Putus Tapi Menikah

Putus Tapi Menikah
Satu


__ADS_3

"Aku mau putus."


Selama ini Viola tak pernah membayangkan jika dia akhirnya akan mengatakan itu pada Joe. Viola sangat menyayangi pria itu, tapi keputusannya sudah bulat, dia terlalu lelah untuk melanjutkan hubungan itu.


Joe yang duduk di depan Viola hanya menatap pacarnya itu bingung, kenapa gadis itu tiba-tiba ingin putus? Seingatnya mereka tidak sedang bertengkar.


"Ya udah kalo itu mau lo, gue gak bakal maksa," ujar Joe.


"Maaf ya kalo aku ada salah sama kamu."


"Nggak kok, lo gak ada salah. Kalo gak ada yang mau diomongin lagi, gue pergi."


"I-iya ...."


Joe pun pergi meninggalkan Viola yang masih duduk di dalam café. Viola diam menatap punggung Joe yang semakin menjauh, pria itu bahkan tidak bertanya kenapa Viola ingin putus. Mungkin dugaan Viola benar, Joe tak pernah benar-benar mencintainya. Jadi, ini pasti pilihan yang paling tepat. Viola sudah lelah menghadapi sikap Joe yang kelewat cuek.


Sebagian wanita pasti menyukai pria yang perhatian, romantis dan humoris. Tapi, pria cuek pun justru digilai banyak wanita. Penampilan yang apa adanya, sikap yang tidak berlebihan dan terkadang dingin justru menjadi daya tarik tersendiri. Joe salah satunya.


Jonathan Adithama, atau lebih akrab disapa Joe. Mahasiswa hukum semester enam itu memang dikenal karena sikapnya yang cuek. Dia tidak terlalu peduli dengan penampilan, tapi walau begitu dia tetap terlihat sempurna dari ujung rambut hingga ujung kaki, dia tampan dan tinggi. Siapa sih wanita yang tidak kepincut pada Joe?


Tapi, dari sekian banyak gadis yang menyukai pada Joe, Viola bisa dibilang gadis yang paling beruntung. Mereka saling mengenal karena berada di jurusan yang sama dan tak jarang mereka terlibat dalam tugas kelompok. Awalnya mereka hanya dekat sebagai teman, tapi di akhir semester pertama Viola tidak pernah menyangka jika Joe tiba-tiba mengutarakan perasaannya. Viola tak ingin membuang-buang kesempatan, dia memang sudah menyukai Joe sejak awal, jadi tanpa pikir panjang Viola langsung menerimanya dan mereka pun resmi berpacaran.


Di awal hubungan semuanya lancar-lancar saja. Walaupun Viola mulai merasakan jika punya pacar tampan dan populer itu tidak mudah. Banyak gadis yang iri padanya dan dia harus menahan cemburu sepanjang waktu. Setidaknya Viola makan hati lebih tiga kali dalam satu hari, tapi itu bukan masalah besar, Joe tidak pernah melirik dan meladeni gadis lain, itulah salah satu keuntungan punya pacar cuek.


Kadang Viola senang dengan sikap cuek Joe yang tidak pernah menuntut macam-macam, tidak posesif apa lagi melarang Viola ini dan itu. Joe selalu membebaskan Viola melakukan apa saja yang Viola inginkan, dia juga bukan tipe pria pencemburu yang akan salah paham jika Viola bersama teman laki-lakinya. Tapi, kemudian Viola sadar jika Joe terlalu cuek, bukan hanya kepada gadis lain, tapi pada Viola juga. Selama berpacaran, Viola tidak pernah mendengar Joe menanyakan kabarnya, atau melakukan hal romantis sedikit saja. Kadang mereka tidak terlihat seperti orang pacaran, berpegangan tangan bukan hal yang biasa untuk mereka, bahkan berciuman pun tidak pernah. Tapi, Viola tidak ingin terlalu mempermasalahkannya, sifat Joe memang seperti itu. Bagi Viola selama Joe ada di sampingnya, itu sudah cukup dan dia berhasil mempertahankan hubungan mereka sampai dua tahun lebih.


