
"Ada apa?Kenapa ceria kayak dapat cahaya kehidupan" tanya Alana saat Mahran memasukki kamar mereka
Mahran hanya cengar cengir tidak jelas,ia duduk di samping istrinya yang sedang menikmati pemandangan dari balkon
"Gak papa" jawab Mahran sambil memeluk Alana dan mendusel dusel kepalanya di leher istrinya
Alana yang melihat kelakuan Mahran tentu bertanya tanya,apa yang suaminya dapat sehingga sebahagia ini.Mendadak dia curiga bahwa otak suaminya tergeser lantaran sering lembur
Karena pikiran jahanam itu yang terlintas membuat Alana buru buru mengambil heandphonenya yang selalu ia taru di saku celananya dan mencari nomor dokter pribadi keluarga Ghazaal
Mahran menghentikan acara mendusel duselnya saat merasa Alana banyak gerak,dia melihat Alana yang akan menelpon Gibran,dokter pribadi keluarga mereka.
"Ngapain telpon Gibran?" tanya Mahran cemburu.
"Otak kamu bermasalah,jadi aku mau suruh dokter Gibran datang ke sini" balas Alana
"Halo nyonya besar"
"Gak usah ngawur,bilang aja modus" Mahran merampas ponsel Alana paksa dan mematikan telpon
Lalu melempar asal ponsel Alana,Mahran merengkuh tubuh Alana erat,menengelamkan wajahnya di leher Alana
"Modus pala lu"
__ADS_1
"Alana" desis Mahran kesal,dia tidak suka mendengar kata kasar keluar dari bibir istrinya
"Ya kamu asal nuduh" balas Alana sengit,dia memberontak dalam pelukan Mahran
"Bukannya kamu yang nuduh otak aku bermasalah" balas Mahran tak mau mengalah
"Diam sayang" perintah Mahran saat mulai kewalahan menghadapi berontakan Alana dalam pelukanya
"Lepas,aku marah" Alana semakin gencar memberontak
"Ck" decak Mahran kesal,dia pun melepaskan pelukannya
Tiba tiba sebuah ide muncul di otak briliannya,dia pun menatap istrinya jahil sedangkan yang di tatap mulai merasakan firasat buruk dan benar saja Mahran langsung memasang pose menerkam
"Hahahah geli hahahaha ampun hahah Mah hahahah" Mahran mengelitik perut Alana sedangkan Alana berusaha menghindar tapi apalah daya dia sedang tak memiliki tenaga banyak untuk melawan Mahran
Daffa sibuk mengotak atik laptopnya,saat ini dia berada di kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya.Hari ini dia pulang ke mansion milik keluarganya
Tok tok tok
"Kak" kepala Daniel nongol di sela pintu sesudah dia mengetuk pintu untuk sekedar formalitas
"Hmm"
__ADS_1
"Lagi ngapain?" tanya Daniel mendekati kakaknya
"Kemarilah" Daffa menepuk sofa di sebelahnya,mengacuhkan pertanyaan bodoh Daniel
"Wiih sibuk bener pak bos" decak Daniel melihat tumpukan berkas yang penuh di meja bahkan ada yang beberapa di taruh di lantai
Untung dia tak berniat meloncat kelas pasti saat ini dia akan sibuk dengan berbagai macam berkas yang berisi hal yang mampu membuat kepalanya pusing selama 7 malam
"Ada apa?" tanya Daffa saat Daniel mendudukkan bokongnya
"Pinjem mobil Rolls-Royce Boat tali dong" Daniel tampak memasang wajah yang di buat semanis mungkin
Mendengar permintaan Daniel,Daffa menaikkan alisnya heran pasalnya dia ingat dulu saat pertama membelinya dan Daniel melihatnya langsung berkomentar bahwa mobil itu memiliki model kuno.Tanpa tau berapa banyak uang yang di keluarkan Daffa untuk mobil yang hanya di produksi 3 unit di dunia
Dan sekarang tiba tiba dia meminjamnya,aneh kata itulah yang terlintas dalam benak Daffa
"Temen gue nyombongi mobil Lamborghini Urus ke gue,kan jadi pen nyombongi juga" adu Daniel
"Boleh ya" mohon Daniel mengedipkan ke dua matanya
Hal itu membuat Daffa merotasikan matanya malas,dia hanya mengangguk agar adik laknatnya itu pergi dari hadapannya
"Yey makasih kak"
__ADS_1
Daniel pun melompat kegirangan dan langsung pergi ke garasi dengan bersiul bahagia