
Bryan Edzard Gunadhya, 33 Tahun, Pria yang tegas, kejam, kasar, Posessive, tidak suka di bantah tanpa terkecuali, menuruti semua perintah, melanggar sekali PECAT tanpa komitmen sama sekali.
Helen Jovanka Kimberly, 24 Tahun, Wanita yang tegas, kasar, Galak, Jutek, Keras kepala, ceroboh, benci dengan sifat Boss nya satu ini si Bryan. Posisi Sekretaris kacung. Semua pekerjaan ia yang Handel tanpa ada kecuali.
Selama bekerja dengan di PT. Bryant Group. Helen selalu di segani oleh para karyawan tersebut. Karena Bryan tidak suka Helen dekat dengan karyawan yang pangkat nya rendah. Helen jadi terikat dengan Bryan. Kalau bukan karena tulang punggung keluarga mungkin Helen tidak akan pernah berjumpa dengan namanya Bryan tersebut.
****
"Pak, jadwal hari ini, jam 1 siang, makan bersama dengan Pak Surya dari PT. Hana Grup, jam 2 siang, seminar di PT. Jasa Grond sampai jam 3 sore, Jam 4.30 sore, nyonya Friska meminta untuk dinner di restoran Sunda. Itu saja, Pak yang saya sampaikan," ucap Helen memberitahukan jadwal untuk hari ini di buku agendanya.
"Baiklah, untuk jam 4.30 di batalkan saja. Saya ada janji dengan seseorang," kata Bryan tanpa melihat.
"Tapi, Pak?" Helen ingin membantah, tapi, Bryan sudah menatapnya bagai ular siap mematok nya.
"Baik, Pak," Helen mencoret jadwal dinner dengan Friska.
"Ada lagi, Pak?" tanya Helen sebelum ia kembali ke meja kerja nya.
"Tidak, kamu boleh kembali bekerja," jawabnya tanpa menoleh.
"Jika begitu, permisi, Pak." Berlalu Helen keluar dari ruangannya.
Helen meletakkan buku agenda di atas mejanya, ia sungguh sangat kesal sama Bryan. Bagaimana seenaknya batalkan dinner dengan Friska. Helen kehabisan akal untuk mencari alasan agar Friska percaya lagi kalau Bryan senang sibuk. Sudah di gunakan semuanya. Helen terus berpikir, ini benar merepotkan baginya. Bryan sialan - umpatannya bertubi-tubi.
Friska Aurora Sakina Putri, adalah tunangan Bryan yang baru saja di selenggarakan bulan kemarin. Friska adalah anak tunggal dari PT. Angkasa cup. Yang paling besar di provinsi Kalimantan Barat.
Perjodohan ini hanya kaitan dengan bisnis PT Bryant Group. Desakan dari para orang tua tidak pernah memberi kesempatan untuk memilih yang terbaik. Bryan yang tegas dan keras, sulit jika kemauannya tidak diinginkan malah dapat makian adalah Helen. Selain itu Bryan, Pria penuh seksualisme. Helen lebih ingin jauh - jauh dari dekatnya. Kalau kenyataan Boss nya itu type possesive banget. Terlanjur bekerja tidak mudah untuk keluar kalau tidak ingin di suruh bayar 100Milliar rupiah. Orang kaya mah bebas.. Orang sederhana mah bersujud terus.
Nasibmu di tangan diri sendiri - Batin Helen dalam hati.
__ADS_1
Kriingg... Kriingg... Kriingg...
Telegram berbunyi menyadarkan lamunan Helen.
"Ya, Pak," jawab Helen menyalin apa yang di pesan oleh Bryan saat ini.
Di tutup kembali, Helen menghela napas nya panjang. Berdiri kemudian meminta data keuangan pada Karyawan lainnya. Benci sebenarnya Helen sama pekerjaan tersebut. Terlalu banyak mengeluh jadinya ditahan hingga ia benar tidak kuat menjadi Sekretaris nantinya.
"Cin, Pak Bryan minta data keuangan bulan ini," ucap Helen seperti mengatur karyawan saja.