Tapi, di satu titik Viola merasa sangat lelah dengan sikap Joe. Sedekat apa pun Viola dengan pria lain, Joe tidak pernah marah dan itu membuat Viola merasa jika dia tidak berharga bagi Joe. Selama dua tahun ini Viola sudah melakukan segala cara untuk membuat Joe sedikit berubah. Dia lebih perhatian pada Joe dengan harapan Joe bisa memperhatikannya juga. Bahkan Viola kadang berpura-pura sakit untuk mendapat perhatian Joe, sengaja dekat dengan pria lain agar Joe cemburu. Tapi, semua itu sia-sia, Joe tetaplah Joe, pria cuek dan dingin yang bahkan tidak peduli dengan pacarnya sendiri.


Sampai akhirnya Viola berada di puncak rasa lelahnya, dia mulai berpikir untuk mengakhirinya dan hari ini pun tiba. Dengan rasa cemas dan bimbang di hatinya, Viola mengatakan pada Joe jika dia ingin putus. Setidaknya Viola masih sedikit berharap Joe akan menolak, atau sekedar bertanya apa alasannya. Tapi, dia tahu jika berharap pada Joe itu hal yang mustahil. Pria itu hanya mengiyakan lalu pergi begitu saja.


.


.


.


Malam sudah larut, tapi Viola masih berkutat di depan komputer untuk menyelesaikan tugasnya. Rasanya Viola ingin mengutuk dosen yang selalu memberikan banyak tugas setiap harinya, dia baru saja putus dan butuh waktu untuk menenangkan diri, tapi semua tugas itu memaksanya untuk mengesampingkan perasaan pribadinya.


“Vio!”


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar Viola dan langsung berbaring di atas kasur. Dia Alice, kakak perempuan Viola yang usianya tiga tahun lebih tua dari Viola.


“Apa sih?” tanya Viola malas, kakaknya itu memang sangat suka mengganggu Viola apa lagi jika Viola sedang mengerjakan tugas.


“Minta hotspot dong,” ujar Alice sambil memasang wajah sok imut di depan adiknya.


“Idih, masa situ yang kerja minta hotspot sama anak kuliahan,” cibir Viola.

__ADS_1


“Ih Viola pelit deh sama Kakak,” sikap sok imut Alice semakin menjadi dan itu membuat Viola semakin kesal.


“Labay banget ih, udah tua juga,” ejek Viola.


“Ayo dong, bentar aja! Akhir bulan nih Kakak belum gajian.”


“Ya bodo.”


“Bentar doang deh beneran.”


“Nanti Kakak buka YouTube sama Instagram lagi.”


“Nggak kok, Cuma mau buka chat aja. Ya ya ya.... Ayo dong!” Alice mulai mendekati Viola dan memeluk adiknya itu.


“Terserah deh,” ujar Viola malas sambil mengambil handphone-nya lalu menyalakan hotspot.


“Makasih. Makin sayang deh sama lo.”


“Kak ....” Tiba-tiba Viola menoleh pada Alice yang berdiri di belakangnya.


“Eh lo kenapa? Kayak habis nangis.” Alice langsung menyadari jika mata Viola sembab.


“Kak, Gue putus sama Joe.”


“Hah kok bisa?” Alice kaget, bagaimana bisa adiknya itu putus. Setahunya selama ini hubungan mereka baik-baik saja dan jarang bertengkar. “Siapa yang mutusin?”


“Kok lo putusin? Joe kenapa? Dia selingkuh? Awas aja ya tu anak berani-beraninya bikin adek gue nangis,” cerocos Alice yang tiba-tiba jadi kesal. Walaupun dia suka mengganggu Viola, tapi dia sangat menyayangi adiknya.


“Nggak kok, dia gak selingkuh. Gue cuma ngerasa udah gak cocok aja. Dia cuek banget sama gue, capek terus berharap lebih sama dia,” jelas Viola.


