
๐ Minggu Pagi๐
๐บ POV Tony ๐บ
Saya bangun pagi sendirian dan merasa ada sesuatu yang hilang. Oh ...ya George, Pria feminim itu membuat aku gila. Orangtuaku bisa sakit jantung bila aku menjadi gay.
Besok aku harus ke Thailand bertemu dengan Geovanna untuk memastikan perasaanku ini. Aku tak perduli dia pacaran dengan Aaron anak klienku. Umurku lebih tua sedikit daripada dia.
Aku harus ke kamar mandi dulu tidak tahan lagi mau buang air kecil. Aku membuka pintu kamar mandi, setelah pintu terbuka sedikit kok tiba - tiba ada yang menahan sih.
"Bos, sebentar. pintu kamar mandi rusak. Saya pakai pakaian dulu bos." Kata Georgina yang menyamar menjadi George.
"Ya sudah, kita kan sama - sama pria. aku tak kuat menahan buang air kecil. Kenapa sih kita juga sama - sama punya pedang. ribet amat sih. Apa kamu malu adikmu kecil ya?" Sini kulihat seberapa kecilnya adikmu." Sindirku.
"Sebentar bos, tinggal pakai kaos saja." Kata George
Aneh ini cowok, masa tidak pakai baju saja malunya setengah mati. Akhirnya dia keluar dengan kepala menunduk. Apakah dia juga jatuh cinta kepadaku, kok dia salah tingkah.
๐บ POV Georgina ๐บ
Untung saja saat Tony buka pintu aku sudah selesai mandi dan berpakaian. Hampir saja aku ketahuan.
Saya ingin jalan - jalan di kota Paris, sebelum Tony bertemu dengan Geovanna. Setidaknya ini perpisahan terindah dengan bos. Ini pertama kalinya aku berada di Paris.
Saya memakai cream tabir Surya dan memakai pakaian rapi. Aku harus memberanikan diri meminta dia untuk jalan - jalan. Karena pesawat nanti berangkat jam 4 sore.
Georgina membuka galeri foto di hp melihat foto Tony. Georgina mengambil beberapa foto Tony diam - diam, untuk mengingat kebersamaan bersama Tony di Barcelona.
Saya Keluar dengan membawa persiapan tas dan membuat kopi hangat di dapur. Bos akhirnya keluar dengan menggunakan kaos berkerah.
"Bos, silahkan dinikmati kopinya." Kataku.
Tony duduk dan menikmati kopinya, saya mulai memberanikan diri untuk bicara.
"Bos, pesawat akan berangkat jam 4 sore. Kita jalan - jalan saja dulu bos. Saya ingin punya foto kenangan di sini juga bos." Kataku.
"Baiklah kita mulai jalan - jalan di sini dulu." Kata Tony.
"Kita sarapan dulu di bawah." Kataku
Kami sarapan pagi bersama, saya makan sambil mencuri pandang Tony sesekali. Kami tak sengaja mata kami saling bertemu. Kami langsung tersedak dan terbatuk - batuk dan segera minum teh hangat yang ada di atas meja.
*Aduh aku jadi salah tingkah, tanpa sengaja mata kami saling bertemu 2 detik. Aku kok jadi salah tingkah. Jantungku berdebar kencang.
* Kata hatiku.
"Bos saya pergi ke toilet dulu." Kataku
*Aduh jantungku mau copot, melihat bola matanya yang indah. Aku bisa gila nih, mungkin aku ini gay. Kenapa dia sering bersikap feminim?"
* Kata hati Tony
Tony akhirnya pergi ke toilet juga, dan buang air kecil di tempat Urinoir ( Tempat kencing pria) yang berderet.
Saya kaget saat keluar dari kamar mandi, saya bersikap habis buang air besar. Saya malu melihat Tony sedang menghadap tembok untuk buang air kecil. Saya segera keluar dari toilet pria.
Masa saya yang berpenampilan pria buang air kecil di toilet wanita. Bisa - bisa para wanita mengeroyok aku. Tidak adakah kamar mandi khusus lagi untuk campuran.
