Protagonis Kedua [Omniscient Reader]

Protagonis Kedua [Omniscient Reader]
013 | PENIPU (1) & 014 | PENIPU (2)


__ADS_3

^^^013 | 𝗣𝗘𝗡𝗜𝗣𝗨 (1)^^^


𝗣𝗢𝗩 𝗬𝗼𝗼 𝗝𝗼𝗻𝗴𝗵𝘆𝘂𝗸


Debu berterbangan di udara saat ‘bang’ keras meninggalkan kawah dengan retakan memanjang dan berbelok ke segala arah, darah merah menodai lantai dan sedikit memercik ke luar kawah karena begitu besarnya benturan.


Aku dengan keras menusukkan pedangku ke tengkorak lawan, langsung menembus dan mengenai titik terlemah mahluk hidup, otak.


Monster di bawah kakiku untuk sesaat mengalami kejang ringan, sungguh keinginan hidup yang sangat kuat, hal ini mengingatkanku padanya. Aku mendorong lagi pedangku sampai menembus kepalanya, pertarungan ini berakhir di sini.


Aku sangat merindukannya.


“Master luar biasa! Monster sekuat ini tidak sebanding dengan master!” Lee Jihye mengoceh dengan bintang di matanya, seolah-oleh melihat idolanya di atas panggung. Aku turun dan mencapai tanah saat pemberitahuan penyelesaian skenario muncul di hadapanku.


Akan sangat bagus untuk menjadi kenyataan jika kamu menatapku seperti itu.


Aku duduk di kaki monster dan mengelap darah di bilah pedangku, Lee Jihye berjalan ke arahku dan menawarkan sebotol air, “istirahat master?”


“Ayo istirahat Jonghyuk.”


Aku mengangguk sebagai jawaban dan mengambilnya, meneguknya, tanpa alasan tenggorokanku memiliki rasa kering. Rasa deja vu di mana sosok Lee Jihye dan ‘dia’ yang tumpang tindih membuatku sedikit kecewa, apa aku salah kalau berharap dia di depanku bukan muridku sendiri?


Jika memungkinkan, aku inggin melihatmu di depanku.


Menyarungkan kembali pedangku, sebelum sepenuhnya aku sarungkan, aku melihat pantulan wajahku sendiri di bilahnya, aku bisa dengan percaya diri mengatakan kalau aku tampan, ini adalah wajah yang di sukai para wanita kan?


Lee Jihye sepertinya bisa melihat kekecewaanku, karena dia menatapku dengan bingung, apa aku menunjukkannya di seluruh wajahku? Kupikir aku sudah menyembunyikannya dengan baik.


“Kembali ke Chungmuro.”


Aku di kejar waktu, skenario utama ketiga akan benar-benar berjalan besok. Aku harus mengumpulkan banyak koin untuk pertarungan ‘Absolute Throne’ di antara para raja. Aku harus mendudukinya untuk menyelesaikan skenario ke-5.


Jika aku menduduki ‘Absolute Throne’ aku akan memiliki kekuatan yang cukup untuk—


“—Kertas origami master mau habis, apa aku perlu mencari di luar?” Pertanyaan spontan Lee Jihye membuatku terputus dari pikiranku sendiri dan aku sekarang mengingatnya, tapi tidak ada kertas origami di stasiun kecuali di– “Aku akan mencarinya! Master istirahat saja, serahkan padaku!”


Lee Jihye adalah pelari yang cepat, sebelum aku mengatakan apapun dia dengan semangat tinggi yang aneh pergi dan meninggalkan aku sendirian, gadis ini pasti menaikkan statiknya tanpa aku sadari.


[Rasi Bintang ‘Oldest Father East’ mengatakan anda memiliki murid yang baik.]


[Rasi Bintang ‘Maritime War God’ menyemangati inkarnasinya.]


Lee Jihye adalah Lee Jihye, bahkan di putaran kali ini, dia masih sama.


Jika begini, dengan kesulitannya, Lee Jihye pasti akan kembali ke stasiun Chungmuro besok, aku akan menggunakan waktu ini untuk berburu koin. Menurut ingatanku, seharusnya di sekitar sini ada sub-skenario.


