![Protagonis Kedua [Omniscient Reader]](https://asset.asean.biz.id/protagonis-kedua--omniscient-reader-.webp)
002 | 𝗣𝗘𝗠𝗕𝗨𝗡𝗨𝗛𝗔𝗡 𝗣𝗘𝗥𝗧𝗔𝗠𝗔
𝗣𝗢𝗩 𝗚𝗼 𝗘𝘂𝗻𝘆𝗲𝗼𝗻.
Setelah mahluk bertanduk itu pergi, situasi di kereta menjadi kacau, lagi.
Aku mencoba menghindar dari kerumunan orang yang ribut, aku tidak mau terseret dengan ini. Kenapa mereka tidak duduk dengan tenang dan menggunakan otak mereka dari pada mencari keributan?
Aku tahu pasti situasi ini membuat orang panik, khawatir, takut, dan juga keraguan akan masa depan nanti. Aku juga tidak terkecuali.
Sesuatu mahluk yang muncul dalam novel fantasi muncul di dunia nyata. Tapi hey, jika kau terus panik tanpa otak itu bukan situasi terbaik saat ini.
Duduk dengan tenang di kursiku, aku mempertahankan ketenanganku saat roda di kepalaku mulai berputar.
Mahluk apa itu? Dari mana asalnya? Dan layar mirip game ini sangat keren.
{Itu disebut Dokkebi}
Aku terkejut dan secara refleks mengencangkan pisauku, apa itu tadi, halusinasi pendengaran?
Melihat orang-orang lainnya tidak jauh yang masih di coba ditenangkan oleh seorang pria yang mengaku sebagai tentara, itu pasti halusinasiku.
{Ini bukan halusinasi.}
{Ha? Apa dia benar-benar orang itu?}
{Diam bodoh! Aku yakin itu dia.}
{Itu bukan salahku! Auranya sangat berbeda, gayanya yang berbeda membuatku bingung. Aku lebih percaya kita menemukan orang yang salah.}
Aku dengan bingung mendengar banyak suara tanpa tahu dari mana arahnya, apa itu dalam kepalaku? Bagaimana bisa?
{Benar yang di katakan Ga#&¥s dia benar-benar berubah drastis. Kalian jangan bertengkar lagi, kita sudah berhasil menyusup, jangan sampai rencana kita hancur}
Suara yang tadinya satu menjadi lebih banyak. Seolah-olah beberapa orang bicara secara bersamaan dalam kepalaku, ini membuatku pusing astaga.
Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan, bahasa mereka bukan bahasa korea, kupikir agak mirip dengan bahasa yang di gunakan mahluk putih tadi.
Dari kelihatannya mereka tidak bermaksud melukaiku juga, mugkin. Tapi aku tidak bisa menebak dengan ceroboh, bagaimana jika tebakan ku salah?
Musuh sendiri tidak terlihat, apa yang harus di lakukan?
Mereka pasti kuat–setidaknya jauh lebih kuat dari mahluk manapun yang aku lihat sepanjang hidup yang kuhabiskan–aku bisa mendengar suara mereka tapi orang lain tidak bisa.
Lupakan dulu soal suara-suara itu, melihat orang-orang mengeluarkan ponsel mereka, aku juga membukanya untuk melihat fidio tayangan langsung dari perdana menteri.
—Kepada seluruh warga negaraku, ******* yang tidak dikenal saat ini sedang beraksi di sejumlah daerah, termasuk Seoul.
Isi pidato itu sederhana. Pemerintah saat ini akan mengerahkan segala cara dan metode untuk memerangi para *******, dan tidak akan pernah ada negosiasi. Dengan demikian, setiap orang harus percaya diri untuk melanjutkan kehidupan mereka.
*******? Ini terdengar lebih nyaman untuk didengar. Tapi benarkah? Mahluk aneh itu telah muncul, apa mungkin ini adalah senjata biologis pemerintah yang bocor? Seperti di film-film?
Tidak. Mahluk itu telah melakukan sesuatu seperti di luar logika, bisa melayang dari tarikan gravitasi bumi, dia juga tidak memiliki sayap, ini aneh.
