Posesif Bos

Posesif Bos
Nyatakan Cinta


__ADS_3

Satu jam kemudian suara pintu depan apartemen Bryan berbunyi, Helen membukanya. Yang datang Go-food lalu letakkan di atas meja di mana dirinya sedang duduk menikmati televisi di depan.



Helen lebih memilih untuk membersihkan lantai, baju Bryan belum dicuci. Seumur-umur Helen belum pernah cuci kolornya lelaki. Rasanya bagaimana saat menyentuh kolor milik Bosnya ini. Benaran Helen lebih baik memilih untuk potong gaji.



Dicari penjepit gorengan, daripada dirinya harus memegang kolor yang tidak berdosa pada tangan serta jari-jarinya. Bryan malah asyik menyantap Fried Chicken.



Ya Tuhan sampai kapan aku harus ada di kehidupan Bos sinting ini! ~ keluh Helen setelah selesai mencuci baju di dalam mesin tersebut.



Saat akan mengangkat baju itu untuk di jemur, Helen tidak sanggup mengangkat karena terlalu berat. Kembali lagi mengangkat malah bukan ranjang baju terangkat, tapi gagang ranjang terlepas karena sudah rapuh. Helen terjungkal ke belakang.



"Aaaaa ...!" teriak Helen,



Tap!



Sontak dong terkejut bukan main. Jantung Helen kembali berdegup kencang. Bryan menangkap tubuh Helen yang hampir jatuh dari belakang. Tatapan mereka saling bertemu. Jaraknya tidak jauh. Helen kembali sadar dari rasa degupan jantung ini.



"Ekhem! Sebenarnya baju Bapak sudah berapa tidak di cuci?"



Helen mulai mengomel kembali, rasa gugup nya pasti terdengar jelas. Karena degup debaran jantungnya masih belum normal detaknya.



"Sebulan, eh .... bukan, dua bulan," jawab Bryan mengingat kembali karena selama dirinya pakai baju memang selalu pakai buang. Cuma kolornya saja yang selalu beli selusin..

__ADS_1



Helen melongo tidak percaya, pantasan saja baju segepok begini banyak dua bulan apa tidak bau di dalam ranjang, sebulan saja sudah amit - amit zabah bait.



"Sekarang Bapak bantu saya angkat ini ranjang ke tempat jemuran. Pantasan saja gagang ranjang tak sanggup menerima baju yang sudah berbulan-bulan lamanya."


Bryan menurutinya di bawa ranjang besar di tempat jemuran. Apartemen yang luar biasa lebarnya. Orang kaya memang selalu bebas memiliki apa saja.



Bryan ikut membantu menjemur pakaiannya. Untuk Helen tidak akan pernah sentuh itu kolor milik Bos sinting, jarinya masih suci terkecuali sudah bersuami boleh di nodai. Bryan mengerut kening lihat Helen menjepit kolornya.



"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu mengambil seperti itu?" Pertanyaan dari Bryan terheran.



"Maaf ya, Pak. Bukan menghina, tapi saya geli sama celana dalam lawan jenis, bisa tidak setiap mau ganti itu suci sendiri?" jawabannya menang tidak masuk akal oleh Bryan. Memang sepantasnya perempuan harus menerima pekerjaan




Bryan menegaskan kembali meskipun sedikit terlaluan. Kalau tidak begini, dia tentu tidak bisa lihat Helen dong. Nanti juga terbiasa jika dia membantah terus. Helen rasanya ini tidak adil banget dengan pendirian dalam pekerjaan. Asisten pribadi, tetap saja ada yang harus di tolak yang tidak di inginkan. Terlalu egois jadi lelaki.



"Tidak bisa begitu dong, Pak! Masa hanya karena saya tidak suka pegang celana dalam Bapak, langsung di potong gaji sih! Ini penyiksaan namanya, Pak!" Protes Helen benaran dirinya ingin tinju muka Bos sinting ini.



"Makanya, kerjakan kalau tidak mau potong gaji! Jangan hanya mengomel saja kerjaanya!"



Bryan berlalu pergi dari tempat jemuran tersebut, Helen melirih hingga hilang dari peredaran pandangannya. Helen menghentakkan sebelah kakinya kesal, Aarrrggghhh .... kenapa harus ketemu Bos sinting ini sih! ~ Keluhnya lagi dalam hati.


__ADS_1


****



Akhirnya selesai juga pekerjaannya, sudah siang waktunya Helen pulang ke rumah untuk bermanja-manja kembali. Masih belum kelar, Bryan memanggil Helen.



"Ini tanda tangani kontrak selama menjadi asisten pribadi saya," ucap Bryan menyerahkan satu lembar kertas pada Helen



Helen menerima sebelum menangani tentu dia baca terlebih dahulu, karena dia tidak mau di bodohi oleh Bos sinting ini. Bisa saja kan dia memanipulasi tanpa sepengetahuan Helen. Helen membaca, melebarkan kedua bola matanya.



"Maksudnya apa ini?" Helen menatap Bryan yang santai duduk senyum padanya.


"Sesuai perjanjian kontrak sudah jelas, kan," jawab Bryan tidak mau mengulangi apa yang tertulis di dalam kertas itu.



"Ini tidak adil dong, Pak. Ini kontrak asisten atau kontrak status sih, Pak?!"



Bryan mengangkat bahu, yang penting Helen menyetujuinya sudah aman.



"Benar-benar keterlaluan, saya ini kerja bukan di jadikan perempuan simpanan, Pak! Bapak bisa meminta tunangan Anda di sini? Kenapa harus saya? Maaf, saya menolak!" Lanjut Helen meletakkan kertas dan pulpen di atas meja nya.



Helen berdiri untuk bersiap pulang ke rumahnya. Bryan yang tadi senyum lebar kembali surut menatap Helen yang sudah bersiap untuk keluar dari apartemennya.



"Aku suka kamu!"


__ADS_1




__ADS_2