
Di kediaman Ghazaal pelayan tampak sangat sibuk hari ini,mandar mandir menata ruang makan dan membersihkan rumah sebersih bersihnya
Di hari istimewah ini para pelayan berusaha semaksimal mungkin bekerja,mau tau hari ini hari apa?Hari ini hari bertambahnya usia seseorang,seseorang yang sangat berarti untuk keluarga Ghazaal.
Sudah tau kan siapa?Yaps hari ini perayaan ulang tahun putri bungsu Ghanzaal yang biasa di panggil El
Walaupun putri bungsung masih menghilang dan belum di temukan,tapi bukan berarti dia di lupakan.Sengaja Alana meminta pada Mahran untuk tetap merayakan ulang tahun El,Ghazaal's diamond (Berliannya Ghazaal).
Tepat pukul 10.10 pagi,di segala penjuru rumah telah di hiasi berbagai hiasan ulang tahun padahal tidak akan ada yang datang tapi mo gimana lagi Alana cinta berat dan merindukan putri kecilnya
Ya gini lah salah satu caranya mengobati rasa kangennya yang sangat luar binasa,alay?Terserah toh yang penting dia bahagia dengan caranya sendiri
Satu persatu,keturunan berdarah sama itu turun dan duduk di tempat yang memang sudah mereka biasa duduki saat makan di rua ng makan
"Mari makan" seru Alana ceria dan sedih
Ceria karna putrinya sudah besar,dan sekarang menginjak 15 tahun.Sedih karna tidak bisa merayakan berasama putri kecilnya
Tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja,Mahran yang duduk di sebelahnya langsung mengusap air mata Alana
"Ada apa hmm?"tanya Mahran lembut
"Gak papa,aku cuman rindu sama El" jawaban Alana membuat yang saling melempar pandang
"Ma,El pasti bakal sedih tau mama nangis" ucap Daniel sambil menaruh beberapa tauk ke piring Alana tak lupa dengan nasi kuning
"Aku yakin kok,El bakal pulang karna dia pasti tau mama kandungnya sedang merindukannya" lanjut Daniel tersenyum manis mencoba menghibur Alana
"Iya mama percaya El bakal pulang" balas Alana ceria,semua yang di ruaangan pun memghela nafas lega
Mereka makan dengan di iringi cerita unfaedah Daniel,tapi tentu ceritanya di tanggapi Alana dan Affan.Sedangkan untuk trio tiga kutub itu hanya mangut mangut dan membalas seperlunya.
.
__ADS_1
.
.
"Kak Lala,kita main yuk" ajak gadis kecil sambil menarik tanggan Stella yang sedang bersantai di teras rumah,hari ini hari sabtu alias hari libur di sekolah Stella
Stella pun mengikuti gadis mungil itu dan bermain bersama,hal itu tak lepas dari pandangan bunda Rani yang baru saja pulang dari berbelanja
"Stella ikut bunda bentar,ada yang mau bunda omongi" panggil bunda Rani
Stella pun meminta gadis kecil itu untuk bermain bersama yang lain lalu meninggalkannya,dan mengikuti langkah bunda Rani yang menuju kamarnya
"Sini nak,duduk sebelah bunda" ujar bunda Rani menepuk sebelah tempat duduknya di atas karpet sederhana
"Ada apa bun?"
"Tapi sebelum itu kamu jangan marah ya"
"Iya bun"
"I-ini."
Stella merasakan keluh di lidahnya,dia tak menyangka bahwa memiliki benda yang mungkin sebagai petunjuk ia bertemu orang tuanya,dia pun mengambilnya dan mengamati liontin tersebut
"Bunda kenapa ba-baru kas-sih tau a-aku?" tanya Stella terbata bata,saat ini dia menahan rasa bahagia yang tiba tiba membuncak
"Maafin bunda sayang,saat kamu bayi ada seorang ibu ibu yang berpakaian layaknya babysister.Dia meminta bunda untuk jaga kamu,dia bahkan memberi bunda uang "
"Lalu?" tanya Stella mendesak
"Tapi dia mohon sama bunda jangan kasih tau kamu tentang liontin ini,tapi akhir akhir ini bunda liat kamu murung terus bahkan bunda sempat kamu meracau memanggil 'ma' 'pa'.Maka dari itu bunda memilih untuk memberi tau kamu soal liontin ini" akhir bunda Rani dengan raut wajah menyesal
"Maafin bunda ya sayang" mohon bunda Rani dengan memegang ke dua telapak tanggan hangat Stella
__ADS_1
Melihat bunda Rani yang memohon tentu Stella merasa bersalah,bagaimana pun bunda Rani tak sepenuhnya salah.Maka dari itu dia menganggukkan kepalanya sambil memasang senyum semanis mungkin
"Gak masalah kok bun,yang penting bunda udah kasih tau aku sekarang kan" jawab Stella
Bunda Rani memeluk Stella dan terus mengucapkan kata terima kasih,saat mereka berpelukkan tanpa Stella maupun bunda Rani sadari liontin itu bersinar dua kali saat jari jempol Stella yang menekannya
.
.
.
"Permisi tuan besar,nyonya besar,dan tuan muda" tampak seorang pria membungkukkan setengah badannya di hadapan keturunan keluarga Ghazaal dengan membawa laptop yang di pegangnya,Aditya Putra
"Adit,bergabunglah kami sedang merayakan ulang tahun El" ajak Alana dengan di akhiri kekehan sedih
"Saya sudah sarapan Nyonya besar,di sini saya ada keperluan mendesak dangan Tuan besar" balas Adit sopan,Mahran pun menganggukkan kepalanya
"Aku pergi ke atas bentar ya sayang" izin Mahran sambil mengecup pucuk kepala Alana yang hanya mengangguk
Mahran dan Adit pun berjalan beriringan,mereka memasukki ruang kerja Mahran dan duduk berhadapan
"Ada apa?" tanya Mahran dingin
"Tuan,saya kembali melacak liontin nona muda dan saya menemukan keberadaan liontin itu yang selama ini non-aktif" jelas Adit
"Kamu serius?" tanya Mahran terkejut
"Saya serius tuan" Adit pun menunjukkan laptopnya dan di berikan kepada Mahran
"Keberadaan nona muda ada di panti asuhan 'Permata Kasih Bunda' "
Tanpa sadar mata Mahran berkaca kaca saat melihat laptop yang menunjukkan keberadaan liontin El yang di berikannya
__ADS_1
Dia memang memasang pelacak di liontin itu,pelacak itu bisa di non-aktifkan dan di aktifkan kembali.Dan sekarang pelacak liontin itu kembali aktif dari lamanya 15 tahun non-aktif