Seoul adalah kota besar, tidak mungkin aku bisa mencarinya dan berlarian tidak menentu di seluruh Seoul, hanya saat menduduki ‘Absolute Throne’ aku memiliki kekuasaan tertinggi. Dan kau tidak bisa melarikan diri lagi, permainan kucing dan tikus ini akan menjadi kemenaganku.


Aku sedikit menurunkan wajahku untuk menyembunyikan mataku, kesabaran adalah kunci di sini, seperti berkali-kali di masa lalu, aku harus menunggu seperti predator menunggu mangsanya lengah.


Pikiranku telah membuat rencana untuk skenario ke depan tanpa


mempertimbangkan bajingan tikus tertentu dan itu adalah kesalahan fatal yang akan aku ketahui di masa depan.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


𝗣𝗢𝗩 𝗔𝘂𝘁𝗵𝗼𝗿


"Puwah!"


Kim Dokja akhirnya keluar dari air dan mengambil nafas panjang, tubuhnya akhirnya naik ke tanah kering saat dia memanjat. Mengusap air di dahinya, dia akhirnya bisa merasakan udara segar setelah terjebak di perut Ichthyosaurus selama beberapa hari.


Tapi geraman lemah menyusul dari belakangnya dan segera mengingatkan Kim Dokja akan sesuatu.


Menengok ke belakang, di atas air, benda bulat transparan mengambang tidak menentu dan sesekali menabrak tanah tapi tidak bisa memanjat. Ukurannya sebesar bola basket dan suara-suara geraman terdengar di telinganya. Kim Dokja menyeringai saat melihatnya.


Mengangkat balon (?) dari air, orang dapat melihat mahluk berbulu putih yang terjebak di dalamnya, itu seperti hamster di dalam bolanya dan kucing itu mengeram dan menunjukkan taringnya.


[Karakter 'Ball' menunjukkan kemarahan padamu.]


Kim Dokja menatap tanpa rasa bersalah saat mata kucing menatapnya dengan keluhan, jika tatapan bisa membunuh, Kim Dokja mungkin sudah terbagi menjadi beberapa bagian.


“Tatapan yang tidak sopan, aku sudah merawatmu loh, apa pemilikmu tidak mengajarkan sopan santun?”


“Mowww! Meoww!?”


(“Rawat kepalamu! Siapa yang merawat siapa!?”)


Ball sangat marah setiap mengigat apa yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Mungkin karena terlalu marah,


bulu-bulunya sampai terlihat berdiri, kaki depannya telah mengeluarkan cakar tapi tidak bisa menembus pertahanan bola. Setiap item yang di beli di tas dokkaebi bukan item biasa.


Sayangnya, penampilannya yang imut tidak membuatnya terlihat garang, justru orang memiliki keinginan untuk terus menggodanya.


“Oww, aku sangat takut.”


Ball menjadi lebih marah saat di ledek terang-terangan.


‘Beraninya dia!!!’


"Nyawww!"


(“Aku akan membunuhmu!”)


“Singh... kucing yang menunjukan taringnya adalah kucing yang nakal kan?” Kim Dokja melontarkan pertanyaan ke para rasi bintang dan menunggu jawaban positif yang dia harapkan.


[Rasi Bintang 'Abyssal Black Flame Dragon' mengangguk setuju.]


Kemarahan Ball sedikit mencair saat melihat kilatan kesenangan di mata pihak lain dan ekspresinya menjadi lebih sedikit.


Jangan bilang...


“Kucing nakal perlu hukuman.” Dengan seringai licik, Kim Dokja memegangi kedua sisi bola dengan erat untuk memastikan kalau bola tidak tergelincir dari tangannya. Mengangkatnya ke atas dan—


[Rasi Bintang 'Secretive Plotter' mendukung anda.]


“Meeoo-!!!”


Dengan di selingi suara kucing tertentu, bola telah di guncang dari atas ke bawah dan begitu juga sebaliknya, dengan tempo cepat saat Kim Dokja bersenang-senang.


