
Helen bolak-balik dari tempat tidurnya, dirinya tidak bisa tidur mengingat kejadian tadi di apartemen Bryan. Di sentuh bibirnya masih ada cap-kecupan dari Bryan.
Jantungnya juga berdebar terus tidak mau berhenti. Helen menutup matanya dengan punggung lengannya.
"Apa yang aku lakukan?! Kenapa bisa seperti ini?!" gelantur Helen bicara diri sendiri.
"Apa ini aku sudah mulai jatuh cinta?? Tidak, tidak, mana mungkin suka sama Big Boss sinting itu? Kenapa dia lakukan itu?! Arghh!!" Helen bangun dan duduk sambil mengacak rambutnya karena frustrasi memikirkan kejadian di apartemen Bryan.
Sedangkan Bryan posisi berbaring menatap langit kamarnya, merasakan ciuman panas beberapa menit yang lalu.
"Rasanya manis, kenyal dan seperti gulali." gumam Bryan
"Dia cantik, manis, sepertinya aku suka sama dirinya," lanjutnya bergumam.
*****
Esok paginya, Helen bergegas berangkat ke kantor. Gara semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian di apartemen Bryan. Membuatnya terjadi kantung mata di bawahnya.
Sampai di kantor, berpapasan pulak Helen dan Bryan di dalam lobi gedung tersebut. Helen yang sudah terlambat dua menit tidak biasanya.
Untung bisa di rem mendadak, kalau tidak, kembali terjadi lagi seperti semalam. Apa yang kamu pikirkan sih ~ celetuk Helen dalam hati memarahi sendiri.
"Selamat pagi, Pak." Seperti biasa Helen menghormati dan menyambut hangat di pagi hari.
Kalau Bryan jangan di heran lagi, ekspresi tetap garang dan datar. Padahal di dalam dirinya senyum tipis.
Bryan masuk ke dalam lift lalu di susul oleh Helen kemudiannya. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Helen seperti biasa tidak terlalu bawa suasana di dalam. Bedanya dengan Bryan, Bryan dari tadi memperhatikan tubuh Helen dari atas hingga ke bawah.
Mungkin otak Bryan sedang tergeser, ya mungkin juga otaknya tergeser karena kejadian semalam tidak sengaja lakukan hal berbeda.
Lift berdenting tandanya sampai tempat kerja mereka. Helen mempersilakan Bryan keluar lebih dulu barulah dirinya. Sesuai SOP.
Helen meletakkan tas selempang nya di atas meja kerjanya. Dia akan memulai pekerjaanya sekarang. Jadwal untuk hari ini akan lebih banyak menguras tenaga. Seperti biasa pekerjaan rangkap semua.
Baru juga akan memulai membuka agendanya, deringan telegram berbunyi nyaring di sebelah komputernya. Siapa lagi kalau bukan Bryan yang telepon.
__ADS_1
'Tidak sabaran!' gerutu Helen, tidak perlu di angkat kalau itu kode segera menghadap.
Helen membuka pintu tanpa harus mengetuk pintu lagi, pada dasar hanya dia dan Boss seorang.
"Jadwal hari ini ---"
"Kamu sudah sarapan?" Potong Bryan selanjutnya, Helen belum juga menyebutkan jadwal rapat untuk hari ini. Sudah di pertanyakan pembahasan lain.
"Belum, Pak. Mungkin nanti setelah jam makan siang. Untuk jadwal hari ini akan ada rap ---"
"Sarapan dulu. Saya sudah memesan makanan sebentar lagi datang," Bryan kembali memotong pembicaraan.
"Tidak perlu, Pak. Terima kasih. Saya ulangi sekali lagi, Jadwal hari ini akan ada rapat dari PT. Adinda Jay ----"
Belum selesai menyebutkan semua jadwal rapat untuk hari ini. Datang lagi suara membuat Helen harus sabar dengan keadaanya.
"Permisi, Pak. Tadi Pak Bryan ada memesan makanan dari Go-Food, ya?" Seorang bersuara, siapa kalau bukan Office boy pekerja di gedung ini.
Sabar Helen ini cobaan. Cobaan sesat saja. Sabar, masih pagi.
