Posesif Bos

Posesif Bos
Pemaksa!


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Eric diam tak bersuara dari bibirnya. Helen makin curiga sikapnya tiba berubah saja. Sok cool gitu, tadi sebelum menemui Bryan baik-baik saja, mengobrolnya menyenangkan.



"Tadi, Pak Bryan bicara apa sama kamu?" Helen memulai bersuara, hanya ingin tahu. Takutnya Eric di ancam lagi sama Bryan.



"Tidak ada, cuma bahas masalah pribadi lelaki saja," jawab Eric sudah sampai di depan kontrakan Helen.



"Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu, apa yang terjadi," Lirih Helen arah sebelah Eric yang benar diam banget.



"Tidak apa-apa, masuk sana!" balas Eric senyum. Senyuman ciut.



Saat masuk ke dalam rumahnya, ponsel Helen bergetar. Di keluari ponsel dari saku celananya. Bos sinting calling ....



"Mau apa lagi sih, ini orang!" gerutu Helen sebal.



"Ya, Halo!" jawab Helen nada kesalnya.



"Jawabnya santai saja, sedang apa?"



"Apa urusan Anda, mau tahu saya sedang apa!"



"Oh ... begitu. Sepertinya sedang membuka pintu rumah ya?"



Helen terdiam, kok dia tahu? ~ batin Helen bertanya-tanya.



"Kenapa, heran kenapa saya tahu? Saya punya insting kuat kamu ngapain saja."



"Terus kenapa!"

__ADS_1



"Galak amat! Benaran mau di cium, ya!"



"Dasar sinting!"



Helen mematikan ponsel tidak bermutu itu. Sekarang dia harus masuk, cuaca malam sudah dingin. Saat terbuka Helen dikejutkan. Bryan sudah dari tadi di dalam.



"Ya Tuhan, Bapak ngapain ada di rumah saya?" Pertanyaan dari Helen menatap tajam tapi tangannya masih mengelus dadanya.



"Cuma memastikan kamu pulang dengan aman tidak?" jawab Bryan santai.



"Bapak pikir saya masih berumur lima tahun," balas Helen meletakkan tas di atas sofa.



Di buka kulkas ambil botol minuman di tuangkan ke dalam gelas bersih. Di tekuk hingga habis. Bryan masih berdiri menatap Helen.




Helen memutarkan tubuh Bryan, lalu mendorongnya untuk keluar dari kontrakan rumahnya. Bryan tetap tidak akan pergi, di tahan pintu yang sudah terbuka lebar.



"Mau apa lagi, Pak! Saya lelah hari ini!" ketus Helen di bilik daun pintu.



"Saya lapar, ada makanan yang bisa di makan?" ucap Bryan kemudian bertanya pada Helen.



Helen mendengus kasar, masih belum berakhir. Dia pikir dengan cara menolak Bryan dengan drama bersama Eric bakalan bebas.



"Hanya ada mi instan, memang Bapak mau?" jawab Helen, lalu bertanya kembali.


"Bolehlah, daripada tidak ada."


__ADS_1


Bryan kembali masuk ke dalam kontrakan rumahnya, kemudian duduk di sofa sambil mengutak-atik ponsel milik Helen. Sedangkan Helen tengah memasak indomie goreng. Bryan mencoba mengambil beberapa foto dari galerinya. Kemudian nomor telepon orang tua Helen juga di simpan oleh Bryan.



Helen selesai memasak, sederhana hanya ini yang bisa di buat, belum sempat belanja untuk keperluan rumah. Sayuran pun sudah habis. Tiap hari makan Mi Instan lama-lama gundul rambut dari kepalanya.



"Sudah siap!" teriak Helen, mulai kapan dia suka teriak Bos sinting nya. Bryan langsung meletakan ponsel di dalam tasnya, lalu mendekati meja makan ada di dekat dapur.



Helen tentu juga menikmati Mie goreng sederhana yang penuh sayuran hijau. Untuk Bryan tidak ada sayuran hijau. Helen sudah tidak akan memberikan di atas piring itu. Bryan langsung menyantap Mie goreng buatan sekretaris nya. Bryan boleh ajukan jempol empat untuk Helen. Masakannya benar lezat dan makyos.



Setelah selesai makan, Helen membawa piring kotor untuk di cuci. Bryan merasa sangat kenyang. Lalu dia keluarkan kartu debit tanpa limit, di letakkan di atas meja. Saat Helen selesai mencuci piring nya.



"Mulai besok, kamu belanja sayuran gunakan kartu ini. Terus setiap hari masak untuk saya. Tidak ada perkecualian!" Pinta Helen.



"Tidak bisa! Saya menolak. Besok saya banyak rutinitas kerja. Besok saya makan siang bersama pacar itu tidak bisa diganggu gugat. Ingat, di jam makan siang tidak ada hubungan dengan pekerjaan!" Bantah Helen,



Bryan menatap nya tajam ingin menggigit nya. Helen juga membalasnya, tidak akan pernah takut lagi.



"Ini perintah, mau kamu makan siang sama pria culun itu. Tidak ada sangkut paut dengan tugas yang saya berikan. Ini perintah tetap harus jalani. Kamu kerja untuk saya, bukan dia kerja untuk kamu! Dia masih pacar bukan suami! Saya yang berhak memutuskan! Mengerti!" Bryan menegaskan kali ini dia benar marah. Marah banget. Helen sampai bungkam bibirnya rapat-rapat.



Tidak biasanya Bryan semarah ini pada Helen. Bryan pun keluar dari kontrakan rumahnya. Sedikit kuat bantingan pintu tersebut. Membuat Helen benar ingin mengakhirinya.



Di dalam mobil, Bryan menyentuh dada begitu cepat. Sepertinya dia menyesal telah memarahi Helen.



"Apa aku sudah keterlaluan ya, sampai marahi dia. Kan, aku tidak ingin dia sama pria culun itu. Tidak apa-apa. Besok aku minta maaf sama dia." ucapnya pada diri sendiri.



Helen di dalam kamar, menatap kartu debit dari Bos sinting nya. Dirinya terus mempertanyakan sebenarnya Bryan itu maunya apa sih. Sampai harus turuti perintahnya. Ya, Helen tahu dia tipe sangat posesif segala hal. Tapi, tidak sampai harus lakukan dirinya seperti ini. Dia juga butuh kebebasan, kenapa harus terikat sama dia.



__ADS_1



__ADS_2