‘Aku paham perasaan Yoo Jonghyuk sekarang.’


Dalam pandangan Ball, seluruh dunia berputar dan tubuhnya terus membentur bola, jika ini sebuah komik maka mata Ball sudah menjadi coretan 'x' yang menandakan kematiannya.


[Rasi Bintang 'Prisoner of the Golden Headband' memakan buah persiknya.]


[Rasi Bintang 'Demon-like Judge of Fire' menatap dengan kasihan.]


Ball sekarang entah kenapa dapat melihat bintang-bintang berputar di atas kepalanya dan dia tidak bisa berhenti mengeram, perutnya terasa melilit. Dia mau muntah, tapi perutnya kosong jadi dia tidak memuntahkan makanan apapun.


"Kucing baik adalah kucing yang patuh kan?"


Begitu saja, Ball telah mengembangkan ketakutannya


bersama Kim Dokja. Mari berdoa Ball tidak trauma di masa depan.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Orang-orang bergerak berhati-hati di setiap langkah mereka, takut kalau banyak bunyi akan menarik perhatian monster. Pria di depan, pemimpin kelompok, dengan kemampuannya dalam presisi yang baik memimpin seperti pemandu.


“Kapan kita sampai? Dimana tempat amannya? Kakiku sakit.”


Pria lain di belakang dengan enggan terus mengikuti kelompok tapi dari waktu ke waktu terus mengeluh.


Sang pemimpin sedikit mengerutkan alisnya, “di depan adalah stasiun Yaksu, jika di katakan para ‘rasul’ benar, itu akan menjadi daerah aman dan terhubung ke jalan skenario utama.”


Anggota lain tidak mengatakan apa-apa, mereka seharusnya tidak bisa berdiri di sini jika bukan karena perkataan ‘rasul’.


Sebelumnya, tiga pria dewasa ini sedang menginap di hotel tidak jauh dari stasiun Yaksu, tapi saat dokkaebi datang, semuanya mati karena gagal melewati skenario, mereka hanya beruntung bisa melewati skenario pertama waktu itu. Tapi yang membuat mereka sangat takut adalah saat ada satu orang yang mengaku ‘rasul’ dan bisa menyelesaikan skenario dengan mudah. Dia berkata kalau daerah teraman terdekat adalah stasiun Chungmuro, wilayah base pertama dan semua inkarnasi di Seoul akan berkumpul untuk melakukan skenario utama ke-3.


Sejujurnya, penampilan 'rasul' mengatakan ini terlalu mencurigakan, apa benar-benar aman wilayah 'skenario' ketiga berlangsung? Tapi melihat bagaimana 'rasul' dapat mengetahui semuanya seolah maha tahu, mereka terpesona.


Pemimpin menatap kelompoknya, ada 5 orang di antara mereka, 3 pria dewasa termasuk dirinya, satu remaja laki-laki dan satu wanita dewasa di sampingnya. Mereka aslinya cuman berjumlah tiga orang dan semuanya pria tapi sepanjang jalan mereka menolong dua orang tambahan.


Adapun kenapa tidak bergabung dengan ‘rasul’, mereka di anggap terlalu rendah dan hanya menjadi beban, ini benar-benar memukul kepercayaan diri mereka bertiga terutama pria yang terus mengeluh, dia sebelumnya adalah orang kaya, pria itu masih belum bisa beradaptasi kalau sekarang dia adalah orang biasa.

__ADS_1


Mereka semuanya orang biasa dengan sedikit kemampuan, mereka pengecut dan setelah pertimbangan yang panjang selama tiga hari terakhir, mereka baru berani bergerak hari ini.


“Aku tahu seharusnya tidak mengandalkan perkataan omong kosong ini! Hah! Bagaimana bisa ada orang begitu sombong!?”


“Kecilkan suaramu.” Pemimpin menegur saat dia merasakan sesuatu, “Apa menemukan sesuatu Chunghee-ssi?” Wanita dewasa di belakang yang pertama kali memperhatikan kelainan pemimpinnya.


