Please Look At Me!

Please Look At Me!
Chapter 8


__ADS_3

Hubungan antara Alan dan Erina semakin memburuk semenjak hari itu. Keduanya bersikap terang-terangan seolah-olah saling membenci satu sama lain. Murid-murid di dalam kelas itu pun tidak begitu mengerti dengan keduanya. Mereka hanya tahu cerita dari mulai jeritan Alan yang kakinya ditendang oleh Erina dengan sekuat tenaga sampai gadis itu pergi meninggalkan kelas setelah menegaskan bahwa ia tidak menyukai laki-laki itu sama  sekali.


"Erina, kamu mau nggak tukeran tempat duduk sama aku?" tanya Deo.


Gadis itu melirik sejenak ke arah Gideon yang sedang tertidur. Ia tidak begitu akrab sebenarnya dengan Gideon mengingat keduanya sering bertengkar, meskipun baikan tidak lama setelahnya. Ia juga tidak ingin merasa laki-laki itu merasa tidak nyaman karena ia tiba-tiba bertukar tempat duduk dengan Deo yang memang adalah teman baik laki-laki itu.


Ia mengalihkan pandangannya sejenak pada Alan yang sedang sibuk menyalin tugasnya. Entah malas atau bagaimana, laki-laki itu sering kali menyalin tugas milik temannya saat ia sudah sampai di sekolah. Kebiasaan yang buruk sebenarnya.


Erina menimbang-nimbang usulan Deo untuk bertukar tempat duduk dengannya. Ia memang tidak terlalu akrab dengan Gideon, tapi tentu saja menjadi sebangku dengan laki-laki itu mungkin jauh lebih baik dibandingkan dengan Alan yang sering memancarkan aura penuh permusuhan terhadapnya. Apalagi hubungan keduanya semakin memburuk akhir-akhir ini setelah kesimpulan sepihak yang dibuat oleh laki-laki itu tempo hari.


"Apa tidak apa-apa?" tanya gadis itu.


"Tidak. Lagi pula kamu juga 'kan musuhan sama Alan. Gideon pasti mengerti. Apalagi aku juga pindahnya nggak jauh."


Ucapan Deo membuat timbangan yang tadinya hanya sedikit mengarah ke duduk sebangku bersama Gideon pun pada akhirnya menjadi berat sebelah ke arah keputusan untuk duduk sebangku dengan Gideon. Ia menganggukkan kepalanya dan segera membereskan peralatan tulisnya. Gadis itu memindahkan semuanya, termasuk tas miliknya, ke bangku yang berada tepat di belakangnya.


Alan melirik sejenak ke arah gadis itu ketika gadis itu pindah tempat duduk. Ia mengendikan kedua bahunya dan lanjut menyalin tugasnya. Ia sudah mendengar percakapan antara gadis itu dan Deo. Jujur, ia sebenarnya sedikit tersinggung saat gadis itu memilih untuk bertukar tempat duduk dengan Deo.


***

__ADS_1


Gideon meletakkan kedua lengannya di atas meja. Gerakan itu disusul dengan ia meletakkan kepalanya juga di atas meja. Tidak lama setelahnya, ia memejamkan kedua matanya untuk sekedar beristirahat.


Saat ini masih jam pelajaran, tapi dikarenakan guru yang bersangkutan berhalangan untuk hadir, murid-murid yang lain pun mengisi waktunya dengan bermain dan bercerita. Tidak sedikit pula yang memilih pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka. Hari bahkan masih pagi, tapi beberapa dari mereka sudah kelaparan.


"Erina, kamu mau nggak tukeran tempat duduk sama aku?" tanya Deo.


Ia sedikit tersentak begitu mendengar Deo bertanya pada Erina untuk bertukar tempat duduk dengannya. Ia merasa sedikit tersinggung karena mengira bahwa Deo membencinya dan memilih untuk bertukar tempat duduk dengan Erina. Ia menggerutu di dalam hatinya mengutuk teman sebangkunya itu.


Cukup lama hening. Ia belum bisa tertidur dengan nyenyak setelah mendengar perkataan Deo barusan. Ia menantikan jawaban Erina sambil berpura-pura tidur.


