
Sudah seminggu lebih Viola istirahat di rumah, dan sekarang dia sangat bosan. Jadi hari ini Viola memutuskan untuk kembali kuliah, selain bosan Viola juga memiliki banyak tugas yang sudah menantinya.
“Lo beneran mau pergi kuliah Vi?” tanya Alice yang sedang duduk di atas ranjang Viola sambil memerhatikan adiknya yang sedang mencari buku di dalam laci meja belajar.
“Iya, emang kenapa?”
“Lo gak denger kata dokter, lo harus istirahat!”
“Gue kan Cuma kuliah, bukan jadi tukang kuli panggul. Lagian gue bosen banget seharian di rumah.”
“Ya udah deh terserah lo, tapi lo harus tetep hati-hati!” seru Alice.
“Iya gue tau kok,” balas Viola sambil berjalan keluar kamar.
“Lo pergi naik apa?”
“Taksi.”
“Kok naik taksi? Gak dijemput sama pacar?” Alice mulai menggoda Viola.
“Ish apa sih?”
“Eh lupa. Lo kan jomblo ya.”
“Berisik!”
“Udah cepetan pergi! Nanti telat loh.”
“Ini juga mau pergi.”
“Tiati ya Vi!”
“Oke.”
Viola pun keluar dari dalam rumah, kemudian menunggu di pinggir jalan beberapa menit sampai akhirnya sebuah taksi berhenti.
.
.
.
Viola sampai di kampus dan langsung pergi menuju kelas. Hari ini dia ada jadwal mata kuliah hukum tata negara dan dua menit lagi kelas akan dimulai.
Sesampainya di kelas Viola mengedarkan pandangannya untuk mencari kursi yang masih kosong, tapi tiba-tiba suara Juli terdengar memanggilnya.
“Viola!”
Viola langsung menoleh ke sumber suara. “Eh di situ kosong ya?” tanya Viola sambil menunjuk kursi kosong yang ada di samping Cindy.
“Kosong Kak, sini di duduk samping gue!” seru Cindy.
Viola pun berjalan menghampiri Juli dan Cindy lalu duduk di samping Cindy.
“Lo udah sehat Vi, sumpah gue kangen sama lo,” ujar Juli.
“Udah kok, ni buktinya gue ada di sini.”
“Selamat pagi semuanya.”
Viola dan Juli tidak melanjutkan obrolan mereka karena dosen sudah datang. Bu Hani, dosen hukum tata negara memang terkenal killer, jadi tidak akan ada yang berani mengobrol di kelasnya.
“Pagi Bu.”
“Oke, Minggu lalu sampai di mana?....”
__ADS_1
Bu Hani mulai menjelaskan di depan kelas, namun tiba-tiba dia berhenti saat melihat seseorang masuk ke dalam kelas.
“Maaf telat Bu,” ujar pria yang ternyata Joe itu.
“Duduk!” seru Bu Hani ketus lalu kembali menjelaskan.
Joe pun celingukan mencari kursi yang kosong dan dia menemukan satu di samping Viola. Mau tidak mau dia pun duduk di sana sebelum Bun Hani mengamuk.
Sekilas Viola menoleh pada Joe lalu kembali memerhatikan Bu Hani.
“Lo udah sehat?” bisik Joe pada Viola. Setelah kembali dari Bandung, dia memang tidak pernah melihat Viola masuk kuliah, tapi hari ini gadis itu kembali ke kampus.
Viola hanya mengangguk, dia tidak mau mendapat masalah karena ketahuan mengobrol.
“Pinjem pulpen dong,” bisik Joe lagi.
“Gue Cuma bawa satu,” jawab Viola namun tidak mengeluarkan suara, dia hanya menggerakkan bibirnya, tapi sepertinya Joe tidak mengerti.
“Ngomong apa?”
“Cuma bawa satu,” ulang Viola, kali ini dia berbisik pelan.
“Oh.”
TAK
Tiba-tiba sepotong kapur mendarat mulus di kepala Joe.
“Kamu udah terlambat, sekarang malah ngobrol. Kalo mau ngobrol di luar aja jangan di kelas Saya!” seru Bu Hani.
“Iya Bu, maaf,” ujar Joe.
“Kalian berdua keluar dari kelas!”
“Tapi, Bu?” Viola berusaha menjelaskannya, tapi sepertinya itu akan percuma.
“Iya Bu,” ujar Joe patuh, dia berdiri lalu menarik Viola untuk keluar juga sebelum dosen killer itu semakin marah. “Cepetan!” Bisiknya pada Viola.
