
Erina menatap ke arah Gideon yang baru saja mematahkan pulpen miliknya. Suara patahan itu terdengar begitu jelas sampai semua orang yang ada di dalam kelas saat ini melirik ke arah laki-laki itu, bukan hanya dirinya saja. Alan yang tadi baru saja memberikan pertanyaan mengejutkan padanya pun tidak terkecuali. Semua menatap terkejut dan penasaran ke arah laki-laki yang bahkan mungkin tidak sadar jika ia sedang ditatap oleh semua orang yang ada di dalam kelas saat ini.
Tatapan laki-laki itu sangat terkejut dan hanya terdiam saking terkejutnya. Hal itu membuat beberapa orang merasa bahwa itu lucu karena menganggap laki-laki itu sendiri terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Mereka menahan tawanya apalagi saat Deo terus menyenggol laki-laki itu untuk mengembalikan kesadaran laki-laki itu dari keterkejutannya.
"I-iya," kata laki-laki itu menjawab panggilan guru barusan, setelah ia benar-benar tersadar dari keterkejutannya.
"Kamu main-main pas saya lagi mengajar, ya?" tanya guru yang tengah berdiri di depan papan tulis saat ini.
"Tidak, bu."
"Keluar kamu!"
Erina merasa ngeri dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Tidakkah guru yang saat ini sedang mengajar di dalam kelas mereka terdengar begitu galak? Tampaknya bukan hanya ia yang ngeri dengan apa yang terjadi dengan Gideon barusan, yang lain pun tidak ingin bermacam-macam dengan guru yang masih berdiri di depan kelas dan memberikan tatapan tajam ke arah Gideon saat ini.
Tidak ada bantahan yang keluar dari mulut laki-laki itu. Ia langsung berdiri dari posisi duduknya dan berjalan ke arah luar kelas. Ia menuruti dengan sukarela perintah guru barusan. Tatapan semua orang masih terarah ke laki-laki itu sampai ia benar-benar keluar dari dalam kelas dan tidak terlihat lagi.
PAKKKK... PAKKK..... PAKKK....
Pukulan sang guru di meja guru yang ada di depan kelas mengalihkan perhatian para murid di dalam kelas itu dan berhenti menatap Gideon yang telah mengihilang di balik pintu kelas barusan. Kelas semakin tegang setelah laki-laki itu diusir dari dalam kelas barusan. Tidak ada yang ingin bernasib sama seperti laki-laki itu.
"Kalau masih ada yang ingin macam-macam di dalam kelas ketika saya masih mengajar. Lebih baik kalian keluar saja! Saya lebih suka mengajar sedikit murid tapi dengar-dengaran dan betul-betul mau belajar dari pada banyak murid tapi tidak ingin belajar sama sekali."
Setelah berkata demikian, wanita paruh baya itu kembali melanjutkan menulis di atas papan tulis. Ia menjelaskan apa yang ia tulis begitu selesai. Suasana di dalam kelas benar-benar tegang dan hanya terdengar suara dari sang guru sepanjang pelajaran. Tidak ada satu pun yang ingin bertanya ketika sang guru memberikan kesempatan. Semua terlalu takut untuk sekedar berbicara bahkan kepada guru itu sekalipun.
"Kamu jangan suka sama aku."
__ADS_1
Erina menatap ke arah Alan yang tengah membereskan alat-alat tulis miliknya ketika jam pelajaran telah berakhir. Ia menatap tidak percaya ke arah laki-laki yang masih teguh dengan kesimpulan sepihaknya tadi. Ia menganga, tidak bisa berkata-kata setelah mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.
Alan menatap tajam ke arah Erina yang kesulitan berkata-kata saat ini dan menatap tidak percaya ke arahnya. Ia sangat yakin dengan kesimpulan yang telah ia buat. Apalagi bukan hanya satu atau dua kali ia memergoki gadis itu tengah menatap dirinya. Meskipun Erina langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain begitu pandangan mereka bertemu.
