
"Jadi kamu sudah menikah?" Helen basa - basi sama Eric sambil menunggu pesanan makanan datang.
"Aku belum, tapi, aku tunggu kamu dulu. Baru diriku," balas Eric masih sama saja tidak ada bedanya.
Cuma ya tanpa kacamata saja makin ganteng menurut Helen. Setahu Helen waktu kuliah, Eric ini benar sangat culun. Rambutnya belah tengah di depan kacamata tebal pokoknya dia itu culun banget di tambah lagi pasang gigi kawat. Dulu dia memang sedikit boneng, cuma sekarang makin beda saja, tanpa ada gigi kawat, kacamata tebal, rambut tersisir rapi tanpa ada belahan tengah lagi. Terus wajahnya mulut tanpa ada jerawat sedikit pun.
"Aku masih lama, berarti kita sama ya. Ah, jangan bilang kamu sama aku jodoh lagi. Masih ingat enggak waktu kuliah aku sempat tolak kamu, sampai aku bersumpah enggak akan ketemu kamu yang super culun begini. Apa ini tandanya karmaku ya??" Kata Helen merasa aneh saja sih.
"Iya mungkin, kamu itu terlalu banyak sumpah, ujungnya kita ketemu lagi." Kami berdua pun tertawa bersama.
Di sisi lain, Bryan tengah maut cemburu, padahal dia ingin buat Helen cemburu sama Indri. Ini malah sebaliknya dia yang cemburu, lihat Helen sama pria culun itu mengobrol sambil ketawa - ketawa segala.
Indri dari tadi makan sudah hampir habis isi di piringnya, sedangkan Bryan masih utuh nasi goreng nya. Indri makin heran saja sama Bryan.
"Yang, kenapa tidak di makan? Tidak suka ya?" Indri bertanya
"Enak kok," jawab Bryan langsung.
Padahal tidak ada sedikit pun di sentuh sama Bryan. Apa yang enak coba. Indri makin bingung jadinya sama sikap Bryan aneh begini.
"Enak apanya sih, Yang? dari tadi belum kamu sentuh juga. Kamu sebenarnya kenapa sih?" Indri penasaran sama Bryan dari tadi perhatikan siapa sih.
Indri mengerti jadi dia perhatikan Eric sama sekretaris nya. Memangnya apa bagusnya sih si sekretaris itu. Apa Bryan cemburu sama Eric karena tampang cakep. Eric sebenarnya ganteng sih lumayan tapi rada aneh menurut Indri. Kadang apa yang di bicarakan itu tidak pernah sambung. Cuma Indri penasaran juga sih sama Eric itu.
"Kamu cemburu, ya, sama Eric? Dia boleh juga kok. Aku dengar sih dia suka sama Helen, apa jangan-jangan mereka pernah satu fakultas kuliah kali, ya." Indri makin panas buat Bryan saat mendengar jelaskan dari mulutnya.
Indri tahu sifat Bryan bagaimana, selain hubungan intim. Ia tahu juga sifat Bryan bagaimana kalau suka sama seseorang. Tentu posesif nya itu bakal berlaku untuk dirinya.
__ADS_1
****
"Jadi, kamu tinggal di mana?" tanya Helen sambil menyuap satu sendok terakhir nasi goreng.
"Aku tinggal tempat kos dulu. Tidak pernah pindah, soalnya kalau pun aku pindah kos bakalan jauh dari kantor menuju kosetnya. Dulu sempat berpikir akan pindah, karena di Terima kantor ini. Jadinya aku urungkan untuk tidak pindah lagi," jawab Eric panjang lebar.
"Oh ... Benar sih, dari Sudirman ke Thamrin memang dekat saja. Apalagi saat kuliah kamu juga dari Sudirman ke Setia budi," ucap Helen.
"Betul, kamu sendiri tinggal di mana?" giliran Eric tanya tempat tinggalnya.
"Aku kontrak di Ponegoro lumayan jauh sih sama kerja kantor aku. Tapi, untung ada mobil dari kantor jadi tidak perlu membuang uang ongkos gojek," jawab Helen di lihat arloji di pergelangan tangannya.
