
Erina biasa memarkirkan motornya di seberang sekolah. Tepatnya di rumah kenalan orang tuanya. Penurunan dari mulai pagar sekolah sampai ke arah parkiran agak sedikit curam untukku yang baru belajar, sehingga ayah gadis itu sedikit khawatir saat gadis itu akan memasukkan motornya ke dalam parkiran sekolah. Ayahnya memilih menitipkan motor gadis itu di rumah kenalannya selama jam sekolah.
Kenalannya sangat setuju dengan hal itu sehingga ia selalu memarkirkan motornya di sana tiap kali ke sekolah. Dan ia baru mengambil motornya lagi ketika sudah waktunya pulang sekolah dan para murid kembali ke rumah mereka masing-masing.
Hanya saja terkadang ada beberapa hal yang sedikit membuat gadis itu kurang nyaman ketika memarkirkan motornya di situ. Bukan karena perasaan tidak enak dengan kenalan ayahnya itu. Tidak, sama sekali tidak. Ia selalu memarkirkan motornya bukan di halaman depan rumah kenalan ayahnya itu melainkan di samping rumahnya.
Di sana ada anak-anak lain yang merupakan kakak-kakak kelasnya juga biasa memarkirkan motornya. Kakak-kakak kelasnya itulah yang membuatnya merasa kurang nyaman. Apalagi mereka terkenal nakal dan suka berbuat onar di sekolah.
"Huh! Hari ini nggak diantar-jemput sama bapaknya lagi kayak kemarin-kemarin," ujar Yudi, teman sekelas Erina.
"Udah gede mungkin. Kemarin-kemarin 'kan masih anak kecil," ujar Leo menimpali, kemudian diikuti oleh suara tawa dari Yudi dan teman-temannya yang lain.
Erina yang tengah berjalan ke arah rumah kenalan ayahnya tempat ia biasa memarkirkan motornya hanya bisa terdiam. Tanpa ia perlu bertanya siapa orang yang mereka maksud, ia sudah tahu dengan jelas bahwa orang itu adalah dia. Ia hanya ingin berpura-pura tidak mendengarnya dan terus berjalan ke arah rumah kenalannya itu agar bisa mengambil motornya yang diparkir di sana dan pulang ke rumah.
Ia sudah tahu bahwa sejak dulu Yudi sangat membenci dirinya. Ia tidak tahu dari mana dan bagaimana awal mula sampai laki-laki itu begitu membencinya. Ia juga tidak ingin tahu tentang hal itu. Lagi pula, ia juga tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk bisa melawan laki-laki itu.
"Aku duluan, ya," ujar Yudi pamit pada teman-temannya yang lain setelah puas mengolok-olok Erina.
Erina berjalan sampai ke dekat motornya. Ia sedikit melirik ke arah sambungan yang menyerupai selang berukuran kecil yang ada di motornya. Sambungan itu seperti terputus, tapi ia tidak ingin berburuk sangka. Ia yang tidak begitu mengerti masalah mesin motor dan hanya tahu mengendarainya saja, hanya ingin pulang lebih awal saat ini.
Gadis itu memasukkan kunci motornya ke dalam lubang kunci dan berniat menyalakan motornya. Berkali-kali ia coba, tapi tidak berhasil sama sekali. Wajahnya memucat, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Lagi pula apa yang bisa dilakukan oleh anak kelas dua SMP yang tidak mengerti masalah mesin motor dan tidak memiliki uang seperserpun?
Erina kembali mencoba menyalakan mesin motornya dengan penuh berharap. Tapi sama sekali tidak berhasil. Ia melirik sebentar ke arah sekolahnya yang sudha tampak sepi. Murid-murid yang lain mungkin sudah pulang ke rumahnya sejak tadi. Ia juga sudah cukup lama berada di sini.
__ADS_1
Ia benar-benar ingin menangis rasanya. Ia bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Orang-orang yang posisinya dekat dengannya saat ini hanyalah beberapa orang kakak kelasnya yang masih asyik berbincang sambil tertawa atau menggoda orang-orang yang lewat terutama perempuan. Ia tidak akrab sama sekali dengan mereka, bahkan ia tidak begitu kenal dengan mereka. Ia benar-benar sangat putus asa saat ini.
