
Udara yang semakin dingin membuat tubuh Jennifer semakin menggigil. Ia menaiki tangga pesawat dan melewati beberapa kru yang menyapanya, di kabin Jonathan sedang duduk sambil sibuk dengan laptopnya. Begitu melihat Jennifer, ia langsung mendongak. Tatapan Jonathan yang sangat tajam membuatnya ngeri. Terlihat kemarahan Jonathan sedang berusaha ia tahan karena masih ada beberapa kru pesawat yang berlalu lalang didekat mereka.
Jennifer makin terlihat pucat bagai mayat karena kedinginan sekaligus ketakutan akan menghadapi Jonathan, ia harus lebih berani menantangnya mengingat semua yang terjadi sudah jelas. Jonathan menjalani perselingkuhan saat rumah tangganya masih diambang kehancuran.
Jonathan melemparkan sebuah mantel yang tebal padanya. Jennifer terlalu ngeri saat melihat mantel itu, bagaimana jika jaket ini milik Franciska. pikirnya. Melihat keraguan Jennifer, Jonathan menatapnya tajam. "Pakailah...! Itu baru aku beli." kata katanya sangat dingin membekukan.
Suara deru pesawat berbunyi, menandakan pesawat akan lepas landas. Beberapa pramugari pribadi menawarkan makanan dan minuman ringan. Setelah itu Jonathan menyuruh mereka keluar dari ruangan. Rasa takut kembali menyelimuti Jennifer ketika hanya tinggal mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan di negara ini dengan pakaian seperti itu?" tanya Jonathan pelan.
Jennifer justru balas bertanya. "Bagaimana kau bisa menemukanku disini?"
"Itu tidak penting sekarang Jenni, yang aku tanyakan apa yang kau lakukan disini. Apa kau ingin mati kedinginan." jawaban Jonathan tajam.
"Aku hanya butuh kebenaran akan pertanyaan pertanyaan dalam hatiku." balas Jennifer. "Lalu apa yang kau lakukan disini?"
"Aku menghadiri acara penggalangan dana perusahaan JC disini, aku harus memberikan pidato." ujar Jonathan. "Apa kau sudah menemukan jawaban atas pertanyaanmu?" tanyanya lagi.
Jennifer mulai kesal. "Aku pikir aku tidak akan mendapatkan jawabannya, tapi ternyata justru yang aku dapatkan sangat begitu jelas."
"Apa maksudmu?" tanya Jonathan. "Apakah Franciska mengatakan sesuatu yang membuatmu marah."
"Oh tentu saja, bukan hanya membuatku marah tapi juga membuatku yakin dengan keputusanku Jonathan."
"Keputusan macam apa yang sudah kau yakini Jenni, jangan begitu bodoh." ujar Jonathan.
Kemarahan Jennifer kembali tersulut saat kata bodoh terdengar dari mulut Jonathan. "Aku awalnya tidak bodoh, tapi mungkin sekarang aku memang terlihat bodoh karena mempercayaimu." bentak Jennifer. "Aku ingin bercerai." katanya tiba tiba.
__ADS_1
Jonathan terkejut dengan kata kata istrinya. "Kau masih istriku, kau pergi kesana, menantang Franciska di salah satu rumah kita dan kau menuduhnya berselingkuh denganku, apa ini yang memberimu jawaban? Dan sekarang kau ingin bercerai."
Jennifer mengangakat wajahnya. "Aku tidak berpikir aku masih istrimu. Pernikahan kita sudah berakhir sejak kepergianmu, dan aku masih ingat katamu bahwa hubungan kita harus berakhir." Jennifer menekankan kata kata itu.
Mata Jonathan berkilat kilat karena amarah. "Siapa yang akan menerima kebohonganmu selama setahun terakhir, dan kau membuatku menjadi seorang ayah setelah aku menikahimu."
Jennifer memejamkan matanya, perkataan Jonathan memang benar adanya. Ia yang membuat awal pernikahannya hancur. Tapi ia tidak bisa mengabaikan tentang Franciska. "Aku butuh penjelasan hubungan antara kau dan Franciska."
"Ia hanya mantan kekasihku dan tidak ada hubungan sex diantara kami." ujar Jonathan. "Aku hanya membantunya karena ia sedang dalam masalah, ia tanggung jawabku Jenni. Sebelum ayahnya meninggal, ia berpesan untuk menjaga perusahaannya dan menjaga Franciska. Karena aku sudah berjanji maka inilah yang aku lakukan. Bisnisnya tidak berjalan dengan baik, aku hanya membantunya mengembalikan keadaan perusahaannya." Jonathan menjelaskan.