"Ah ya, taruh saja di meja sana. Kamu boleh pergi," jawab Bryan kemudian. Office boy itu masuk kemudian meletakkan bungkusan nasi kotak di atas meja sana.
Setelah Office Boy-nya sudah pergi, Helen memulai melanjutkan pekerjaannya sebagai sekretaris yang profesional.
"Untuk jadwal hari ini akan ada rapat dari PT. Adinda Jaya Pratama pukul 10 pagi, kemudian ----"
Bryan berdiri dari duduknya kemudian kembali memotong pembicaraan Helen lagi. Helen meremas pulpennya serta agenda di tangannya. Mimpi apa semalam sampai harus kembali soal seperti ini!
"Ayo sarapan! mumpung masih hangat?! Saya tahu kamu belum sarapan. Jangan berdiri saja."
Bryan duduk di sofa empuk kemudian membuka bungkusan kotak ayam geprek super makyos top markotop.
__ADS_1
Helen tidak boleh tergoda hanya karena makanan di depannya. Dia harus menahan rasa lapar di perutnya yang sudah berdemokrasi meminta di isikan. Bryan sudah memisahkan bungkusan itu menjadi dua bagian.
Bryan melirih Helen masih setia berdiri,
"Kenapa berdiri saja?! Ayo makan?! Untuk jadwal hari ini saya sudah tahu. Tidak perlu kamu jelaskan," ucap Bryan sedikit menegaskan.
Helen diam menatap matanya yang tajam itu seperti ular siap mematoknya. Helen terpaksa menuruti kalau tidak akan pernah bertemu boss sinting itu.
Tapi, Helen bagaimana bisa menolak kalau ayam geprek nya tercium hingga hidungnya bikin perut siap meminta di isi.
Makan berdua di ruangan boss, membuat karyawan di luar mulai menggosip tidak enak lagi. Tapi siapa yang akan tahu kalau di ruangan Bryan, kedap suara. Mau orang ngegosip apapun tidak terdengar sedikitpun.
Bryan makan tetap menggunakan sendok dan garpu, sedangkan Helen makan pakai tangan. Karena makanan seperti ini enak memang harus pakai tangan lebih berasa bumbu-bumbu gurihnya dan cita rasanya.
Bryan sudah selesai makan, sedangkan Helen masih belum selesai karena ayam dan nasinya masih tersisa di atas kertas minyak.
Tak lama kemudian, Helen pun selesai juga sarapan pagi ini. Dia serasa sangat kenyang hingga tidak sengaja dirinya bersedawa di depan bossnya. Memang terlihat sangat jorok sih. Tidak masalah untuk Bryan, asal sekretaris kenyang dan bertenaga.
"Maaf," ucap Helen sangat bersalah sekali.
Bryan tersenyum, "Tidak apa-apa. Kenyang? apa mau lagi?" balas Bryan kemudian menawarkan lagi.
"Tidak perlu, ini sudah cukup kenyang dan perut saya tidak sebanding dengan perut Bapak." tolak halus oleh Helen.
Helen mulai membersihkan sampah ada di atas di meja mereka tadi makan. Bryan terdapat sesuatu di sudut bibir Helen. Sisa saus sambalnya. Saat Helen untuk mengelap meja dengan tisu basah dan tisu kering.
Helen terhenti dengan aktivitasnya, kembali lagi jantung berdebar tidak normal. Apa yang terjadi di sini. Bryan mulai melakukan tidak biasanya lagi.
Kecupan di sudut bibir Helen, Helen seperti ingin meloncat keluar dua bola matanya. Bryan menjauhkan wajahnya dari wajah Helen.
Helen seperti tidak bernyawa lagi untuk pagi ini. Pagi ini terjadi tidak di duga nya. Apa mimpinya masih belum bangun juga.
Bryan tersenyum tipis kembali merasakan manis di sudut bibir Helen.
Oh tidak!!! Second kiss! Cabut nyawaku, Malaikat pencabut nyawa!!! ~ teriak Helen dalam hati. Dirinya tidak sanggup untuk ada di sini lagi.
__ADS_1
"Manis," gumam Bryan pelan.