Putus Tapi Menikah

Putus Tapi Menikah
Sebelas


__ADS_3

“Eh, apa sih?” Viola membuang muka, dia tidak cemburu, tapi kesal. “Ngapain juga gue cemburu?”


“Becanda kali, sewot banget lo.”


“Ya udah, ngapain lo nanya-nanya?”


Viola melengos pergi dan kembali mencari DVD, namun Joe malah mengikutinya.


“Besok lo mau nonton gak?” tanya Joe.


“Nonton apa?”


“Ya nonton gue. Nonton festival maksudnya.”


“Gak ah, gue mau nonton film.” Viola mengambil beberapa DVD secara acak.


“Serius lo mau nonton film itu?” Joe terlihat ragu sambil menunjuk salah satu DVD di tangan Viola.


“Hah?”


Viola melihat DVD-nya, dan ternyata ada satu DVD film dewasa.


“Eh anjir. Nggak ih ....” Viola langsung melemparkan DVD itu, dia kaget dan malu sendiri gara-gara tingkah konyolnya.


“Gue gak tau kalo lo suka nonton yang gitu-gitu,” Joe malah semakin menggoda Viola, padahal wajah gadis itu sudah memerah karena malu.


“Gue bilang nggak!” Viola jadi semakin kesal pada Joe.


“Ya udah kalo nggak, gak usah nyolot!”


“Terserah gue dong.”


“Perasaan lo marah-marah aja sama gue,” kata Joe.


“Perasaan lo doang kali, orang gue biasa aja.” Viola pergi meninggalkan Joe untuk membayar DVD yang dibelinya, tapi lagi-lagi Joe mengikutinya. “lo ngapain sih ngikutin gue terus?”


“Dih, siapa yang ngikutin lo? Gue mau bayar juga kok,” balas Joe yang membuat Viola malu untuk yang kedua kalinya.


“Oh,” hanya itu yang Viola katakan, tapi dalam hati dia terus mengomeli kebodohannya sendiri.


“Mbak, tolong dibungkus ya!” Joe menyerahkan DVD yang hendak dibelinya pada kasir.


“Punya saya dulu mbak!” seru Viola.


“Loh!” Joe langsung melihat Viola heran.


“Apa?” Viola balas menatap Joe datar.


“Gapapa. Ya udah mbak punya dia duluan aja!” seru Joe pada kasir itu. Joe tahu Viola tidak akan mau mengalah, jadi dari pada berdebat lebih baik turuti saja keinginannya.


“Berapa mbak?” Viola sudah mengeluarkan dompet dari dalam tasnya, tapi Joe menahannya.


“Saya bayar sekalian mbak.”


“Eh?”


“Berapa semuanya?”


“Gue bisa bayar sendiri ko, gak usah repot-repot!” seru Viola tak enak.


“Biasanya juga minta dibayarin,” celetuk Joe.


“Kapan gue gitu? Gak usah fitnah lo!”


“Gak ingat ya?”


Viola dan Joe malah berdebat dan membuat kasirnya sedikit bingung.


“Jadi siapa yang mau bayar?” tanya kasir itu akhirnya.


“Saya bayar sendiri aja mbak,” jawab Viola.


“Saya yang bayar semua,” ujar Joe sambil menyerahkan beberapa lembar uang.


“Eh, lo ngapain sih?”


“Udah, lo banyak protes banget sih. Orang-orang pada mau bayar juga tuh.”


Menyadari banyak orang yang sudah mengantri di kasir, Viola pun langsung mengambil DVD-nya lalu keluar dari toko itu.


Joe yang sudah selesai membayar pun juga ikut keluar dan berjalan di samping Viola.


“Eh besok lo beneran gak bakal dateng?” Joe bertanya lagi agar bisa bicara lebih banyak dengan Viola.


“Dibilangin mau nonton film.”


“Nonton filmnya kan bisa kapan-kapan.”

__ADS_1


Viola menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Joe.“Sejak kapan sih lo jadi bawel gini?”


“Cuek salah, bawel salah. Mau lo gimana sih?” Tiba-tiba jadi Joe yang marah pada Viola. Pria itu menatap Viola kesal lalu berjalan mendahuluinya.


“Gak jelas banget sih jadi orang,” gerutu Viola yang menyadari sikap cuek Joe sudah kembali. “Eh lo marah ya?” Viola mengikuti Joe.


“Nggak,” jawab Joe singkat.


“Iya ih, lo marah. Masa gitu doang ngambek sih,” cibir Viola yang terus mengikuti Joe.