"Tapi apakah harus ia tinggal di rumahmu?" tanya Jennifer.
Jonathan mendesah frustasi. "Keuangan keluarganya sedang tidak baik, ia dekat dengan model Korea, karena kebodohannya Franciska ditipu habis habisan oleh pria itu. Perusahaan ayahnya ada di Korea dan satu satunya agar ia bisa menghemat pengeluaran, ia aku izinkan tinggal di rumah kita."
Jennifer berpikir jika soal keuangan mengapa tidak segera diselesaikan Jonathan dengan mudah. Ia hanya cukup memberinya uang, dan semuanya selesai. Tapi mengapa ia harus tinggal dirumahnya. Apakah Jonathan memberi kesempatan kedua pada Franciska dan ia sedang berpikir untuk masa depan mereka.
"Seharusnya kau tidak dekat dekat dengan Franciska." geram Jonathan. "Hari ini saat kau diselimuti kecemburuan dan menuduhnya berselingkuh denganku, kau telah merendahkan aku. Aku berharap banyak istriku tidak serendah itu."
Jonathan memperhatikan wajah istrinya yang begitu muram. "Sebelum hari ini aku sangat mengagumi pengendalian dirimu Jenni."
Jennifer menatap Jonathan dengan lekat, tubuhnya berkhianat saat matanya bertemu dengan mata Jonathan. Puncak payudaranya mulai menegang syarat nafsu akan kebutuhannya terhadap tubuh tampan suaminya, namun Jennifer hanya bisa menahan hasratnya sendiri dan ia memalingkan wajahnya ke jendela pesawat.
Melihat kebungkaman Jennifer membuat Jonathan ingin sekali tahu lebih banyak pikirannya. "Jenni..." panggilnya lembut.
Jennifer melihat ke arah Jonathan lagi. "Tidak...jangan kau memandangiku seperti itu lagi. Dan jangan bicara lagi padaku." ujar Jennifer kaku.
Terkejut dengan pernyataan itu Jonathan bertanya tanya. "Apa maksudmu?"
__ADS_1
Jennifer menarik nafasnya dalam dalam. "Kau benar, menikah denganmu tanpa memberitahumu tentang Velly terlebih dahulu adalah kesalahan terbesarku." kata Jennifer memberitahu. "Tapi untungnya kita tidak akan berlama lama hidup dalam kesalahan itu."
Jonathan membeku. "Artinya?"
"Kau benar Jonathan kita harus bercerai." bibirnya sedikit gemetar.
"Aku hanya menyarankan itu saat aku belum tahu kita punya anak." bentak Jonathan. "Kini setelah aku mengetahuinya, perceraian sudah tidak diperhitungkan."
"Tapi kita tidak cocok sebagai pasangan."
"Dan salah siapa itu?" bentak Jonathan.
"Tidak semuanya murni kesalahanku." ujar Jennifer. "Keintiman barumu dengan Franciska..."
"Tidak ada keintiman." potong Jonathan dengan marah.
Jennifer menatapnya kaku. "Tapi ada kedekatan diantara kalian yang tidak bisa ku terima."
"Tidak bisa kau terima?" penekanan kata Jonathan menahan amarah.
"Seperti yang kau katakan, kepercayaan telah lenyap." dengan kaku Jennifer mengingatkan. "Franciska adalah wanita yang penting dalam hidupmu, selama beberapa bulan saat aku hamil dan sekarang saat kau mencoba menghiburnya, aku sudah tidak ingin menjadi penonton kalian."
Jonathan kembali marah pada Jennifer. "Kau istriku. Seharusnya itu sudah cukup untukmu."
"Itu tidak cukup untukku. Aku merasa seperti istri yang hanya kebetulan kau nikahi, bukan istri yang sebenarnya. Kau berkata aku mengkhianatimu. Kau menyesal menikahiku di malam pengantin kita." Jennifer mulai menangis. "Aku tidak bisa mengubah masa lalu, begitu juga dirimu."
Kesunyian begitu menegangkan di dalam kabin pesawat. Perjalanan mereka yang hanya 5 jam terasa begitu panjang.
__ADS_1
Happy Reading...😘😘😘