Posesif Bos

Posesif Bos
First Kiss


__ADS_3

Sore tibanya, Friska datang untuk menemui Bryan. Di sana Helen berdiri menyambut Friska dengan baik. Sampai sekarang Bryan belum juga kembali dari seminar. Sudah di sampaikan oleh Bryan, dia akan menemui seseorang. Tapi, tidak tahu siapa dia jumpai. Helen mencoba untuk mencari alasan agar Friska tidak marah. Jika pun marah, ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai sekretaris itu sungguh menyiksa banget daripada karyawan biasa.



"Bryan-nya ada?" tanya Friska tengah berdiri di depan meja kerja Helen 



"Maaf Bu, Pak Bryan sedang tidak ada di tempat," jawab Helen sopan dan ramah.



"Apa?? tidak ada di tempat? Kamu sudah beritahu,kan, ke dia hari ini dinner di restoran Sunda??" Marah Friska mencurigai Helen tidak memberitahukan padanya.



"Sudah, Bu." kata Helen,



Friska pun menghentakkan kedua kakinya kesal, lalu ia kembali pergi segera menelepon Bryan. Helen lega tidak mendapatkan amukan dari Friska. Sudah pukul setengah enam.  Helen bersiap untuk pulang.



Bryan sedang bercinta dengan salah satu sahabatnya yakni Indri, teman hubungan seksnya. Setiap Bryan mendapat masalah dengan kantornya. Hanya Indri yang bisa memuaskan nafsunya.



"Aahh..." desah Indri yang sexy.



Deringan ponsel milik Bryan berbunyi, Bryan membiarkannya. Dia sedang mencapai puncak saat ini. Tapi tetap saja telepon berbunyi kembali. Membuat Indri  tidak bisa menikmati dengan tenang.



"Sayang, angkat saja dulu teleponnya mungkin penting," ucap Indri, Bryan harus tak harus pun menunda hubungan intim nya. Ia pun mengambil ponsel di lihat dari Friska. Bryan mendengus kasar.



"Ya ada apa?!" tanya Bryan kesal.



"Kamu dimana?? Aku sudah tunggu kamu di restoran Sunda loh," jawab sambungan dari Friska yang manja.



"Aku sudah beritahukan ke sekertaris kalau aku sedang menemui seseorang," ucap Bryan jujur.



"Benarkah?? Dia tidak memberitahukan padaku, sayang. Jadi bagaimana? Makanannya sudah datang. Masa di buang. mubazir dong."



"Baiklah, sebentar lagi aku ke sana." Di tutup ponselnya kemudian ia berdiri mencium bibir Indri, ia harus bersiap ke restoran Sunda.



"Kenapa, dari tunanganmu?" tanya Indri melihat Bryan sudah memakai semua pakaiannya.



"Iya, maaf kita tidak bisa melanjutkannya. Mungkin lain waktu kita melakukannya," jawab Bryan keluar dari apartement nya.



Di dalam mobil, Bryan akan memarahi Helen. Ia pun menuju ke restoran Sunda.  Di sana Friska sudah menunggunya dengan beberapa hidangan di meja. 

__ADS_1



Sedangkan Helen, baru sampai di rumah kontrakannya, benar hari ini sangat melelahkan, ia langsung membersihkan diri. Kemudian untuk memasak indomie mengisi perut yang sudah kosong.



Selesai mandi, Helen mulai memasak dengan alat wadah seadanya saja. Tidak butuh banyak cukup lima menit sudah jadi indomie polos ala Helen. Sejak kerja di kota tetangga, Helen memang sengaja menyewa rumah khusus ia tinggal. Biar terlihat mandiri. 



Ponselnya berbunyi, baru saja ingin masuk ke mulut satu suapan  harus tertunda dulu. Di rongoh tas mencari ponselnya yang berbunyi itu. 



Boss sinting calling...



Helen langsung mengangkatnya,



"Ya, Pak," sambut sopan si Helen.



"Datang ke Apaterment saya sekarang juga!" perintah Bryan dari seberang.



"Tapi, pak. saya baru mau mak---" Belum selesai membantah.



"Sekarang!!! lima menit harus di apartement!" bentaknya lalu di matikan panggilan di telepon.




"Tidak pernah berikan orang hidup tenang!" celutuk Helen kesal. Indomie yang ia masak harus di tunda, tapi ia nyuap satu sendok dulu di mulut agar bisa terkumpul tenaga.



