
“Hah?” Viola bengong menatap Joe, apa dia tidak salah dengar? Dia yakin barusan Joe mengatakan sesuatu.
“Gapapa, gue gak bilang apa-apa kok,” ujar Joe sambil berdiri lalu berjalan meninggalkan Viola.
“Eh, barusan lo ngomong apa sih?” Viola mengikuti Joe. Sebenarnya dia juga mendengar apa yang Joe katakan, tapi dia ingin mendengarnya sekali lagi dari Joe.
“Nggak.”
“Beneran deh barusan lo ngomong sesuatu.”
“Lo salah denger kali.” Joe tetap berkilah.
“Masa sih?”
“Iyalah, lo kan budeg,” celetuk Joe yang langsung mendapat tatapan tajam dari Viola
.
.
.
“Udah pulang lagi Vi? Tumben sebentar perginya?” tanya Bu Anna saat Viola pulang.
“Gak seru Mah,” jawab Viola.
“Gak seru tapi kayak seneng gitu mukanya.”
“Eh masa sih. Nggak kok, udah Ah Viola mau mandi dulu,” ujar Viola sambil berjalan menaiki tangga, dia harus segera pergi sebelum ibunya menyadari ada sesuatu yang aneh. Saat ini Viola sedang kesulitan menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Ucapan Joe saat di kampus tadi membuatnya berdebar-debar, walaupun Joe berlagak cuek dan mengatakan tidak mengatakan apa pun. Joe memang bicara dengan suara pelan, tapi Viola bisa mendengarnya dengan jelas.
“Ngapain lo senyum-senyum sendiri kayak orang gila,” celetuk Alice saat melihat Viola.
Viola melemparkan tatapan kesal pada Alice. “Mau tau aja lo. Tidur sana!” Serunya pada Alice yang sedang duduk di sofa yang ada di lantai dua.
“Dih, malah nyolot. lo lagi jatuh cinta ya?” tebak Alice.
“Apa sih?”
“Cerita dong sama gue!”
“Gak ah, gue mau mandi.” Masih dengan senyum di wajahnya, Viola langsung memasuki kamarnya dan meninggalkan Alice yang hanya menatapnya bingung.
Setalah masuk ke dalam kamar, Viola langsung mandi lalu berbaring di atas tempat tidurnya sambil memainkan handphone. Namun, tiba-tiba benda tipis itu berbunyi.
“Eh Joe?” Viola bergumam pelan saat melihat nama Joe di layar. “Tumben dia nelpon gue.”
“Hallo Joe?”
“Vi, lo udah pulang ke rumah?” tanya Joe dari seberang panggilan.
“Udah. Emang kenapa?”
“Gue ke situ ya.”
“Eh ngapain?” Viola bingung, kenapa Joe tiba-tiba ingin datang? Tapi, yang lebih membuat heran adalah suara Joe yang terdengar lemas.
“Emmm ... nggak sih. Pengen aja.”
“Ya udah deh, ke sini aja, mumpung belum terlalu malem!”
Setelah selesai bicara, Joe pun mengakhiri panggilannya dan Viola kembali berbaring sambil menunggu Joe datang. Lagi pula Joe tidak akan langsung datang kan, pasti butuh waktu beberapa menit di perjalanan.
Tapi, baru saja satu menit, Viola sudah mendengar suara ibunya yang memanggil namanya.
“Viola... Ada yang nyariin!”
“Iya mah.”
Viola melompat dari atas tempat tidur dan langsung berlari menuju lantai satu. Dia pikir Joe sudah datang, mungkin Joe sudah berada di dekat rumahnya saat menelepon
“Siapa Mah?”
“Robbie tuh nyariin kamu. Mama suruh masuk gak mau, katanya mampir bentar aja, dia nungguin di luar.”
“Kak Robbie?” Ekspresi Viola berubah, yang tadinya semangat kini menjadi sedikit malas. Ternyata Bukan Joe.
Setelah mengetahui jika Robbie datang, Viola langsung keluar untuk menemuinya.
“Kak Robbie kok ke sini malem-malem?” tanya Viola pada Robbie yang berdiri di depan pagar.
“Mampir doang sih, gue habis dari rumah Dokter Lee. Nih buat lo.” Robbie menyerahkan sebuah kantung kertas pada Viola.
“Apa nih?”
“Makanan kesukaan lo.”
“Eh, gak usah repot-repot kali Kak!”
__ADS_1
“Gapapa kok, gue emang mau beliin buat lo.”
“Makasih deh kalo gitu. Gak mau masuk dulu?”
“Gak usah. Lo masuk gih! Udah malem,” Robbie tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk puncak kepala Viola.
Viola tersenyum kikuk sambil menatap Robbie canggung. Gadis itu selalu merasa tidak enak setiap kali Robbie datang dan berbuat baik padanya. Dia selalu memikirkan bagaimana cara menolak Robbie tanpa harus membuatnya tersinggung.
“Gue pulang dulu,” pamit Robbie.
“Kak.” Viola memanggil Robbie dan membuat pria itu membatalkan niatnya untuk pergi.
