
Sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu, gadis itu pernah melihat ayahnya hampir memukuli orang yang bertubuh lebih tinggi darinya. Ayahnya bahkan memegang leher orang itu dan mengangkatnya ke atas dan menyandarkan tubuh orang itu di dinding dengan kekuatannya dan mengarahkan kepalan tangannya ke orang itu. Ia tidak tahu apa penyebab dari itu semua. Ia hanya tahu orang-orang sangat heboh hari itu dan mengelilingi ayahnya yang sedang terbakar amarah.
Sampai sekarang, gadis itu tidak tahu alasan di balik amarah ayahnya hari itu. Ia juga enggan untuk bertanya pada kedua orang tuanya. Ia yakin bahwa keduanya tidak akan memberikan jawaban yang ia harapkan jika ia bertanya pada mereka. Sudah syukur jika ayahnya tidak memarahinya saat ia bertanya.
Erina menatap ibunya yang mondar mandir di halaman depan rumah sejak tadi dengan gelisah. Cukup lama waktu berlalu, tapi ia tidak tahu bagaimana kabar ayahnya sekarang. Hari masih cukup terik, tapi wanita paruh baya itu tidak peduli sama sekali.
"Tidak bisa begini," kata wanita itu tiba-tiba.
"Ibu pergi susul ayahmu dulu. Kamu jaga rumah sama adikmu."
Wanita itu pergi mengambil jaket, helm dan kunci motor. Ia menyalakan mesin motor yang terparkir di halaman rumahnya, lalu mengendarainya pergi untuk menyusul ayah gadis itu. Wanita itu bahkan tidak bertanya sama sekali di mana keberadaan sang ayah saat ini.
***
Gadis itu duduk di ruang tengah dengan gelisah. Ia belum mengganti pakaiannya dan belum mengisi perutnya sama sekali. Ia gelisah menunggu kedua orang tuanya yang masih belum kembali sejak tadi. Ada satu bagian kecil di dalam hatinya yang menyesal sudah menceritakan hal itu kepada orang tuanya, tapi ia juga tidak tahu harus bilang apa selain menceritakan apa yang ia dengar itu.
Drrrttt....
Ponsel ibunya yang tertinggal di rumah berdering. Tertera di sana nomor telepon ayahnya melakukan panggilan ke nomor telepon ibunya. Tidak perlu berpikir lama, gadis itu segera mengangkat panggilan di ponsel ibunya itu.
"Siapa tadi yang kasi tau kamu kalau yang ngusilin motor kamu itu Jeremy?" tanya ibunya dari seberang sana.
Suasana di sekitar ibunya cukup berisik. Gadis itu menduga bahwa ibunya saat ini sedang berada di tengah-tengah kerumunan. Rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi di dalam hatinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa masalah itu akan separah ini.
__ADS_1
"CEPAT BILANG SIAPA!" desak ibunya.
"Kakak kelasku," jawab gadis itu.
"Namanya. Siapa nama kakak kelasmu itu?" tanya ibunya kembali.
Gadis itu mulai merasakan perasaan takut. Ia sedikit ragu untuk menyebutkan nama orang yang sudah memberi tahunya bahwa Jeremy telah mengusili motornya sampai tangki bensinnya kering. Suara orang-orang di sekitar orang tuanya yang semakin berisik membuatnya semakin takut. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di sana.
"Tadi ada kak Raden yang bicara sama orang itu," katanya lagi.
"Raden menyangkal. Dia bilang dia tidak tahu apa-apa sama sekali."
DEGGG....
"Cepat bilang, tadi siapa yang bilang kalau Jeremy yang ngusilin motormu!" desak ibunya lagi.
Tidak lama kemudian, sambungan telepon itu terputus. Perasaan gelisah yang dirasakan oleh gadis itu semakin menjadi-jadi. Masalah yang tadi hanya ingin ia jadikan alasan agar tidak dimarahi atau dipukuli oleh ayahnya karena pulang terlambat kini menjadi masalah besar. Ia benar-benar ingin menangis rasanya. Rasa bersalah, bingung dan merasa dikhianati mengisi sebagian besar tempat di dalam hatinya saat ini.