Dan kecerdasannya tampaknya tidak rendah karena bisa bahasa manusia, ada juga fakta panel biru di depanku. Sejak kapan manusia bisa menciptakan teknologi secanggih ini? Dan itupun tertuju pada orang-orang biasa di kereta bawah tanah.
Berapapun aku memikirkannya, ini tidak benar. Jadi hanya satu kesimpulan yang bisa kutarik saat ini.
Orang-orang dalam gerbong mulai ribut dengan, "Dimana presiden?" Atau "Kenapa perdana menteri yang muncul."
“Presiden sudah mati.”
“Apa? Benarkah?!”
“Aku tidak yakin. Seseorang berkomentar seperti itu di Naver―”
“Sial, maka itu kabar palsu!”
Jika yang muncul adalah perdana menteri bukan presiden, maka nasib presiden sudah di tentukan. Melihat orang-orang di sekitar, aku menyadari bahwa sepertinya nilai-nilai sosial akan runtuh dalam waktu dekat.
Meyentuh wajahku sendiri, aku merasakan suatu perasaan asing mulai bermunculan, jantungku berdebar aneh, aku menutupi bibirku dengan tanganku agar tidak ada yang melihatku tersenyum.
Ya tuhan, kenapa aku jadi bersemangat begini? Dunia akan berubah menjadi sesuatu yang tidak aku kenal, kenapa aku merasa senang?
{Itu dia! Senyum itu! Tidak salah lagi.}
{Sudah lama kita tidak melihat dia tersenyum seperti itu, kapan terakhir kali?...}
{Jika tidak salah seharusnya di dunia ke-kedua?}
Mengabaikan ocehan di kepalaku, aku melihat dengan seksama saat orang-orang tanpa peringatan menjatuhkan ponsel mereka.
“Uwaaaaack! Apa?”
Ketakutan memenuhi gerbong, suara tembakan dan darah memenuhi seluruh layar ponsel, hanya suara ini yang memenuhi seluruh gerbong. Aku merasa melihat film thriller tapi versi realistis.
Perdana menteri telah mati, dan itu di tayangkan secara langsung. Hal berikutnya yang muncul adalah jenis mahluk aneh itu lagi.
[Semuanya, bukankah sudah kubilang. Ini bukanlah permainan seperti terorisme.]
Orang-orang kehilangan kata-kata, mulut mereka menganga seperti ikan mas bodoh, itu lucu. Aku inggin tertawa, tapi akan terlihat aneh jika aku benar-benar melakukannya.
[Apakah kalian masih tidak mengerti juga? Ini bukanlah sesuatu seperti itu. Apa kalian masih menganggap semua ini hanyalah main-main belaka?]
[Hahaha, menurut data yang kudapat, orang-orang di negara ini sangat pandai dalam memainkan game. Jadi, bagaimana kalau kutingkatkan saja kesulitannya?]
Dengan bunyi bip. Petunjuk waktu besar muncul di udara. Kemudian waktu yang ditunjukkan mulai berkurang dengan cepat.
[Waktu yang tersisa telah berkurang sepuluh menit.]
[Masih tersisa sepuluh menit sebelum skenario berakhir.]
[Jika pembunuhan pertama tidak terjadi dalam lima menit ke depan, semua nyawa yang ada di gerbong ini akan musnah.]
Peristiwa berikutnya bisa kalian bayangkan, orang-orang menjadi kacau bahkan pria tentara itu kewalahan.
“A-Ada pembunuhan di belakang sana!” Seseorang berseru.
Adegan yang terjadi di Gerbong 3907 bisa dilihat melalui jendela lorong. Ada pembunuh di gerbong sebelah.
“Kita harus mengusir mereka! Jangan biarkan siapa pun masuk!”
Orang-orang berusaha menahan pintu besi dengan erat agar tidak terbuka.
{Apa yang mereka coba lakukan?}
{Mereka melakukan sesuatu yang bodoh.}
{Lupakan soal itu, apa kalian ada perasaan melupakan sesuatu?}
[Semua jenis akses ke kereta akan dibatasi hingga skenario selesai.]
Seiring dengan munculnya pesan ini, orang-orang terlempar kembali dari pintu besi karena muncul penghalang transparan.