“Kenapa Vi?”
“Anu kak. Gue ....”
Robbie mengangkat sebelah alisnya sambil menunggu Viola melanjutkan ucapannya, tapi gadis itu tampak bingung dan ragu.
“Ada yang mau lo omongin sama gue? Ngomong aja gapapa!”
“Gini. Gue gak bisa nerima ini.” Viola mengeluarkan cincin dari saku celananya lalu memberikannya pada Robbie.
“Kenapa Vi?” Robbie menatap Viola bingung.
Viola menggeleng pelan, “Gak bisa aja, Kak. gue belum siap nikah.”
“Gue gak bilang mau nikah sekarang. Kalo lo mau lulus kuliah dulu, atau mau kerja dulu juga gapapa. Bakal gue tungguin.” Robbie mengembalikan cincinnya pada Viola.
“Tapi, Kak ....”
“Gapapa kalo lo gak mau pake cincinnya sekarang. Tapi, gue gak mau lo balikin cincinnya sama gue!”
“Eh?” Viola semakin bingung dengan sikap Robbie, bukankah itu memaksa namanya?
“Iya, gue maksa,” ujar Robbie seolah tahu apa yang Viola pikirkan.
“Loh? Tapi, gue ....”
“Viola ” Tiba-tiba suara Joe terdengar, membuat Viola dan Robbie sama-sama menoleh.
“Eh, lo udah datang?” tanya Viola pada Joe.
“Ngapain dia di sini?” Joe melirik Robbie dengan tatapan tidak senang.
“Kak Robbie kebetulan lewat, jadi mampir dulu,” ujar Viola.
“Gue calon suami Viola, lo siapa?” Robbie menunjuk cincin yang Viola pegang.
Joe mengikuti ke mana telunjuk Robbie mengarah, dia semakin kesal saat melihat cincin itu. Apa Robbie benar-benar serius pada Viola sampai memberi gadis itu cincin segala?
“Oh ini?” Joe mengambil cincin itu dari tangan Viola lalu mengembalikannya pada Robbie. “Cincinnya juga gak Viola pake, jadi lo ambil aja!”
“Maksud lo apa sih?” bentak Robbie pada Joe.
“Lo gak usah repot-repot! Biar gue aja yang nikahin Viola.Viola
Viola menoleh pada Joe dan Robbie secara bergantian. Dia bingung dengan apa yang sedang dilakukan kedua pria di hadapannya, mereka saling melemparkan tatapan tajam, seolah tengah berperang dengan mata mereka.
“Lo berdua ngapain sih? Kak Robbie mending pulang aja, gak enak sama tetangga kalo ribut di sini!” Viola berusaha menghentikan Joe dan Robbie.
“Lo denger kan? Viola mau lo pergi, jadi pergi aja!” seru Joe pada Robbie.
“Lo juga. Datang-datang malah bikin ribut. Udah ah males gue,” ujar Viola kesal sambil berjalan meninggalkan kedua pria itu.
“Vi! Viola!” Joe memanggil Viola, tapi Viola terus berjalan memasuki rumah.
Sementara itu Robbie menatap Joe tajam sebelum dia mengatakan sesuatu. “Lo gak usah banyak ngarep! Viola udah mutusin lo.”
Mendengar ucapan Robbie, Joe hanya tersenyum meremehkan, dia tidak tahu apa yang membuat Robbie begitu percaya diri.
“Kalo lo punya malu sih lo gak bakal ada di sini. Gue emang gak tau apa-apa soal lo sama Viola, mungkin lo lebih tau sejauh apa lo pernah nyakitin dia. Apa lo tau gimana susahnya gue bikin Viola lupain lo? Tapi, sekarang lo dateng seenaknya,” ujar Joe yang membuat Robbie semakin geram.
“Terus lo apa? Lo nyebut diri lo pacarnya? Lo bahkan gak tau cara merhatiin Viola, lo kira sikap lo gak nyakitin dia? Viola itu bukan cewek yang gampang nyerah, kalo dia mutusin lo, artinya dia udah bener-bener capek sama sikap lo.”
“Capek sama gue, bukan berarti dia mau balik sama lo.”
Joe dan Robbie masih berseteru di depan rumah Viola, padahal orang yang menjadi sumber permasalahannya sudah pergi.
“Woy! Lo berdua ngapain ribut di depan rumah gue?”
Joe dan Robbie menoleh saat mendengar suara seseorang. Rupanya itu Alice yang merasa jengkel karena kedua pria itu ribut gara-gara adiknya, apa lagi ributnya di depan rumah. Bukankah akan sangat tidak enak jika dilihat oleh tetangga?
“Kalo mau ribut di tempat lain aja jangan di sini! Kelahi aja sekalian, gue kasih golok deh biar seru.” Alice mulai mengomeli kedua pria itu.
“Siapa yang ribut? Nggak kok, kita cuma ngobrol,” bantah Robbie.
“Iya gak ada yang ribut. Kak Alice salah denger kali.” Joe menambahi.
