
Hari telah gelap. Rasa bersalah yang dirasakan oleh gadis itu sejak tadi belum juga kunjung pergi. Ia merasa bersalah sudah menceritakan hal itu pada orang tuanya. Seandainya ia hanya diam saja, mungkin ialah yang akan dipukuli oleh ayahnya karena terlambat pulang ke rumah. Ayahnya pasti mengatai dia tidak memikirkan sama sekali orang-orang di rumah yang khawatir dengan keadaannya.
Ia hanya bisa duduk terdiam di ruang tengah rumahnya. Makanan pun sama sekali tidak terasa berselera baginya. Ia hanya berdiam diri sambil menemani adiknya yang tengah menonton serial kartun di televisi.
"Erina, sini dulu," panggil ibunya dari ruang tamu.
Suasana di dalam rumahnya cukup tegang dan heningĀ sejak tadi siang. Orang-orang di dalam rumahnya tengah pusing bergelut dengan kegelisahan dengan alasan yang sama sejak tadi. Kedua orang tuanya juga sibuk bergelut dengan pikiran mereka dan memilih untuk duduk sambil berpikir du ruang tamu.
"Ya," kata gadis itu sambil berjalan ke arah ruang tamu, tempat kedua orang tuanya berada saat ini.
Ia menatap ayah dan ibunya yang tengah termenung. Keduanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong karena sedang banyak pikiran. Suasananya benar-benar sedang buruk.
"Besok kamu jangan ke sekolah dulu, ya." kata sang ibu.
"Iya," jawab Erina.
Gadis itu tidak bertanya tentang alasan di balik larangan orang tuanya itu. Ia tahu bahwa keputusan yang telah dibuat oleh orang tuanya itu juga untuk kebaikannya. Pasti ada alasan yang memang mengharuskannya untuk menuruti perintah orang tuanya itu.
"Bukannya bagaimana-bagaimana. Kami cuma takut si Jeremy sama teman-temannya bakalan nyariin kamu besok di sekolah. Ini semua demi keselamatan kamu sendiri," jelas ibunya.
"Iya."
__ADS_1
Erina mengangguk-angguk paham dengan alasan ibunya. Para guru saja sering kewalahan dengan ulah Jeremy dan kawan-kawannya di sekolah. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menindak tegas kelompok anak nakal itu. Mereka tetap bisa berkeliaran dengan bebas di dalam sekolah meskipun sudah menjadi langganan guru BK.
"Nanti kalau kondisinya sudah aman, baru kamu masuk lagi ke sekolah. Besok ayah sama ibu akan pergi ke sekolah kamu buat bicara sama kepala sekolah kamu supaya waktu kamu sudah masuk sekolah nanti kamu nggak diapa-apain sama mereka."
"Iya."
Tidak ada bantahan apa pun yang keluar dari mulut gadis itu. Ia hanya menuruti perintah kedua orang tuanya saja. Ia juga sadar jika masalah yang terjadi siang tadi bisa saja membahayakan keselamatannya. Apalagi Jeremy bukanlah orang yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja tanpa kekuasaan seperti dirinya. Orang yang berada di tempat kejadian yang sama dengannya saja, Raden, bisa menyangkal sudah mengetahui ulah laki-laki itu.
Dunia itu memang munafik, penuh dengan orang-orang munafik. Ia juga tidak akan menyangkal jika ia dikatakan munafik sama seperti yang lainnya. Ia sadar bahwa tidak semua orang yang berada di bawah langit yang sama dengannya akan menyukainya, contohnya saja Alan yang sudah membencinya dari sejak pertemuan pertama keduanya.
Usai mendengarkan perintah orang tuanya itu. Gadis itu kembali ke ruang tengah dengan rasa sesak dan berat di dadanya. Ia menonton televisi bersama adiknya, tapi ia bahkan tidak tahu apa yang tengah ia tonton saat ini. Pikiran dan perasaan gelisahnya seolah-olah memburamkan penglihatannya. Tubuhnya ada di sana, tapi pikirannya melalang buana ke tempat lain.
***
Ia tengah menghabiskan waktunya dengan menonton serial kartun di televisi. Saat lelah ia akan tertidur. Ia juga beres-beres rumah dan memasak. Menghabiskan waktu di rumah pada hari ia seharusnya masuk sekolah adalah hari yang terasa aneh dan cukup melelahkan baginya. Ia lebih suka menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, meskipun ia tidak memiliki teman sama sekali.
Gadis itu sendirian di rumah hari ini. Adiknya juga pergi ke sekolah, sehingga tidak ada yang menemaninya di dalam rumah. Hanya ia yang tinggal di dalam rumah dan tidak pergi ke mana pun.
Saat ia sudah bosan, ia akan tertidur. Ia bahkan akan tertidur di depan televisi yang masih menyala. Tentu saja ia tertidur dalam balutan selimut dan bantal yang menyangga kepalanya agar terasa lebih nyaman.
***
__ADS_1
Ceklek...
Pintu depan rumah gadis itu terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam rumah dengan menenteng dua kantong plastik yang benuh dengan isi belanjaannya. Keringat menetes dari kening wanita paruh baya yang tampak kelelahan itu. Cuaca di luar tampak terik, apalagi ia menenteng dua kantong besar belanjaan sambil masuk ke dalam rumah.
"Erina," panggilnya.
"Iya, Bu."
Gadis itu bangun dari posisi tidurnya dan berjalan ke ruang tamu. Ibunya tengah duduk di atas kursi untuk sekedar beristirahat karena lelah. Nafasnya memburu dan keringat yang menguncur dari dahinya semakin banyak.
"Bantuin ibu bawa ini ke dapur."
Erina mengangkat dua kantong belanjaan itu menuju dapur. Ia memilah-milah belanjaan, seperti ikan yang ia taruh dalam loyang alih-alih membiarkannya di dalam plastik dan hanya diletakkan di atas lantai. Darah dari ikan yang sudah dibeli oleh ibunya tentu akan mengotori lantai dapur jika dibiarkan lebih lama di dalam kantong plastik dan hanya diletakkan di atas lantai.
"Tadi ibu sama ayah sudah bicara sama wali kelasmu," kata ibunya dari ruang tamu.
Gadis itu hanya terdiam sambil mendengarkan ucapan ibunya. Ia tidak ingin menyanggah dan hanya mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ibunya. Tentu saja ucapan itu tidak hanya akan berhenti sampai di situ saja.
"Kepala sekolah kamu tadi juga kasihan sama kamu karena bukan kamu yang salah di sini. Tadi beliau juga sampai menangis waktu diceritakan masalah sama Jeremy dan keluarganya kemarin."
Ibu gadis itu terus menceritakan betapa baiknya kepala sekolahnya. Tentang bagaimana baiknya pria itu mendengarkan cerita ibu dan ayahnya, dan juga pujian-pujian yang diberikan padanya dan tingkah lakunya selama ini di sekolah. Ia memang tidak banyak berulah saat di sekolah, tapi itu juga yang membuat keberadaannya jarang diingat oleh para guru di sekolah.
__ADS_1
Ia tidak menyangka bahwa kepala sekolahnya mengingat dirinya, bahkan memuji tingkah lakunya selama ini di sekolah. Tidak hanya itu, laki-laki itu bahkan membelanya saat mendengarkan cerita kedua orang tuanya, dan tidak menghakimi mereka seperti yang dilakukan oleh keluarga Jeremy beserta para pendukungnya. Hatinya menghangat mendengarkan cerita ibunya tentang kepala sekolahnya.