Posesif Bos

Posesif Bos
Lembur


__ADS_3

BRAK!!!



Helen menggerakkan bahunya serasa pegal membawa dokumen sebanyak ini. Bryan malah masuk ke kamarnya. Helen duduk di sofa sambil mengutak-atik ponselnya sambil menunggu Bos sinting itu keluar untuk menangani dokumen dan berkas lainnya.



Tak lama kemudian, Bryan keluar dari kamar mandi memakai handuk tergantung di pinggangnya. Tanpa sadar Bryan membuka pintu kamarnya untuk mengambil minuman di kulkas. Helen yang lagi asyik sama ponselnya, matanya melirih serasa melebar ini kedua matanya ingin loncat keluar.



"Kyaaa ....!" teriak Helen langsung menutup matanya.



Bryan yang sedang minum setengah botol Aqua di kulkas bingung sama dia. Ada apa lagi coba, Bryan coba mendekati Helen.



"Ja-jangan mendekat!" Gugup Helen bersuara. Benaran ini mimpi apa halusinasi sih.



"Kamu kenapa?" tanya Bryan,



Buk!



Satu lemparan bantal sofa tempat di dada Bryan. Helen membuka kedua matanya. Tiba handuk yang tergantung di pinggangnya melorot sempurna. Helen melihat bentuk gajah panjang di sana. Helen langsung teriak histeris! Saking malunya bukan main.



****



Sunyi senyap di dalam apartemen, Helen diam menunduk kepala saking malu. Matanya ternoda kejadian tadi, sedangkan Bryan biasa saja tidak mempermasalahkan soal tadi. Dia memang sudah terbiasa sama keadaan. Helen menggoyangkan kakinya.



Lama banget sih, tanda tangani harus menghayati dulu ya? ~ Mengeluh Helen dalam hati perhatikan Bryan dari tadi baca dokumen nya tanpa kedip.



"Kalau tidak ada yang di perlukan lagi, saya permisi pul ---" Suara bel apartemen Bryan berbunyi.



Selalu begini, kenapa tidak ada yang bisa berikan ketenangan untuk Helen. Di buka pintu depan dan orderan go-food. Helen menerima kembali tutup pintunya. Di letakkan bungkusan makanan di atas meja. Yang di penuhi beberapa dokumen di sana.



Bryan menghentikan aktivitas nya. Kemudian membuka bungkusan go-food nya. Helen sudah mati bosan di apartemen Bryan. Ia pengin segera pulang ke rumahnya tidur nyenyak.


__ADS_1


"Ayo di makan," tawarnya sudah tersedia di meja.



"Bapak makan saja, saya masih keny ...."



Kroooookkk!



Suara perut siapa lagi selalu bikin Helen malu terus di hadapan Bryan. Perutnya benar tidak bisa di ajak kompromi selalu saja harus bunyi di saat tidak tepat.



"Tidak perlu sungkan, makan saja. Mumpung gratis, daripada harus makan mi instan terus," jawab Bryan sudah menyuapi satu potongan ayam di mulutnya.



Helen ya tentu duduk kembali dan mulai memakan ada di depannya. Sungguh terlalu menggoda dirimu Helen. Makanan seenak ini, bagaimana bisa kamu kembali ke tempat asalmu. ~ batik nya dalam hati.



****



Waktu sudah pukul sebelas malam, benaran mata Helen mengantuk karena menunggu Bryan menanda tangani berkas buat Helen menguap beberapa kali dari mulutnya. Demi apa, demi gaji tidak di potong. Terpaksa dirinya tidur di sofa, sungguh matanya tidak bisa ajak kerja sama lagi. Sangat berat dan akhirnya Helen terlelap dalam mimpi.



Bryan baru saja selesai mengerjakan beberapa berkas di sana. Kemudian berbicara pada Helen tanpa ada sahutan lagi dari sekretaris nya. Bryan menutup berkasnya lalu mendekati Helen yang sedang keadaan tertidur bersandar di badan sofa.




Getaran apa yang mendorong Bryan ingin mencium bibir manisnya si sekretaris ini. Rasa cemburu tadi benar buat ia kesal banget. Mungkin saja Bryan mulai suka sama Helen, dari cara tatapannya ke Helen keadaan tertidur saja sudah bisa di rasakan oleh Bryan sendiri.