"Karena aku nggak bakalan pernah suka sama cewek kayak kamu. Harusnya kamu sadar diri," katanya angkuh sambil memberikan pandangan meremehkan ke arah laki-laki itu.
BUGHHH....
"Awh...."
Perhatian para murid yang masih berada di dalam kelas saat ini tertuju pada Alan yang tengah memegang betis kanannya setelah menjerit kesakitan. Erina baru saja menendang tulang kering kaki kanan itu sekuat tenaga dengan ekspresi murka. Wajah gadis itu bahkan sampai memerah karena amarah yang menumpuk di dalam benaknya saat ini.
"Yang suka sama kamu siapa juga coba?! Tidak usah terlalu kepedean! Kamu nggak seganteng itu sampai bisa bikin aku suka sama kamu. Cuihh!" Kata Erina sambil menunjuk-nunjuk ke arah Alan dengan kesal.
Murid-murid yang tadinya ingin pergi ke kantin pun tidak jadi setelah melihat keributan yang baru saja terjadi. Mereka berjalan ke arah Alan dan bertanya tentang apa yang baru saja terjadi kepada laki-laki itu. Tapi laki-laki itu tidak menjawab satu pun pertanyaan mereka. Ia berjalan meninggalkan kerumunan itu begitu kakinya sudah merasa lebih baik. Jujur saja, ia tidak pernah menyangka bahwa tendangan gadis itu akan terasa sesakit itu.
Senyum sinis terbit di wajahnya. Ia masih percaya dengan kesimpulan sepihaknya itu. Tapi, ia tidak berniat memberikan kesempatan sama sekali kepada gadis itu. Ia ingin gadis itu membayar apa yang baru saja ia lakukan terhadapnya.
***
"Kamu dari mana?" tanya Deo sambil merangkul bahu Gideon yang baru saja memasuki ruang kelas.
"Dari kantinlah, dari mana lagi coba?"
"Kamu ketinggalan sinetron tadi."
__ADS_1
"Huh?"
Gideon menatap heran ke arah Deo yang sedang sangat menggebu-gebu saat ini. Ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Apalagi ia sama sekali tidak tertarik dengan sinetron.
"Kamu suka 'kan sama Erina? Jujur aja deh," kata Deo.
"Apa sih?!"
Laki-laki itu segera menyingkirkan lengan Deo yang masih merangkul akrab bahunya saat ini. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan oleh laki-laki itu memang benar. Tapi ia masih tidak ingin mengakuinya.
"Jujur saja. Ngomong-ngomong ada apa sama Erina sama Alan?"
Pertanyaan itu segera menarik perhatian Gideon yang baru saja berjalan menjauhi Deo saat ini. Ia segera berbalik ke arah laki-laki itu begitu mendengar nama Erina dan Alan disebutkan oleh Deo. Ia menatap heran ke arah Deo yang saat ini sedang tersenyum lebar ke arahnya.
"Pasti ada sesuatu di antara mereka 'kan?" kata Deo menyusul Gideon yang berhenti melangkah usai mendengar nama Erina dan Alan ia sebut.
"Huh?"
"Tadi mereka berantem di dalam kelas pas kamu nggak ada."
"Berantem gimana?" tanya Gideon penasaran.
"Nggak tau juga bagaimana awalnya. Tadi Erina nendang kaki kanan si Alan sampai laki-laki itu teriak. Habis itu si Erina marah-marah sambil bilang kalau dia nggak suka sama Alan," jelas Deo.
Tanpa ia sadari, sebuah senyuman terbit di wajahnya. Gideon tersenyum usai mendengar bantahan tegas dari Erina terhadap pernyataan Alan yang mengatakan bahwa gadis itu menyukainya. Gideon mungkin tidak sadar, tapi Deo yang sedang berbincang dengannya saat ini menyadari hal itu dengan jelas.
__ADS_1