
Erina menatap ke arah teman-teman sekelasnya yang lebih memilih untuk menghabiskan uang jajan mereka dengan membeli makanan yang dijual di balik pagar sekolah secara sembunyi-sembunyi ketimbang pergi ke kantin sekolah. Mereka tampak puas dengan apa yang mereka dapatkan di luar gerbang sekolah.
Beberapa teman sekelasnya membeli sebungkus mi instan yang kemudian mereka buka dan sedikit menghancurkan bagian dalamnya. Setelahnya mereka membuka bumbu mi instan itu dan mencampurkannya dengan mi yang sudah mereka hancurkan tadi. Gadis itu sedikit terkejut melihat teman-temannya memakan mi itu mentah-mentah.
Meskipun ia dulu sekolah di sekolah dasar negeri saat masih SD, tapi ia jarang sekali melihat ada orang yang memakan mi instan seperti itu. Apalagi di sekolahnya sebelumnya (sebelum pindah) ia belum pernah melihat ada murid di sekolah itu yang memakan mi instan dengan cara seperti itu. Mereka biasa membeli yang sudah dimasak terlebih dahulu.
Memang terasa aneh baginya, tapi ia tidak menyuarakan isi pikirannya itu sama sekali.
“Kenapa kamu pindah ke sini? Di sana kan lebih bagus dari pada di sini,” tanya salah satu teman sekelasnya yang penasaran sambil mengunyah mi instan.
Gadis itu mengiyakan di dalam hatinya. Sekolahnya sebelumnya tentu jauh lebih baik, terutama dalam hal peralatan sekolah.
“Sekolah ini jauh lebih dekat dari rumahku ketimbang sekolahku sebelumnya,” katanya bohong.
Teman-teman sekelasnya hanya membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk mendengarkan alasannya yang dibuat-buat itu.
***
__ADS_1
Ding... Dong... Ding...
Bel masuk telah berbunyi, menandakan bahwa jam istirahat sudah usai. Meskipun demikian, murid-murid masih enggan untuk kembali ke tempat duduknya masing-masing. Mereka masih asyik melakukan aktivitasnya seperti sebelumnya, kecuali pergi ke kantin. Murid-murid yang tadi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong pun sudah kembali ke dalam kelas.
Tidak lama setelahnya, seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas. Wanita itu berambut bergelombang, mengenakan kacamata, serta membawa buku absen miliknya beserta buku paket materi yang akan ia ajarkan.
“Satu!” aba-aba ketua kelas.
Semua murid di dalam kelas itu mulai berdiri.
“Dua!”
Erina terakhir kali memberi salam dengan nada seperti itu ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Di sekolahnya sebelumnya, murid-murid selalu memberikan salam seolah-olah berbicara seperti biasa. Nadanya tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Bukan seperti menyanyi dengan nada panjang seperti barusan.
Terlalu banyak perbendaan membuat ia terus membanding-bandingkan kedua sekolah itu tanpa sadar. Itu membuatnya semakin tidak bisa menerima kepindahannya saat ini yang terkesan terpaksa. Meskipun ia tahu bahwa kedua orang tuanya memikirkan yang terbaik untuknya makanya memindahkannya ke sekolah ini.
“Tiga!”
__ADS_1
Murid-murid kembali duduk seperti sebelumnya sambil menunggu pelajaran dimulai.
Sang guru pun duduk di tempatnya lalu membuka absen miliknya. Ia mulai mengabsen satu per satu murid yang ada di dalam kelas itu. Erina pun tahu bahwa namanya tentu belum ada di dalam absen yang dibuat oleh guru itu khusus untuk mata pelajarannya. Namanya baru saja tercatat di dalam absen kelas tadi pagi.
“Bu! Ada murid baru,” kata salah satu teman sekelasnya.
“Namanya belum diabsen tadi.”
Ia bersyukur teman-teman sekelasnya yang baru berbicara sebelum diminta ketika guru itu telah selesai mengabsen nama murid-murid yang ada di dalam buku absennya.
“Sudah mau penaikan kelas tapi masih ada murid baru? Ada-ada saja!” kata guru itu.
Erina melongo mendengar apa yang baru saja guru itu katakan. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seburuk ini di hari pertamanya masuk ke sekolah ini.
Guru tersebut memulai pelajaran tanpa bertanya mengenai nama Erina. Ia tampak tidak tertarik untuk menuliskan nama gadis itu di dalam buku absen miliknya. Itu jelas membuat gadis itu merasa tersinggung dan sakit hati.
Teman-teman sekelasnya yang lain pun memilih untuk diam. Apalagi suasana hati guru itu tampak tidak begitu baik, nada suaranya pun tidak terdengar bersahabat sama sekali. Ia mungkin adalah salah satu guru yang ditakuti para murid di kelas ini.
__ADS_1
Gadis itu pun tidak berani protes. Ia tidak ingin banyak berulah di hari pertamanya masuk sekolah. Ia menyimpan rasa sakit hatinya itu tanpa membicarakannya sama sekali. Ia hanya menilai bahwa guru yang ada di depannya saat ini adalah guru yang tidak profesional sama sekali dalam mendidik murid-muridnya.
Itu bukan salahnya harus pindah di awal semester genap. Ini bahkan bukan masa-masa ujian dan masih awal semester. Bahkan ia bukan pindah di kelas tiga yang harus memikirkan masalah ujian dan kelulusan. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan guru itu atas kehadirannya di kelas saat ini.