“A-Apa ini?”
Sekali lagi, suara menjengkelkan terdengar, [Haha, ada beberapa tempat yang cukup menyenangkan, sementara tempat lain belum memulainya. Oke, ini adalah layanan khusus. Aku akan menunjukkan kepada kalian apa yang akan terjadi jika tidak ada pembunuhan dalam lima menit ke depan.]
Layar besar mengambang segera muncul dan menampilkan ruang kelas sekolah tertentu, ada gadis-gadis di layar berseragam sekolah biru tua, raut wajah mereka terlihat jelas ketakutan.
{Ha? Memangnya ada yang bisa kau lupakan dengan otak jeniusmu?}
Dengan bunyi bip terus menerus terdengar untuk sementara waktu. Gadis-gadis SMA itu mulai menjerit.
[Waktu yang diberikan telah habis.]
[Penyelesaian pembayaran akan dimulai.]
Begitu pengumuman berakhir, kepala gadis-gadis sekolah menengah yang duduk di barisan depan meledak di detik berikutnya.
Satu per satu, lagi dan lagi. Semakin banyak kepala meledak. Gadis-gadis SMA berteriak dan berlari menuju pintu atau jendela kelas. Tapi sekuat apapun mereka mencoba, itu tidak akan berhasil, penghalang itu mengurung mereka.
Pada akhirnya yang tersisa satu orang gadis mencekik temannya sendiri muncul di layar. Hal yang terakhir di tampilkan adalah siswi itu melihat sekelilingnya.
[Saluran #Bay23515. SMA Putri Daepong, siswi kelas dua yang selamat: Lee Jihye.]
Sosok gadis di layar menghilang. Kemudian mahluk aneh itu berkata, [Bagaimana? Menarik bukan?]
Dia berbicara sambil senyum, tetapi orang-orang tidak lagi melihat layar. Aku melihat bahwa orang-orang yang melakukan kontak mata, secara bertahap menjauhi satu sama lain.
Kepercayaan antar-manusia sudah menipis.
__ADS_1
{Kau pikir aku ini tuhan atau apa!? Meskipun otakku lebih pintar dari milikmu yang bodoh, aku juga bisa lupa.}
{Brengsek. Aku tidak bodoh.}
Hal yang segera membuatku tertarik adalah pria berpakaian kantoran yang fokus pada layar ponselnya. Itu tidak biasa.
Aku bertanya-tanya, hal apa yang di lihatnya sampai pria itu begitu fokus?
Kelakuan pria itu sangat berbeda jika di bandingkan dengan orang-orang lainya dalam gerbong kereta.
Yahh, itu bukan urusanku juga sih.
Rasa penasaran datang dan pergi dengan cepat, aku segera mengalihkan perhatianku ke pemuda yang berjongkok di depan wanita tua.
{Cukup! Kenapa kalian selalu bertengkar di setiap waktu!?}
{Hentikan ocehan kalian dan berpikirlah.}
Pemuda itu berkata, “Sial, aku dalam suasana hati yang buruk dan wanita tua ini terus mengeluh dan mengeluh! Tidak bisakah kau diam?”
Pemuda itu adalah siswa laki-laki, tubuhnya kurus dan rambutnya dicat putih. Namanya tertulis di lencana yang melekat pada seragamnya.
Kim Namwoon.
Melihat dari reaksinya, dia tampaknya beradaptasi dengan cepat. Dia juga tidak terlihat seperti orang baik, ini akan sedikit merepotkan, kurasa.
Aku telah belajar bela diri untuk sementara waktu, apa aku bisa mengalahkannya? Itu mungkin, tapi terakhir kali aku belajar bela diri pada masa kelulusan sekolah menengah atas. Aku agak tidak yakin akan kemenangan.
Sebaiknya jangan provokasi dia dulu untuk jaga-jaga, mencatat itu secara mental, aku mengamati Kim Namwoon.
{Ga#&¥s yang duluan.}
{Kok aku!?}
Kim Namwoon yang gelisah meraih kerah nenek itu dan mengangkatnya. Kaki nenek yang tak berdaya terhuyung-huyung. Telapak tangan Kim Namwoon berayun di udara.