Cindy menyerahkan berkas pada Helen dengan mood tidak baik. Helen mengambil dengan senyuman. Semua karyawan tidak ada yang boleh masuk ke ruangan Bryan terkecuali kesalahan. Banyak gosip beredar, ada yang gosip Helen adalah simpanan boss, ada yang gosip sudah tidak suci, ada yang gosip sok cantik makanya di sayang sama boss. (terlalu sirik kali ya. ampe urusin orang lain. Plak!)
Helen sudah terbiasa dengan gosip yang tidak jelas dengan faktanya. Walau mereka semua tidak suka kalau Helen di posisi sebagai sekretaris. Itu awal ia lamar disini juga tidak ingin sebagai sekretaris, kalau bukan yang pilih itu di Bryan sendiri. Helen masuk ke dalam ruangan Bryan tanpa mengetuk.
"Ini Pak laporan keuangan bulan ini." Helen meletakkan berkas di atas meja Bryan. Bryan melihat dan mengecek secara teliti satu kerutan di alisnya melipat kan ganda. Menatap Helen sekali kemudian melihat angka di sana.
Helen kaget saat Bryan menggebrak meja itu.
"Panggil Cindy!" pinta Bryan dingin. Helen langsung menelepon Cindy. Cindy mengangkatnya.
"Cin, Boss memanggilmu. Segera menghadap," ucap Helen memberitahukan pada Cindy. Cindy menutup kembali dan tersenyum pada yang lain.
Cindy masuk ke dalam setelah mengetuk pintu. Menghadap Bryan di sana. Tentu Helen masih di ruangan Bryan tersebut. Berdiri tidak jauh dari duduk Bryan.
"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini??" tanya Bryan dengan nada mood tidak baik. Bisa Helen hapal dengan baik
__ADS_1
"Tidak Pak," jawab Helen gugup.
"Laporan apa ini?! Apa kamu, memakannya?! Kamu korupsi?! JAWAB?!!" bentak Bryan membuat Cindy semakin berkerut kening.
"Korupsi, tidak Pak. Saya tidak pernah korupsi. Saya periksa kembali semua sudah benar tidak ada yang salah," jawab Cindy gugup.
"Masih mengelak lagi, sudah jelas saya lihat angka di dalam berkas laporanmu itu. Berapa milliar rupiah, bisa kamu tulis sejuta rupiah?? Korupsi uang puluhan juta kamu diam, tapi mulut busuk kamu itu tidak pernah bisa diam. Mulai sejak kapan kamu kerja sebagai bahan gosip, heh?!" Bryan mulai bertanya pada Cindy. Cindy terdiam kaku. Helen sendiri juga tidak tahu gosip apa dari Cindy.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja lagi. Dan singkirkan semua barang - barang yang ada di mejamu. Jangan sampai saya melihatnya lagi!" titahnya Bryan tega memecat Cindy.
"Tapi, Pak." Cindy ingin membantah,
"Tidak ada gaji pesagon." Potong nya.
Membuat Cindy semakin lemas kedua kakinya. Saat akan keluar, Cindy melirik tajam arah Helen. Cindy sangat benci pada Helen.
Ini semua gara kamu! ~ batin Cindy serasa benci pada Helen.
"Pak, keterlaluan banget sih, jadi manusi ..." Helen memarahi Bryan, ia sudah kehabisan akal. Kalau pun di suruh pecat, pecat saja, Helen tidak tahan dengan sikap Bryan sesukanya.
"Kamu mau saya pecat juga?" tanya Bryan menatapnya tajam.
"Silakan, saya tidak takut. Saya sudah lelah kerja di sini. Tingkah sikap bapak tidak pernah menghargai orang bekerja susah payah!" jawabnya menantang. Helen tidak takut dengan tatapan iblis Bryan. Bryan menatap Helen cukup lama.
"Keluarlah, saya butuh sendiri," ucap Bryan lembut dan pelan.
Helen pun keluar, mencoba meminta Cindy untuk tidak pergi. Tapi di sana semua mengolok-olok Helen. Katain dia pelacurlah, iblislah, rubahlah, dan sebagainya. Cindy berkerja di sini untuk membiayai pengobatan ibunya harus sirna dari pecatan si boss iblis itu.
__ADS_1
Ini semua gara-gara kamu! - Batin Helen Kesal.