__ADS_1
Walaupun Joe dan Robbie saling membenci satu sama lain, tapi mereka sama-sama tahu bagaimana sikap kakak perempuan dari mantan pacar mereka. Bagi mereka Viola sudah cukup cerewet, tapi Alice lima kali lebih cerewet dibanding Viola. Tidak akan ada yang bisa menghentikannya jika dia sudah mengomel.
“Maksud lo gue budeg gitu?”
“Eh, bukan. Bukan gitu.” Robbie mengibaskan tangannya.
“Lo berdua gak usah ribut gara-gara Viola deh! Tanya aja Violanya mau sama siapa! Gitu aja kok repot!” seru Alice.
Joe melemparkan tatapan kesalnya pada Robbie, kemudian dia pamit pulang pada Alice.
“Kalo gitu gue pulang,” pamit Joe singkat dan langsung pergi.
“Gue juga pamit Al. Mending lo masuk, pengantin gak boleh keluar malem-malem! Salam buat Om sama Tante, bilangin sama Viola jangan tidur malem-malem, dia masih sakit!”
“Iya bawel. Sana pulang!” seru Alice sedikit sebal dengan sikap bawel Robbie.
“Iya gue pergi. Jagain Viola ya!”
“Bacot lo, pergi sana!”
Robbie pun pergi dan Alice hanya menatap mobilnya yang sudah melaju dengan tatapan datar. “Yang satu sok akrab, yang satu cueknya kelewatan. Yang suka sama Viola gak ada yang beres, untung ganteng,” Gumam Alice sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, di dalam kamar Viola hanya duduk di kursi belajarnya sambil memikirkan ucapan Joe pada Robbie. Tanpa sadar Viola mulai tersenyum seorang diri. Dia tidak percaya pria dingin itu bisa mengatakan hal seperti itu, apa Joe serius mengatakan itu? Serius atau tidak, yang jelas jantung Viola seperti ingin meledak karena ucapan singkat pria itu.
.
.
.
Sudah hampir tengah malam, tapi Joe belum pulang. Pria itu masih duduk sendirian di sebuah kedai yang berada tidak jauh dari rumahnya. Suasana hatinya sedang buruk, dia berharap mood-nya akan membaik setelah bertemu dengan Viola, tapi Robbie merusak semuanya.
Joe memesan secangkir kopi, tapi dia tidak meminumnya dan sekarang kopi itu sudah dingin. Biarkan saja, lagi pula dia tidak berniat untuk meminumnya, dia hanya ingin diam sambil memikirkan sesuatu.
Saat tengah sibuk melamun, tiba-tiba handphone Joe berbunyi, dengan terpaksa Joe mengangkat telepon masuk dari ayahnya itu.
“Hallo, Pah?”
“Joe kamu di mana? Cepetan pulang sekarang! Besok acara pernikahan Papa, jangan bikin kacau!”
“Kalo mau nikah ya nikah aja! Gak usah basa-bawa aku! Lagian aku gak suka sama cewek itu.”
“Joe! Dia bakal jadi ibu kamu.”
“Terus Kenapa?”
“Kamu mau jadi anak durhaka, hah? Cepetan pulang sekarang juga!”
“Terserah Papa aja! aku gak bakal Pulang.
Tuuut
Joe menutup teleponnya dan melemparkan handphone-nya ke atas meja dengan kasar. Joe benar-benar benci dengan Ayahnya, bisa-bisanya dia menikah lagi secepatnya ini.
“Sial!” Joe mengumpat sambil mengacak rambutnya frustrasi. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, hari ini benar-benar kacau.
“Joe.”
Joe menoleh saat seseorang memanggil namanya. Dia kemudian menatap heran seseorang di depannya, bagaimana bisa orang itu ada di sana?
“Viola? Lo ngapain di sini?” tanya Joe pada Viola yang kini sudah duduk di depannya.
“Lo yang ngapain di sini? Jam berapa sekarang, hah? Kenapa lo belum pulang?” Tidak peduli dengan pertanyaan Joe, Viola malah langsung menyerang Joe dengan omelannya.
“Terserah gue dong mau pulang apa nggak,” balas Joe dingin. “Orang tua lo bakal marah kalo tau lo keluar semalem ini. Lagian kenapa lo bisa ke sini, rumah lo kan jauh dari sini?”
“Gue dapet kabar dari Jeffrey. Katanya Papa lo .... “
“Iya, besok papa gue bakal nikah,” Joe memotong ucapan Viola.
Viola diam, dia bisa menangkap kesedihan dari raut wajah Joe. “Berat ya?”
“Nggak kok, gak penting.” Joe menggeleng.
“Gak mungkin, gue kenal lo Joe. Lo gak mungkin nerima gitu aja.”
“Terus kenapa? Walaupun gue gak setuju juga mereka tetep nikah kan?”
“Ya lo berusaha dong! Lo punya hak buat ngelarang!”
“Kalo ngelarang lo nikah sama cowok lain? Apa gue punya hak juga?”
.
.
.
__ADS_1
To be continued