
Waktu terasa lambat begitu menjelang kepindahannya. Sekarang sudah memasuki masa-masa ujian semester. Setelah ujian semester berakhir, akan ada cara penyerahan rapor para murid yang telah berisi nilai dan juga pengumuman peringkat kelas dan umum. Setelahnya, akan ada liburan panjang sebelum memasuki semester baru. Ketika semester baru dimulai, ia sudah tidak bersekolah lagi di tempat ini.
Dia masih menutupinya. Dia baru akan memberi tahu teman-teman sekelasnya mengenai kepindahannya ketika pembagian rapor. Ia merasa setidaknya ia harus memberi tahu mereka di hari terakhirnya di sekolah itu. Tentu saja ia tidak akan memberi tahu alasan di balik kepindahannya itu.
Terkadang ia merasa takut melihat Jeremy dan teman-temannya berkeliaran di sekolah dengan bebas. Apalagi Jeremy dan teman-temannya terkenal merupakan murid berandal di sekolahnya. Tidak ada satu pun murid yang tidak mengenal mereka karena tingkah mereka yang sering menjadi buah bibir di sekolah.
Bahkan, belum lama ini salah satu temannya memecahkan kaca jendela karena bermain bola di dalam ruang kelas. Alhasil guru BK memarahinya karena tingkahnya itu. Bukannya merasa bersalah, ia justru membela dirinya dan melawan perkataan guru BK yang sedang marah. Ia pun mendapatkan sebuah tamparan di pipinya dari guru BK yang tidak tahan dengan tingkah tidak sopannya.
Tidak berhenti sampai di sana. Temannya itu tidak meminta maaf sama sekali dan langsung berjalan pulang sambil mengancam guru BK akan melaporkan perlakuan yang ia terima kepada orang tuanya, yang tentu saja juga merupakan orang yang berpengaruh di pemerintahan.
***
“Roy! Jangan terlalu dekat dengan Erina duduknya!” tegur pengawas di ruang ujianku.
Namanya Roy, kakak kelas yang merupakan teman Jeremy dan orang yang sama yang mengatakan bahwa yang menyabotase motornya hari itu adalah Jeremy.
Murid-murid di sekolah itu ditempatkan duduk berpasang-pasangan dengan kelas lain selama ujian semester berlangsung, entah itu kakak kelas atau adik kelas. Selama itu bukanlah orang yang seangkatan dengan mereka untuk meminimalkan tingkat kecurangan selama ujian semester berlangsung. Pasangan sebangku gadis itu selama ujian semester kali ini adalah Roy.
“Kamu sudah selesai?” tanyanya.
Erina hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya barusan. Ia merasa aneh dan janggal dengan tingkah Roy yang ramah padanya seolah-olah kejadian yang membuatnya terpaksa pindah sekolah di semester depan tidak pernah terjadi. Rasa bersalah tidak terpancar sedikit pun dari kedua bola matanya.
“Aku masih belum selesai. Matematika bukanlah keahlianku,” katanya mengeluh.
__ADS_1
“Roy! Geser sedikit! Jangan terlalu dekat dengan Erina!” Pengawas ruang ujian kembali menegur laki-laki di samping gadis itu.
Suara riuh menggoda keduanya terdengar. Roy tampak tersenyum seolah-olah tersipu malu. Itu membuat gadis itu merasa geli dengan tingkah laki-laki itu saat ini.
Meskipun telah ditegur berulang kali, laki-laki itu tetap menggeser bangkunya mendekat ke arah Erina. Ia menanyakan satu per satu soal, apakah gadis itu yakin sudah mengisinya dengan benar atau tidak.
Ketika Erina menjawab bahwa ia memang sudah mengerjakannya dengan baik bahkan memperlihatkan coretan coretan yang ia buat untuk menemukan jawabannya, kedua mata laki-laki itu berbinar. Ia seolah-olah menganggap Erina sangat pandai sampai bisa mengerjakan soal ujian semesternya dalam waktu singkat. Bahkan gadis itu sama sekali tidak meminta jawaban pada siapa pun sampai ujian berakhir.
