Please Look At Me!

Please Look At Me!
Chapter 13


__ADS_3

"Ibu dan ayah sudah memutuskan bahwa kamu akan pindah sekolah semester depan. Terus bersekolah di sana tidak menjamin keselamatanmu."


Erina cukup terkejut dengan apa yang diucapkan oleh ibunya. Tidak pernah ada pembahasan itu sebelumnya. Ia hanya diminta untuk tidak masuk sekolah hari ini. Tidak ada pembahasan mengenai pindah sekolah atau lainnya.


"Keputusan ini sudah bulat. Ayah tadi juga sudah bicara sama kepala sekolah kamu."


Tidak ada bantahan yang keluar dari mulut gadis itu. Ia sadar bahwa tujuan orang tuanya menyuruhnya pindah sekolah semester depan adalah untuk keselamatannya sendiri. Tapi tetap saja, ia merasa sedih di dalam hatinya. Ia sudah memutuskan bersekolah di tempat itu karena itu adalah sekolah paling favorit di kotanya dan disetujui oleh orang tuanya, tapi ia justru keluar dari sekolah itu demi keselamatannya sendiri.


‘Memang kekuasaan orang berpengaruh semengerikan itu,’ batinnya.


***


Gadis itu sudah kembali masuk ke sekolah hari ini. Tinggal beberapa hari lagi, ujian semester ganjil akan dilaksanakan. Itu artinya tinggal sebentar lagi waktu yang akan dia habiskan di sekolah ini. Sekolah yang menjadi tempat impiannya saat masih di bangku sekolah dasar.


Meskipun tinggal menghitung hari sebelum ia meninggalkan sekolah itu. Tapi ia tidak memiliki niat sedikit pun untuk memberi tahu teman-temannya yang lain. Apalagi ia memang tidak memiliki teman dekat di antara teman-teman kelasnya di dalam kelas. Itu termasuk Gideon yang selalu bertengkar dengannya untuk alasan remeh.


Ia mengunci rapat-rapat mulutnya sampai saat kepindahannya nanti. Rasa sedih masih ia rasakan, tapi ia tidak ingin memperlihatkannya pada siapa pun. Tidak ada tempat baginya untuk mengadu tentang perasaannya saat ini. Ia juga tidak ingin memberi tahu orang tuanya bahwa sejujurnya ia masih ingin bersekolah di sekolahnya saat ini mengingat ia sudah hampir mencelakai ayahnya dengan mulutnya yang sembrono sebelumnya.


“Selamat pagi, Pak.” Ia menyapa kepala sekolah yang baru saja lewat di koridor kelasnya ketika ia sedang piket.

__ADS_1


Laki-laki paruh baya itu hanya tersenyum kepadanya tanpa membalas salamnya. Tapi itu sudah membuat hati gadis itu menghangat, apalagi orang tuanya menceritakan bagaimana reaksi laki-laki itu ketika mendengarkan cerita tentang bagaimana Jeremy mengusili motornya sampai tidak bisa pulang.


Ding... Dong... Ding....


Bel masuk berbunyi. Ia dan teman-teman sekelasnya bergegas menuju lapangan untuk melaksanakan kegiatan apel pagi yang memang sering diadakan sekolahnya dari dulu. Bahkan mereka juga harus mengikuti apel siang sebelum pulang ke sekolah.


Apel pagi itu sama seperti biasanya, diisi oleh amanat dari kepala sekolah dan doa pagi. Meskipun kepala sekolah adalah posisi tertinggi di sekolahnya, tapi orang yang paling berpengaruh adalah guru agama di sekolahnya. Wanita gemuk, berambut ikal, mengenakan kacamata dan selalu berekspresi galak itu adalah orang yang dekat dengan pemilik yayasan sekolahnya. Tidak heran jika ia memiliki pengaruh yang sangat besar di sekolahnya.


Hanya saja wanita itu tidak begitu ramah pada semua murid. Ia hanya ramah pada anak-anak kaya dan dari keluarga berpengaruh di sekolahnya.


“Ada sesuatu yang mau saya sampaikan pagi ini,” katanya sebelum kegiatan apel pagi selesai.