Alice menghela napas, menatap wajah Viola untuk beberapa saat lalu memeluknya. “Ya udah kalo itu keputusan lo. Mungkin kalian belum jodoh, lo gak usah sedih!”


Viola pun balik memeluk Alice lalu menangis di pelukan sang kakak. Memiliki kakak perempuan memang hal paling menakjubkan di dunia, tak ada yang lebih baik untuk diajak curhat selain kakak perempuan.


.


.


.


Joe terbangun karena suara dari handphone-nya yang sangat berisik, ini masih pagi tapi sepertinya Joe sudah mendapat banyak pesan masuk. Ya, itu sudah biasa, setiap pagi dia selalu mendapatkan ucapan selamat pagi dari gadis-gadis penggemarnya. Tapi, Joe tidak pernah membalasnya, sebenarnya dia sudah muak dengan mereka, tapi tidak enak juga kalau Joe memblokir semua kontak itu.


Saat membuka handphone-nya, Joe mendapat pesan yang tidak sedikit, setidaknya lebih dari lima belas orang mengucapkan selamat pagi. Tapi, Joe tidak peduli dengan setiap pesan itu, dia hanya mencari satu pesan yang biasanya selalu ada di antara semua pesan itu, namun kali ini tidak ada. Joe baru sadar jika gadis itu tidak akan mengirimkan pesan lagi padanya. Viola baru saja memutuskannya kemarin.


Dengan malas Joe melemparkan handphone-nya ke atas kasur lalu berjalan menuju kamar mandi, bersiap-siap dan setelah itu langsung pergi ke kampus.


.

__ADS_1


.


.


“Pagi Kak Joe,” Joe baru saja turun dari mobilnya dan dua orang mahasiswi junior langsung menyapanya.


“Pagi,” balas Joe singkat dan langsung pergi. Memang tak jarang Joe bersikap jutek pada orang yang menyapanya, tapi anehnya mereka tetap saja akan menyapa Joe. Itulah keistimewaan pria tampan, jutek dan sombong pun masih dibilang menarik.


Dari tempat parkir Joe berjalan menuju kantin karena tadi dia tidak sempat sarapan. Sesampainya di kantin dia langsung menghampiri Jeffrey, temannya yang sudah tiba di kantin lebih dulu.


“Bu, nasi goreng satu,” Joe memesan makanan pada ibu kantin sebelum duduk.


“Eh dateng juga lo. Tumben gak bareng sama Viola? Lagi marahan?” Tanya Jeffrey sambil melirik ke arah Viola yang duduk cukup jauh dari mereka tapi masih terlihat jelas.


“Nggak,” jawab Joe sambil mengikuti arah pandangan Jeffrey. Dia melihat Viola duduk sendirian sambil menatap layar laptopnya. Sepertinya gadis itu sibuk.


“Terus?”


“Kita udah putus.”


“Hah, serius lo? Kok bisa sih? Lo mutusin dia?”


“Kagetnya biasa aja dong jangan malu-maluin!” seru Joe malas.


“Eh beneran nih? Udah dua tahun lebih loh, masa putus sih? Kalo lo udah bosen kasih ke gue aja jangan dibuang-buang, sayang,” celetuk Jeffrey.


“Bacot.”


“Eh siapa sih yang mutusin? Lo ya? Lo selingkuh ya?” Jeffrey masih saja mengoceh karena penasaran.


“Bukan Gue.”


“Jadi Viola? Wah, Lo selingkuh ya makannya diputusin? Bener-bener lo, si Viola kurang apa coba?”


“Terserah lo! Ngomong aja sama tembok!” seru Joe kesal lalu menyantap pesanannya yang baru datang.


“Enak gak jadi jomblo? Gak ada lagi yang masakin lagi dong.” Jeffrey masih belum puas menggoda Joe.


Dengan susah payah Joe menelan makanannya saat mendengar ucapan Jeffrey. Selama ini Viola memang biasa membawakan bekal untuk Joe karena Joe sering bangun kesiangan dan tak sempat sarapan di rumah. Apa lagi ibu Joe sudah meninggal jadi tidak ada yang memasak untuknya.


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2