Posesif Bos

Posesif Bos
Bos Gila


__ADS_3

Ceklek!



Daun pintu dari ruangan Bryan terbuka, Helen langsung berdiri memberi hormat untuk Beliau dan Friska serta Bryan tentunya. Bryan berasa di belakang Beliau, sedangkan Friska berada di sebelah Bryan dengan amat manja pokoknya. Helen sih tidak terlalu pengaruh dengan adegan manja itu. Yang dia fokuskan adalah prinsip kinerja sebagai sekretaris profesional.



Beliau bernama Johannes Edzard Gunadhya. Sikapnya biawa dan penuh kepimpinan, meskipun di usianya sudah mencapai lima puluhan. Postur tubuhnya masih tetap dan ada uban terselip di rambut hitamnya. Wajahnya lumayan ganteng seperti Bryan. Ya tentu dong gantengan anaknya. Karena mungkin sudah berumur jadinya wajah kulitnya mulai ciut keriput.



Johanes selalu melakukan kedua tangan di belakang dan memantau sekitar kantornya, Helen dan Bryan terpisah dengan divisi lain. Karena memang sudah sistem seperti itu sebelum perusahaan di dirikan memang Beliau berkeinginan untuk seperti ini agar divisi lain bisa bekerja semaksimal. Namun jangan salah selain terpisah CCTV ada di mana - mana. apalagi suara terekam dengan jelas.



Johannes menatap Helen, Helen menunduk tentu memberi hormat bukan karena takut dengan beliau yang matanya tajam seperti Bryan ingin mematok mangsanya.



****



Waktunya jam istirahat, Helen mulai pergi mencari makan di kantin lantai atas yang memang tersedia di gedung ini. Perut serasa sangat lapar, kali ini Helen bebas dari Bryan. Karena Bryan, beliau dan tunangannya sedang makan siang bersama.



Helen duduk di pojok paling sepi hanya pojok doang khusus untuknya sendiri. Agar bisa menghindari desas - desus dari para divisi tengah siap untuk bergosip.



"Kamu tadi lihat Ayah Bryan, tidak. Benaran keren habis. Tapi dia itu tegas banget. Sedikit saja kita bersuara lebih parah dari Pak Bryan." Satu suara mulai terdengar di telinga tajam milik Helen.



"Benarkah? Seram dong! Jadi kalau kita bersuara "A" doang, suara di penggal sama dia?"



"Iya bisa jadi. Apalagi kamu tidak dengar satu divisi bagian accounting di pecat karena menggosip soal sekretaris nya. Di ruangan kerja kita banyak CCTV bersuara. Jadi harus hati - hati jika ingin menggosip."



"Waah ... Seram banget. Tapi, benaran loh kalau kerja di sini memang harus ketat. Apalagi SOP nya itu lebih ketat dari perusahaan lain."



"Ssstt ... kalian kalau mau gosip lihat keadaan. Di sana sudut ada sekretaris nya sedang mendengar dengan baik loh. Kalau kalian tidak ingin mendapat penggalan dari Pak Bryan."


__ADS_1


Helen baru selesai makan, dia mulai bersiap kembali ke tempat kerjanya. Sebelum itu ia ke kamar kecil dulu. Semua yang ada di kantin memperhatikan dirinya. Helen cuek saja tidak ada yang salah dengan sikap penampilan nya.



****



Bryan seperti cacing kepanasan duduknya tidak nyaman karena Friska terus lengket sama dia. Entah apa yang di lengket kan, Bryan yang mau makan pun sulit di cerna olehnya sendiri. Belum lagi Ayahnya yang dari tadi cengkerama dengan ayah Friska. Begini yang paling di benci sama Bryan, terlalu cepat bertunangan dan terlalu cepat pulang menikah dengan orang yang dasar tidak ada namanya cinta.



Bryan merindukan sekretaris nya si Helen kira - kira si Helen sudah makan apa belum. Kan, yang gaji dirinya dia sendiri. Kalau di pikir-pikir bandingkan Friska dan Helen. Helen lebih pantas jadi istrinya Bryan. Karena Helen telaten banget, segalanya bisa di lakukan. sedangkan Friska sudah manja, segalanya tidak mau di kerjakan lebih mementingkan kecantikan di tubuhnya.