DEG!


Rongga dadaku terasa ngilu. Meskipun wanita itu tidak menyebutkan secara spesifik masalah apa yang telah terjadi belakangan ini. Tapi ia cukup tersinggung dengan apa yang dikatakan wanita itu. Apalagi cara wanita itu berbicara seolah-olah tiap orang yang bermasalah tentang kendaraannya yang terparkir di luar sekolah sering menuntut pertanggungjawaban dari pihak sekolah terkait dengan masalah itu.


Hatinya yang tadi sempat menghangat karena mendengar bagaimana tanggapan dari kepala sekolahnya ketika orang tuanya menceritakan masalah yang tengah ia alami, langsung dingin. Ia tidak mengharapkan orang-orang dewasa yang ada di sekolahnya untuk membelanya atau bertanggung jawab atas masalah yang ia alami. Tidak. Sama sekali tidak. Ia pun yakin kedua orang tuanya juga demikian, karena itu bukanlah masalah yang disebabkan oleh pihak sekolah.


Akan tetapi mendengar perkataan orang yang memimpin sebelum apel pagi ini berakhir. Ia menyadari dengan sungguh bahwa ia memang tidak seharusnya berada di tempat ini. Ia yang tidak terlahir dari keluarga kaya raya atau terlahir dari keluarga yang berpengaruh, tidak seharusnya ada di tempat ini dan berbaur dengan yang lainnya.

__ADS_1


Ia tersadarkan bahwa keputusan orang tuanya untuk memindahkannya ke sekolah lain adalah keputusan yang bijak. Meskipun demikian, ia tidak serta merta senang dengan keputusan itu. Hatinya benar-benar terasa sakit karena dipaksa memilih pilihan yang sebenarnya tidak dia inginkan sama sekali.


Usai berkata demikian, wanita itu mengakhiri kegiatan apel pagi ini. Semua murid dipersilahkan bubar dan masuk ke dalam kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.


Erina berjalan bersama teman-teman sekelasnya yang lain. Ia tidak menunjukkan ekspresi sedih atau kecewa dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia juga tidak berniat untuk menceritakannya pada siapa pun. Tidak ada tempat baginya untuk mengadu. Semua harus ia pendam sendirian.


***


Kelasnya tengah berisik karena jam istirahat sendang berlangsung. Gadis itu hanya diam di tempat duduknya sambil mencoret-coret halaman belakang buku tulisnya dengan gambar-gambar yang ia buat sendiri. Ia tidak pergi ke kantin atau berbaur bersama murid-murid lainnya untuk bercerita. Ia selalu menabung uang jajannya dan memang tidak memiliki teman dekat untuk diajak bercerita seperti murid-murid lain di dalam kelasnya.


“Erina,” sama Sherin.


“Kamu ada penghapus?” tanyanya.


Gadis itu merogoh saku roknya untuk mengeluarkan penghapus yang tadi ia masukkan ke dalam saku roknya. Selembar uang sepuluh ribu rupiah tidak sengaja keluar dari dalam sakunya dan terjatuh. Ia segera mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam sakunya. Itu adalah uang jajan yang ia kumpulkan hampir seminggu ini.


“Tumben kau banyak uang,” kata Sherin.


Erina sadar kalau teman-teman sekelasnya ternyata menyadari seberapa miskin dirinya. Ia kembali tersadar bahwa memang sekolah ini bukan tempat yang memang layak untuk orang seperti dia tempati. Ia hanya membalas perkataan Sherin dengan kekehan canggung.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum miris sambil menahan rasa sakit dan tersinggungnya atas ucapan Sherin barusan. Tapi ia tidak bisa membantah apa yang gadis itu ucapkan padanya. Untuk mendapatkan selembar sepuluh ribu rupiah ia harus menahan lapar saat jam istirahat selama lima hari. Sedangkan bagi teman-temannya yang lain, itu adalah jumlah uang yang biasa mereka habiskan di kantin untuk satu hari saja. Bahkan tidak sedikit yang membawa uang jajan lima kali lipat atau sepuluh kali lipat dari jumlah itu.


__ADS_2