ia jadi membanding-bandingkan antara sekolahnya dulu dengan sekolahnya saat ini di dalam hati. Bahkan sekolahnya saat masih SD dulu, semua bangku dan meja yang di sediakan di dalam kelas selalu seragam. Satu bangku dan satu meja untuk satu murid. Tapi pemandangan yang ada di depannya saat ini adalah satu bangku dan satu meja bahkan bisa digunakan oleh tiga orang murid yang duduk saling berdempet-dempetan.


Rasa tidak ikhlas akan kepindahannya makin menjadi-jadi bahkan sebelum ia memperkenalkan dirinya pada teman-teman sekelasnya pagi ini. Pemandangan tak kala mengejutkan ketika ia mengarahkan pandangannya pada luar jendela yang menampilkan bagian belakang sekolah. Ia terkejut melihat barisan bambu yang dibuat menjadi pagar di bagian belakang sekolahnya. Susunannya bahkan terkesan asal dan sangat berantakan.

__ADS_1


‘Dari semua kelas yang ada di sekolah ini, kenapa aku harus di tempatkan di sini,’ batin mengeluh.


Ia pun memperkenalkan dirinya sebelum pelajaran hari ini dimulai. Suara riuh terdengar begitu ia menyebutkan nama sekolahnya yang dulu. Murid-murid tampak heboh melihat ia merupakan pindahan dari sekolah swasta yang paling terkenal di kotanya.


***


“Namaku, Lina,” seorang gadis mengulurkan tangannya mengajak Erina bersalaman ketika jam pelajaran sudah berakhir.


“Erina,” katanya sambil menyambut uluran tangan gadis itu.


Tidak hanya satu dua, banyak murid terutama murid-murid perempuan datang mengerumuninya dan mengajaknya berkenalan seolah-olah ia adalah artis terkenal. Ia menyambut uluran tangan mereka satu per satu dan ikut memperkenalkan dirinya pada mereka secara pribadi meskipun tadi ia sudah memperkenalkan dirinya di depan kelas.


Ia mendapat banyak sekali teman hari ini, meskipun alasan utama dari sebagian besar dari mereka adalah karena penasaran. Mungkin ini adalah salah satu kekuatan yang dimiliki oleh nama sekolahnya ketika ia pindah ke sekolah lain. Orang-orang ingin mengenalnya lebih dekat setelah ia menyebutkan nama sekolahnya yang sebelumnya. Gadis itu pun sangat sadar akan hal itu.


Meskipun ia sudah menilai sekolah ini, terutama kelasnya sendiri secara sembrono, tapi ia tidak ingin mengungkapkan penilaian itu pada teman-teman sekelasnya yang lain. Ia menyimpannya sendiri di dalam hatinya. Hanya saja, rasa tidak ikhlas dan keterpaksaan menyertainya sepanjang hari ini, meskipun ia sering tersenyum ketika berhadapan dengan orang lain.

__ADS_1


Di dalam benaknya, terlintas pikiran tentang bagaimana keadaannya saat ini jika ia masih tetap bersekolah di sekolah itu. Itu tanpa sengaja membangun sebuah tembok besar di antara ia dan teman-temannya sekelasnya saat ini. Apalagi ia masih tidak bisa menerima bagaimana keadaan sekolah barunya saat ini. Rasanya terlalu jauh dibandingkan dengan sekolahnya sebelumnya.


__ADS_2