
Helen kembali bingungkan dengan pertanyaan dari Ibu Bryan. Kenapa jadi seperti ini sih. Di meja kerja Helen terus memikirkan jawaban apa yang harus di berikan pada Ibunya Bryan.
Satu jam yang lalu
"Apa kamu mau menikah dengan Bryan?"
Jederrrt!
Helen antara diam atau ke sambar petir di siang bolong begini. Antara terkejut, Shock, hilang oksigen. Atau semuanya. Helen tidak salah dengar apa yang di utarakan oleh Ibunya Bryan. Menikah???
"Itu ... itu ..." Helen sulit menjawab, rasanya kelu di lidahnya untuk menggerakkan.
"Tidak perlu buru-buru menjawabnya, tante hanya menanyakan saja. Kalau belum siap untuk menikah tidak apa-apa. Tante mengerti, mungkin kalian bisa saling memahami dan saling kenal satu sama lain dulu. Jika sudah yakin dan matang, tinggal beritahukan ke tante. Nanti tante dan Om menemui orang tuamu langsung." Terang Lita panjang lebar menjelaskan.
Helen seperti di ambang oleh badai siap menghempas tubuhnya di dasar lautan yang luas. Bryan sih, muka biasa. Kan, sudah di sepakati sama Ibu dan ayahnya.
****
Pekerjaan Helen jadi terbengkalai karena memikirkan perkataan Ibunya Bryan. Rasanya ia pengin menghilang dulu dari keluarga Bryan.
"Helen, di panggil sama Pak Bos tuh dari tadi." tegur Nina, Divisi Marketing.
Helen menoleh ke belakang, Helen dari tadi duduk di meja marketing, soalnya dia sedang fotokopi berkas yang di minta Bryan tadi.
Bryan dari tadi perhatikan Helen sepertinya tidak konsisten, apa masalah tadi siang ya, pertanyaan dari ibunya hingga buatnya tidak fokus. Bryan sih bahagia lihat Helen tingkah seperti itu.
Nah, permasalahan dari Helen. Helen antara menghadap Bryan atau memilih ke kamar mandi. Kalau pilih kamar mandi, pastinya Bryan mengira dia sedang menghindar dari atasannya. Terus pilih menghadap di pastikan 99℅ dirinya gugup tidak berani menatap Bryan lagi.
Karena apa, karena Helen sudah berdegup kencang pada jantungnya. Ya tidak tahu dengannya sendiri. Yang penting rasa grogi pasti ada, rasa malu tentu ada. Pertanyaan dari Helen adalah menolak ya tentu pikiran fokus menolak, menolak bukan berarti dia tidak menerima dari ibunya. Menolak karena dia benaran belum siap.
__ADS_1
Kalau soal perasaan, Helen sendiri tidak tahu ada rasa terhadap Bos sinting nya ini. Setiap hari sih, selalu bikin dirinya jengkel, apalagi suka dadakan cium tanpa unsur tertentu. Ya soal cium, Helen memang yakin itu degupan jantungnya 180°c menopang nya kuat hingga ubun panas di kepalanya.
Terus, kadang Helen kesal dan ingin marah karena suka memotong pembicaraan yang belum selesai. Pokoknya Helen sudah alami, apalagi Bos sinting suka-suka ganggu kehidupannya di saat jam istirahat tenang di malam hari.
Helen masih di tempat mesin fotokopi sambil memikirkan kehidupan tentang dirinya awal pertama hingga akhir. Bryan dari tadi berdiri jarak yang lumayan jauh memperhatikan sekretarisnya sedang melamun.
Bryan sih suka lihat paras wajah Helen, natural, alami, walaupun sedikit polesan bedak tipis di wajahnya tetap sama cantik menurut Bryan. Postur tubuhnya sesuai apa yang di inginkan Bryan selama ini. Pertama kali Helen melamar pekerjaan di perusahaannya, Bryan terpana dengan paras wajah Helen yang amat lugu dan polos. Bryan terkagum dengan pola pikirnya panjang, tidak berneko-neko.
Cara bicaranya pun sopan dan sudah di pelajari sebelum lamar di sini. Cepat tanggap setiap ada jadwal yang penting, menaati peraturan yang ada di perusahaannya. Segalanya dia kerjakan sangat cekatan dan cepat. Makanya Bryan tidak memilih Helen sebagai sekretaris dan memberikan semua pekerjaan agar dia mudah mempelajari dan mengetahui apa saja ada di perusahaannya.