Slap! Slap!
Pada keadaan normal, seseorang akan berlari untuk menghentikannya. Tapi sekarang tidak ada satu pun yang bergerak untuk melakukannya. Tidak butuh waktu lama sebelum tamparan itu berubah menjadi pukulan.
“T-Tolong! Tolong selamatkan aku!”
Beberapa pria di sekitar Kim Namwoon tampak ragu ingin menghentikannya, tetapi pada akhirnya tidak ada satupun dari mereka yang bergerak. Sampai pria kaya yang aku ingat memiliki banyak uang mencoba menghentikannya.
“Anak muda, kenapa kau memperlakukan orang tua seperti itu?!”
Kim Namwoon menunjuk ke langit-langit gerbong kereta bawah tanah dengan jarinya.
{Dasar gemuk sialan. Pastas saja sebelumnya dia tidak mau menggendongmu, kau sangat gemuk bagai babi.}
“Apakah kau melihatnya?”
Di langit-langit, layar holografik semi-biru meputar kejadian.
[L-Lepaskan aku!]
[Aaaack!]
[Mati! Mati!]
Bukan hanya gerbong kereta, layar holografik menampilkan siaran langsung dari orang-orang yang sekarat di berbagai tempat. Kim Namwoon terus berbicara.
“Kau masih tidak mengerti? Tentara dan polisi tidak akan datang untuk menyelamatkan kita. Dan fakta yang jelas, seseorang harus mati.”
“A-Apa maksudmu…?”
“Kita harus memilih seseorang untuk mati.”
{Apa kau mau mati, Ga#&¥s? Ini akan cepat dan tidak menyakitkan.}
Pria kaya itu tidak dapat menjawab. Aku yakin melihat rambut di pergelangan tangannya yang terbuka tampak berdiri.
“Tentu saja, aku tahu apa yang kau pikirkan. Membunuh saudara senegaramu untuk bertahan hidup adalah sesuatu yang hanya akan dilakukan oleh para bajingan. Tapi kau tahu, ini adalah situasi di luar kendali kita. Kita akan mati jika kita tidak membunuh. Jadi, siapa yang akan menyalahkan kita? Apakah kau pada akhirnya akan memilih untuk mati begitu saja hanya karena mempertahankan moralitasmu itu?”
“I-Itu—”
“Pikirkan baik-baik. Dunia yang kau kenal selama ini, baru saja berakhir.”
Berdua lebih baik dari pada satu.
{Kubilang cukup! Apa kalian bisa diam sebentar!?.}
Setelah Kim Namwoon menyelesaikan kalimatnya, celah telah terlibat di mata orang-orang dalam gerbong. Itu adalah pemandangan dimana moralitas mereka yang samar-samar mulai runtuh.
{{Maaf...}}
Yang aku tahu pasti, dunia telah berubah. Jika orang-orang ini tidak segera menyesuaikan diri dan tetap berpegang teguh pada moral dan norma sosial, justru itu bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Dan Kim Namwoon menyatakan. “Dunia baru membutuhkan hukum baru.”
Benar, hukum baru telah mulai terbentuk saat ini. Kau akan menjadi pemburu atau yang diburu?
Hukum survival of the fittest.
Kim Namwoon berbalik dan melanjutkan meninju nenek itu. Kali ini, tidak ada yang menghentikannya. Bahkan pria tentara juga tidak menghentikannya.
Tangan tentara itu mengepal kuat, dia menatap ke udara dengan ekspresi berat. Mungkin dia juga telah membuat keputusan sulit untuk tetap diam seperti itu.
{M%nd, apa kau tidak melewatkan sesuatu di tas mu?}
“Hah, ternyata sulit untuk dibunuh. Hei, apakah kalian hanya akan diam dan menonton saja? Apakah kalian ingin tertinggal?“
Orang-orang gemetar mendengar kata-kata Kim Namwoon. Ekspresi mereka mudah dibaca. Mata orang-orang segera mulai berubah.
Mata mereka sekarang dipenuhi emosi paling primitif yang dimiliki semua makhluk hidup.