Saya menunggu Tony di loby apartemen. Tony menghampiriku, kami seakan - akan sedang berkencan.
" Bos, saya ingin melihat Disneyland di Paris." Kataku.
"Ya, kita melihat - lihat di sana dulu karena tempat menginap kita dekat dengan Disneyland." Kata Tony
__ADS_1
Kami berjalan kaki sampai ke Disneyland dan membeli tiket masuk. 1 day 2 park harga 80โฌ. Ada 2 jenis tema park yaitu tema Disneyland park dan Walt Disney studio park yang ada parade.
Area masuk pertama kali adalah area theme park banyak toko yang menjual suvenir dan merchandise, Walt Disney store, studio foto, restoran. dan toon studio.
Toon studio berisi wahana pertunjukan tema tokoh kartun animasi Walt Disney. Kami mengingat film masa kecil kami hingga dewasa yaitu film Cars dan Toys story.
Kami masuk di gedung Hollywood yang tinggi dan melihat proses pembuatan film Hollywood. Pengunjung juga menonton film - film klasik yang pernah diputar di televisi dan bioskop.
Kami masuk ke Lot terakhir yang paling seru yaitu backlot. Pengunjung bisa ikut masuk ke dalam adegan set film. Kami jadi ikut merasakan adegan efek yang menegangkan.
Kami masuk studio teror ada adu nyali keberanian menghadapi teror boleh duduk dan berdiri. Kami duduk di tengah di hadapan layar seperti bioskop dan lampu dimatikan.
Kami melihat hal menyeramkan dengan kursi yang bergoyang. Semua penonton teriak - teriak. Saya menonton itu rasanya pikiran dan jiwaku juga ikut hilang.
Saya memeluk lengan Tony yang besar. Tony sebenarnya kaget dan jantungnya berdebar tidak karuan. Tony jadi bingung jantungnya berdebar karena ketakutan atau karena lengannya dipeluk.
Kami keluar gedung dengan kaki gemetaran mengumpulkan semua nyawa yang lari ke mana - mana. Kami akhirnya melihat matahari yang bersinar cerah.
Kami menonton parade, banyak yang menari dengan memakai kostum. Para putri dan pangeran naik sejenis kereta. Ada banyak tokoh animasi yang lewat.
Kami juga melihat hotel Disneyland lainnya total ada 7 hotel & resort. Hotel yang terakhir di daerah hutan di luar resort Disneyland. Ada danau buatan disebut lake Disney.
Kami akhirnya makan siang sebentar di sana dengan macam - macam roti. Kami keluar dari situ jam 1 siang. kami kembali ke hotel dan mandi. Tony tentu saja mandi lebih dulu, setelah itu giliranku.
Kami keluar dengan membawa tas trolley kami masing - masing. Kami keluar dari apartemen dan naik taksi yang sudah parkir di dekat hotel.
Selama hampir 40 menit perjalanan menuju ke bandara. kami diajak bicara oleh sopir taksi.
"Sebelum kalian sampai ke bandara, Apakah kalian pernah mampir foto ke Museum Louvre yang berbentuk piramid dari kaca. Museum yang awalnya merupakan benteng di masa pemerintahan Raja Philip 2." Kata taxy Driver dengan bahasa Inggris.
"Belum pernah pak. kami baru kemarin tiba di Paris." Kataku dengan bahasa Inggris.
"Kalau saya sudah menjelajahi Paris, tapi tidak apa - apa jika kita mampir untuk foto. George mau buat foto kenangan di Paris." Kata Tony.
"Ya, kami ingin mampir foto." Kata Tony.
"Museum ini berisi karya seni dunia yang legendaris. Mulai dari peninggalan Mesir kuno sampai peradaban Yunani." Kata pak sopir.
Kami turun di depan Museum Louvre, Kami saling mengambil foto Selfi. Tony tidak mau mengambil foto kami berdua. Tony terlihat menjaga jarak dariku. Setelah berfoto ria sebentar kami kembali naik taksi lagi.
