Please Look At Me!

Please Look At Me!
Chapter 6


__ADS_3

Erina melirik Alan yang tengah sibuk bercengkrama dengan teman-teman sekelasnya yang lain. Ia memperhatikan betapa laki-laki itu sangat ramah dengan orang lain, kecuali dengannya dan Gideon. Ia belum tahu pasti apa yang membuat keduanya kurang akrab, tapi ia tidak memiliki keberanian untuk bertanya alasan di balik aura permusuhan yang samar-samar yang tercipta di antara keduanya.


Belakangan ini semakin ia membenci laki-laki itu, semakin ia sering memperhatikan gerak gerik laki-laki itu. Anehnya setiap tatapan mata mereka bertemu, ia langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia lebih sering langsung menunduk begitu tatapan mereka bertemu. Mungkin laki-laki itu sadar kalau dia sedang diperhatikan olehnya sehingga laki-laki itu balas menatap ke arahnya.


"Kenapa kamu lihat-lihat, huh?" tanyanya begitu anak-anak yang berkerumun di sekitarnya sudah pergi dan hanya menyisakan dirinya dan Erina.


Gadis itu memutar malas matanya begitu mendengar pertanyaan yang diajukan oleh laki-laki itu. Ia berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. Ia memilih untuk meletakkan kepala dan lengannya di atas mejanya, menutup mata, lalu tertidur. Ia tidak ingin membahas hal itu dengan laki-laki menyebalkan yang ada di sebelahnya saat ini.


Alan mengendikkan bahunya begitu ia tidak mendapat jawaban apa-apa dari Erina yang tampaknya sudah tertidur. Ia ikut meletakkan kepalanya di atas meja dengan kedua lengannya menjadi tumpuan untuk kepalanya. Ia berbalik membelakangi Erina yang sudah tertidur lebih dulu, kemudian ikut tertidur setelahnya.


Gideon menatap tajam ke arah keduanya. Bukan ia tidak menyadari bahwa akhir-akhir ini Erina sering diam-diam memperhatikan laki-laki yang ada di sebelahnya itu. Gadis itu juga akhir-akhir ini lebih jarang mengobrol dengannya mengingat keduanya terkadang bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting sama sekali. Tapi ia menyukainya.


"Kamu kenapa ngeliatin mereka kayak begitu?" tanya Deo bingung dengan teman sebangkunya itu.


"Tidak apa-apa," kata Gideon yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Deo.


"Kamu suka sama Erina, ya?" tanyanya menggoda Gideon yang saat ini tengah menatap Erina yang masih tertidur.


"Nggaklah," bantahnya sambil mengalihkan pandangannya pada gadis itu.


Ia hanya merasa nyaman dan sedikit tertarik saja dengan gadis itu. Ia tidak ingin mengatakan bahwa perasaan tertariknya pada Erina adalah perasaan suka. Ia ingin menganggapnya sebagai sekedar perasaan tertarik semata, tidak lebih dari itu.

__ADS_1


Deo mengangguk-anggukkan kepalanya usai mendengar bantahan tegas yang dikatakan oleh laki-laki itu. Ia juga tidak begitu peduli sebenarnya dengan perasaan laki-laki itu. Apalagi Erina tampaknya tidak begitu tertarik dengannya.


***


Gadis itu kembali melirik diam-diam ke arah Alan yang duduk di sebelahnya. Ini masih jam pelajaran, jadi tidak ada anak-anak yang biasanya mengerumuni laki-laki itu. Entah mengapa ia jadi makin sering memperhatikan laki-laki itu seolah-olah ia kecanduan untuk sekedar menatap laki-laki yang ada di sebelahnya itu.


"Kamu mau ngomong sesuatu?" tanya Alan yang sibuk mengerjakan tugas miliknya, lebih tepatnya menyalin milik temannya ke dalam bukunya untuk ia kumpulkan sebentar.


Erina terdiam, ia tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan oleh laki-laki itu. Sama seperti biasanya, ia berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berpura-pura tidak pernah diam-diam melirik ke arah laki-laki itu. Hubungannya keduanya masih saja belum baik, tapi juga tidak bertambah buruk. Keduanya mungkin adalah teman sebangku yang sama sekali tidak akrab dan yang paling tidak akrab dari semua orang di dalam kelas mereka yang juga duduk sebangku.


Keduanya seperti minyak dan air yang begitu berbeda dan tidak bisa disatukan. Suasana di sekitar keduanya masih begitu canggung untuk sekedar mengobrol biasa layaknya teman sebangku, atau mungkin layaknya teman sekelas. Entah karena gengsi yang tinggi atau memang keduanya saling membenci sampai seperti ada jarak yang tak kasat mata membentang luas di antara keduanya sampai sekarang.


"Aku tahu kok kamu sering liatin aku belakangan ini," kata Alan dengan tatapan yang masih terfokus pada tugas yang tengah ia salin.


"Kamu naksir sama aku?" tanya Alan.


Laki-laki itu berhenti menulis dan mengangkat wajahnya. Ia menatap ke arah Erina yang sedang fokus dengan papan tulis saat ini. Gadis itu masih berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ia berpura-pura tidak mendengar pertanyaan yang baru saja diajukan oleh laki-laki itu.


"Diam berarti iya."


Gadis itu langsung menatap tidak percaya ke arah laki-laki itu. Ia tidak percaya dengan kesimpulan sepihak yang baru saja dibuat oleh laki-laki di sampingnya itu. Ia menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

__ADS_1


Bukan hanya dia. Gideon yang sejak tadi memperhatikan keduanya pun tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Genggaman laki-laki itu pada  pena miliknya makin mengeras begitu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.


CTAKKK.....


Semua mata langsung tertuju pada Gideon yang duduk di bangku paling belakang di dalam kelas. Tidak terkecuali guru yang sedang mengajar saat ini. Semua terkejut dengan suara pena yang patah di dalam genggaman laki-laki itu saat ini.


"Gideon!" tegur sang guru.


"Woy!"


Deo menyenggol laki-laki itu. Ia benar-benar tampak sangat terkejut sampai tidak sadar dengan situasinya yang sedang menjadi pusat perhatian saat ini. Deo terus menyenggol laki-laki yang ada di sebelahnya itu agar ia sadar dan setidaknya balas menatap ke arah guru yang sedang menatapnya saat ini.


"I-iya," kata laki-laki itu setelah tersadar dari keterkejutannya.


"Kamu main-main pas saya lagi mengajar, ya?"


"Tidak, bu."


"Keluar kamu!"


Tidak ada bantahan lebih jauh lagi. Laki-laki itu menuruti perintah sang guru untuk keluar dari dalam kelas. Ia tidak ingin membuat masalah hari ini.

__ADS_1


Jantungnya terus berdegup kencang sejak tadi. Rongga dadanya terasa ngilu. Ia memegang dadanya yang terasa nyeri setelah mendengar apa yang baru saja Alan katakan pada Erina. Hal yang lebih membuatnya terkejut adalah tidak ada bantahan yang ia dengar dari mulut gadis itu, bahkan sampai ia sudah berjalan keluar kelas.


Bukannya ia tidak tahu apa yang tengah ia rasakan saat ini. Tapi ia masih ingin menyangkalnya. Ia tidak ingin mengakui perasaannya pada gadis itu karena menurutnya gadis itu sangat tidak sesuai dengan kriteria gadis yang ia sukai. Ia belum ingin mengakuinya, tapi ia juga tidak ingin gadis itu bersama orang lain. Katakanlah ia egois, karena ia memang begitu.


__ADS_2