
Malam itu Jennifer menidurkan Velly di kamarnya, ia terlibat dalam perdebatan sengit dengan tantenya.
"Pernikahanmu sudah berakhir saat kau berteriak." kata Grace kecewa.
"Tentu saja tidak." Jennifer membantah. "Jonathan akan berubah saat tahu Velly putrinya." sambungnya.
"Kau kira Jonathan pria yang putus asa mencari ahli pewaris, ia akan dengan mudah mencari wanita yang bersedia melahirkan anaknya." Grace mengingatkan. "Kau sangat lugu Jenni, pria tidak terdorong untuk menjadi seorang ayah, tidak seperti wanita yang menginginkan jadi seorang ibu."
"Aku tidak membuat masalah." bantah Jennifer lagi.
"Bersikap bijaklah Jenni, Jonathan sudah mengatakan pernikahan kalian berakhir, dan menurutku jika kenyataan mengatakan Velly anak kandungnya pun, tidak akan mengubah keputusannya." cemooh Grace.
"Jika itu terjadi, aku bisa apa?" Jennifer pasrah.
"Kau harus mengurus kepentingan Velly sendiri. Ia mungkin sudah berkonsultasi dengan pengacaranya saat perceraian akan mengambil hak asuh Velly dari tanganmu."
"Itu tidak akan terjadi, aku akan membawa pengacara terbaik untuk melawannya." tekad Jennifer kuat.
"Kau telah menyinggung seorang Carlos, pernikahanmu akan berakhir dengan airmata." Grace semakin menakutinya.
Jennifer menarik nafas dalam dalam. Seperti dugaan Grace, jika itu benar terjadi. Ia pasti tidak akan sanggup menanggungnya. Jennifer mencari pelayannya di dapur untuk membantu menyiapkan makan malam, hanya dengan ia menyibukkan diri, ia bisa mengendalikan kekhawatirannya. Ia tidak ingin kehilangan Velly.
Jennifer akan mengajak Velly menuju villa tempat ia akan bertemu Jonathan. Lagi pula, ia sudah tahu akan hasil tes DNA nya, tidak seperti Jonathan. Dan ia yakin banyak sekali yang harus dibahas bersama Jonathan. Jennifer juga berdoa semoga Jonathan tertarik menjadi seorang ayah tidak seperti omongan tantenya. Harusnya seorang anak bisa menyatukan hubungan mereka kembali. Walaupun Jennifer pernah tahu, terkadang suatu hubungan yang gagal, anak bisa memperburuk keadaan. Dan Jennifer berharap, putrinya Velly bisa membawa hal yang positif pada hubungan orangtuanya. Tentunya Jonathan tidak akan menceraikannya karena ia ibu tunggal dari putrinya.
Keesokan harinya Jennifer dan Velly tiba di villa tempat ia menikah, villa mewah milik Jonathan. Tantenya Grace tidak mengikuti mereka, karena tantenya ingin Jennifer segera menyelesaikan prahara rumahtangganya. Jennifer menggunakan gaun ungu menambah kecantikannya. Sedangkan putrinya memakai pakaian senada dengan Jennifer, terlihat benar benar menggemaskan. Jennifer sangat gugup saat beberapa pelayan villa menyambutnya.
Jennifer menyerahkan putrinya ke pengasuh karena ia akan menemui Jonathan di salah satu kamar di villa. Tiba tiba ia merasa gugup, ia berkeringat dingin dan merasa mual. Akankah Jonathan menerima hasil dari tes ini.
__ADS_1
Jendela kamar yang tinggi memperlihatkan pemandangan indah rerumputan di taman villa. Di salah satu sisi pemandangan di kamar itu terlihat sosok seorang pria yang memukau, dia adalah Jonathan. Dengan setelan baju kerjanya yang menambah ketampanannya. Wajah tampannya terlihat kaku dan tak terbaca, saat Jennifer masuk, ia memandangnya dengan sorot mata yang berkilat kilat, dan terlihat pria itu tak setenang seperti biasanya.
"Kau sudah tahu?" tanya Jennifer menebak, suaranya terdengar sedikit tercekat karena masih takut akan reaksi Jonathan.
"Aku sudah menerima hasil tes DNA tadi pagi, semula aku tidak mempercayainya, tapi hasil itulah kenyataannya." ujar Jonathan menahan emosinya.
"Kau seharusnya tahu aku tidak berbohong tentang sesuatu yang sangat mudah dibuktikan." Jennifer mulai berani menantang. "Tentu saja Velly benar putrimu."