Chunghee mengangguk dan menyuruh kelompoknya untuk bersembunyi di balik truk tidak jauh, kemampuan presisi miliknya merasakan gerakan tidak jauh di depan, semuanya segera bersembunyi, di situasi mengancam nyawa seperti ini bahkan mantan pria kaya sebelumnya berhenti mengeluh.


Di depan mereka tidak jauh, sesosok muncul dalam bidang pengelihatan mereka, sosok kurus dan ramping sedang berdiri dan baru saja keluar dari toko makanan lewat jendela yang pecah, tangannya memegang beberapa roti, makanan ringan, dan air mineral, pada bagian melihat makanan, pria kaya yang diam menatap dengan binar di matanya.


Makanan!


Persediaan makanan yang bisa di makan di hotel hampir semuanya di bawa oleh ‘rasul’, mereka bertiga di tingalkanan dengan sayur dan air dan beberapa makanan yang hanya bisa di makan dengan api.


Hidup itu keras, mereka hanya bisa memakan mie instan dengan air dingin.


Sosok ramping itu berjongkok dan meletakan makanannya di tanah, tangannya sepertinya kewalahan karena tidak bisa membawa makanan begitu banyak. Perut pria kaya itu keroncongan dan dia tidak bisa menahan diri. Sebelum dia menyadarinya, kakinya sudah berlari seperti orang gila.


“Hae–”


“Makanan!!!” Pria itu langsung melesat ke makanan di tanah tapi seluruh tubuhnya mengenai tanah tanpa satupun makanan di pelukannya, “sakitt... Eh? Mana makanannya!?”


Pria itu duduk di lantai tanpa memperdulikan apakah pakaiannya kotor atau tidak, menengok ke sampingnya, pria itu tertegun.


Sepasangan mata cerah menatapnya dengan penasaran, warna gradasi itu sangat aneh jika di bandingkan dengan mata hitam orang asia.


‘Lensa kontak?’ Reaksi pertama pria itu saat melihatnya adalah r̶e̶m̶a̶j̶a̶ di depannya menggunakan lensa kontak yang indah, meskipun pria itu bukan ahli mata, tidak mungkin ada orang memiliki mata dua warna aneh seperti itu.


“Haejoon!”


Seruan di belakang membuyarkan lamunan Haejoon dan r̶e̶m̶a̶j̶a̶ itu yang sebelumnya sejajar dengannya berdiri, “apa yang kau lakukan!? Bagaimana kau bisa begitu impulsif!?”


Chunghee sangat marah, bagaimana bisa ada orang bertindak begitu sembrono hanya karena makanan? Apakah dia tidak mempertimbangkan nyawanya dan keamanan seluruh kelompok!?


“Saya Lan Jiao, tolong maafkan teman kami yang tidak sopan, dia benar-benar tidak memiliki niat jahat, saya harap anda mengerti kondisi kami.” Satu-satunya wanita di kelompok itu, Lan Jiao, meminta maaf lebih dulu, dia adalah wanita yang tanggap.


“O-oh-aku tidak terlalu keberatan.” R̶e̶m̶a̶j̶a̶ itu menunjukan senyum santai tanpa kemarahan yang terlihat,


Chunghee dan anggotanya lainnya merasa sedikit santai, sepertinya dia anak yang baik, pikir mereka.


Di udara, mahluk transparan dan tidak terlihat oleh mata telanjang terbang di udara, mengamati seluruh kelompok mereka sejak awal.


Mereka tidak tahu bahwa mereka bisa mati di detik berikutnya dan menjadi mayat jika bukan karena tidak satupun dari mereka menunjukkan aura pembunuh.


Jika sampai melakukannya, mahluk di udara akan memakan mereka sampai ke tulang.


Seperti yang kita tahu, penampilan bisa menipu.


•••


[A/N: Jika Go Eunyeon lagi menyamar atau ganti identitas (intinya ga mau nunjukin nama aslinya), namanya akan aku tulis Go Seojin yah.]


