Posesif Bos

Posesif Bos
Kebahagiaan


__ADS_3

Liburan panjang telah usai, Helen dan Bryan kembali beraktivitas masing-masing. Seperti biasa, Bryan kembali mengusik hidup Helen. Helen yang baru saja akan duduk di meja kerjanya kembali sebuah deringan telegram berbunyi nyaring.


"Yang, makan yuk! di luar!" suara manja dari Bryan


"Tidak! Saya sudah masak banyak tadi. Makan sayur rantangan!" jawab Helen garang.


"Kok begitu, saya pengin berduaan loh."


"Pak, jika makan di luar waktu untuk seminar akan---"


"Pokoknya harus tidak mau tahu. Ini perintah dari atasan tanpa ada kecuali!"


Langsung di matikan. Helen mendengkus kasar. Nina dan Deon cuma bisa diam tidak berani menatap Helen. Soalnya tampangnya lagi tidak bagus.


Helen bangkit dari duduknya kemudian masuk ke ruangan Bryan. Bryan cengiran benaran rindu sama muka cemberut istrinya. Meskipun sudah bersuami - istri tetap sikap Helen selalu bikin Bryan makin manja.


"Ayo pergi!" Bryan bangun lalu mencium bibir manis istrinya.


Helen diam tidak berkutik, karena ciuman itu selalu tidak tepat waktu. Bryan menarik tangan Helen, Helen sih menurut benar tidak berubah suaminya.


*****


Di sebuah rumah makan seafood, Helen sepertinya sedang tidak selera makan deh. Tapi tetap saja Bryan memesan makanan sesuai kesukaan istrinya.


"Sayang, makan dong. Kok di lihatin saja nasinya."


"Tidak nafsu, Yang!" jawabnya lesu.


"Loh, kenapa? Kamu sakit?" Bryan menyentuh punggung kepala Helen tidak ada di panas. Lalu kenapa dengan istrinya? -batin Bryan.


"Sedikit saja, kalau tidak dua suap saja ya." bujuk Bryan, Helen mulai menyuap pertama. Rasanya memang enak tapi rasanya ingin di muntah kan hanya saja di tahan sama Helen.


Bryan mengusap kepala rambut yang lembut itu. Suapan ke tiga, Helen berdiri dari duduknya langsung lari terburu-buru ke kamar kecil. Bryan sendiri heran sama sikap istrinya. Di susulnya kekamar kecil melihat keadaan istrinya.

__ADS_1


Helen mencuci mulutnya yang terbuang makanan yang ia kunyah dan telan itu. Bryan memijat lehernya belakangnya. Jadi cemas keadaan istrinya.


"Kamu kenapa? Ke dokter ya." bujuk Bryan makin cemas. Helen menggeleng kepala.


"Tidak perlu mungkin cuma masuk angin. Tidur sebentar sudah mendingan. Kan, kemarin kita jalan-jalan mungkin terlalu lelah saja." kata Helen


Tapi Bryan khawatir kalau istrinya benar - benar sakit. "Yakin? Kalau tidak kuat boleh pulang duluan, minta sama Nina temani kamu di apartemen."


"Tidak perlu ini sudah mendingan."


"Ya sudah, kalau masih mual muntah, kita ke dokter ya." Helen mengangguk kepala.


Mereka kembali ke kantor, Helen tidur sebentar kepalanya sedikit pusing efek tadi mual muntah saat menelan makanan. Bryan makin cemas sama keadaan istrinya. Sampai di kantor, Helen bangun Bryan menatap istrinya.


"Kamu benar yakin tetap akan kerja. Wajahmu pucat loh, Yang."


Helen senyum ia baik-baik saja. "Tidak apa-apa kok. Nanti setelah pulang kerja istirahat mulai baik lagi kok. Jangan terlalu mencemaskan aku."


"Ya sudah, sini aku bantu."


Berada di kantor, Bryan membiarkan Helen tidur di sofa dulu. Tidak memberikan ia bekerja dulu. Helen menuruti saja daripada dengar cerewet Bryan makin pusing kepalanya.


