
“Ya ampun Viola! Sayang, kamu gapapa?”
Joe terbangun karena dia mendengar suara seseorang dan saat membuka mata dia melihat Bu Anna di ruangan itu.
Entah berapa lama Joe tidur, tapi sepertinya sekarang sudah cukup siang.
“Viola gapapa kok Mah.”
“Kamu itu, kan udah mama bilangin harus hati-hati, gimana sih?” Bu Anna mulai mengomeli putri bungsunya itu.
“Ih Mama, Viola lagi sakit malah diomelin,” protes Viola kesal.
“Mama cuma khawatir, sayang.”
“Tante?” Joe memanggil Bu Anna.
“Eh Joe, Tante bangunin kamu ya?”
“Nggak kok Tante.”
“Duh ini Viola emang ada-ada aja, dia pasti ngerepotin banget. Maaf ya Joe.” Bu Anna meminta maaf karena telah merepotkan Joe.
“Nggak Tante, aku yang minta maaf gak bisa jagain Viola.”
“Namanya juga kecelakaan, mau gimana lagi? Oh iya Vi, Mama udah bilang sama dosen kamu kalo kamu gak bakal ikut kegiatan di sini lagi, jadi hari ini kita pulang,” jelas Bu Anna.
“Pulang Mah? Tapi, gimana tugas Viola?” tanya Viola.
“Kamu gak bakal kuat Vi, di sini juga kalo sakit kan malah ngerepotin temen-temen kamu nanti.”
“Iya sih.”
“Eh, Mama harus nemuin dokter dulu, katanya ada yang mau diomongin. Joe, titip Viola bentar ya! Tante pergi dulu.”
“Iya Mah.”
“Iya Tante.”
Bu Anna pun keluar dari ruang rawat Viola dan langsung menemui dokter.
“Anak Saya gapapa kan dok?” tanya Bu Anna cemas dan penasaran.
“Gak bisa dibilang gitu juga, Bu. Alergi Viola itu sangat berbahaya dan ini bukan pertama kalinya dia ada di kondisi seperti sekarang. Sistem imunnya makin melemah dan tekanan darahnya rendah, selain itu sistem pernapasannya juga mulai terganggu. Jadi untuk sementara waktu Viola harus istirahat total dan gak boleh banyak pikiran!”
Sementara Bu Anna masih sibuk berbicara dengan dokter, di dalam ruang rawat sepertinya Viola merasa bosan dan berusaha pergi ke luar.
“Lo mau ke mana?” tanya Joe saat melihat Viola turun dari atas ranjang.
“Nyari angin, gue bosen,” jawab Viola.
“Gak usah aneh-aneh deh! Mending lo diem aja! Kalo mama lo nyariin gimana?”
“Ya kan ada lo di sini, kalo Mama balik bilangin aja gue keluar!” seru Viola
“Maksudnya lo mau pergi keluar sendirian?” tanya Joe.
“Ya terus? Sama lo gitu?” Viola balik bertanya sambil berjalan keluar dari dalam ruang rawatnya.
“Kalo lo kenapa-napa gimana?”
“Joe, gue itu cuma alergi, bukan geger otak.” Viola memberikan penekanan pada ucapannya.
__ADS_1
“Alergi itu bahaya Vi, lo baru aja bangun. Apa lo gak tau kalo semalem lo hampir mati hah?” Joe sedikit membentak.
Viola diam menatap Joe, entah kenapa dia merasa Joe tiba-tiba jadi perhatian padanya.
“Apa peduli lo?” Balas Viola lalu segera pergi meninggalkan Joe, tapi Joe tidak tinggal diam dan segera menyusul Viola yang berjalan menuju taman rumah sakit.
Viola duduk di sebuah kursi kayu yang ada di taman itu dan Joe pun melakukan hal yang sama. Pria itu duduk di samping Viola.
“Lo ngapain sih ngikutin gue?” tanya Viola ketus.
“Lo kenapa sih, Vi?”
“Kenapa apanya?” Viola menatap Joe heran.
“Kenapa sikap lo jadi dingin sama gue?”
“Ya suka-suka gue lah.”
“Sebenernya apa sih alesan lo mutusin gue?”
Viola menoleh pada Joe dan menatap pria itu dengan tatapan datar sedatar-datarnya. “Oh jadi lo gak tau? Kalo gitu kenapa baru nanya sekarang? Tapi, sayang banget ya, gue gak bakal kasih tau, pikirin aja sendiri!”
“Lah?”
“Kenapa? Lo kesel? Bodo amat.”
“Ck! lo ada-ada aja tau gak sih.”
Viola dan Joe pun malah terus berdebat tidak jelas. Entah kenapa mereka tiba-tiba kembali akrab. Memang tidak seperti saat masih pacaran, itu terasa seperti saat mereka masih menjadi teman.
“Eh Viola, kok lo ada di sini?” Tiba-tiba seseorang berbicara di belakang Viola dan Joe dan sukses membuat keduanya menoleh.
Orang itu ternyata Robbie dengan pakaian dokternya. Dulu dia memang kuliah jurusan kedokteran, tapi Viola tidak tahu jika Robbie sudah bekerja di rumah sakit itu.
“Lo sakit Vi?” tanya Robbie karena melihat Viola memakai baju pasien.
“Hehe iya Kak. Eh btw Kak Robbie kerja di sini?”
“Iya nih. Sebenernya pengen di Jakarta aja, tapi kan gue masih dokter baru, jadi terima aja walaupun dipindah-pindah,” jelas Robbie.