^^^014 | 𝗣𝗘𝗡𝗜𝗣𝗨 (2)^^^


𝗣𝗢𝗩 𝗞𝗶𝗺 𝗗𝗼𝗸𝗷𝗮


"Ya Tuhan. Dokja-ssi! Dokja-ssi! "


Suara Yoo Sangah mencapai telingaku saat aku bisa melihat wanita itu menuju ke arahku dan aku bisa melihat matanya agak merah?


"Yoo Sangah-ssi."


"Aku senang. Sungguh, Aku sangat senang! "


Yoo Sangah berdiri di depan Aku dengan ekspresi bahagia. Aku terkejut dan meminta jabat tangan yang canggung, wanita di depanku sekarang memiliki ekspresi campur aduk, apa aku tadi melihat rasa bersalah melintas di matanya?


Dan ada banyak goresan di punggung tangan Yoo Sangah, yang menunjukkan bahwa dia telah mengalami masa-masa sulit dalam beberapa hari terakhir.


Aku mendengar suara dan sesuatu melekat pada kaki Aku.


"Kamu hidup."


Itu Lee Gilyoung. Aku membelai kepala bocah itu.


"Apakah kamu baik-baik saja?"


"Nyaww... Meow."


("Lihat betapa pilih kasihnya ... Lupa kalau ada kucing kelaparan di sini.")


Ball yang sudah keluar dari bolanya setelah sampai di daerah aman mengendus-ngendus kantong plastik yang kubawa dan aku tentu saja mengangkat kantong untuk jauh dari jangkauannya, membuat jarak antara keduanya.


Telinga Ball menekuk ke bawah, terlihat sangat menyedihkan.


[Rasi Bintang 'Demon-like Judge of Fire' mengatakan inkarnasi 'Ball' memiliki 100% daya tarik luar biasa untuk memikat wanita.]


[Rasi Bintang 'Secretive Plotter' mengatakan inkarnasi 'Ball' adalah musuh alami laki-laki lajang.]


[Rasi Bintang 'Prisoner of the Golden Headband' mengaruk kepalanya setuju.]


Inkarnasi. Benar, Ball juga adalah bagian dari inkarnasi, sistem tidak begitu dangkal sampai hanya melibatkan manusia sebagai pesertanya, bagaimanpun, entah itu hewan, manusia, apapun itu, semuanya akan bisa mengikuti skenario selama masuk dalam kategori "mahluk hidup."


Lee Gilyoung dan Yoo Sangah saat melihat Ball dan wanita yang aku tolong mulai menatapku dengan pandangan yang tidak aku mengerti, mereka bukan karakter di Wasy Of Survival jadi aku tidak bisa menggunakan keterampilan Omniscient Reader Viewpoint.


"Aku tahu kamu masih hidup, Dokja-ssi. Hah ... "


Akhirnya, Aku melihat Lee Hyunsung. Otot-otot setengah bagian atasnya tampaknya menjadi lebih padat. Mungkin Lee Hyunsung telah melindungi keduanya.


"Aku sangat menyesal. Pada saat itu, Aku meninggalkan Dokja-ssi ... "


"Itu adalah situasi yang tidak dapat dihindari."


"Fiuh, aku senang Yoo Jonghyuk-ssi benar."


... Yoo Jonghyuk? Mengapa nama itu terdengar di sini?


Ball mengangkat telinganya saat mendengar nama itu di sebutkan dan mulai mengoceh dengan bahasa kucing yang mungkin tidak di mengerti siapapun kecuali aku.


"Meeoww! Meow! Nyaow, Meow! Mauowww, nya-!?"


("Pria itu benar-benar tidak memiliki etika berpendidikan! Sangat tidak sopan! Bukan hanya tidak memberiku makanan tapi juga suka melempar tanpa ijin, hei anak kecil di sana! Jangan tiru pria di sampingmu itu, dia memakai pakaian bekas ma-!?")


"Bisakah Sangah-ssi menjaga kucing ini sebentar? Dia sepertinya lebih nyaman bersamamu, dia patuh dan jinak, kau bisa memegang kata-kataku." Aku menunjukan senyumku yang biasa dan dengan cara yang cerdas, kucing itu diam.