Sepanjang ujian semester berlangsung, Roy selalu bersikap sama terhadap Erina seolah-olah ingin dekat dengan gadis itu. Tapi gadis itu hanya membalasnya dengan ucapan seadanya saat laki-laki itu mengajaknya berbicara. Alasan gadis itu membalas ucapan laki-laki itu pun hanya karena takut akan mengalami hal yang buruk di sekolah jika ia berani bertingkah macam-macam. Apalagi laki-laki itu adalah kakak kelasnya.
***
“Aku akan pindah semester depan,” kata Erina.
Ujian semester telah berakhir dan sekarang sudah memasuki masa-masa PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni) di sekolah mereka, sekaligus menunggu pembagian rapor. Hanya sekitar satu minggu sebelum mereka bertemu dengan masa-masa libur semester dan akhirnya memasuki semester baru. Itu artinya, hanya seminggu ini gadis itu akan tetap berada di sekolah ini.
“Kenapa?” tanya Gideon dengan tatapan tidak percaya pada gadis itu.
“Ayahku yang menyuruhku. Katanya biar lebih dekat,” jawab gadis itu bohong.
Lagi pula tidak mungkin ia menceritakan tentang kejadian yang ia alami sampai ada pengumuman yang dibuat mengenai parkiran motor saat apel pagi. Ia juga tidak siap harus berhadapan dengan Jeremy dan teman-temannya jika rumor tentang kejadian itu beredar di sekolah. Ia hanya akan menjadi pihak yang dirugikan jika hal itu terjadi.
Gideon mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Laki-laki itu tidak bertanya lebih jauh lagi setelahnya. Hanya keheningan di antara mereka. Pertengkaran kecil yang biasanya terjadi di antara mereka pun sudah tidak lagi terjadi akhir-akhir ini.
__ADS_1
***
Rumor tentang rencana kepindahan Erina menyebar dengan cepat di dalam kelasnya. Tidak sedikit teman-teman sekelasnya yang bertanya mengenai alasan di balik rencana kepindahannya yang terasa sangat mendadak. Jawaban yang sama seperti yang ia lontarkan kepada Gideon, juga ia lontarkan pada tiap orang yang bertanya padanya.
Ia menutup rapat-rapat alasan sebenarnya. Ia benar-benar tidak ingin bersinggungan dengan Jeremy dan teman-temannya di sekolah. Ia ingin menjalani hari-hari terakhirnya di sekolah dengan aman.
“Apa boleh aku menggantikanmu untuk sekali ini memimpin barisan?” tanya Gideon.
Erina tengah memimpin barisan saat ini. Ketua kelas mereka berhalangan hadir dan ia yang merupakan wakil ketua kelas langsung mengambil posisi paling depan sebelah kanan dari barisan murid-murid di kelasnya.
“Lagi pula, ini adalah hari terakhirmu di sekolah ini,” kata laki-laki itu.
Gadis itu tersenyum menatap Gideon. Ia menolak tawaran laki-laki itu dengan penuh senyuman yang menyembunyikan rasa sedih di dalam benaknya.
“Tidak. Tidak apa-apa,” katanya.
“Justru karena ini adalah hari terakhirku, untuk pertama dan terakhir kalinya, aku ingin memimpin barisan kelas kita.”
Tidak ada bantahan yang keluar dari mulut Gideon. Laki-laki itu pun menurut dan kembali masuk ke dalam barisan seperti sebelumnya.
Gadis itu menatap langit yang cerah hari ini sambil tersenyum.
‘Selamat tinggal sekolah yang selalu kuidam-idamkan saat masih di bangku Sekolah Dasar. Aku tidak akan pernah bisa kembali ke sini lagi,’ bisiknya dalam hati.
__ADS_1