“Ya, bocah brengsek ini benar. Jika kita tidak melakukan ini, semua orang akan mati.”
Pria pertama bergegas menuju Kim Namwoon. Dia mengikuti pemuda berambut putih itu menendang wanita tua yang terbaring meringkuk.
{Sebentar, koin ada, peta ada, makanan juga ada, kunci tetap sama, semuanya baik-baik saja, apa yang kurang?}
“Apakah kalian lupa? Seseorang harus mati agar kita bisa hidup!”
“Ah, sial. Aku tidak peduli lagi.”
“Aku masih inggin hidup.”
Pria kedua dan ketiga bergerak. Orang-orang yang berdiri jauh dari nenek itu—para lelaki pengecut yang masih hidup, mahasiswa universitas yang merekam kejadian ini dengan ponsel, ibu dari seorang anak, dan pria kaya sebelumnya—mereka semua bergerak mendekati nenek itu dan mulai memukuli dan menendanginya. Mereka membawa keinginan yang sama: untuk mempercepat kematian nenek itu.
“Mati! Cepat mati!”
Brengsek. Rasa deja vu ini tidak menyenangkan, sial.
Adegan ini....
Kenapa sangat mirip? Begitu familiar hingga membuat darahku seperti mendidih, tanganku tanpa sadar mengepal.
{Kau tidak mungkin melupakan hal penting itu kan!?}
Sebelum aku menyadarinya, aku sudah berdiri dari kursiku yang letaknya di pojok dan tiba di depan sekelompok itu, dengan tinjuku, aku memukul salah satu pria yang meninju wanita tua itu. Memukul tepat di perutnya.
Brakkkkk-!
{Ups?}
{{....}}
Setelah aku memukul pria itu, bunyi ledakan yang cukup keras dari pria itu yang terlempar dan menabrak penghalang transparan, suara gesekan tulang itu bukan palsu. Sudah pasti bahwa ada patah tulang, bahkan mulutnya menyemburkan darah.
[Kau telah memperoleh pencapaian ‘Pembunuhan Pertama’!]
[100 koin telah diterima sebagai kompensasi tambahan.]
Serius!?
Apa yang telah kulakukan? Sejak kapan aku sekuat ini? Apa mungkin dunia berubah dan seisinya juga ikut berubah? Tetapi kenapa aku tidak merasakan apapun? Pemuda dan orang-orang yang memukuli nenek juga tidak terlihat berbeda, jika tidak, nenek itu sudah mati sekarang.
{Aku benar-benar inggin membunuhmu sekarang.}
{Segel pembatas sedikit demi sedikit akan terangkat, bagaimana kita bisa memberitahukan tujuan kita semua ke dunia ini jika ada kendala bahasa?}
__ADS_1
Aku merasa menjadi manusia super untuk sesaat, kekuatan ini keren.
Kim Namwoon dan orang-orang lainnya terkejut, mereka tidak bisa mempercayai mata mereka bahwa pria itu sudah tidak lagi bernafas hanya karena satu pukulan.
𝗣𝗢𝗩 Author
Tidak jauh dari tempat kejadian, Kim Dokja melihat adegan akrab ini ikut terkejut. Ingatannya berputar, dia masih inggat saat dimana Yoo Jonghyuk memulai regresinya kembali ke-n.
「Seperti sebelumnya, hanya Kim Namwoon dan Lee Hyunsung yang selamat. Tidak ada yang berubah.」
「Seharusnya....」
「Pemuda itu menoleh ke arahnya, masih dengan senyum mengejek di bibirnya, dia melarikan diri dengan kucing putih peliharaannya di pelukannya saat dia lengah, tapi karena hoodie yang telah dia sobek, dia sekarang bisa melihat kulit putih yang terpapar dan rambut birunya tertiup angin.」
「Dari Kim Namwoon, dia tahu bahwa pemuda itu kuat, dia membunuh seorang pria hanya dengan satu pukulan.」
Seorang pria yang mati hanya karena satu pukulan dalam awal skenario pertama, hanya orang itu satu-satunya yang melakukannya sepanjang regresi Yoo Jonghyuk.