Bryan sengaja divisi lain tidak terlalu memanjakan Helen hanya gosip murahan, karena Bryan paling benci dengan namanya isu beredar dari mana asalnya. Menjelekkan Helen sebagai simpanannya, pakai susuk apa, pakai santet atau ilmu Hitam. Padahal Bryan lakukan ini juga demi profesi Helen lebih baik. Bryan lebih suka staf kerja kompeten daripada mulut yang bekerja. Seperti Cindy, Bryan memang dari awal ingin memecat Cindy karena apa mulutnya seperti beo berkoar di mana-mana. Anjing menggonggong saja tidak sampai berkoar luar gedung.
****
Nina dari tadi duduk memperhatikan dua kaum adam dan hawa ini sedang memikirkan apa di otak mereka. Ya, Nina bukan ahli psikolog atau mbak dukun. Tapi, ini sudah hampir sejam lebih Helen masih setia sama mesin fotokopi, sedangkan Pak Bos nya dari tadi berdiri berteder tepi pintu sambil menatap arah Helen tanpa kedip sedikit pun.
Setahu Nina Pak Bos sudah bertunangan dengan pengusaha kaya raya dari PT. Angkasa Cup. Ya tidak sering kali jumpa sih. Kan tunangannya si Pak Bos lebih mementingkan kecantikkan tubuhnya.
"Nin ... mereka kenapa?" tanya Sera divisi Admin HRD
"Ya mana aku tahu kenapa mereka. Sudah dari jam 2 siang sampai sekarang posisi mereka di situ saja," jawab Nina pelan.
Sera ikut memperhatikan mereka. Serasa seperti drama Korea waktu-jam terus berjalan namun manusia tidak bergerak.
****
Helen sudah pusing dengan pikirannya, ia hembuskan napas panjang, kemudian berbalik menuju arah kamar kecil untuk menenangkan pikiran. Bryan tersadar karena ponselnya berdering di saku celananya. Suasana kembali ricuh, tadi hening sekarang ricuh.
__ADS_1
Helen masuk ke dalam untuk buang air kecil, ponsel nya bergetar di jas hitamnya. Di lihat nomor tidak di ketahui.
"Ya, Halo ... ada yang bisa saya ban –“Helen memendamkan kedua matanya.
"Kamu di mana?" suara dari seberang siapa lagi kalau bukan Bryan.
"Ada perlu apa lagi, Pak! Saya sedang –“
"Sekarang kamu ke ruangan saya! Ada yang mau saya bicarakan. Lima menit sudah harus sampai. Tanpa ada perkecualian kalau tidak mau saya potong gaji kamu."
Telepon panggilan di tutup, Helen menggerang geram. "Gggrrrrr, Bos sialaaannn!" umpat Helen di dalam kamar kecil.
Yang ada di luar sedang mencuci tangan jadi horor sendiri dengar suara Helen. Bryan ya begitulah suka usik kehidupan Helen meskipun sudah di setujui oleh orang tuanya. Tapi, tetap saja Bryan tidak bisa mengubah jahillah pada Helen.
Helen keluar dari kamar kecil dengan wajah semerawut masam, divisi lain jadi seram sampai menyingkir takut di embat sama sekretaris Bryan. Sampai di depan pintu ruangan Bryan, Helen menarik napas panjang - panjang kemudian di hembuskan pelan-pelan.
Oke, Helen .... sabar ini cobaan, tunggu sampai benar yakin. Balas kan dendammu. ~ batin Helen menyemangati diri sendiri.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak Bryan," Helen sudah berada di depan pintu memberi hormat profesional tentunya senyum manis di depan Bryan.
"Nanti malam temani saya ke pesta pertunangan rekan bisnis sahabat Ayah saya. Soal pakaian sudah saya sediakan tinggal kamu pakai setelah pulang kerja. Saya akan jemput kamu jam 8 malam. Tidak ada penolakan, ayah dan Ibu yang meminta nya," ucap Bryan panjang lebar tanpa ada titik koma. Apalagi tidak memberikan sepatah kata pun untuk Helen bersuara.
"Kenap –“
"Ingat! Ibu saya bilang apa tadi. Kedekatan dan saling mengenal. Jadi saya tidak suka ada penolakan. Kalau kamu tetap menolak bisa saya pastikan malam ini saya nikahi kamu!" Potong Bryan buat dua bola mata Helen bulat-bulat melebar sempurna. Bryan sih senyum panjang kemenangan.
__ADS_1