Bryan menggoyangkan kaki nya menunggu Helen tidak kunjung datang. Sudah lewat lima menit. Jam arloji Bryan kecepatan 1 menit.



Helen pun masuk terengah-engah lari maraton gara lift rusak, jadi naik tangga sampai lantai enam. Di tekan bel tidak lama kemudian Bryan membuka pintu.



"Terlambat 2 menit," ucapnya datar. Helen tidak peduli, sudah habis tenaganya saat naik tangga darurat.



"Ada apa memanggil saya?" tanya Helen ketus.



"Cuma temani saya makan," jawabnya duduk di sofa di mejanya sudah ada beberapa makanan khas Sunda.



"Hanya temani saja mesti panggil saya, begitu?? Ini bukan jam kerja, Pak?!" protes Helen.



"Iya tahu bukan jam kerja, sudah ikut makan saja. Saya tahu kamu belum makan," ucap Bryan,

__ADS_1



"Tidak perlu saya sudah kenya---" Krrookkkk!!! suara perut Helen berbunyi, Bryan senyum tipis.



"Tidak perlu malu, saya tidak mau sekertaris saya sakit karena belum makan. Nanti di bilang boss nya kejam lagi," lanjutnya berkata. Helen pun melangkah duduk di depan berhadapan.



"Memang kok, kejam," gumam  Helen.



"Kamu bilang apa tadi?? saya dengar," ucap Bryan dingin



"Tidak, Bapak tampan, baik banget sampai tahu saya belum makan daritadi," balas Helen dusta..



"Oh..."



Helen mulai makan bersama Bryan tanpa bersuara. Bryan melihat sesekali paras wajah Helen tanpa make up. Lebih fresh dan lebih cantik daripada make up. rambut sembarangan ikat, tanpa ada lipstik di bibir. Merah merona, baju kasual polos santai. Bryan menelan Salivanya terngiur sama tubuh sekertaris nya. Belum pernah mencicipi tubuhnya.



Helen merasa di perhatikan terus sama manusia di depan, Helen pun meletakkan piring di atas meja, dan selesai makan. Bryan pura-pura masih makan.



"Uuhh... kenyang banget, Terima kasih ya Pak, makanannya. Sering - sering biar saya tidak asyik makan indomie instan di rumah," ucap Helen menepuk-nepuk perutnya yang rata.



"Kamu sering makan mie instan?" Bryan terkejut mendengarnya.



"Iya, bagaimana saya bisa makan enak seperti bapak. Pulang kerja saja sudah sore banget. Belum lagi jalanan macet, sampai rumah sudah jam tujuh malam. Apalagi Bapak kadang suka-suka panggil saya secara mendadak seperti tadi baru satu suap indomie belum ke mulut sudah di telepon datang ke sini," Ngeluh Helen mengaduh pada Bryan. Bryan mendengarnya pun memperihatin. 



"Ya sudah, mulai besok kamu tinggal di rumahku, dan di kulkas banyak sayur, mungkin kamu bisa masak sesukamu," ucap Bryan bersimpati pada Helen.



"Tidak perlu, Pak. Tidak enak sama yang lain. Nanti di kira saya di gosip yang tidak - tidak lagi sama kantor," tolak Helen sedih.



"Yang meminta kamu tinggal di sini, saya. Bukan orang lain. Buat apa mereka gosip yang aneh-aneh. Kalau ada gosip yang tidak menyenangkan saya siap memecat mereka seperti, Cindy." tegas Bryan menatap nanar pada Helen.



"Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah terbiasa kok. Saya tidak perlu di kasihani. Sudah terbiasa hidup seperti ini kok, Pak. Ya sudah, Pak. Tidak ada lagi kan. Saya permisi pul---" Bryan tiba mencium bibir merah Helen. Helen berdebar-debar tidak karuan apa lagi, shock dengan yang barusan terjadi. First kiss.



"Tinggal lah di sini. Semua kebutuhan saya yang tanggung," ucap Bryan pelan. Helen seperti terhipnotis hanya ciuman.



Ini yang di sebut ciuman panas, ciuman yang mengesan oleh seluruh wanita yang akan mulai jatuh cinta saat jantung menopang debaran tidak teratur. 


__ADS_1


__ADS_2