"Ada Notre Dame de Paris tiruan seperti katedral asli di kota Luksemburg jarak sekitar 5 menit dari sini. Jika kalian ke Luksemburg butuh 4 jam perjalanan naik kereta api. Apakah kalian sekalian mau berfoto juga? Kata si sopir.
"Ya, sekalian lewat saja." Kata Tony.
Taksi melaju ke Notre Dame de Paris yang merupakan tiruan dari Catedral Notre Dame di Luksemburg.
Kami foto Selfi masing - masing, tapi kami dari tadi diam - diam juga saling mengambil foto dari kejauhan. Saya punya koleksi foto Tony dan Tony punya koleksi fotoku. Kami saling gengsi mengakui perasaan kami.
Kami kembali ke Taksi, dan pak sopir mengantarkan kami ke bandar udara internasional Charles de Gaulle. Kurang satu jam lagi pesawat akan berangkat.
Kami sudah masuk ke dalam bandara, Terminal 1. Di tempat check in kami menunjukkan tiket online dan paspor kepada petugas dan mendapat boarding pass.
Kami sedang menunggu panggilan, semoga jam tidak diundur.
Kami menunggu dengan posisi agak menjauh. Kami tidak mau menyimpan perasaan sayang terlalu dalam lagi. Sekarang kami saling menjauhi membuat hati kami terasa tergores dan makin sakit rasanya.
Semakin kami mengingkari dan menyangkal perasaan kami, semakin banyak goresan - goresan di hati kami. Aku menganggap Tony menjauh dan tidak menyukaiku karena penampilanku tidak feminim, aku dianggap seorang Pria, dan status sosial.
Tony sebenarnya menjauh karena takut mencintai lebih dalam lagi. Tony ingin sembuh dari penyakit gay. Tony berharap bila bertemu dengan Geovanna, dirinya sembuh dari penyakit gay.
Akhirnya ada panggilan keberangkatan pesawat kami ke Filipina. Saya antri di belakang Tony dan memasukkan tas trolley kami di bagian bagasi pesawat dan masuk ke pesawat dengan menunjukkan boarding pass.
__ADS_1
Kami duduk bersebelahan tapi terpisah oleh meja. Aku memasang headset yang ada di dompet hitam. Aku menyalakan TV dengan remote control. Tony juga melakukan hal yang sama.
Kulihat di bawah ada rak berisi selimut, celana tidur, sandal slip seperti hotel. Aku melakukan kesibukan lain. Aku membuka kotak biru di atas meja mirip tas koper mini.
Aku menyibukkan diriku untuk menghilangkan rasa gelisah. Aku keluarkan isinya, ternyata ada lipsbalm, kain penutup mata, sikat gigi, pasta gigi mini, sisir.
Kami terlihat menikmati film dan musik, tapi hati dan pikiran kami tidak bisa konsentrasi. jantung kami terasa berdebar.
Kami menikmati makan malam kami dengan meja yang bisa ditarik dan dimasukkan ke samping. Setelah dinner kami masukkan lagi mejanya.
Tony melepaskan Headset dan membawa kotak mini biru berisi peralatan sikat gigi dan lain sebagainya. Aku rasa dia mau sikat gigi sebelum tidur.
Kami kok jadi diam - diaman dan canggung. Apa yang salah dariku, aku merasa telah bekerja sebaik mungkin. Apakah aku melakukan kesalahan?
Tony kembali dari toilet dan sudah berganti celana dengan celana tidur fasilitas dari EX Airlines. Tony menekan tombol di sampingnya sehingga menurun masuk ke dalam lorong pijakan kaki dan menjadi tempat tidur. Tony memakai selimut lalu tidur.
Saya melirik saja dan tidak tanya tombol mana yang ditekan, saya tanya pramugari saja. Saya mau sikat gigi dan cuci muka dulu. Aku membawa kotak biru itu ke toilet.
Setelah sikat gigi, cuci muka, berganti celana tidur, sandal, kaos yang merupakan fasilitas EX Airlines. Setelah keluar dari toilet, aku berbisik kepada Pramugari.