Kalau sudah menjadi istrinya Bryan mungkin bisa mati berdiri atas sikap Friska. Yakin tidak perlu meramal dukunnya. Karena Bryan benar tidak menyukai sikap Friska. Bisa dikatakan Friska itu cocoknya jadi adiknya saja.



Mungkin Bryan bisa negosiasi sama ayahnya untuk menunda dulu rencana pernikahan, soalnya, Bryan asli tidak ada rasa terhadap Friska. Bryan lebih baik jomblo tua daripada harus menikah dengan wanita yang kekanak-kanakan.



Dua jam kemudian, akhirnya Bryan terbebas dari kandang gorila. Bryan bisa kembali melihat mata manja yaitu Helen. Helen dengan sibuk sama pekerjaannya yang hampir selesai. Helen tidak menyadari kalau Bryan sudah kembali dari cara makan bersama dengan keluarga.




Helen tidak menggunakan mobil pribadi karena semalam dia menginap di apartemen Bryan gara-gara lembur. Sekarang Helen terpaksa menggunakan Grab Online. Keluarkan recehan lagi.



TIIINNN .... TIIINNN...



Helen terperanjat kaget suara klakson membuat dirinya menoleh, sebuah mobil milik bos nya. Benaran Helen bikin jantungnya dari normal harus kembali menurun. Mobil Bryan berhenti di sebelahnya tentu Helen makin was-was sama dia. Mau apa lagi coba.



"Masuk!" Instruksi dari Bryan, tetap tidak buat Helen untuk menurut. Soalnya masih ada karyawan lain belum pada pulang.



Bryan turun dan membuka pintu untuk Helen, Helen tentu bingung dan panik dong sama pemaksa ini.



"Tapi, Pak ..." Bryan tetap meminta nya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1



"Masuk, atau saya cium kamu!" Ancaman buat Helen terdiam akhirnya menurut juga. Daripada di cium di depan umum. Bisa hilang nama dirinya di gedung PT. Bryant Group.



Bryan senyum berhasil mengerjai sekretaris nya lagi. Ini yang di sukai Bryan, selain itu lucu. Kalau saja di pertemukan lebih cepat mungkin Bryan sudah memilih Helen jadi pendamping hidupnya.



Dalam perjalanan, Helen lebih banyak diam sibuk sama gadgetnya. Eric mengchating di aplikasi whatsapp. Tentu bikin Bryan penasaran sama Helen.



Helen senyum - senyum sama chat-chatingnya Eric. Sudah lama sih tidak komunikasi satu angkatan. Mungkin sudah hampir tiga tahun.



Bryan mendadak berhenti membuat Helen tersentak maju ke depan. Untuk terpasang sabuk pengaman. Bryan langsung ambil ponsel milik Helen.



"Pak, setirnya yang benar dong! Nyawa saya masih mau di pakai!" Helen langsung menyadari kalau Bryan sedang membaca chatingan dengan Eric.



"Oh ... jadi kamu ada hubungan spesial sama pria culun itu?" Bryan sepertinya cemburu banget sama chatingan Eric sama Helen.



"Apaan sih! Bukan urusan Bapak! Terserah saya mau berhubungan dengan siapa. Tidak termasuk Bapak juga!" Bantah Helen merampas ponsel dari tangan Bryan.



"Begitu. Jadi siapa saja ya. Baiklah, mulai besok kamu jadi asisten pribadi saya. Tidak ada bantahan ataupun penolakan!" ucap Bryan berubah jadi datar.



"Loh, tidak bisa begitu dong, Pak!" Helen tidak terima. Mana bisa suka berpindah - pindah sih?



"Atau mau di potong gaji, mungkin bisa." potong Bryan



BAM!!!!



Helen kesal pintu di banting sama dia, Bryan senyum tipis yang sangat panjang. Hari - hari Helen belum berakhir akan bertambah lagi.

__ADS_1



__ADS_2