“Oh gitu.” Viola mengangguk paham, sementara itu Joe hanya memerhatikan interaksi antara Viola dan Robbie dengan tatapan yang sedikit aneh. Joe tidak mengenal Robbie, tapi kenapa dokter itu sepertinya sangat akrab dengan Viola?
“Siapa Vi, pacar lo?” tanya Robbie saat melihat Joe.
Viola sudah membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Robbie.
“Iya, gue pacarnya.” Namun, suara Joe sudah lebih dulu terdengar dan membuat Viola hanya bisa menganga tanpa mengatakan apa pun.
Viola menatap Joe bingung. Apa maksudnya mengatakan itu?
“Oh, jadi dia pacar lo. Eh sampe kapan lo di Bandung, ada yang mau gue omongin nih sama lo. Kapan lo ada waktu?” tanya Robbie.
Lagi-lagi Joe hanya menatap Robbie kesal. ‘Padahal udah dibilangin pacarnya, masih aja sok akrab sama Viola,' batin Joe. Tapi, kemudian Joe sadar, dia tidak punya hak lagi untuk cemburu, kadang dia lupa jika dia bukan siapa-siapa lagi.
“Hari ini gue pulang ke Jakarta, kalo ada yang mau diomongin sekarang aja” jawab Viola.
“Ya udah deh. Eh gue pinjem Viola bentar ya, gapapa kan?” tanya Robbie pada Joe.
“Gue pergi dulu,” ujar Joe sambil berdiri lalu pergi meninggalkan Viola bersama Robbie.
Viola menatap punggung Joe, dan setelah pria itu menghilang barulah dia menoleh pada Robbie. “Mau ngomongin apa, Kak?” tanya Viola.
__ADS_1
“Nggak sih, sebenernya gue cumama mau minta maaf sama lo,” jawab Robbie.
“Perasaan kita udah lama gak ketemu deh, kok tiba-tiba minta maaf?” Viola bingung sendiri mendengar perkataan Robbie.
“Gue gak bermaksud bikin lo keinget masa lalu, tapi gue emang punya salah dan belum sempet minta maaf sama lo. Maaf ya Vi soal yang dulu-dulu, sekarang gue sadar kalo semua itu salah gue.”
Viola menghela napas, jika mengingat kejadian itu rasanya memang sulit untuk memaafkan. Tapi, itu sudah lama dan Viola sudah melupakannya.
“Gue udah lupa kok, santai aja kali! Eh Kak Irene apa kabar? lo masih sama dia?” Viola menanyakan Irene, gadis yang menjadi penyebab putusnya Viola dan Robbie. Senior sekaligus sahabat Viola dan selingkuhan Robbie sebelum akhirnya Robbie memutuskan Viola.
“Udah nggak. Irene udah nikah,” jawab Robbie. “Eh yang barusan itu beneran pacar lo?”
“Bukan, dia mantan pacar gue,” jawab Viola sambil mengusap tengkuknya.
“Oh iya ya, temen cewek lo kemaren bilang lo baru putus. Tapi, kok masih deket gitu, dia juga ngaku-ngaku pacar lo. Ada kemungkinan balikan nih.”
“Ih apaan sih? Udah lah ngapain ngebahas dia, gak penting banget,” ujar Viola kesal.
“Siapa yang mutusin? Jangan-jangan lo diputusin lagi ya?” celetuk Robbie.
“Enak aja. Dia gak sejahat lo kali yang tega mutusin gue.” Viola tertawa pelan.
“Kan gue udah minta maaf.” Robbie tersenyum kikuk menyadari kesalahannya.
“Masa bodo.”
“Kayaknya dia masih sayang sama lo,” ujar Robbie tiba-tiba.
“Gak usah sok tau!” seru Viola.
“Lo cewek mana ngerti Vi, gue yang sesama cowok lebih paham.”
“Bodo, gue gak peduli.”
“Lo pasti lebih ngerti dong gimana rasanya diputuskan pas lagi sayang-sayangnya.”
“Sayang apanya? Dia cuek bebek sama gue.”
“Gak perhatian bukan berarti gak sayang, Vi.” Robbie malah menceramahi Viola.
“Tapi, dicuekin itu gak enak Kak.” Viola mengembuskan napas kasar.
“Terus lo pengennya yang perhatian kek gue gitu?” ceketuk Robbie.
“Kalo lo sih kelewat perhatian, sampe cewek lain aja diperhatiin,” sindir Viola.
“Sekarang gue udah berubah kali, gak kayak dulu lagi.”
“Bagus deh, tinggal nungguin karma,” celetuk Viola.
“Anjir.”
Sementara Viola dan Robbie masih sibuk mengobrol, dari pinggir taman Joe hanya memerhatikan mereka dengan tatapan tidak senang. Dia sudah berulang kali menyadarkan dirinya jika dia tidak harus cemburu, tapi perasaannya tidak bisa berbohong. Viola memang orang yang mudah dekat dan akrab dengan siapa saja, tidak terkecuali dengan teman prianya. Selama ini sebenarnya Joe selalu kesal setiap kali Viola dekat dengan pria lain, tapi dia tidak pernah marah ataupun melarang Viola karena dia tidak mau mengekang. Jika dia mengekangnya, dia takut Viola malah akan pergi, tapi setelah semua yang dilakukannya akhirnya Viola tetap pergi.
.
.
.
To be continued
__ADS_1