"Tombol untuk tidur yang mana ya, saya takut salah tekan, maklum saya masih kampungan." Kataku dengan bahasa Inggris.
"Saya langsung ke tempat duduk tuan." Kata Pramugari.
Pramugari mengikutiku berjalan menuju tempat dudukku dan menekan tombol yang harusnya berada di posisi paha kanan. Tempat duduk otomatis menarik ke bawah masuk ke dalam lorong pijakan kaki.
"Terimakasih nona." Kataku.
"Sama - sama." Jawab Pramugari.
Saya merebahkan diri dan memakai selimut yang sama dengan penumpang lain. Aku ambil bantal mini di rak dekat kaki. Saya mencoba tidur dengan nyenyak.
Saya susah tidur memikirkan perubahan sikap Tony yang seakan membenciku. Apakah aku akan dipecat? Jangan pecat dulu sebelum aku terima gajiku. gajinya buat aku bertahan hidup selama 3 bulan ke depan.
โ๏ธPOV Tonyโ๏ธ
Aku kesulitan tidur sekarang, mengapa dia tidak bertanya kepadaku dimana letak tombol untuk merubah tempat duduk menjadi tempat tidur. Apakah dia sadar, aku tidak mengajak dia bicara?
Apakah aku terlalu menjauhi dirinya? Apakah dia berpikir aku membencinya? Saya takut jika terlalu menjaga jarak dia tidak akan betah kerja. Saya juga tak mau dia berhenti kerja. Saya sebenarnya nyaman bekerja bersama dia.
Maafkan aku telah menjauhimu, George. Ini semua hanya karena hatiku yang bermasalah. Aku tidak mau menyeretmu menjadi pria gay juga. Besok pagi aku dan George harus ke Thailand naik pesawat jet milik perusahaan.
Kami akhirnya. tertidur sampai jam 4 pagi waktu Paris. Pramugari membangunkan kami dan memberikan kami menu sarapan. Pramugari menekan tombol kursi menjadi tempat duduk.
Saya membaca menu makanan dan memilih roti sandwich dan susu. setengah jam kemudian menu sarapan tiba, kami menikmati sarapan dengan agak cepat.
Pesawat sudah hampir sampai di Filipina jam 6 pagi waktu Paris tapi jam 12 siang waktu Filipina. Kami semua giliran berganti pakaian, sikat gigi dan cuci muka di toilet.
Pramugari memberi aba - aba agar kami bersiap dan memasang sabuk pengaman kami. Para penumpang banyak berdoa agar kami dapat mendarat dengan mulus.
Pesawat mendarat dengan aman, Tony tiba - tiba mengajak aku bicara.
"Kamu cepat pulang ganti baju, kita persiapan pergi ke Thailand. Kamu jadi penerjemahku saat bertemu klien di Thailand. Aku juga ingin cepat - cepat bertemu dengan adikmu Geovanna dan orangtuamu." Kata Tony.
Entahlah kalimat itu membuat hatiku dihantam batu dan tertusuk paku tombak. Padahal aku tadi sudah merasa senang Tony mengajak aku bicara.
Air mataku tanpa disengaja mengalir di pipiku. Kami bersama di hotel hampir seminggu, dia pernah menciumku, dan makan bersama. Aku bisa gila jika seperti ini.
Aku menghapus air mataku, aku mengambil kacamata hitam di tasku. Aku memakai kacamata hitam untuk menutupi mataku yang merah.
Aku ingin segera berhenti kerja, seminggu rasanya seperti setahun. Aku adalah wanita yang sukar jatuh cinta. Apakah ini rasanya cinta? Kapan kakakku benar - benar sembuh?
Aku harus kabari keluargaku agar semua fotoku dan Gerald disembunyikan. George dan Gerald harus sembunyi menginap di rumah bibi.
__ADS_1
Saya adalah penumpang terakhir yang keluar dari pesawat. Saya mengambil tas trolley yang berisi namaku.
Terimakasih telah mampir membaca novel ini. Minta like, Vote dan komentar.๐