Possesive Brother

Possesive Brother
Mendung Di Keluarga Ghazaal


__ADS_3

Hari terus berlalu bulan berganti,keadaan Alana semakin memburuk.Bahkan saat ini dia sulit mencerna makanan dan dengan terpaksa sesekali menginfusnya untuk memberi asupan gizi pada tubuh Alana


"Sayang" panggil Mahran dengan mengelus rambut Alana


"Jangan keseringan melamun gak bagus,kita ke taman ya,biar kamu kena sinar matahari" Mahran pun mengendong tubuh Alana yang semakin hari semakin ke hilangan berat badan


Ia menaruh tubuh Alana di atas kursi roda,saat ini infusnya sudah di lepas sehabis menghabiskan sekantong cairan nutrisi


Mahran mendorong dengan perlahan kursi roda dan memasukki lift yang berada di kediaman Ghazaal,lalu menekan angka satu dan lift pun bergerak perlahan


"Kamu harus cepat sembuh ya,aku gak suka liat kamu baring terus apalagi muka pucat kamu,itu mengurangi kadar kecantikkan kamu sayang" ucap Mahran berusaha mengajak istrinya berbicara


"Kalau kamu sembuh kita sekeluarga berlibur ke paris,mau?" saat mendengar ucapan Mahran tampak Alana ingin berbicara tapi kesulitan,Mahran pun berinisiatif mendekatkan telingannya di bibir istrinya

__ADS_1


"Pu-putri k-ku..."


Deg


Mendengar suara lirih Alana yang hampir tak kedengaran membuat Mahran sedih,percayalah bukan hanya Alana yang merindukan anak perempuan satu satunya tapi Mahran bahkan anak anak mereka


Tapi apa boleh buat kalau Tuhan belum berkehendak untuk mempertemukan mereka


Mahran mendorong kursi roda Alana menuju taman bunga,lalu mencari tempat yang cocok untuk Alana berjemur.Mahran menghentikan dorongannya tak jauh dari taman bunga,dia pun berlutut di hadapan istrinya dan mengelus tanggan yang di tinggal daging


"Sabar ya sayang,aku akan segera menmukan putri kita apa pun yang terjadi,maka dari itu tetap sehat ya agar kamu bertemu dengan El " hibu Mahran mengucapkannya dengan berat,dia tau seharusnya tak memberi harapan palsu kepada istrinya tapi mau bagaimana lagi Alana dalam keadaan sakit jadi dai harus membuat Alana bahagia agar mempermudah penyembuhannya


Alana menitikkan air matanya,tubuhnya mulai bergetar menahan tangis,Mahran yang melihatnya pun ikut menitikkan air matanya

__ADS_1


"Ssst jangan nangis sayang" Mahran menghapus air matanya dan Alana lalu membawa Alana dalam dekapannya


Dan lagi lagi Daniel melihat kejadian menyedihkan itu,tapi kali ini di temani kakak ke duannya,Daffan.


"Lho kok kamu ikut nangis" kekeh Daffan menglihat Daniel yang ikutan mellow,sebenarnya dia juga ingin menangis melihat kejadian di depan matanya tapi dia sadar dia tak boleh lemah untuk adiknya maupun anggota keluargannya yang masih berduka


"Kapan El balik ya kak,semua orang kangen berat sama El tapi kok dia seneng banget ngumpet" keluh Daniel di akhiri kekehan,kenapa harus keluarganya merasakan mendung yang tak kunjung pergi.Dia iri dengan keluarga orang lain


Dia ingin merasakan kembali kehangatan yang dulu hilang sebelum kejadian itu,dia bukan hanya ingin tapi sangat membutuhkan kenangan itu agar kembali.Tapi mau gimana lagi,masa lalu tetap masa lalu tak mau di ubah walaupun kita mengitari bumi melawan arah jalan bumi untuk memutar waktu.


"Setiap masalah akan ada jalan keluarnya,begitu juga masalahn keluarga kita.El bakal pulang kakak yakin itu" ucap Daffan bukan bermaksud menghibur tapi dia yakin adiknya akan segera pulang,dia sangat yakin


"Semoga kak,aku gak mau kalerga kita terus di landa mendung" balas Daniel berusahan memyakini dirinya bahwa sang adik pasti kembali

__ADS_1


__ADS_2