Dirinya tidak merasa sudah pukul 14.30 siang hampir jelang sore. Ia lupa Bryan pasti sudah menunggu dirinya di mobil, masa bodohlah untuk dirinya. Yang penting ia tidak terlalu dekat dengan Bos sintingnya itu. Soalnya itu tangannya suka gatal dan nakal.
"Sebentar, nomor whatsapp kamu berapa, biar bisa ketemu janjian begitu," ucap Eric mengeluarkan ponselnya.
Mereka berdua saling menukar nomor. Setelah itu Helen pun buru-buru keluar. Tak lama kemudian Bryan ikut menyusul dari belakang tanpa Helen ketahui.
"Sudah selesai nongkrongnya?" suara muncul dari gendang telinga Helen. Helen langsung di kejutkan oleh Bryan yang ada di belakangnya.
"Ya tuhan, jantung aku! Pak, bisa tidak kalau muncul itu kasih tahu?!" Mengomel Helen kesal.
'Benaran jantungku, sebentar aku mati berdiri karena jantungan.' batinnya dalam hati.
"Kenapa harus beritahu, kamu sendiri pergi begitu saja tanpa permisi sama saya," kata Bryan lalu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Helen makin terdohok sama perkataan Bosnya ini. Benaran Helen pengin resign dari perkerjaan kalau harus hadapi Bos sinting enggak ada hujan, enggak ada badai, tiba - tiba dingin kayak kutub utara.
*****
Sampai di kantor, Bryan masuk begitu saja tanpa berbicara apa pun. Helen sih kembali ke tempat meja kerjanya, belum juga mendaratkan pantatnya di kursi dingin dan empuk itu. Telepon sudah berdering dari Bryan.
"Ya, Pak," jawab Helen
"Nanti malam bawa semua dokumen ke apartemen saya. Tidak ada penolakan, kalau tidak mau gaji kamu saya potong satu bulan full!" ucap Bryan kembali menutup genggaman telepon tersebut.
Helen menatap genggaman telepon, penyiksaan untuk dirinya masih belum berakhir.
Gila banget, mana ada diluar jam kerja. Potong gaji. Aarrrggghhh! aku stress sama pekerjaan ini! ~ batin Helen berteriak.
Jam kerja telah usai, Helen membawa beberapa dokumen yang harus di tanda tangani. Belum lagi berkas tadi seminar, uh ... benar menyiksa batin untuk Helen.
Helen membawa secara hati - hati, ini tandanya dia lembur kerja tanpa tambahan lembur. Sedangkan Bryan tak mau tahu, pokoknya harus di laksanakan perintahnya itu. Kalau tak mau gaji full di potong sama dia.
Kalau bahas gaji memang benaran bikin Helen harus memilih antara nasib tanpa gaji atau nasib menerima cobaan saat bekerja. Tentu dia memilih menerima nasib cobaan saat bekerja. Kalau memilih tanpa gaji, uang kontrak rumahnya bagaimana bayarnya, belum lagi makan saja tidak teratur, tiap hari makan mi instan kerinting lama-lama rambut Helen. Bukan rambut saja, tapi, uang ikut kerinting kayak daun kering sekali di remas hancur semua, alias tidak kere.
Sampai di apartemen Bryan, masuk ke dalam lift. Muka Bryan seram amat kalau Helen lihat sekilas. Seramnya itu seperti ular kobra kalau sedang hadapi lapar pengin makan tubuh manusia hidup - hidup. Helen saja sudah was-was jika sampai Bryan lakukan macam-macam kayak tadi siang di seminar. Benaran Helen pengin hektar itu tangannya.
Sayangnya dia tidak bisa, karena Helen masih di peringkat bawah, coba saja peringkat atas. Mungkin sudah di lakban semua tubuh Bryan. Ah .... Helen terlalu banyak mengkhayal tidak akan menjadi kenyataan.
Sudahlah Terima nasibmu Helen. batin nya kembali selalu mengeluh tanpa henti.
__ADS_1