"Apa tidak apa-apa?" tanya gadis itu.


"Tidak. Lagi pula kamu juga 'kan musuhan sama Alan. Gideon pasti mengerti. Apalagi aku juga pindahnya nggak jauh."


Laki-laki itu tahu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengusulkan hal itu. Apalagi Erina dan Alan sedang perang dingin saat ini. Keduanya tidak menyembunyikan rasa tidak suka di antara keduanya.


Ia sulit menahan senyumnya begitu ia mendengar Erina menyetujui usul Deo. Gadis itu membereskan alat-alat tulis miliknya, lalu memindahkannya ke bangku yang berada di samping Gideon saat ini.


Laki-laki itu membuka sedikit matanya untuk mengintip ke arah Alan yang masih menyalin tugas miliknya. Setelahnya, ia kembali memejamkan kedua matanya, lalu tersenyum penuh kemenangan. Setidaknya jarak antara Alan dan Erina semakin lebar, sehingga kemungkinan gadis itu untuk suka dengan Alan menjadi lebih kecil.

__ADS_1


Ia terkadang masih gelisah saat mengingat bahwa cukup lama waktu berjalan sampai Erina benar-benar mengatakan dengan tegas bahwa ia tidak menyukai Alan. Ada satu bagian kecil di sudut hatinya yang meragukan bantahan tegas Erina hari itu. Apalagi ia tidak melihatnya secara langsung.


Erina menatap ke arah Gideon yang tampak sedang tertidur. Ia sebenarnya masih merasa sedikit ragu dengan keputusannya saat ini. Tapi ia juga tidak ingin terus menerus berdekatan dengan orang yang memang jelas-jelas tampak sangat membencinya itu.


"Al, ada penghapus nggak?"


Elvira, teman sekelas Erina yang sebelumnya duduk tepat di depan gadis itu, berbalik belakang untuk meminjam penghapus pada Alan. Hal itu sebenarnya cukup mengejutkannya karena Elvira tidak begitu akrab dengan Alan. Interaksi keduanya sangat minim seperti dirinya dengan Alan meskipun tempat duduk mereka sebelumnya bersebelahan.


"Ehm.. Tungga, ya."


Sesak dan nyeri. Gadis itu benar-benar merasakan rasa sakit di dalam rongga dadanya ketika laki-laki itu justru bersikap ramah dengan Elvira. 'Apa yang sudah kulakukan sampai kamu sebenci itu sebelumnya sama aku?' batinnya.


Ia tersenyum miris sambil menatapi kedua kakinya yang menapak ubin kelas. Ia benar-benar merasa sakit saat ia tahu bahwa memang sejak awal laki-laki itu sama sekali tidak menyukainya. Laki-laki itu bahkan sudah memberikan batasan yang tegas sejak pertemuan pertama mereka. Entah ia terlalu berlebihan atau hanya sedang sensitif, ia benar-benar merasa sangat sakit hati saat ini.


"Ini," kata Alan sambil memberikan penghapus miliknya pada Elvira.


Dari nada suara Alan yang cukup ramah, ia bisa mengetahui kalau memang ia tidak akan pernah bisa akrab dengan laki-laki itu. Ia dan Alan seperti air dan minyak yang sulit untuk disatukan karena terlalu berbeda. Erina mengangkat wajahnya dan mendapati Elvira tersenyum malu-malu setelah menerima penghapus yang diberikan oleh Alan.


Ketika gadis itu berbalik, Priska yang duduk bersebelahan dengannya menyenggol gadis itu sambil menggodanya. Hanya dengan melihatnya saja Erina sudah tahu bahwa gadis itu memiliki perasaan pada Alan. Alan juga tidak memperlihatkan raut tidak suka dari interaksi yang terjadi di antara keduanya.

__ADS_1


Erina mempererat genggamannya pada roknya. Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya saat ini. Ia juga tidak tahu dengan pasti apa yang membuat ia merasa seperti ini. Ia hanya tahu bahwa ia membenci interaksi yang cukup akrab di antara keduanya, terutama sikap ramah Alan terhadap Elvira. Ia benar-benar tidak menyukainya.


__ADS_2