"Tapi aku tidak mengingatnya." Jonathan menahan frustasinya saat mengingat ingat kejadian itu. "Meskipun semua sudah terbukti dengan jelas, aku tetap sulit mempercayai bahwa malam itu aku begitu ceroboh sampai membuatmu hamil."
Jennifer kecewa dengan kata kata Jonathan. "Yang bisa ku katakan adalah malam itu kau sangat kecewa dengan kegagalanmu dalam bisnis, kau mabuk berat, aku sebagai sekretarismu hanya bisa membantumu, aku tak tahu dimana rumahmu dan aku mengantarmu ke hotel, saat aku ingin meninggalkanmu, kau memintaku tidur denganmu, karena aku juga menginginkannya, maka terjadilah seperti itu. Tapi menurutku itu bukan suatu yang salah."
Tatapan Jonathan semakin tajam ketika mendengarkan cerita Jennifer. Jonathan terlihat semakin kebingungan. "Aku tidak menginginkan basa basi darimu. Aku hanya ingin tahu persis seperti apa kejadiannya."
Jennifer semakin bingung harus menjelaskannya seperti apa. "Yang pasti adalah..." ia semakin ragu.
Jonathan semakin penasaran. "Aku ingin tahu detailnya, apa yang kulakukan, apa yang kukatakan."
Jonathan memandangnya penuh kebencian. "Maksudmu aku sangat mudah dilupakan, begitu?"
"Ya Tuhan Jonathan apa kau pikir aku sering tidur dengan pria lain" bentak Jennifer semakin marah. "Aku dulu masih perawan."
Jonathan mengangguk menerima pengakuan Jennifer. "Oke...jadi bicaralah...!"
Jennifer berjalan menuju jendela, memunggungi Jonathan. Sebenarnya ingatan Jennifer masih sangat jelas tentang malam itu, sampai terjatuhnya Jonathan. "Setelah kita melakukannya sepanjang malam, kau tiba tiba haus ingin mengambil segelas air, tapi karena kau masih mabuk, kau limbung dan terjatuh, kepalamu membentur lantai dengan keras. Aku berusaha menolongmu tapi ketika kau tersadar, kau lupa akan diriku dan mengusirku keluar dari kamarmu." Jennifer menjelaskannya dengan sangat sedih.
Keheningan dalam ruangan membuat Jennifer semakin membeku, ruangan yang hangat terasa dingin sekarang. Jonathan tidak mengatakan apapun. "Jadi kau sekarang sudah tahu jika Velly anak kandungmu."
Wajah Jonathan semakin kaku. "Aku bisa saja tidak mengetahuinya, jika aku menikah dengan Franciska mungkin aku tidak akan pernah tahu."
__ADS_1
Ketakutan Jennifer semakin terasa. "Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika kau menikahinya."
Jonathan membelalakan matanya. "Tidak...kau mungkin akan merampas putriku, menjauhkannya dariku dan mencabut haknya sebagai ahli waris Carlos."
"Aku belum berpikir sejauh itu."
"Apa kau berencana berbohong saat ia sudah dewasa nanti, ketika ia bertanya siapa ayahnya." kecam Jonathan.
"Demi Tuhan, aku bahkan tidak memikirkan hal semacam itu." Jennifer semakin frustasi. "Velly masih bayi."
Jonathan menatap mata Jennifer. "Velly putriku dan kau mengenalkannya sebagai anak orang lain, kau membawa masuk kerumahku dengan penyamaran palsu, sebagai seoarng ibu kau telah gagal melaksanakan tugasmu."
Sedih dengan ucapan Jonathan, ia malah menambahkan. "Dan aku gagal menjadi seorang istri."
"Kau nyaris membuat dirimu sendiri tidak diinginkan." kata Jonathan ragu, ia membuka pintu kamar dan mundur untuk mempersilahkan Jennifer keluar. "Aku ingin bertemu putriku, setidaknya kau punya akal sehat dengan membawanya kesini."
"Mungkin jika wanita lain, mereka akan menggugurkan kandungannya." kata Jennifer sambil berjalan ke arah pintu.
"Mungkin kau pikir keberadaannya sebagai sumber uang di masa depan." cemooh Jonathan.
Mendengar penghinaan itu, membuat Jennifer semakin marah. "Aku sama sekali tidak membutuhkan uangmu." sambil melangkah keluar. "Ia ada di kamar bawah dengan pelayan."
Jennifer meninggalkan Jonathan begitu saja.
Happy Reading All...
Makin kejam ya Jonathan...😂
__ADS_1
Tunggu cerita selanjutnya...😘