
Jonathan mengejar Jennifer. "Tunggu...aku belum selesai."
Jennifer berhenti dan membalikkan badannya. "Apa?"
"Aku masih marah padamu." tukas Jonathan. "Bagaimana aku tidak marah, aku melewatkan beberapa bulan kehamilanmu dan juga kelahirannya, sekarang aku seperti orang asing bagi Velly."
"Aku mengira kau tidak siap punya anak." Jennifer makin frustasi.
"Dia sudah ada, siap atau tidak!" bentak Jonathan.
"Aku tidak tahu kau merasa seperti ini."
"Sebelum tahu tentang Velly, aku pun tidak tahu." Jonathan semakin kasar. "Tapi ia tetap keturunan Carlos, ia tanggung jawabku dan aku harus memikulnya."
Jennifer tidak percaya apa yang dikatakan Jonathan barusan, ia bilang tanggung jawab. Sedangkan awal pengakuannya saja benar benar tidak dipercayainya, tapi Jennifer tidak ingin berdebat lagi, ia tahu pria itu sedang mengatasi hatinya setelah tahu hasil tes DNA itu. Tiba tiba ia sekarang menjadi seorang ayah, semakin mempersulit keadaan.
"Bawa aku pada anakku." perintah Jonathan.
Jennifer menunjukkan keberadaan Velly, dibukanya pintu kamar itu, Jonathan menyuruh pelayannya meninggalkan anaknya. Jonathan menghampiri Velly yang sedang asyik bermain dengan berbagai macam mainan di lantai berkarpet. Jonathan membungkuk dan mengangkat anaknya. Terkejut karena diangkat tiba tiba, Velly menjerit jerit marah dan memberontak minta diturunkan.
"Ia bersikap aneh saat merasa tidak nyaman dengan orang asing." Jennifer memberitahu.
__ADS_1
Dengan canggung Jonathan membawanya lebih dekat, dan saat itulah suara tangisnya meledak minta dilepaskan, tangannya meminta minta pertolongan pada Jennifer.
Jennifer menyambut tangan anaknya, dan mencoba menenangkannya. "Kau bisa lebih bersabar, cobalah bermain dengannya pelan pelan."
"Seumur hidupku, aku tidak pernah bermain dengan anak anak." kata Jonathan dengan nada datar. "Ia memang selalu gelisah seperti ini atau hanya denganku saja."
"Bayi lebih sensitif dengan suasana orang disekitarnya." jawab Jennifer. "Dan ia juga tahu ada ketegangan diantara kita."
Jennifer mulai menurunkan bayinya di karpet, mengajaknya bermain kembali. Jonathan memperhatikan anaknya dengan seksama, pantas saja ia tidak mirip sama sekali dengan keluarga Jennifer, ia memperhatikan warna rambut, warna mata juga wajahnya. Ia baru menyadari kemiripan putrinya dengannya, bagaimana mungkin ia tidak menyadarinya dari awal membuat Jonathan frustasi. Bagaimana mungkin ia tidak curiga pada Jennifer saat berbulan bulan ia cuti sakit yang ternyata cuti itu saat kehamilannya semakin besar dan saat kelahiran putrinya.
Jonathan sama sekali tidak ingat malam kebersamaan mereka. Berkali kali ia mencoba mengingat, tapi tak ada satu potongan ingatannya yang melihat kejadian malam itu.
Jennifer mengambil satu buku cerita bergambar diantara mainannya dan menyodorkan pada Jonathan. "Bacalah buku ini, itu buku favorit Velly. Aku akan mendudukannya di kursi bayi. Kau bacakan dan tunjukkan gambar itu padanya."
"Ia selalu tertarik dan lebih tenang saat aku membacakannya. Ia akan nyaman dengan kebiasaan yang ia kenalnya." Jennifer memberitahu.
Dengan keengganan yang kentara Jonathan mengambil buku itu dan duduk disamping anaknya. "Kau keluarlah, aku tidak butuh penonton untuk semua ini."
Jennifer sebenarnya ingin tinggal lebih lama, ia takut putrinya akan menangis dan memberontak kembali. Tapi Jonathan juga benar, ia akan memberi waktu untuk keduanya untuk saling mengenal. Jennifer melangkah keluar. Dan terdengar suara tangisan saat Velly melihatnya keluar meninggalkannya.
Jonathan mulai mendekati putrinya lagi, memberikan beberapa mainan, dan mulai membacakan cerita dengan menunjukkan gambar dengan antusias, Velly mulai tenang dan menghentikan tangisannya. Ia justru tertawa saat Jonathan sekali sekali mengikuti suara suara hewan yang ada pada gambar.
__ADS_1
Jonathan mulai memberanikan diri lagi mengangkat putrinya dari kursi bayi dan mendudukkannya di pangkuan Jonathan. Perlakuan itu sama sekali tidak ditolak, justru ia semakin senang membalikkan buku bergambar itu. Jonathan melihat putrinya yang tersenyum dan tertawa, hatinya sangat bahagia, entah sejak kapan ia menyukai anak anak. Jonathan menggendongnya dan berdiri di dekat jendela, pemandangan rumput dan juga beberapa domba terlihat disana.
Jonathan memperkenalkan satu per satu pemandangan itu sampai putrinya mengikuti jarinya untuk menunjuk dengan antusias, tawa putrinya sekali sekali terdengar renyah, saat melihat domba itu berjalan di padang rumput. Kebahagiaan baru tercipta dalam hatinya, pagi tadi ia masih belum siap menjadi seorang ayah, tapi sekarang justru ia sangat bangga dengan apa yang terjadi sekarang.
Satu jam telah berlalu, Jennifer mencoba mendengarkan suara di balik pintu, tak ada suara justru keheningan tercipta disana. Ia membuka pintu pelan pelan. Jonathan mengangkat jarinya ke bibir agar Jennifer tidak bersuara. Putrinya yang cantik sedang tertidur di pelukan ayahnya, begitu nyenyak seakan sudah mengenal ayahnya sejak lahir. Jennifer tersenyum melihat pemandangan itu, entah bagaimana Jonathan bisa menenangkan anaknya dan memenangkan hatinya. Jennifer mengambil putrinya untuk diletakkan di ranjang.
"Aku sangat bersyukur kau mengandungnya." saat keduanya mulai melangkah meninggalkan kamar. "Tapi ia berhak atas pemberitahuanmu saat awal awal kehamilanmu."
"Mungkin begitu." jawab Jennifer tak perduli.
Wajah Jonathan mengeras. "Kau tahu akan hal itu Jenni." pria itu menarik nafasnya. "Aku ada pekerjaan sebelum makan malam." Jonathan meninggalkannya ke ruang kerjanya.
Rendah hati memang bukan sifat Jonathan, Jennifer menyadari dengan sedih akan hal itu. Ia memasuki kamar utama untuk memutuskan baju apa yang akan dipakainya saat makan malam nanti. Jonathan masih marah dengannya dan menolak alasan Jennifer mengapa ia merahasiakannya. Jonathan amnesia sesaat dan kehadiran Franciska membuat semuanya semakin rumit. Jennifer melahirkan putrinya tanpa bantuan Jonathan, kesendirian dan kesedihannya sangat mendalam saat berbulan bulan ia melalui masa kehamilan sendiri. Pikiran pikiran itu membuatnya semakin kacau. Ia memutuskan tidur siang sebelum ia menghadiri makan malam bersama Jonathan.
Bagaimana kisah selanjutnya...
Happy Reading All...
Ikuti terus ceritaku...
__ADS_1
Jangan lupa dukung, like n komen...!