Jam alarm ponsel Helen berbunyi garing langsung bangun mematikan ponselnya. Di gerakkan tubuhnya dan melebarkan kedua tangannya. Saat menyamping dua bola matanya terbuka lebar sempurna sangat sempurna. Terkejut Helen, Bryan dalam keadaan tertidur menyamping ke kiri dengan dengkuran yang tenang dan teratur.



Helen langsung bangun langsung memukul Bryan dengan bantalnya, Bryan yang dari semalam tidur tidak nyenyak karena ulang sekretaris nya.



"Dasar pria brengsek, tukang mesum! Beraninya tidur di kamarku!" Helen terus memukul Bryan hingga Bryan menangkap bantalnya dengan posisi Bryan telanjang dada.



"Aaaaa ....!" teriak Helen langsung menutup matanya. Bagaimana bisa pagi hari dirinya harus melihat suasana ternoda lagi.



"Kamu kenapa sih?! Pagi - pagi sudah ribut!" sergah Bryan kembali untuk tidur.

__ADS_1



"Bapak kenapa ada di kamar saya? Terus, Bapak mencoba memerkosa saya??" Kini giliran Helen memberanikan diri untuk membela.



"Siapa yang mau perkosa kamu, dengan tubuh tidak berisi begini?! Dan ingat kamu ini di apartemen atasan bukan rumah kamu! Kamu sendiri yang tidur sambil jalan, masuk ke kamar saya. Saya pikir kamu memang biasa tidur sambil jalan." Bantah Bryan kemudian lalu kembali tidur.



Helen mendengar penjelasan dari Bryan makin tidak konsisten. Memang dirinya tidur sambil jalan. Perasaan selama ini dia tidak memiliki lainan metal. Bryan sendiri senyum dalam tidur, artinya Bryan berhasil mengelabui Helen dengan ucapan mengarang nya.



Di kantor PT. Bryant Grup, Helen lebih banyak diam daripada harus berdebat lagi dengan Bos sintingnya. Yang buat dia diam karena ucapan pertama dari mulut Bryan. Tidak berisi. Terlalu meremehkan tubuh milik Helen.



Di dalam lift, Helen sedang menulis di kertas kecil yang memang selalu dirinya bawa ke mana - mana.



"Pak, nanti akan ada rapat setengah menit lagi," ucap Helen datar



"Dari siapa? Bukannya jadwal rapatnya di atas jam sepuluh. Kenapa jam setengah sembilan harus rapat?" tanya Bryan ingin tahu yang pasti.



"Ini dari beliau bapak, sekarang beliau sudah menunggu di ruangan Anda," jawab Helen tanpa menoleh lagi karena dia sibuk dengan catatan kecilnya.



Hari ini dan seterusnya dia akan di sibukkan dengan pengerjaan yang menumpuk. Karena apa? Ayah dari Bryan tiba datang bertamu di gedung miliknya. Bisa kata lain selain kinerja, beliau sangat tegas dan menaati peraturan Sistem Operasional Prosedur.



Belum lagi berkaitan dengan bisnis dari calon menantunya siapa lagi kalau bukan Friska dari PT. Angkasa Cup. Helen benar harus profesional dan kemungkinan kecil Bryan akan di tekatan oleh beliau dan juga tunangan Bryan.



"Apa?" Bryan mengulangi jawaban dari Helen.



"Iya, Pak. Beliau datang bersama Ibu Friska tunangan Anda." kembali lagi Helen menjelaskan.



Bryan diam tidak membalas penyampaian dari Helen lagi. Dan memang benar Ayah Bryan datang bersama Friska sedang bercengkerama. Perkiraan dari Helen pasti membahas urusan pribadi keluarga. Tidak mungkin kalau ayah Bryan datang bisa bersamaan dengan Friska.



Helen duduk di tempat kerjanya, sedangkan Bryan berada di ruangannya dengan keluarga mereka. Helen mengerjakan pekerjaan seperti biasa. Terdengar suara yang begitu keras, itu suara Ayah Bryan. Kalau sudah begitu pasti ada masalah besar di perusahaan Bryan. Helen sudah biasa dengan hal ini, tapi, mungkin Helen harus lebih profesional lagi agar tidak mendapatkan kesalahan.



__ADS_1




__ADS_2