****


Di apartemen Helen melanjutkan tidurnya, tidur sampai lupa waktu untuk mandi. Sepertinya dia mager ( malas gerak) Bryan sedang sibuk di dapur mungkin buat bubur untuk Helen.


Bryan masuk ke kamar membawa bubur untuk Helen. Helen bangun tercium aroma sedap di hidungnya. Helen bangun memosisikan tidur jadi duduk. Bryan yang angkat menyuapi Helen.


Helen senyum benar suami perhatian banget. Suapan ke lima Helen mulai kembali memuntahkan isi bubur yang sudah di telannya. Bryan langsung berikan minuman hangat untuk Helen.


Helen meminum perlahan hampir saja memuntahkan. Bryan berikan anti mual agar istrinya tidak mudah sakit.


"Selamat tidur." Di kecup untuk malamnya. Bryan pun keluar dari kamarnya membersihkan piring dan ia akan melanjutkan pekerjaannya lagi.

__ADS_1


Di tengah malam, Bryan yang sedang mengamati laptop di ruang tamu. Mendengar suara muntahan di kamarnya. Segera Beyan menyusul untuk mengecek situasi.


"Yang, Kamu tidak apa-apa?" Bryan di depan pintu kamar mandi mengetuk pintu mengharap Helen menjawab.


Suara air wastafel terdengar pintu di buka di sinilah Bryan melihat wajah istrinya semakin pucat saja.


"Kamu tidak apa - apa. Kita kedokter ya!" Bryan mencakup wajah Helen. Benar sangat pucat.


Helen bersih keras menggeleng kepala. "Hanya masuk angin saja, kok." katanya melanjutkan tidurnya.


Bryan yakin istrinya pasti bukan sekedar  masuk angin. Bryan tetap harus membujuk istrinya cek ke dokter. Tetap saja tidak mau.


****


Minggu ke - 4 kondisi Helen makin hari makin menurut saja, kadang mual kadang pusing. Bryan terus meminta dirinya cek dokter tetap tidak mau.


Bryan benaran kesal sama Helen, sampai suatu ketika terpaksa Bryan mengundang dokter datang langsung ke apartemen periksa kondisi istrinya. Helen tetap ngotot tidak ingin di periksa.


Bryan tetap memaksa kalau Helen tidak mau di periksa dengan secara kasar Bryan akan mengendong istrinya ke rumah sakit. Helen mendengar ancaman seperti itu. Daripada begitu ya sudah ia turuti.


Dokternya cewek karena tentu Bryan tidak ingin dokter lelaki memeriksa istrinya.Sangat rawan untuk Bryan sendiri.


Dokternya sedang mengecek, Helen sih diam tidak bergerak.


Setelah selesai di periksa, dokternya berikan resep dan beberapa vitamin untuk Helen. Bryan makin bingung. Dokternya bilang harus jaga kondisi masa kehamilan istrinya. Saat ini Helen sedang hamil. Usianya masih kecil sedang berkembang dan paling rentan akan hal - hal yang menggangu perkembangan masa kehamilannya.


"Jadi, masa kehamilannya di harapakan menghindari rokok dan seterusnya karena bisa membahayakan janin yang ada di kandungannya. Untuk tahap perkembangannya dan tahap ibunya sabar dan jangan mudah buat istri anda tersinggung. Karena banyak sensitif nya." Jelas dokternya pada Bryan.


Bryan sendiri terkejut mendengar berita membahagiakan. Akhirnya terkabulkan juga memiliki anak.


"Jadi tidak masalah jika berhubungan intim?" Bryan kok malah tanya soal ini ya.


"Tidak masalah asal posisinya nyaman dan tidak menganggu janin pada kandungannya saja." jawab dokternya lalu pamit undur diri.

__ADS_1


Bryan tentu senang dong, langsung ia masuk ke kamar lihat kondisi istrinya sedang tidur pulas. Di elus perut rata nya.


"Baik-baik ya, nak. Jangan nakal. Dengar kata mama ya." ucap Bryan pelan.


__ADS_2