Putus Tapi Menikah

Putus Tapi Menikah
Dua Belas


__ADS_3

Viola sedang berbaring di sofa ruang tengah sambil memandangi cincin pemberian Robbie yang dia pegang. Sebenarnya Viola ingin mengembalikan cincin itu, tapi dia bingung bagaimana cara mengembalikannya. Robbie memang sudah berubah dan pria itu sangat baik padanya. Tapi, tetap saja Viola sudah tidak punya perasaan apa pun pada Robbie. Bukan berarti Viola masih terlalu mengharapkan Joe hingga berniat menolak Robbie, Viola hanya belum siap untuk menikah. Bagaimana jika dia menikah dengan Robbie dan tetap tidak bisa membuka hati setelah menikah?


"Viola, tolong bukain pintu dong sayang! Mama tanggung nih lagi masak," teriak Bu Anna dari dapur saat terdengar suara bel.


"Kak Alice aja mah!" balas Viola malas.


"Kakak lagi di atas, Vi. Cepetan! Kasian tamunya nunggu."


"Iya Mah iya ...." Dengan malas Viola pun berjalan untuk membuka pintu.


"Eh Viola, Alice udah pulang?" tanya pria itu pada Viola.


"Kak Rio, Udah Kak. Ayo masuk!" seru Viola pada Rio, pria yang akan menikah dengan kakaknya.


"Makasih Vi."


"aku panggilan dulu Kak Alice-nya, Kak Rio duduk aja dulu!"


Viola pun pergi menuju kamar Alice dan memberitahu kakaknya jika Rio datang.


"Kak, suami lo dateng tuh,” kata Viola saat masuk ke dalam kamar Alice.


"Rio?"


"Iyalah, siapa lagi?"


"Eh Vi, anterin gue yuk," kata Alice tiba-tiba.


"Ke mana? Lo kan mau pergi sama Kak Rio, masa bawa-bawa gue segala? Gak enak ah sama Kak Rio."


"Gapapa kali. Gue mau fitting gaun, biar bisa sekalian minta pendapat lo."


"Males ah, gue tadi udah pergi ke luar." Tanpa ragu ataupun merasa tidak enak, Viola menolak ajakan Alice.


"Ayo dong. Kan lo cantik, nanti gue traktir deh." Alice terus membujuk Viola.


"Udah makan."


"Ya udah. lo mau apa?"


"Beliin sepatu baru!"


"Anjir."


"Ya udah kalo gak mau. Gue mau tidur," Viola melengos pergi meninggalkan kamar Alice.


"Eh? Oke deh iya gue beliin." Alice menyerah dan setuju untuk membelikan Rosie sepatu baru.


"Beneran ya? Awas kalo bohong!"


"Iya. Cepetan ganti baju sana?"


"Oke."


Viola pun segera menuju kamarnya untuk ganti baju, setelah itu dia langsung pergi bersama Alice dan Rio.


Setelah perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Viola, Alice dan Rio sampai di sebuah butik. Alice langsung menuju ruang ganti sementara Viola dan Rio menunggu di ruang tunggu.


"Eh Viola gapapa nih keluar malem-malem gini, besok gak kuliah?" tanya Rio saat sedang menunggu Alice.


"Nggak kok, aku lagi cuti," jawab Viola.


"Loh, kok cuti mendadak?"


"Lagi kurang sehat, Kak. Jadi mau istirahat dulu," jelas Viola.


"Oh gitu. Eh, pacar lo ke mana? Kok jarang keliatan?"


"Pacar yang mana?"


"Emang lo punya pacar berapa?"


"Gak ada hehe ...." Viola hanya meringis di depan calon kakak iparnya itu. Alice dan Rio memang sudah pacaran sangat lama, jadi Viola juga sudah sangat dekat dengan Rio.


"Oh, jadi Viola jomblo nih ceritanya?"

__ADS_1


"Gitu deh."


"Vi, gimana? Bagus gak?" Alice keluar dari ruang ganti, dia sudah memakai gaun pengantin dan sukses membuat Viola ternganga kagum melihat kakaknya itu.


"Waaaahh. Ini beneran Kak Alice? Cantik banget," Viola langsung menghambur menghampiri Alice.


"Gue gitu loh," ujar Alice bangga.


"Gaunnya yang cantik maksud gue. Kalo lo nya sih biasa aja," celetuk Viola yang langsung mendapat jitakan di kepalanya dari Alice.