Mereka berdua pun keluar dari dalam kelas dan setelah di luar Viola langsung mengomeli Joe.
“Lo sih, pake ngajak gue ngomong segala.”
“Gue kan muma pinjem pulpen doang.”
“Makanya beli! Jangan minjem mulu!” seru Viola lalu berjalan ke arah kantin.
“Lo mau ke mana?”
“Kantin. Ngapain sih lo ngikutin gue?”
“Orang gue mau ke kantin juga kok.”
Viola tidak menghiraukan Joe dan terus berjalan, tapi Joe terus mengikutinya, sampai Viola duduk pun pria itu duduk di depannya juga.
“Tugas kelompok Pak Herman gimana?” Akhirnya Viola bertanya pada Joe.
“Kita bertiga lagi nyusun laporan, kalo lo mau bantu nanti gue kasih filenya biar bisa lo terusin,” ujar Joe.
“Tapi, gue gak enak sama kalian. gue gak ikut ngerjain tapi tetep masuk kelompok.”
“Gak enak sama siapa? Juli? Martin? Mereka gapapa kok, kan lo emang sakit.”
“Ya udah deh. Laporannya biar gue aja yang beresin, filenya pindahin aja ke flashdisk gue!” seru Viola sambil menguarkan sebuah flashdisk dari dalam tasnya.
“Oke, besok gue balikin flashdisk lo,” ujar Joe. “Eh Vi. Habis ini lo ada kelas lain gak?”
__ADS_1
“Gak ada, emang kenapa?”
“Gue mau ke makan ibu gue, mau ikut gak? Hari ini peringatan kematiannya.”
Viola terdiam sejenak, dia baru ingat, sekarang tanggal 16 September. Satu tahun yang lalu ibu Joe meninggal di tanggal yang sama. Berarti ini peringatan pertama.
“Iya, gue ikut deh,” jawab Viola yang merasa sangat tidak enak jika menolak.
“Kalo gitu kita pergi sekarang aja, sekalian ke toko bunga dulu.”
“Emang lo gak ada kelas?” tanya Viola
“Ada sih, tapi udahlah! Males juga,” jawab Joe.
.
.
.
Viola sibuk dengan handphone-nya sementara Joe fokus menyetir. Selama di perjalanan mereka berdua hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Sebenarnya itu bukan situasi yang asing, jangankan sudah menjadi mantan, saat pacaran saja mereka memang seperti itu. Jika Viola tidak bicara terlebih dahulu biasanya Joe jarang memulai pembicaraan.
Joe menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga, tentu saja dia harus memberi ibunya bunga. Tapi, sebenarnya Joe bingung harus membeli bunga apa.
“Vi, gue harus beli bunga apa?” tanya Joe yang langsung membuat Viola mengalihkan pandangannya dari layar handphone.
“Mmm apa ya? Biasanya bunga lili putih kalo buat orang yang meninggal. Tapi, terserah lo sih, lo kan lebih tau ibu lo sukanya bunga apa.”
“Gue gak tau. Lo bantu pilihan ya!”
“Kok gue?”
“Tolong Vi!”
Viola menghela napas sebelum akhirnya dia keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam toko bunga diikuti oleh Joe.
“Selamat datang,” sapa perempuan penjaga toko itu.
“Mbak, ada bunga lili putih gak?” tanya Viola pada wanita itu.
“Ada, mau dibikinin buket sekalian?”
“Iya, sekalian aja!” seru Joe.
“Buat ke makam ya?” tanya wanita itu sambil mulai mengambil beberapa tangkai bunga lili.
“Iya mbak,” jawab Joe.
“Mau sekalian ditambahin mawar gak? Biasanya orang pake mawar merah juga.”
“Ya udah boleh.”
Sambil merangkai bunga, wanita penjaga toko itu terus mengajak Joe mengobrol, sementara Viola hanya diam menunggu. Bukankah Joe meminta bantuannya untuk memilih bunga? Tapi, kenapa sekarang pria itu asyik sendiri?
“Ini mas, udah,” wanita itu menyerahkan buket bunganya pada Joe. “Pacarnya gak sekalian dibeliin?” Tanyanya sambil melihat Viola.
“Saya bukan pacarnya,” bantah Viola cepat.
“Oh, udah nikah ya. Sekarang emang lagi musimnya nikah muda.”
“Makasih ya mbak,” Joe mengambil bunganya lalu keluar dari toko itu. Viola mengikuti Joe, dia masih salah tingkah gara-gara dikira istri Joe.
.
.
__ADS_1
.
To be continued