Menatap pemuda berhoddie hitam dengan kucing putih kecil di atas kepalanya, tidak salah lagi.
Tapi bagaimana dia bisa muncul di sini? Ini terlalu awal.
—Go Eunyeon tidak bermaksud membunuhnya, sungguh. Dia hanya melakukannya secara refleks karena memori dan kenyataan saling tumpang tindih dalam pandangannya. Meskipun tidak disengaja, Go Eunyeon juga tidak memiliki rasa bersalah membunuhnya.
“Kamu–” Kim Namwoon belum menyelesaikan kalimatnya saat kereta berguncang, suara keras memenuhi telinga. Orang-orang berteriak ketika asap membubung dari sudut kanan depan gerbong ini.
Go Eunyeon segera menangkap kucing putih miliknya yang akan jatuh karena guncangan yang tiba-tiba, memeluk tubuh mungilnya dan mengunakan kekuatan tubuhnya sendiri untuk menjaga keseimbangan.
{Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita harus kembali?}
{Kita sudah susah payah menyusup dan tidak mungkin kita meninggalkan salah satu dari kita di sini, itu hanya akan menyebabkan kekuatan kita melemah jika terpisah.}
Pada saat ini, seolah-olah menunggu momen ini. Orang yang berpakaian kantoran (Kim Dokja) yang menarik minat singkat Go Eunyeon sebelumya bereaksi.
Melemparkan tanda tanya di hatinya ke belakang kepalanya, Kim Dokja berlari ke arah nenek itu melewati orang-orang yang berteriak dan terjatuh.
“Apa? Eeeok!”
Dia bertabrakan dengan Kim Namwoon yang menyebabkan pemuda itu jatuh ke lantai dengan teriakan.
'Apa dia mencoba menyelamatkan nenek?'
Melihat Kim Dokja yang dengan cepat melihat sekelilingnya. Go Eunyeon merubah amsusinya.
'Dia bertujuan lain'
{Lalu bagaimana sekarang?}
{.... Kita harus kembali, dan segera cepat ke sini, hanya itu satu-satunya pilihan, meskipun kemungkinan kita kembali ke sini akan menjadi lebih tipis.}
{{....}}
Benar saja. Perhatian Kim Dokja segera menuju ke anak kecil yang jatuh ke arah nenek karena ledakan.
Dia adalah anak kecil yang menangis di tengah-tengah neraka ini, anak yang memegang jaring pengumpul serangga.
'Sebentar, jaring pengumpul serangga? Mungkinkah...'
“Permisi sebentar.”
Kim Dokja mengambil jaring dari anak itu. Dan memasukan tangannya ke dalam jaring, mengambil seekor belalang dan meletakkannya di genggaman anak itu. Kemudian dia berbalik ke arah orang-orang.
“Semuanya, tolong berhenti. Kalian semua tidak akan bisa bertahan hidup jika kalian membunuh nenek itu.”
Suaranya terdengar sangat jelas karena kesunyian sementara yang melingkupi gerbong setelah ledakan terjadi. Orang-orang, satu per satu mulai menatapnya, termasuk mata Go Eunyeon yang sudah tertuju padanya sejak dia bergerak.
“Misalkan saja kalian berhasil membunuh nenek itu. Lalu apa selanjutnya?”
{Hanya ini pilihan kita, sekarang atau tidak sama sekali.}
Go Eunyeon telah menebak apa yang akan terjadi berikutnya sekarang, memeluk kucing putihnya, ia bergumam secara rendah agar tidak terdengar siapapun, tapi cukup untuk terdengar oleh targetnya. Kim Dokja yang menarik semua perhatian juga nilai bonus.
“Kematian nenek itu akan diakui untuk apa yang disebut dokkaebi sebagai ‘pembunuhan pertama’, dan itu dapat mengulur waktu yang ada. Lalu bagaimana selanjutnya?”
'Mahluk itu bernama dokkaebi teryata. Kukira sejenis alien.'
“Ah…”
“Jika apa yang dikatakan dokkaebi itu benar, kalian masing-masing harus membunuh satu setidaknya. Jadi, siapa yang akan kalian bunuh setelah nenek itu? Apakah kalian akan membunuh orang yang ada di samping kalian?”