Rio hanya terkekeh gali melihat kakak beradik yang sangat dekat tapi selalu bertengkar itu. "Alice lebih cantik tau." Rio menghampiri keduanya lalu menjitak jidat Viola juga.


"Lo berdua bener-bener ya," Viola langsung mengomel karena mendapat jitakan dua kali berturut-turut.


"Wlek! Rasain!" Alice menjulurkan lidahnya dan membuat sang adik semakin dongkol.


"Tau ah, lo berdua itu ngeselin banget. Awas aja lo." Viola masih saja mengomel, namun tiba-tiba berhenti saat matanya menangkap sosok yang tidak asing.


Matanya terus mengikuti sosok pria paruh baya yang datang bersama seorang wanita. Tampaknya mereka juga akan fitting gaun di tempat itu.


"Mbak, Saya mau gaun yang paling bagus dan mahal buat calon istri Saya."


"Eh Pak Adit. Jadi nikah nih?" tanya pemilik bukit pada pria itu.


"Jadi dong."


Diam-diam Viola menguping pembicaraan pemilik butik dengan kedua orang itu


"Lo kenal sama mereka, Vi?" tanya Alice yang sadar Viola terus melihat ke arah pasangan itu.


Viola tidak menjawab, dia masih fokus memerhatikan mereka. Pria paruh baya itu ayahnya Joe, dan dia akan menikah. Apa Joe sudah tahu? Ini baru satu tahun sejak ibu Joe meninggal, Joe pasti sedih saat tahu ayahnya akan menikah lagi


.


.


.


.


Kedua gadis itu pergi menuju aula, tempat festival tahunan dilaksanakan. Awalnya Viola memang tidak berniat untuk datang menonton festival. Tapi, karena Juli datang ke rumahnya dan membujuk ibunya, akhirnya Viola diizinkan untuk pergi.


“Pelan pelan Jul! Nanti kalau kita jatoh gimana?” kata Viola.


“Ih, nanti kita ketinggalan. Lo sih pake mandi dulu, kan jadi telat kita.” Bukannya mendengarkan ucapan Viola, Juli malah mengomeli temannya itu. Akhirnya, Viola hanya bisa pasrah dan membiarkan Juli terus menyeretnya hingga mereka sampai di aula.


“Eh, dateng juga lo, Vi. Ke mana aja lo?” tanya Jeffrey saat Viola dan Juli datang lalu duduk di sampingnya.


“Gue ada kok. Lo aja yang lupa sama gue, main kek ke rumah gue!” seru Viola.


“Hehe, kapan-kapan deh gue main ke rumah lo. Eh seriusan lo mau nonton Joe sama Nadia, yakin gak cemburu?” Celetuk Jeffrey.


Plak.


Viola Langsung memukul punggung Jeffrey dan membuat pria itu mengaduh kesakitan.


“Kok gue dipukul sih?” protes Jeffrey.


“Lo sih Jef. Lagian ngapain Viola cemburu? Dia udah mau nikah tau,” ujar Juli yang membuat Jeffrey hampir memuncratkan kopi yang sedang diminumnya.


“Serius Vi? Lo mau nikah sama siapa?” tanya Jeffrey pada Viola.


“Dia dilamar sama mantannya waktu SMA.”


“Juli!” Viola langsung membungkam mulut Juli sebelum gadis itu mengoceh lebih banyak.


“Beneran? Gak becanda?” Jeffrey terbelalak.


“Nggak kok nggak, Juli ngaco nih.” Viola menggeleng cepat.


“Gak usah malu-malu lo! Percaya deh sama gue Jef, si Viola ngeliatin cincinnya sama gue loh.” Juli tidak mau menyerah dan terus mengoceh hingga membuat Viola malu.


“Ih, lo dasar ember,” Viola menatap Juli kesal. Sepertinya dia sudah salah memilih teman curhat.


“Jadi beneran, Vi?” Jeffrey masih tidak percaya.

__ADS_1


“Tapi, bukan berarti gue bakal nikah juga kali. Gue juga udah gak punya perasaan apa-apa sama Kak Robbie,” jelas Viola.


.


.


.


Mata Viola menatap lurus ke arah panggung, melihat teman-temanya yang sedang tampil dalam drama musikal yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Viola duduk dengan tenang dan fokus, tapi dalam hati dia tidak bisa berhenti menggerutu. Dari semua gadis di kampus itu, kenapa harus Nadia? Memangnya tidak ada gadis lain? Padahal banyak gadis yang lebih cantik.