“Nggak,” Joe menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Viola. Tapi, Viola tidak sempat berhenti karena gerakan Joe yang tiba-tiba, alhasil Viola malah menabrak tubuh Joe dan menginjak kakinya.


“Ish!” Joe menghela napas menahan rasa kesalnya pada gadis yang selalu berbuat konyol itu, ternyata kelakuan Viola masih sama saja.


“Lo kok malah berhenti sih? Sakit nih jidat gue kena dagu lo,” Viola langsung mengomeli Joe.


“Kaki gue lebih sakit Vi.” Joe menunduk melihat kaki Viola yang masih berada di atas salah satu kakinya.


“Eh, sorry hehe. Lo sih ngerem mendadak.”


“Ya udah singkirin kaki lo!” seru Joe malas.


“Gak ah, masih betah nginjek kaki lo,” celetuk Viola sambil tertawa licik.


“Viola!” Joe semakin kesal dengan tingkah kekanak-kanakan Viola.


“Hehe ....” Viola malah tertawa alih-alih menyingkir.


“Minggir gak? Atau gue bikin lo malu,” ancam Joe.


“Caranya?” tanya Viola menantang.


“Gampang lah,” tiba-tiba Joe menyejajarkan wajahnya dengan Viola dan mendekati wajah gadis itu.


“L-lo ng-ngapain?” tanya Viola yang menjadi terbata-bata.


“Tuh kan lo malu. Muka lo merah.”


“Gila lo!” Viola langsung mendorong tubuh Joe dan mundur beberapa langkah menjauhi pria itu.


.


.


.


Setelah perdebatan singkat yang terjadi di pusat perbelanjaan, Viola dan Joe pergi ke sebuah café untuk makan siang. Awalnya Viola ragu untuk menerima ajakan Joe, tapi karena dia juga lapar dan malas pulang ke rumah, akhirnya dia setuju untuk makan siang bersama Joe.


“Gak parah sih, Cuma pengen istirahat aja,” jawab Viola.


“Tapi, lo malah keluyuran.”


“Hehe.” Viola hanya meringis lebar sebelum kembali melanjutkan makan. “Lo kok bisa kepilih main drama musikal sih? Padahal akting lo jelek,” celetuk Viola yang langsung membuat Joe menatapnya datar.


“Soalnya gue ganteng.”


Sekarang giliran Viola yang menatap Joe dengan tatapan anehnya. “Gak salah lo?”


“Emang kenapa?”


“Lo beneran Joe kan?”


“Ya iyalah, lo kira gue siapa? Aneh banget nanyanya.”


“Ya aneh aja, sejak kapan lo jadi agak bawel sama narsis gini? Setau gue Joe yang gue kenal itu orangnya cuek abis,” jelas Viola.


“Jadi lo lebih suka gue yang cuek?” tanya Joe.


“Ya gak gitu, bagusan kayak sekarang kok,” jawab Viola.


Setelah itu tidak banyak lagi yang mereka bicarakan. Walaupun Joe sudah sedikit berubah, tapi tetap saja sikap dinginnya masih ada.


Viola menyantap makanannya dengan lahap dan itu membuat Joe yang diam-diam memerhatikannya tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu yang sedikit lucu.


“Pelan-pelan makannya, Vi!”


Joe menoleh ke belakang saat dia mendengar seseorang yang bicara.


Viola juga mendongak dan langsung tersenyum begitu mengetahui Robbie yang sudah berdiri di belakang Joe.


“Eh Kak, ngapain di sini?” tanya Viola pada Robbie.


“Ngapain ya?” Robbie malah balik bertanya. “Tiba-tiba pengen ke sini aja. Mungkin gara-gara ada lo.”


“Apa sih Kak Robbie ini?”


“Haha becanda kok. Lo ngapain keluyuran di luar? Lo kan lagi gak sehat,” Robbie mulai mengomeli Viola

__ADS_1


“Kan gue bosen di rumah terus. Lagian mumpung orang rumah lagi pada pergi,” Viola mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan omelan Robbie.


“Lo kan bisa telpon gue, nanti gue ajak lo jalan, jangan pergi sendirian!” seru Robbie.


“Viola gak sendirian tuh, dia sama gue,” ujar Joe yang merasa diabaikan sejak Robbie datang.


“Eh, ada lo. Sorry gak sadar. Btw gabung di sini boleh ya?” Tiba-tiba Robbie duduk di samping Viola.


Joe hanya diam sambil melihat Robbie dengan tatapan tidak senang, begitu pun dengan Robbie yang melakukan hal sama. Mereka memang tidak bicara, tapi mata mereka jelas menunjukkan jika mereka saling tidak menyukai satu sama lain.