"Kenapa? Kamu kenapa belum pulang?"
Erina menatap ke arah sumber suara yang seperti sedang berbicara padanya saat ini. Di sana ada Raden, anak dari kenalan ayahnya, sedang berdiri tidak jauh darinya. Laki-laki itu beberapa tahun lebih tua darinya dan sama sekali tidak akrab dengannya.
"Motorku nggak mau menyala," katanya dengan nada sedih dan putus asa.
"Coba sini kulihat."
Laki-laki itu melangkahkan kakinya ke arah motor Erina untuk mengecek motor gadis itu. Erina tentu saja mempersilahkan, apalagi laki-laki itu melakukannya dengan sukarela. Perlahan laki-laki itu membuka tangki motor gadis itu.
"Owalah, bensinnya habis."
Ia ingat dengan jelas bahwa ayahnya sudah mengisi penuh tangki bensinya tadi pagi sebelum ia berangkat ke sekolah. Ayahnya selalu mengecek kondisi motor gadis itu sebelum ia kendarai. Penurunan rumahnya terlalu curam sehingga ayahnya selalu mengendarai motornya sampai ke jalan raya setiap pagi, sekalian mengecek kondisi motor miliknya.
"Ya bisalah. Emang kenapa?" tanya laki-laki itu.
"Tadi pagi, ayahku sudah mengisi bensinnya sampai penuh. Biasanya sekitar satu sampai dua minggu lagi baru habis. Aku juga nggak pernah pergi ke mana-mana."
"Kamu punya uang?" tanya laki-laki itu.
Erina hanya bisa menggeleng. Ia tidak memiliki uang sepeserpun di kantongnya saat ini. Uang saku yang diberikan ibunya bahkan hanya cukup untuk membeli dua gelas minuman dingin. Untuk sekedar makan siang saja uang sakunya tidak cukup sama sekali. Ia mengerti ia ditanyai seperti itu untuk membeli bensin motornya saat ini.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Tunggu di sini sebentar," kata laki-laki itu.
"Kenapa?"
Gadis itu menengok sebentar ke arah belakangnya. Kakak-kakak kelasnya yang tadi berbincang-bincang tidak jauh darinya, kini sudah berdiri mengelilingi motornya. Ia tidak ingin begitu memedulikan kehadiran mereka saat ini di dekatnya.
"Bensin motornya habis. Tapi katanya motornya baru diisi full tadi pagi. Masa sudah habis?"
"Itu mungkin ulah si Jeremy," kata salah satu di antara mereka.
"Hah?"
"Tadi sebelum pulang, aku sempat lihat dia bagi-bagi bensin buat anak-anak yang lain. Tapi tidak tahu bensin itu dia dapat dari mana," katanya menjelaskan.
Nyutt....
Hati Erina berdenyut nyeri. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan oleh kakak kelasnya itu. Membagi-bagikan bensin dari motornya pada teman-temannya yang lain, lalu membuat bensin di motornya habis sampai ia kebingungan dan mungkin tidak bisa pulang ke rumahnya sama sekali. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan ulah nakal kakak kelasnya itu.
"Serius?" tanya Raden memastikan ucapan kakak kelasnya barusan.
"Iya. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri tadi pas dia lagi bagi-bagiin bensinnya. Tapi dia tidak bilang dapat bensinnya dari mana."
Erina menatap sendu ke arah motornya saat ini. Di tempat ini, hanya ada motornya saja yang terparkir selain motor kakak-kakak kelasnya yang terkenal nakal itu. Raden dan keluarganya memarkirkan kendaraannya di dalam garasi yang sudah dibangun di samping rumahnya untuk kendaraan miliknya dan keluarganya. Tentu tidak ada kendaraan lain lagi yang akan menjadi sumber bahan bakar gratis bagi kakak-kakak kelasnya itu.
__ADS_1