Ia memiliki riwayat maag karena hanya bisa makan saat sudah sampai di rumah. Sedangkan jam pulang sekolahnya adalah pukul 14.00. Jika dihitung dengan waktu perjalanan ke rumahnya, sekitar setengah tiga sore baru ia bisa makan siang. Ia sering merasa sangat nyeri di perutnya ketika ia mulai mengisi perutnya dengan air.
Perasaan gelisah yang menghantuinya saat ini membuat ia tidak merasakan sama sekali rasa sakit itu, meskipun ia belum makan sejak tadi. Ia bahkan tidak meminum air sedikit pun sejak ia sampai di rumah. Ia hanya duduk di ruang tengah sambil menunggu kedua orang tuanya pulang ke rumah.
***
__ADS_1
BRUKKK...
Kedua orang tuanya telah pulang ke rumah dengan ekspresiĀ yang sangat marah. Gadis itu merasa bersalah, gelisah, dan takut melihat ekspresi penuh amarah kedua orang tuanya saat ini.
"Siapa tadi yang bilang kalau Jeremy yang ngusilin motor kamu?" tanya ibunya ketika wanita itu sudah masuk ke dalam rumah.
"Aku juga tidak tahu siapa namanya. Dia kakak kelasku, teman Jeremy. Kak Raden juga ada tadi waktu orang itu bilang kalau Jeremy yang ngusilin motorku, mutus aliran bensin motorku, terus bensinnya dibagi-bagikan ke teman-temannya yang lain sebelum dia pulang."
"Tapi tadi Raden menyangkal kalau dia tahu. Dia bilang kalau dia tidak tahu apa-apa sama sekali."
Jantung gadis itu kembali berdenyut nyeri. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa Raden akan berbohong dan mengatakan tidak tahu apa-apa sama sekali. Padahal laki-laki itu bahkan sempat memaki Jeremy yang sudah memutuskan selang bensing motornya.
"Asal kamu tau ya. Ayah kamu tadi di sana hampir dipukul sama orang. Padahal ayah kamu sudah datang baik-baik, bahkan sampai minta maaf dulu sama keluarga si Jeremy, sebelum bertanya apakah Jeremy sudah mengusili motormu sampai tangki bensin kamu kosong dan kamu tidak bisa pulang. Tapi mereka malah mau mukulin ayah kamu," kata ibunya penuh emosi.
Gadis itu terdiam tidak berbicara sedikit pun dan hanya mendengarkan luapan kekesalan ibunya yang ditujukan kepadanya saat ini seolah-olah segala kesalahan ada pada dirinya. Ia adalah sumber segala kesalahan karena mulutnya. Gadis itu merasa sangat bersalah, tapi ia juga tidak tahu apa yang harus ia katakan pada ayahnya selain apa yang ia dengar tadi. Ia merasa dunia benar-benar tidak adil padanya.
"Kamu tahu keluarga si Jeremy siapa?" tanya ibunya dengan nada penuh penekanan.
Erina menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan dari ibunya itu. Ia tidak begitu tahu siapa Jeremy, selain laki-laki itu adalah salah satu kakak kelasnya yang terkenal nakal di sekolah. Laki-laki itu dan teman-temannya yang lain kerap kali membuat masalah di sekolah.
"Dia itu keluarganya walikota sekarang. Banyak pendukung walikota tadi yang mau mukulin ayah kamu gara-gara nanya hal kayak begitu sama keluarganya Jeremy. Untung tadi ibu muncul, kalau tidak, habis ayah kamu dipukulin sama mereka."
Untuk pertama kalinya gadis itu sadar, bahwa kekuatan yang dimiliki oleh orang yang berpengaruh memang sebesar itu. Mereka bahkan bisa membuat kesalahan yang sebenarnya sudah mereka lakukan menjadi tidak terlihat sama sekali karena orang-orang takut dengan mereka. Lebih parahnya banyak orang yang menganggap mereka itu sangat benar sehingga ingin membela mereka mati-matian, tidak peduli dengan cerita yang sebenarnya. Dunia benar-benar tidak adil.
__ADS_1