Aku pasti telah membuatnya trauma.


Yah, siapa suruh kucing ini mau buat ulah di sepanjang jalan.


Lee Hyunsung yang memperhatikan seluruh interaksi akhirnya berkata.


"Itu, Yoo Jonghyuk mengatakan bahwa Dokja-ssi mungkin masih hidup ..."


"... Di mana Yoo Jonghyuk sekarang?"


"Dia tidak ada di sini sekarang."


Tidak disini?


"Yoo Jonghyuk-ssi meninggalkan stasiun kemarin. Begitu..."


Aku bisa menentukan banyak hal sebelum Lee Hyunsung selesai berbicara. Aku melihat. Benar-benar seperti itu. Dia adalah orang yang terburu-buru.


"Ngomong-ngomong, apa Yoo Jonghyuk mengatakan sesuatu yang lain? Sangah-ssi sepertinya tidak nyaman dengan sesuatu."


Semua mata sekarang tertuju ke Yoo Sangah dan dia dengan memeluk kucing di pelukannya telah maju satu langkah, "aku sangat menyesal karena merepotkan Dokja-ssi, jika bukan karena kecerobohanku..."


Merepotkan?


"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini..."


"Kim Dokja-ssi tidak perlu merendah, aku akan memastikan ini tidak akan terulang lagi!" Yoo Sangah sepertinya sudah membuat semacam tekat.


Mungkin melihat wajahku yang bingung, Lee Hyunsung mulai menjelaskan. "Waktu di jembatan Oksu, Yoo Sangah-ssi bertanya ke Yoo Jonghyuk-ssi tentang kondisimu..."


"Ya?..."

__ADS_1


"Yoo Jonghyuk mengatakan kalau kau gagal melewati skenario bersama seekor kucing... Itu yang dia katakan... Dan Sangah-ssi merasa bersalah karena jika bukan karena kecerobohannya, kau pasti bisa hidup lebih aman (?)"


Sampai garis ini baru aku mengerti.


Harus aku akui, mereka benar-benar imajinatif.


Dengan kepribadiannya dan mood miliknya yang hancur setelah mengetahui rencananya aku rusak, Yoo Jonghyuk pasti mengeluarkan tekanan tanpa sadar saat berbicara dengan mereka dan mereka tidak memiliki keberanian untuk mencari tahu lebih detail tentang peristiwa di jembatan.


Karena mereka tidak memiliki petunjuk mereka tanpa sadar membuat spekulasi kenapa aku gagal, otak manusia adalah tempat paling imajinatif dan segera dari yang sebelumnya "anda gagal melewati skenario bersama seekor kucing" menjadi "anda gagal melewati skenario karena menyelamatkan seekor kucing."


Dan Yoo Sangah yang sebelumnya menjaga Ball pasti merasa bersalah.


Apa aku menjadi orang suci sekarang?


"Yoo Sangah-ssi, tidak perlu merasa bersalah untuk hal ini, seperti yang aku katakan sebelumnya... Ini situasi yang tidak bisa di hindari, lagi pula, kita tidak bisa menduga kejadian seperti itu akan terjadi."


Karena kesalahpahaman sudah sejauh ini, aku tidak perlu mengoreksinya, lagi pula, tidak ada kerugian sama sekali di pihakku.


Yoo Sangah mengangguk sebagai jawaban saat dia mengelus-elus kepala si kucing nakal. Dan Ball agak mengeong, dia sepertinya menyukainya.


Lihat betapa berbedanya sikap jika aku menyentuhnya.


"Itu mengingatkanku, ada satu orang lagi."


"Ah, kepala departemen."


Yoo Sangah tidak selesai berbicara karena sekelompok pria tiba-tiba diganggu. Tapi itu hal yang baik.


"Semua orang, menyingkirlah!"


Aku tidak perlu mendengar penjelasan untuk melihat apa yang terjadi segera. Tiga atau empat pria bersenjatakan palu atau pipa mulai mengelilingi aku. Ada wajah yang akrab di antara mereka.