“Eh, mau sekalian makan gak? Gue pesenin ya?” tanya Viola pada Robbie. Dia benar-benar tidak peka dengan situasi yang terjadi antara kedua pria itu.


“Gak usah deh, liat lo makan aja gue udah kenyang,” jawab Robbie.


“Vi, jangan lupa ya besok lo dateng ke festival! Gue jemput pokonya,” kata Joe yang memotong obrolan Viola dan Robbie.


“Kan gue udah bilang mau nonton film ....”


“Nontonnya di bioskop aja sama gue, besok malem habis gue tampil, gimana?” Joe memotong ucapan Viola.


“Lo gak boleh keluar malem-malem Vi!” seru Robbie sambil melirik Joe.


“Eh iya sih, gue gak bisa keluar malem.”


“Kan naik mobil Vi, gak bakal kena angin,” Joe tetap membujuk Viola.


“Ah, tapi nanti gue diomelin sama Mama.” Viola terlihat kesal.


“Berarti lo harus pulang sekarang. Ayo gue anter,” ujar Robbie.


“Ya udah deh. Joe gue duluan ya,” pamit Viola lalu pergi mengikuti Robbie.


“Cih!” Joe hanya bisa mendengus kesal melihat Viola pergi bersama Robbie. Robbie benar-benar merusak semuanya.


Setelah pergi meninggalkan Joe di dalam café, Viola dan Robbie tidak langsung pulang. Ada yang harus Viola beli, jadi mereka pergi ke supermarket dulu.


“Kok lo bisa sama Joe sih?” tanya Robbie yang sejak tadi hanya mengikuti Viola yang sibuk mengambil belanjaan.


“Gak sengaja ketemu,” jawab Viola. “Eh iya Kak, ternyata dia sama Nadia gak pacaran, gue yang salah paham.”


Robbie langsung diam setelah mendengar ucapan Viola. Jika ternyata Joe tidak pacaran, apa Viola akan menolak Robbie?


“Oh, bagus deh kalo gitu. Terus gimana?” tanya Robbie.


“Hah? Gimana apanya?” Viola bingung dengan pertanyaan Robbie.


“Lamaran gue?”


“Eh? Itu?” Viola semakin bingung. Kenapa Robbie tiba-tiba menanyakan itu? Bagaimana Viola harus menjawabnya?


“Hehe, gak usah dipikirin! gue Cuma nanya.”


Viola dan Robbie pun kembali berjalan di antara rak yang berisi makanan ringan, namun Robbie tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Viola menoleh heran ke arahnya.


“Kenapa Kak?”


Robbie tidak menjawab pertanyaan Viola dan karena bingung Viola pun mengikuti ke mana mata Robbie mengarah. “Eh Kak Irene?”


Wanita wantik itu tersenyum tipis lalu menunduk saat tidak sengaja berpapasan dengan Viola dan Robbie. Irene tidak sendirian, ada seorang pria yang berjalan di sampingnya.


Robbie mematung menatap Irene, wanita yang pernah menjadi pacarnya sebelum akhirnya wanita itu meninggalkannya dan menikah dengan orang lain.


Tapi, dibanding dengan Irene, Viola lebih terkejut saat melihat pria yang bernama Irene. “Kak Gilang?” Viola menyebut nama pria yang setahu Viola adalah sahabat Robbie.


“Eh, Viola ya? Gak nyangka ketemu lo di sini,” ujar pria bernama Gilang itu.


“Kalian kok ...?” Viola menunjuk Irene dan Galih secara bergantian.


“Lo gak tau, Irene istri gue.”


“Oh ....”


Viola menoleh pada Robbie yang membuang muka dari Irene dan Gilang. Dia tidak pernah berpikir jika ternyata Irene menikah dengan Gilang. Bukankah dunia ini sangat sempit?


Sekilas pandangan Robbie dan Irene bertemu, namun keduanya langsung berpaling ke arah lain dan menghindar satu sama lain. Ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka, tapi mereka memang tidak berniat untuk menyelesaikannya.


“Udah, Vi? Kita langsung pulang aja!” Robbie segera pergi melewati Irene dan Gilang dengan wajah dingin yang jarang ia tunjukan.


Menyadari situasinya sangat canggung, Viola pun langsung mengikuti Robbie tanpa mengatakan apa pun pada Irene dan Gilang.


“Ih kak tungguin gue!” seru Viola sambil berjalan cepat mengikuti Robbie.


Robbie menghentikan langkahnya lalu menghadap Viola. “Mereka itu karma gue Vi, karena gue pernah ngelakuin hal yang sama ke lo. Jadi kasih gue kesempatan buat nebus semuanya!”


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2