{Mau bagaimana lagi, ayo lakukan.}
Orang-orang ,yang memikirkan sesuatu yang sama, mulai menjauhi satu sama lain. Kengerian memenuhi mata mereka. Bahkan, semua orang tahu, kematian sang nenek hanyalah sebuah permulaan.
{Sebagai penyebab masalah, aku yang akan di garis depan.}
{Kau selalu bisa di andalkan dalam situasi kritis M%nd, meski sering ceroboh.}
Go Eunyeon memperhatikan bahwa orang-orang mencoba sejauh mungkin darinya.
Itu wajar.
Kekuatan yang ia tunjukan terlalu di luar pemahaman mereka, mereka mungkin menganggap dirinya
manusia monster atau sejenisnya.
{Apa kita harus mengucapkan salam perpisahan dulu padanya?}
{Tidak perlu, dia tidak mengerti bahasa kita, itu percuma, kita dikejar waktu. Ayo cepat.}
Di sisi lain, Kim Namwoon memperhatikan atmosfer yang goyah.
“Haha, apa yang kalian semua khawatirkan? Siapa yang harus dibunuh selanjutnya? Pengecut. Jangan khawatir tentang giliranmu akan tiba karena semuanya memiliki peluang yang sama untuk dibunuh!”
Kim Dokja tahu Kim Namwoon akan mengatakan sesuatu seperti itu. Dengan sedikit lambaian tangan, dia memotong ucapannya.
“Tidak perlu bertaruh seperti itu. Ada cara lain bagi kalian untuk bertahan hidup, bahkan kalian tidak perlu menjadi seorang pembunuh untuk itu.”
“A-Apa itu?”
Orang-orang menjadi sangat gelisah. Ekspresi Kim Namwoon mulai berubah.
“Apakah kalian lupa? Untuk menyelesaikan skenario ini, kita tidak harus membunuh manusia.”
'Mereka mulai menyadarinya'
Go Eunyeon mengawasi orang-orang bingung, tapi ada beberapa yang menyadari sesuatu.
[Bunuh satu atau lebih makhluk hidup.]
Benar. Sejak awal, kata ‘manusia’ tidak pernah ditentukan dalam isi skenario.
Bunuh satu atau lebih makhluk hidup. Dengan kata lain, kehidupan apa pun bisa digunakan untuk menyelesaikan skenario. Seseorang yang cerdik berteriak menunjuk jaring di tangan pria kantor yang Go Eunyeon tidak tahu namanya.
“Serangga! Serangga!”
“Itu benar, serangga.”
Memasukkan tangannya ke dalam jaring dan mengeluarkan seekor belalang. Belalang itu adalah belalang tergemuk yang pernah dilihat olehnya.
“B-Berikan itu padaku! Cepat!”
“Hanya satu! Aku hanya butuh satu!”
Melangkah mundur dengan perlahan ketika melihat orang-orang mulai bergerak. Saat ini, meskipun menghadapi sekumpulan orang-orang yang meledak-ledak penuh kegilaan, yang sebelumnya mencoba membunuh sang nenek. Meski begitu, perlahan ada senyum di wajah pria itu.
'Dia sepertinya menikmati ini. Orang yang menarik.'
“Apa kalian begitu menginginkannya?”
Melambaikan jaring seperti seorang pelatih yang memprovokasi seekor binatang. Beberapa orang yang tidak sabar melompat ke arahnya.
“Kalau begitu tangkaplah!”
Kim Dokja meremukkan belalang di dalam genggaman tangannya, yang telah dia ambil sebelumnya. Pada saat yang sama, melemparkan jaring yang ada di tangannya sekuat mungkin ke sisi berlawanan dari tempat nenek itu dan kerumunan itu berada.
“Ini gila!”
Belalang-belalang itu segera meloloskan diri dari dalam jaring yang terlempar dan melompat sekuat tenaga untuk terbang mencari kebebasan mereka.
__________
__ADS_1
𝗩𝗢𝗧𝗘 | 𝗞𝗢𝗠𝗘𝗡 | 𝗙𝗢𝗟𝗟𝗢𝗪