"K-Kamu ...!"


Han Myungoh meninggalkan Aku di Even Bridge dan sekarang dia tampak seperti melihat hantu. Han Myungoh harus bergabung dengan grup ini.


"S-Singkirkan pria itu! Dia adalah orang yang sangat jahat! Dia seharusnya tidak di sini! "


Seorang pencuri selalu menjadi orang yang merasakan pin dan jarum. Han Myungoh mulai berseru dengan liar.


Namun, aku perhatikan bahwa laki-laki lain saling memandang dan tidak mudah bergerak. Ada yang aneh. Han Myungoh ditempatkan di tengah namun mereka tidak mendengarkannya?


"Haha, Han hyung. Semua orang harus rukun jadi mengapa Kamu tidak berhenti? "


"Ah, i-itu ..."


"Kamu orang baru."


Orang-orang membelah ke samping dan jalan terbentuk. Seorang pria langsing muncul di antara mereka. Aku bisa tahu hanya dengan menatap matanya. Orang ini punya sponsor.


Ball sepertinya merasakan sesuatu saat mengangkat kepalanya dan sedikit menunjukkan taringnya.


[Karakter 'Ball' mengunakan


Danger Sense Lv.2]


Dikonfirmasi, orang ini punya niat buruk.


Denger Sense adalah keterampilan yang biasanya Ball aktifkan saat menemui orang yang dia anggap bahaya, ini meningkatkan nalarnya akan datangnya bahaya secara drastis.


"Senang bertemu denganmu. Bisakah Aku bertanya siapa nama kamu? "


"Kim Dokja."


"Dokja-ssi. Aku melihat. Aku Cheon Inho. "


Cheon Inho? Rasanya seperti nama yang harus aku ingat. Aku memasukkan kekuatan ke tangan yang memegang duri. Sepertinya orang ini adalah pemimpin Grup Cheoldoo. Dia kehilangan setengah dari anak buahnya kepada aku sehingga dia datang ke sini untuk membuat masalah.


"Aku mendengar cerita dari orang-orang yang kamu datangi. Kamu melawan monster dan menyelamatkan anggota grupku. "


...Apa?


"Semuanya, tolong kumpulkan! Kami memiliki anggota grup baru yang berani! "


Setelah kata-kata Cheon Inho, orang-orang mulai berbalik dengan cara ini satu per satu.


Pada saat itulah aku tahu. Mustahil bagi kharisma Han Myungoh untuk mengumpulkan kekuatan sebanyak ini. Cheon Inho adalah pemimpin sebenarnya dari kelompok ini.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


𝗣𝗢𝗩 𝗔𝘂𝘁𝗵𝗼𝗿


"Jadi kalian bergerak ke Chungmuro?"


Lan Jiao menganguk saat dia memperbaiki posisi kecamatannya, "seperti yang saya jelaskan, hidup di atas tanah benar-benar sulit, kami telah menemui beberapa daerah yang tercemar kabut beracun dan bahkan sarang monster di sepanjang jalan."


Pria gendut yang memegang roti di kedua tangan, Haejoon, membuka mulutnya, "bwagaymanwa roty biasya wegitu enac? (bagaimana roti biasa bisa begitu enak?)"


"Habiskan makan di mulutmu dulu! Nanti makanan di mulutmu bisa keluar ke mana-mana!" Chunghee mendesah saat dia memijat keningnya, sepertinya dia sangat lelah dengan kelakuan pria di sebelahnya.


"Terima kasih banyak, ini semua karena mu..." Lan Jiao berterimakasih lagi yang sudah tidak diketahui berapa kali dia mengatakannya.


"Ahaha, itu hanya masalah kecil, tidak perlu di perdebatkan, sangat jarang melihat manusia yang selamat jadi kita harus saling membantu." Orang yang menjadi pusat perhatian kelompok masih tersenyum, itu tidak sombong atau rendah hati.