‘Ish... gue kenapa sih? Ya bodo mau Joe beneran sama Nadia juga, bukan urusan gue ini,' Rutuk Viola dalam hati. Namun, gadis itu langsung membulatkan mata saat Joe mencium bibir Nadia yang sedang tertidur.


“Loh loh! Kok ada adegan itu sih? Bukannya gak jadi ya?” Juli dan Jeffrey langsung heboh, begitu pun para penonton wanita yang mulai menjerit melihat pria idola mereka mencium seorang gadis.


Sementara semua orang ribut, Viola hanya mematung menatap adegan itu dengan tatapan tidak percaya. Dia tidak mengerti kenapa merasa begitu kesal melihat Joe dan Nadia, dan tanpa sadar Viola malah pergi meninggalkan aula, tapi Juli dan Jeffrey pun tidak sadar karena terlalu sibuk dengan kehebohan mereka.


Setelah pergi dari aula, Viola langsung menuju toilet dan diam cukup lama di sana. Entah kenapa Joe sangat mengganggu pikirannya, padahal dia sudah berusaha mengabaikan mantan pacarnya itu.


Saat tengah sibuk melamun sambil menatap pantulan dirinya di cermin, tiba-tiba seseorang datang lalu mencuci tangannya di samping Viola.


“Kirain lo gak dateng? Gimana liat gue sama Joe?”


Viola lantas menoleh pada Nadia yang bicara padanya. “Biasa aja,” katanya.


“Padahal di skripnya gak ada adegan gitu, gue juga gak ngerti kenapa Joe tiba-tiba nyium gue,” ujar Nadia yang sengaja agar Viola semakin kesal.


“Terus, apa hubungannya sama gue?” tanya Viola sambil pergi meninggalkan Nadia.


“Gimana Kalo Joe beneran suka sama gue? Jangan nyesel ya, kan lo yang mutusin dia!” seru Nadia yang membuat Viola berhenti lalu menoleh padanya.


“Yakin Joe bakal suka sama lo? Jangan terlalu ngarep ya! Sakit loh kalo gak kesampean,” balas Viola sebelum benar-benar pergi meninggalkan Nadia.


Setelah dari toilet, Viola tidak kembali ke aula, padahal acara masih panjang. Gadis itu duduk di taman depan kampus yang sekarang sepi karena semua orang sibuk menonton pertunjukan festival.


“Viola bego, ngapain sih mikirin Joe terus? Joe kan udah gue putusin, gak mungkin balik lagi sama gue,” Viola mengomeli dirinya sendiri, dia tidak bisa membantah jika dirinya belum bisa move on dari Joe.


“Lo ngapain di sini sendirian?”


“Eh?” Viola terkejut saat Joe tiba-tiba datang menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


“Lo ngapain ke sini?” tanya Viola ketus.


“Nyariin lo,” jawab Joe.


“Ngapain nyariin gue?”


“Tadi gue ngeliat lo pergi dari aula. Tapi, lo gak balik-balik, jadi gue nyariin lo deh, eh ada di sini,” jelas Joe.


“Oh gitu.”


“Gimana akting gue? Gak jelek-jelek banget kan?” tanya Joe penasaran.


“Jelek!” jawab Viola tegas.


“Lo kenapa? Kayak lagi kesel gitu?”


‘Udah jelas gue kesel, Dasar gak peka,' batin Viola. “Nggak kok.”


“Lo gak cemburu liat gue sama Nadia?” Joe malah menggoda Viola.


“Gue? Cemburu? Sama lo? Hahahaha becanda lo. Ngapain gue cemburu?” Viola membantah keras pertanyaan Joe dan membuat pria itu tampak kecewa.


“Padahal gue ngarepnya lo cemburu Vi. Tau Gak gue sengaja cium Nadia buat manas-manasin lo?”


“Eh?” Viola menoleh pada Joe, dia bingung dengan maksud perkataan pria itu. Untuk memanas-manasinya? Setahu Viola, Joe bukan orang kurang kerjaan yang akan sengaja melakukan hal konyol seperti itu.


“Sekarang gue ngerti alesan lo mau putus sama gue. Gue udah berusha buat lebih perhatian, tapi ternyata ngerubah sikap itu gak gampang.” Joe menghela napas berat sebelum melanjutkan ucapannya. “Tapi, Viola, kalo gue bisa berubah, lo mau gak jadi pacar gue lagi?”


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2