Possesive Brother

Possesive Brother
Ungkapan Daffa


__ADS_3

Mahran langsung turun dan berlari ke dalam rumah sakit,bahkan tak segan menabrak atau mendorong sesuatu yang menghalanginya.Toh dia tak perlu takut dengan biaya ganti rugi atau apa pun itu karena inirumah sakit miliknya sendiri.


Bugh


Bugh


Bugh


Mahran meninju ke-3 bodyguard bayarannya dengan perasaan marah,dia sudah bayar dengan harga tinggi untuk menjaga 'seseorang yang dari dulu dia cari' tapi karena kelalaian mereka semuanya kacau.Sebenarnya sih bukan kelalaian tapi kan memang udah jalur takdir,tapi ya suka suka Mahran lah


"Tuan Mahran?" sapa seorang dokter yang baru keluar dari ruang UGD,Gibran dengan pandangan heran


"Bagaiamana keadaan dia?" tanya Mahran berusaha menahan gejolak amarah dalam dirinya


"Kita bicarakan di ruangan saya saja tuan" ajak tuan Gibran dengan senyum manis tapi jelas di matanya ada keseriusan


.


.


.

__ADS_1


"Mama"


Alana menoleh saat mendengar panggilan dari anak ke tiganya,Affan.Dengan senyum lembut Alana mengelus kepala Affan yang sudah duduk di bangku taman sebelah tempat dia duduk di kursi rodanya


"Gimana dengan Cafe kamu?" tanya Alana


"Lancar" balas Affan singkat tapi nada suara lembut


Dia memang dingin terhadap siapa pun bahkan Alana tapi bedanya dia akan melembutkan suaranya saat di dekat Alana.Bagaimana pun Alana ibunya,wanita pertama yang di cintainya


"Kenapa gak masuk dunia Entertainment milik papa?" tanya Alana


"Padahal cocok lho muka kamu kalau jadi idol" celetuk Alana terkekeh sendiri


"Mama pengen aku jadi idol?" tanya Affan dengan muka lepeng tapi matanya menunjukkan keseriusan


"Memangnya kamu mau?" tanya Alana berniat mengoda putranya


"Dengan syarat mama harus sembuh" jawab Affan tegas


Alana tertegu sejenak,niat hati ingin mengoda malah di lempar syarat.Kembali Alana mengelus surai lembut Affan

__ADS_1


"Mama nyusahin kalian ya?" tanya Alana


"Iya" jawab seseorang


Alana terpaku menatap putra sulungnya,Daffa yang entah di bawa petir mana.


"Mama memang nyusahin,dengan mama sakit semua turut sakit dan kami sulit fokus cari El kalau mama down mulu" ucap Daffa panjang kali lebar


Affan mentap penuh peringatan ke arah Daffa,tapi Daffa hanya diam.Sudah saatnya mamanya mengerti mereka perlu kesehatan mamanya membaik,agar El kembali


"Mama jarang makan,gak mau minum obat,nolak di rawat di rumah sakit.Mama pikir kami gak ke sulitan ngatasi semua hal yang terjadi karena mama sakit,bukan masalah papa yang hilang investor karena harus nemenim mama yang tiba tiba histeris saat papa lagi metting.Bukan masalah Affan yang cafenya hampir tutup gegara pekerjaan yang terbengkalai demi nemeni mama dan bujuk mama minum obat,bukan karena Daniel yang sekolah nya kacau karena mikirin mama sakit yang berujung buat dia sakit juga" ucap Daffa lagi kali ini dengan gurat wajah sedih


"Bukan karena aku dan Daffan yang sering bertengkar karen sibuk mikirin perusahaan dan mama sekaligus sampai sampai banyak yang korupsi di perusahaan.Bukan ma,tapi kami gak mungkin ningalin mama walau sejenak untuk cari El.Kalau mama pengen ketemu El,sembuh ma.Kalau mama kenapa kenapa gara gara kami cari El,percuma ma.Kita cari El supaya problem di rumah selesai dan keluarga kita kembali harmonis,bukan buat keadaan mama makin buruk" lanjut Daffa yang kali ini mengeluarkan butiran kriatal dari pelupuk matanya


Mungkin wajahnya tetap datar tapi semua tau saat ini dia sedang frustasi,dia bingung.Sebagai anak selung tentu dia akan di andalkan saat papanya sedang mengurus hal lain,dan itu tanggung jawab besar.


Setiap perusahaan keluarga Ghaazal yang di pegang Mahran di hadle Adit dan Daffa,bahkan cafe milik Affan pribadi pun masih di awasi Daffa karena takut kejadian beberapa bulan lalu terulang yang dimana cafe milik Affan hampir gulung tikar kalau tidak segera di hadle Daffa


Bukan hanya itu bahkan Daffa masih harus mengawasi sekolah Daniel agar tidak kembali berantakan,memang Daffa di bantu Adit bahkan Daffan.Tapi kalau boleh jujur


Daffa lelah,dia lelah dengan keadaan keluarganya

__ADS_1


__ADS_2