"Sigh, sayang sekali makanan di toko ini sudah habis di jarah oleh orang lain..." Chunghee melihat kondisi toko yang sudah seperti terkena bencana besar dan tidak ada makanan yang tersisa.


Go Seojin mengangguk, "toko ini pasti telah di lewati orang lain sebelumnya dan mungkin karena terburu-buru, ada beberapa makanan yang di tinggalkan."


Itu bohong.


"Kau benar-benar baik mau memberikan makananmu pada kami, apa kau sendirian? Berbahaya di dunia yang tidak aman seperti ini bergerak sendiri." Chunghee memberi saran, sebagai pria dewasa dia sangat memperhatikan generasi muda masa depan.


"Apa ahjussi tidak khawatir kalau aku orang jahat? Monster bukan satu-satunya yang berbahaya di dunia ini."


"Apa yang kau katakan... Dengar nak, masa depan umat manusia hanya bisa di serahkan ke kalian, pejuang muda yang semangat, kami orang tua sudah waktunya pindah, ini adalah waktu kalian bangkit." Chunghee berkata seperti orang tua dan mendesah, umurnya sudah mencapai 43 tahun ini, musim sudah berganti.


"Bahkan jika kau memiliki niat jahat, kau pasti sudah mencoba melukai sejak lama atau sedikitnya mencoba memecah belah tim, tapi kau tidak melakukannya. Jika kau khawatir soal pembunuhan di skenario pertama, maka kita semua di tempat ini adalah orang jahat, membunuh orang lain untuk hidup adalah perbuatan tak termaafkan, tapi nak, hidup itu pilihan... Jika kau bertahan maka kau harus siap akan masalah yang menunggumu di masa depan dan sebagai manusia, kita hanya bisa menerimanya." Wajah Chunghee terlihat sedikit hangat saat ada bayangan merah dari api unggun.


Benar, tidak ada yang bertangan bersih di sini. Jika kejahatan di definisikan karena membunuh orang maka mereka semua adalah penjahat sekarang.


Go Seojin sedikit tertegun sejenak dan menganguk.


"Ahjussi terdengar berpengalaman."


"Aish, semakin tua semakin banyak yang kau tahu."


"Hei kalian berdua! Ayo sapa teman baru kita." Haejoon yang tampaknya kurang paham dengan pembahasan kelompok berdiri dan memberikan ruang pada dua orang yang selalu mengamati seluruh interaksi dalam diam.


'Lihat betapa cepatnya dia memangil seseorang 'teman' hanya karena aku memberinya sedikit bantuan.'


"Lihat pria serius ini? Namanya Lee Namjoo, badannya aja yang besar tapi hati seperti kelinci, dia agak canggung jika berbicara dengan orang asing, maklumi sikapnya." Haejoon menepuk punggung pria besar di sebelahnya dan tertawa, Go Seojin dapat melihat sedikit rona merah di telinga pria berbadan kekar itu, benar-benar menciptakan kontras dengan penampilannya yang garang.


'Penampilannya seperti gengster bisa menakuti orang.'


"Remaja laki-laki di sana seumuran denganmu, namanya Park Binye dia baru saja lulus sm-"


"Aku umur 22 tahun ini."


"-a, dia akan se... Apa!?"


Haejoon melihat dengan terkejut, bukan hanya dia tapi semua anggota tim. "Kau bukan anak sekolah!?"


"Kau tidak seumuran denganku?"


"Go Seojin-ssi 22 tahun?"


"Apa kau melakukan operasi plastik?"


Go Seojin masih tersenyum, "Aku 22 tahun ini." Dia mengulangi.


"Reaksi kalian normal, banyak yang tertipu dengan penampilanku..."


"Apa itu alami? Gen orang tua Seojin-ssi pasti sangat bagus." Lan Jiao berkata.


"Siapa tahu?~" Go Seojin mengunakan nada main-main saat matanya tertuju ke api unggun.

__ADS_1


...𝗩𝗢𝗧𝗘 | 𝗞𝗢𝗠𝗘𝗡 | 𝗙𝗢𝗟𝗟𝗢𝗪...


__ADS_2