Please Look At Me!

Please Look At Me!
Chapter 17


__ADS_3

Perasaan yang memang sudah tertanam di dalam hatinya, terasa makin meluap-luap dari hari ke hari. Ia tidak pernah menyangka bahwa perasaan yang diawali oleh rasa iri dan benci pada Alan akan berubah menjadi rasa suka seperti ini.


Sudah beberapa hari sejak ia mulai pindah ke sekolah barunya. Ia juga mendapatkan beberapa teman baru. Meskipun hampir semua orang mendekatinya karena ia berasal dari sekolah yang sangat terkenal di kotanya, tapi ia sadar bahwa apa yang orang-orang tunjukan di depannya tidak selalu sama dengan apa yang mereka tunjukkan di belakangnya.


Ia mungkin tidak memilih-milih teman untuk bermain. Tapi tetap saja, di antara teman-teman sekelasnya ada orang orang yang memang ia percayai dan benar-benar dekat dengannya. Mereka adalah Siti  dan Arum.


“Oh iya. Aku pernah melihat murid dari sekolah lamamu di dekat rumahku. Aku tidak yakin kamu mengenalnya,” kata Arum.


Erina terdiam sejenak. Murid-murid di sekolah lamanya tidak hanya satu atau dua orang, tidak mungkin ia mengenali mereka semua.


“Laki-laki atau perempuan?” tanyanya.


“Laki-laki.”

__ADS_1


Gadis itu terdiam sejenak. Rasa penasaran yang ada di dalam dadanya membuat ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Arum sebentar untuk mengetahui sosok yang Arum maksud.


***


Rumah Arum berada tidak jauh dari sekolah. Hanya perlu menyeberang jalan raya dan berjalan sebentar untuk sampai ke rumahnya.


Entah ini adalah hari keberuntungannya atau bukan. Sosok yang Arum maksud tengah duduk di depan salah satu rumah yang ada tepat di seberang jalan raya. Mereka bahkan tidak perlu menyeberang atau berjalan ke rumah Arum untuk mengetahui sosok itu.


“Iya. Kamu kenal?”


Jantung gadis itu berdebar tidak karuan tatkala melihat sosok itu. Itu adalah sosok yang selalu menunjukkan sikap tidak tertarik padanya selama ini. Dan itu adalah sosok yang juga telah menggetarkan hatinya selama beberapa hari belakangan ini. Tidak. Mungkin lebih lama dari itu, hanya saja ia baru menyadarinya beberapa waktu belakangan ini.


Melihat reaksi Erina yang tampak tak biasa, Siti menyenggol lengan Arum. Keduanya bahkan tidak perlu berbicara untuk mengerti pikiran satu sama lain saat ini. Mereka hanya tersenyum usil karena memiliki pemikiran yang sama.

__ADS_1


“Kamu naksir sama dia?” tanya Arum.


Erina tidak menyangkal karena itu memang benar. Tapi ia tidak ingin Alan mengetahui tentang perasaannya saat ini. Ia menatap tajam ke arah kedua temannya agar menutup mulut mereka dan tidak menggodanya saat laki-laki itu berada tidak jauh dari mereka dan mungkin masih bisa mendengar apa yang mereka katakan.


“Aku ke rumahmu lain kali saja, ya?” kata Erina mengalihkan pembicaraan.


“Oke.”


Arum dan Siti terus menahan tawanya melihat gadis itu salah tingkah. Wajah gadis itu bahkan sampai memerah karena menahan rasa malu.


Erina makin salah tingkah ketika Alan mengangkat wajahnya dan membuat mata mereka saling bertemu. Erina segera mengalihkan pandangannya ke sembarangan arah dan berjalan dengan tergesa-gesa ke arah motornya terparkir di depan sekolah. Ia ingin segera pulang hari ini.


Arum dan Siti tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah kikuk gadis itu. Mereka tertawa geli melihat tingkah Erina saat ini. Gadis itu tampak salah tingkah hanya karena kedua matanya bertemu dengan mata Alan yang tengah duduk di depan rumahnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2